<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2286779167317491760</id><updated>2011-10-01T05:52:39.674-07:00</updated><category term='Fatwa `Ulama'/><category term='Sihir'/><category term='Muslimah'/><category term='Aqidah'/><category term='Pernikahan'/><category term='Solat'/><category term='Hadis'/><category term='Fekah'/><category term='Catatan Semasa'/><category term='Manhaj'/><category term='Sketsa Sebuah Hati'/><category term='Umum'/><category term='Bid`ah'/><title type='text'>Al-Firqatun Najiyah</title><subtitle type='html'>Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ibnumuflih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10057495785514708022</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>54</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2286779167317491760.post-822137121776510847</id><published>2009-01-20T06:23:00.000-08:00</published><updated>2009-01-24T04:16:28.825-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sketsa Sebuah Hati'/><title type='text'>Sketsa Mutiara Cinta...</title><content type='html'>Ku persembahkan sketsa cinta ini sebagai tanda cinta kasihku Untukmu zaujahku Yang mengisi sudut-sudut hatiku,Yang Telah memberi permata kehidupan untuk ku..&lt;br /&gt;Ketahuilah duhai isteriku.. aku mencintaimu.. dan ingin terus bersamamu&lt;br /&gt;Samaada didunia maupun di syurga nantinya.. insya allah .. &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillah….&lt;br /&gt;Ya Rabbi.. Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang…&lt;br /&gt;Berikanlah kedalam hatiku rasa cinta yang mendalam terhadap isteriku&lt;br /&gt;Yang dengan namamu kubina rumah tanggaku..untuk mencari ridhomu.. &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabbi.. Yang Maha Mengetahui segala isi hati&lt;br /&gt;Tidak ada satupun yang tersembunyi dari penglihatanmu..&lt;br /&gt;Engkau maha mengetahui segala isi hatiku.. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Engkau menjadi saksi bagaimana rasa cinta yang ada didalam hatiku kepada isteriku..&lt;br /&gt;Pertengkaran itu mungkin menjadi satu asam garam dalam kehidupan rumah tangga&lt;br /&gt;Berikanlah kesabaran kepadaku.. dan ajarkanlah aku, agar tutur kataku ketika marah&lt;br /&gt;Tidak menyakiti hatinya…. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Duhai zaujahku.. dengarkanlah bisikan hatiku .. fahamilah sketsa cintaku ini untukmu..&lt;br /&gt;Ingatkah dirimu ketika kita menikah dahulu ??? ketika aku mengambil dirimu menjadi permata kehidupanku ....&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Titisan air mata yang membasahi pipiku menjadi saksi setelah aku mengambil dirimu atas nama allah… saat itu aku merasa telah melengkapkan bahagian dari agamaku ..&lt;br /&gt;Namun… diriku hanyalah seorang insan.. yang tidak lepas dari segala kesilapan..&lt;br /&gt;Maafkan diriku.. dengan segala kesalahan ataupun ucapan –ucapan yang menyakiti hatimu…&lt;br /&gt;Jauh di relung hatiku.. aku sedar.. betapa aku belum mampu berikan kehidupan yang terbaik untukmu.. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Untukmu zaujahku.. yang amat kusayangi dan kucintai....&lt;br /&gt;Berikan aku waktu.. berikan aku kesempatan...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Untuk menjadi suami yang terbaik dalam kehidupanmu ...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketika suamimu ini terjatuh dalam gelap... bantulah aku.. tolong lah aku ..&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bisikan kata-kata cintamu untukku... agar aku mampu untuk terus berjalan..&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Duhai zaujahku... aku mencintaimu dengan segala kekurangan diriku ...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maafkan diriku.. jika kasih sayang yang kuberikan masih jauh dari kesempurnaan...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Duhai zaujahku.. yang menjadi inspirasi kehidupanku ..&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku mencintaimu.. dan tidak akan pernah berhenti untuk terus mencintaimu..&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selagi nafasku belum terhenti... &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Duhai zaujahku... segala pengorbanan dirimu tidak akan dapat aku balas dengan apapun..&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku bersyukur dapat mencintaimu.. dan hidup bersamamu...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Allahumma... &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;berikanlah kami rasa cinta yang berkekalan..&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Rasa cinta yang membawa bahagia.. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Rasa cinta yang membawa ketenangan...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Rasa cinta yang membawa kami berdua masuk kesurgamu.. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Rasa cinta yang denganya kami beribadah kepada-Mu...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Duhai zaujahku... uhibbuki ilaa akhir hayati .... &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2286779167317491760-822137121776510847?l=ibnumuflih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/feeds/822137121776510847/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2009/01/sketsa-mutiara-cinta.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/822137121776510847'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/822137121776510847'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2009/01/sketsa-mutiara-cinta.html' title='Sketsa Mutiara Cinta...'/><author><name>Ibnumuflih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10057495785514708022</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2286779167317491760.post-6753862567191531248</id><published>2009-01-18T05:29:00.000-08:00</published><updated>2009-01-18T05:42:07.152-08:00</updated><title type='text'>Permusuhan Yahudi Terhadap Islam Dalam Sejarah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Permusuhan Yahudi terhadap Islam sudah terkenal dan ada sejak dahulu kala. Dimulai sejak dakwah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan mungkin juga sebelumnya bahkan sebelum kelahiran baginda. Hal ini mereka lakukan kerana khawatir dari pengaruh dakwah islam yang akan menghancurkan impian dan rencana mereka. Namun dewasa ini banyak usaha menciptakan opini bahwa permusuhan yahudi dan islam hanyalah sekedar perebutan tanah dan perbatasan Palestina dan wilayah sekitarnya, bukan permasalahan agama dan sejarah kelam permusuhan yang mengakar dalam diri mereka terhadap agama yang mulia ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Padahal pertarungan kita dengan Yahudi adalah pertarungan eksistensi, bukan persengkataan perbatasan. Musuh-musuh islam dan para pengikutnya yang bodoh terus berupaya membentuk opini bahwa hakekat pertarungan dengan Yahudi adalah sebatas pertarungan memperebutkan wilayah, persoalan pengungsi dan persoalan air. Dan bahwa persengketaan ini bisa berakhir dengan (diciptakannya suasana) hidup berdampingan secara damai, saling tukar pengungsi, perbaikan tingkat hidup masing-masing, penempatan wilayah tinggal mereka secara terpisah-pisah dan mendirikan sebuah Negara sekuler kecil yang lemah dibawah tekanan ujung-ujung tombak zionisme, yang kesemua itu (justeru) menjadi pagar-pagar pengaman bagi Negara zionis. Mereka semua tidak mengerti bahwa pertarungan kita dengan Yahudi adalah pertarungan lama semenjak berdirinya Negara islam diMadinah dibawah kepemimpinan utusan Allah bagi alam semesta yaitu Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam .&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah permusuhan dan usaha mereka merusak Islam sejak berdirinya Negara islam bahkan sejak Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam hijrah ke Madinah sampai saat ini dan akan berlanjut terus. Walaupun tidak tertutup kemungkinan mereka punya usaha dan upaya memberantas islam sejak kelahiran beliau n . hal ini dapat dilihat dalam pernyataan pendeta Buhairoh terhadap Abu Thalib dalam perjalanan dagang bersama beliau diwaktu kecil. Allah Ta’ala telah jelas-jelas menerangkan permusuhan Yahudi dalam firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (Qs. 5:82)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat demikian panjangnya sejarah dan banyaknya bentuk permusuhan Yahudi terhadap Islam dan Negara Islam, maka kami ringkas dalam 3 marhalah;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marhalah pertama:&lt;br /&gt;Upaya Yahudi dalam menghalangi dakwah Islam di masa awal perkembangan dakwah islam dan cara mereka dalam hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara upaya Yahudi dalam menghalangi dakwah Islam di masa-masa awal perkembangannya adalah: &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Pemboikotan (embargo) Ekonomi: Kaum muslimin ketika awal perkembangan islam di Madinah sangat lemah perekonomiannya. Kaum muhajirin datang ke Madinah tidak membawa harta mereka dan kaum Anshor yang menolong mereka pun bukanlah pemegang perekonomian Madinah. Oleh karena itu Yahudi menggunakan kesempatan ini untuk menjauhkan kaum muslimin dari agama mereka dan melakukan embargo ekonomi. Para pemimpin Yahudi enggan membantu perekonomian kaum muslimin dan ini terjadi ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengutus Abu Bakar menemui para pemimpin Yahudi untuk meminjam dari mereka harta yang digunakan untuk membantu urusan beliau dan berwasiat untuk tidak berkata kasar dan tidak menyakiti mereka bila mereka tidak memberinya. Ketika Abu Bakar masuk Bait Al Midras (tempat ibadah mereka) mendapati mereka sedang berkumpul dipimpin oleh Fanhaash –tokoh besar bani Qainuqa’- yang merupakan salah satu ulama besar mereka didampingi seorang pendeta yahudi bernama Asy-ya’. Setelah Abu Bakar menyampaikan apa yang dibawanya dan memberikan surat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam kepadanya. Maka ia membaca sampai habis dan berkata: Robb kalian butuh kami bantu! Tidak hanya sampai disini saja, bahkan merekapun enggan menunaikan kewajiban yang harus mereka bayar, seperti hutang, jual beli dan amanah kepada kaum muslimin. Berdalih bahwa hutang, jual beli dan amanah tersebut adanya sebelum islam dan masuknya mereka dalam islam menghapus itu semua. Oleh karena itu Allah berfirman:Di antara Ahli Kitab ada orang yang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaranmereka mengatakan:”Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. (Qs. 3:75) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;2.Membangkitkan fitnah dan kebencian: Yahudi dalam upaya menghalangi dakwah islam menggunakan upaya menciptakan fitnah dan kebencian antar sesama kaum muslimin yang pernah ada di hati penduduk Madinah dari Aus dan Khodzraj pada masa jahiliyah. Sebagian orang yang baru masuk islam menerima ajakan Yahudi, namun dapat dipadamkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam . diantaranya adalah kisah yang dibawakan Ibnu Hisyam dalam Siroh Ibnu Hisyam (2/588) ringkas kisahnya: Seorang Yahudi bernama Syaas bin Qais mengutus seorang pemuda Yahudi untuk duduk dan bermajlis bareng dengan kaum Anshor, kemudian mengingatkan mereka tentang kejadian perang Bu’ats hingga terjadi pertengkaran dan mereka keluar membawa senjata-senjata masing-masing. Lalu hal ini sampai pada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. maka beliau shallallahu ’alaihi wa sallam segera berangkat bersama para sahabat muhajirin menemui mereka dan bersabda:يَا مَعْشَر المُسْلِمِيْنَ اللهَ اللهَ أَبِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ وَ أَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ بَعْدَ أَنْ هَدَاكُمُ اللهُ لِلإِسْلاَمِ وَ أَكْرَمَكُمْ بِهِ وَ قَطَعَ بِهِ أَمْرَ الْجَاهِلِيَّةِ وَاسْتَنْقَذَكُمْ بِهِ مِنَ الْكُفْرِ وَ أَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ “Wahai kaum muslimin alangkah keterlaluannya kalian, apakah (kalian mengangkat) dakwah jahiliyah padahal aku ada diantara kalian setelah Allah tunjuki kalian kepada Islam dan muliakan kalian, memutus perkara Jahiliyah dan menyelamatkan kalian dari kekufuran dengan Islam serta menyatukan hati-hati kalian.” Lalu mereka sadar ini adalah godaan syetan dan tipu daya musuh mereka, sehingga mereka mengangis dan saling rangkul antara Aus dan Khodzroj. Lalu mereka pergi bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dengan patuh dan taat yang penuh. Lalu Allah turunkan firmanNya: Katakanlah: ”Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan. Katakanlah:”Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan.” Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (Qs. 3:99) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;3.Menyebarkan keraguan pada diri kaum muslimin: Orang Yahudi berusaha memasukkan keraguan di hati kaum muslimin yang masih lemah imannya dengan melontarkan syubhat-syubhat yang dapat menggoyahkan kepercayaan mereka terhadap islam. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya: Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mu’min) kembali (kepada kekafiran). (Qs. 3:72). Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini dengan pernyataan: Ini adalah tipu daya yang mereka inginkan untuk merancukan perkara agama islam kepada orang-orang yang lemah imannya. Mereka sepakat menampakkan keimanan di pagi hari (permulaan siang) dan sholat subuh bersama kaum muslimin. Lalu ketika diakhir siang hari (sore hari) mereka murtad dari agama Islam agar orang-orang bodoh menyatakan bahwa mereka keluat tidak lain karena adanya kekurangan dan aib dalam agama kaum muslimin. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;4.Memata-matai kaum Muslimin: Ibnu Hisyam menjelaskan adanya sejumlah orang Yahudi yang memeluk Islam untuk memata-matai kaum muslimin dan menukilkan berita Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan yang ingin beliau lakukan kepada orang Yahudi dan kaum musyrikin, diantaranya: Sa’ad bin Hanief, Zaid bin Al Lishthi, Nu’maan bin Aufa bin Amru dan Utsmaan bin Aufa serta Rafi’ bin Huraimila’. Untuk menghancurkan tipu daya ini Allah berfirman:Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata:”Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka):”Marilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. (Qs. 3:118-119) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;5.Usaha memfitnah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam: Orang Yahudi tidak pernah henti berusaha memfitnah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, diantaranya adalah kisah yang disampaikan Ibnu Ishaaq bahwa beliau berkata: Ka’ab bin Asad, Ibnu Shaluba, Abdullah bin Shurie dan Syaas bin Qais saling berembuk dan menghasilkan keputusan berangkat menemui Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam untuk memfitnah agama beliau. Lalu mereka menemui Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan berkata: Wahai Muhammad engkau telah tahu kami adalah ulama dan tokoh terhormat serta pemimpin besar Yahudi, Apabila kami mengikutimu maka seluruh Yahudi akan ikut dan tidak akan menyelisihi kami. Sungguh antara kami dan sebagian kaum kami terjadi persengketaan. Apakah boleh kami berhukum kepadamu lalu engkau adili dengan memenangkan kami atas mereka? Maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam enggan menerimanya. Lalu turunlah firman Allah: Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kemu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati. hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (Qs. 5:49) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Semua usaha mereka ini gagal total dihadapan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan Allah membalas makar mereka ini dengan menimpakan kepada mereka kerendahan dan kehinaan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Marhalah kedua: Masa perang senjata antara Yahudi dan Muslimin di zaman Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Orang Yahudi tidak cukup hanya membuat keonaran dan fitnah kepada kaum muslimin semata bahkan merekapun menampakkan diri bergabung dengan kaum musyrikin dengan menyatakan permusuhan yang terang-terangan terhadap islam dan kaum muslimin. Namun Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tetap menunggu sampai mereka melanggar dan membatalkan perjanjian yang pernah dibuat diMadinah. Ketika mereka melanggar perjanjian tersebut barulah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan tindakan militer untuk menghadapi mereka dan mengambil beberapa keputusan untuk memberikan pelajaran kepada mereka. Diantara keputusan penting tersebut adalah:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;1.Pengusiran Bani Qainuqa’&lt;br /&gt;2.Pengusiran bani Al Nadhir&lt;br /&gt;3.Perang Bani Quraidzoh&lt;br /&gt;4.Penaklukan kota Khaibar &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah terjadinya hal tersebut maka orang Yahudi terusir dari jazirah Arab.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Marhalah ketiga:Tipu daya dan makar mereka terhadap islam setelah wafat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Orang Yahudi memandang tidak mungkin melawan Islam dan kaum muslimin selama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam masih hidup. Ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam wafat, orang Yahudi melihat adanya kesempatan untuk membuat makar kembali terhadap Islam dan muslimin. Mereka mulai merencanakan dan menjalankan tipu daya mereka untuk memalingkan kaum muslimin dari agamanya. Namun tentunya mereka lakukan dengan lebih baik dan teliti dibanding sebelumnya. Sebagian target mereka telah terwujud dengan beberapa sebab diantaranya:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;a.Kaum muslimin kehilangan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;b.Orang Yahudi dapat mengambil pelajaran dan pengalaman dari usaha-usaha mereka terdahulu sehingga dapat menambah hebat makar dan tipu daya mereka. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;c.Masuknya sebagian orang Yahudi ke dalam Islam dengan tujuan memata-matai kaum muslimin dan merusak mereka dari dalam tubuh kaum muslimin. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Memang berbicara tentang tipu daya dan makar Yahudi kepada kaum Muslimin sejak wafat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam hingga kini membutuhkan pembahasan yang panjang sekali. Namun rasanya cukup memberikan 3 contoh kejadian besar dalam sejarah Islam untuk mengungkapkan permasalahan ini. Yaitu:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Fitnah pembunuhan khalifah UtsmanIni adalah awal keberhasilan Yahudi dalam menyusup dan merusak Islam dan kaum muslimin. Tokoh yahudi yang bertanggung jawab terjadinya peristiwa ini adalah Abdullah bin Saba’ yang dikenal dengan Ibnu Sauda’. Kisahnya cukup masyhur dan ditulis dalam kitab-kitab sejarah Islam. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Fitnah Maimun Al Qadaah dan perkembangan sekte Bathiniyah. Keberhasilan Abdullah bin Saba’ membuat fitnah di kalangan kaum Muslimin dan mengajarkan saba’isme membuat orang Yahudi semakin berani. Sehingga belum habis fitnah Sabaiyah mereka sudah memunculkan tipu daya baru yang dipimpin seorang Yahudi bernama Maimun bin Dieshaan Al Qadaah dengan membuat sekte Batiniyah di Kufah tahun 276 H. Imam Al Baghdadi menceritakan: Diatara orang yang membangun sekte Bathiniyah adalah Maimun bin Dieshaan yang dikenal dengan Al Qadaah seorang maula bagi Ja’far bin Muhammad Al Shodiq yang berasal dari daerah Al Ahwaaz dan Muhammad bin Al Husein yang dikenal dengan Dandaan. Mereka berkumpul bersama Maimun Al Qadah di penjara Iraaq lalu membangun sekte Bathiniyah.Tipu daya Yahudi ini terus berjalan dalam bentuk yang beraneka ragam sehingga sekte ini berkembang menjadi banyak sekali sektenya dalam kaum muslimin, sampai-sampai menghalalkan pernikahan sesama mahrom dan hilangnya kewajiban syariat pada seseorang. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;3.&lt;br /&gt;Penghancuran kekhilafahan Turki Utsmani ditangan gerakan Masoniyah dan akibat yang ditimbulkan berupa perpecahan kaum muslimin.Orang Yahudi mengetahui sumber kekuatan kaum muslimin adaalh bersatunya mereka dibawah satu kepemimpinan dalam naungan kekhilafahan Islamiyah. Oleh karena mereka segera berusaha keras meruntuhkan kekhilafahan yang ada sejak zaman Khulafa’ Rasyidin sampai berhasil menghapus dan meruntuhkan negara Turki Utsmaniyah. Orang Yahudi memulai konspirasinya dalam meruntuhkan Negara Turki Utsmaniyah pada masa sultan Murad kedua (tahun 834-855H) dan setelah beliau pada masa sultan Muhammad Al Faatih (tahun 855-886H) yang meningal diracun oleh Thobib beliau seorang Yahudi bernama Ya’qub Basya. Demikian juga berhasil membunuh Sultan Sulaiman Al Qanuni (tahun 926-974H) dan para cucunya yang diatur oleh seorang Yahudi bernama Nurbaanu. Konspirasi Yahudi ini terus berlangsung di masa kekhilafahan Utsmaniyah lebih dari 400 tahunan hingga runtuhnya di tangan Mushthofa Ataturk. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Orang Yahudi dalam menjalankan rencana tipu daya mereka menggunakan kekuatan berikut ini:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;1. Yahudi Al Dunamah. Diantara tokohnya adalah Madhaat Basya dan Mushthofa Kamal Ataturk yang memiliki peran besar dan penting dalam penghancuran kekhilafahan Utsmaniyah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;2. Salibis Eropa yang sangat membenci islam dan kaum muslimin dengan melakukan perjanjian kerjasama dengan beberapa Negara eropa yaitu Bulgaria, Rumania, Namsa, Prancis, Rusia, Yunani dan Italia.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;3. Organisasi bawah tanah/rahasia, khususnya Masoniyah yang terus berusaha merealisasikan tujuan dan target Zionis.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Usaha-usaha Musthofa Kamal Basya Ataturk dalam menghancurkan kekhilafahan setelah berhasil menyingkirkan sultan Abdulhamid kedua adalah : &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;a.Pada awal November 1922 M ia menghapus kesultanan dan membiarkan kekhilafahan  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;b.Pada tanggal 18 November 1922M ia mencopot Wahieduddin Muhammad keenam dari kekhilafahan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;c.Pada Agustus 1923 M ia mendirikan Hizb Al Sya’b Al Jumhuriah (Partai Rakyat Republik) dengan tokoh-tokoh pentingnya kebanyakan dari Yahudi Al Dunamah dan Masoniyah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;d.Pada tanggal 20 oktober 1923 M Republik Turki diresmikan dan Al Jum’iyah Al Wathoniyah (Organisasi nasional) memilih Musthofa Kamal sebagai presiden Turki. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;e.Pada tanggal 2 Maret 1924 M Kekhilafahan dihapus total. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Demikianlah sempurna sudah keinginan orang-orang Yahudi untuk menjadikan kekhilafahan sebagai Negara sekuler yang dipimpin seorang Yahudi yang berkedok muslim.&lt;br /&gt;Mudah-mudahan ringkas sejarah permusuhan Yahudi ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dapat menjadi pelajaran bagi kaum muslimin.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Penulis: Ustadz Khalid Syamhudi, Lc. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2286779167317491760-6753862567191531248?l=ibnumuflih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/feeds/6753862567191531248/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2009/01/permusuhan-yahudi-terhadap-islam-dalam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/6753862567191531248'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/6753862567191531248'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2009/01/permusuhan-yahudi-terhadap-islam-dalam.html' title='Permusuhan Yahudi Terhadap Islam Dalam Sejarah'/><author><name>Ibnumuflih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10057495785514708022</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2286779167317491760.post-1658283879402362905</id><published>2009-01-18T04:42:00.000-08:00</published><updated>2009-01-18T04:43:30.295-08:00</updated><title type='text'>WAJAH KANAK-KANAK YANG TERKORBAN DI GAZA</title><content type='html'>&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/R7QOEOcIDJk&amp;hl=en&amp;fs=1"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/R7QOEOcIDJk&amp;hl=en&amp;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2286779167317491760-1658283879402362905?l=ibnumuflih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/feeds/1658283879402362905/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2009/01/wajah-kanak-kanak-yang-terkorban-di.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/1658283879402362905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/1658283879402362905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2009/01/wajah-kanak-kanak-yang-terkorban-di.html' title='WAJAH KANAK-KANAK YANG TERKORBAN DI GAZA'/><author><name>Ibnumuflih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10057495785514708022</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2286779167317491760.post-9210574435936305086</id><published>2009-01-18T04:32:00.000-08:00</published><updated>2009-01-18T04:33:15.897-08:00</updated><title type='text'>Siaran Ringkas TV3</title><content type='html'>&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/dK62eoUXSDQ&amp;color1=0xb1b1b1&amp;color2=0xcfcfcf&amp;hl=en&amp;feature=player_embedded&amp;fs=1"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/dK62eoUXSDQ&amp;color1=0xb1b1b1&amp;color2=0xcfcfcf&amp;hl=en&amp;feature=player_embedded&amp;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" width="425" height="344"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2286779167317491760-9210574435936305086?l=ibnumuflih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/feeds/9210574435936305086/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2009/01/siaran-ringkas-tv3.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/9210574435936305086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/9210574435936305086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2009/01/siaran-ringkas-tv3.html' title='Siaran Ringkas TV3'/><author><name>Ibnumuflih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10057495785514708022</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2286779167317491760.post-2043854141936553470</id><published>2009-01-17T20:53:00.000-08:00</published><updated>2009-01-17T21:14:29.407-08:00</updated><title type='text'>Hijrahnya Seorang Muslimah Ke  Manhaj Salaf II</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sedikit yang ingin ditambahkan berkenaan dengan peranan murobbi dalam harokah ikhwani….Peran murobbi dirasakan sangat besar, pada tingkatan tertentu murobbi harus di patuhi seperti halnya mematuhi orang tua…bahkan terkadang lebih….&lt;br /&gt;Murobbi memang di harapkan sebagai pendidik…. akan tetapi terkadang menjadi pendidik yang melarang hal hal yang secara syariat di bolehkan …..&lt;br /&gt;Kepatuhan seorang mad’u dan ketakutan mereka terhadap murobbi di rasakan sangat berlebihan.. karena akan ada sangsi boikot, hukuman dan di interogasi bila ada hal hal yang tidak bersesuaian dengan instruksi murobbi…ini menimbulkan punca taqlid dan fanatisme yang berlebihan…[4] &lt;span id="fullpost"&gt;Pada suatu kesempatan ada seorang ukhti yang menceritakan bahwa orang yang dibawah asuhannya mengaji di tempat yang lain….Saat itu murobbi mengatakan bahwa dia harus memilih [tidak boleh mengaji di keduanya]. Padahal setiap muslim adalah pribadi yang bebas untuk thollabul ilmy (menuntut ilmu, ed) selama dia yakin bahwa yang diajarkan adalah yang benar. Seorang murobbi seharusnya dapat memberikan penjelasan ilmiah untuk menghalangi mad’u nya mengikuti majelis ilmu yang lain kalau majelis ilmu tersebut memang terbukti terkeluar dari jalan yang benar…. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan share pengalaman yang Rytha baca.. murobbi merasa tidak senang bila mengetahui mad’u nya ikut kajian kajian bermanhaj salaf… Alasannya karena bisa membuat bingung bila mengaji di banyak tempat, Rasanya suatu alasan yang kurang tepat…. …&lt;br /&gt;insyaAllah nanti akan di berikan contoh bagaimana seorang murobbi "berhak" menentukan calon pengantin anak didiknya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;InshaAllah Rytha akan berpindah ke poin kedua tentang beberapa hal yang ditemukan dalam kegiatan "tarbiyah" ikhwani ….. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;2. Rangkaian kegiatan di dalam liqo. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Acara liqo’ dari tempat ke tempat biasanya typical karena Rytha sudah beberapa kali berpindah kelompok liqo… Kemungkinan sebagian besar dari mereka menganggap rutinitas itu adalah satu rutinitas yang ada tuntunan syar’i nya, setidaknya menganggap itu suatu kebaikan….. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Waktu Liqo di jadwalkan biasanya tidak lebih dari 2 jam. Tapi dalam prakteknya biasanya bisa seharian….. Tetapi ilmu yang didapat tidak sebanding dengan waktu yang sudah terbuang… Terkadang suami suami yang menunggu istrinya liqo sampai marah kerana menunggu kelamaan…. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Para ikhwan [bapak-bapak] biasanya mengadakan liqo pada waktu malam sampai menjelang tengah malam..…. Seorang murobbi sempat berpesan kepada binaannya…nanti kalau menikah dengan suami yang aktivis, harus siap di tinggal di malam hari…. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mungkin tidak salah pulang larut kalau memang benar-benar untuk tholabul ilmy.. Tapi liqo mereka "para petinggi petinggi" konon isinya hanya banyak membicarakan masalah politik, da’wah dan strategi….. Alangkah ruginya bila sudah menghabiskan waktu tanpa mendapatkan charge ruhiyah keilmuan yang di dapat… Hampir di pastikan sholat lail juga akan terlewat… Ditambah lagi rasa bersalah terhadap istri dan anak dan dosa di hadapan Allah subhanahu wata’ala meninggalkan istri sendiri di rumah…. Acara liqo biasanya dibuka dengan pembacaaan Al-Qur’an. Bukan hanya acara liqo saja tapi hampir semua kegiatan selalu di buka dengan bacaaan Al-Qur’an…. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Membaca Al Qur’an memang merupakan suatu kebaikan… tapi menjadikannya sebagai rutinitas yang selalu di lakukan sebagai pembuka untuk semua kegiatan memerlukan tinjauan syar’i, karena bila di biarkan masyarakat awam akan mencontohnya. Mencontoh sesuatu yang tidak memiliki dasar, akan cendrung membuat mereka menganggap hal tersebut bagian dari sunnah…. Bahkan Rytha yakin sebagian dari saudara ikhwani &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;mereka merasa seakan ada hal sunnah yang hilang bila hadir dalam suatu majelis dan tidak di awali dengan bacaaan Al Qur’an….wallahualam….&lt;br /&gt;Selanjutnya acara akan dilanjutkan oleh kultum, dari salah seorang anggota dan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh murobbi…&lt;br /&gt;Materi yang di sampaikan oleh murobbi biasanya diawali dengan membicarakan pengumuman-pengumuman mengenai kegiatan kepartain, kepanitian, dan lain lain, sehingga waktu yang tersisa untuk menyampaikan materi keagamaan hanya beberapa menit saja… Terkadang yang beberapa menit itu pun sama sekali tidak berisi apa apa… Semakin tinggi tingkatan kita semakin banyak masalah kepartaian yang di bicarakan dalam majelis…. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Terkadang liqo di-isi dengan bedah buku atau materi-materi umum lainnya…Banyak acara yang diusahakan bervariasi untuk menarik. Untuk para pemula biasanya masih di berikan materi-materi yang cukup baik seperti tauhid…. Hanya saja jangan ditanyakan bagaimana materi penting tersebut disampaikan….jauh sangat jauh sekali dari ilmiah… Materi – materi ini berkesan hanya seperti selingan sampai seorang mad’u siap di berikan materi ke-harokah-an yang brainwash paham-paham ikhwanul muslimin…. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sangat jauh majelis di-isi dengan pembahasan yang ilmiah …. Kebanyakan menjelaskan sesuatu yang di kaitkan dengan cerita kehidupan sehari hari…. Setiap murobbi pasti biasanya berusaha mencari "cerita" dan penjelasan "logika" untuk melengkapi uraiannya… [5]&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bagi para thollabul ilmy yang sesungguhnya pasti sangat rindu dengan majelis yang berisi perkataan Allah … perkataan Rasulullah dan perkataan para Ulama Ahlul sunnah. Hal ini mungkin karena minimnya kapasitas keilmuan dari murobbi sendiri yang mungkin tidak siap dengan materi yang akan disampaikan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Rytha sempat berkunjung ke beberapa rekan ikhwani… Karena ketertarikan yang sangat terhadap buku, koleksi-koleksi buku tuan rumah selalu menjadi pengamatan….. Rytha sempat terkejut melihat seorang ustadz yang lulusan salah satu universitas syariah terkemuka koleksi-koleksi beliau adalah buku-buku pergerakan ikhwanul muslimin… Ini tidak mengherankan bila rekan-rekan ikhwahni yang lainnya juga mengkoleksi tulisan tulisan hasan Al Banna… Said Hawa dan kalaupun tafsir itu adalah tafser Said Qutb, fatwa fatwa nya adalah fatwa Yusuf Qardhawi…. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ada suatu paham yang Rytha tangkap selama liqo adalah bahwa hadis dhaif (lemah, ed) boleh diamalkan [6]…. Dan juga suatu pemahaman da’wah dengan hikmah yang aneh…. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Yang berdalih dengan fikih prioritas [ala Yusuf Qardhawi] dalam segala hal yang membuat menjadi toleran yang berlebihan… Dan tentu saja sangat tidak cocok dengan ikhwah salafy yang berkesan sangat keras bagi mereka, karena kebanyakan ikhwani tidak paham bahwa dalam hal aqidah seorang muslim harus memiliki rasa cemburu yang tinggi bila ada ke-bid’ahan dan ke-syirikan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Seorang ukhti mengatakan bahwa banyak penyimpangan dalam salafy.. mereka tidak mengenal fikih prioritas… dan sedikit sedikit bid’atul dholalah…(bid’ah itu sesat, ed) Karena dalam pembahasan materi bid’ah [7] di ikhwani, ditanamkan bahwa ada yang namanya bid’ah hasannah [ bid’ah yang baik]…[8 ]&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Rytha sempat tertegun sedih tatkala ukhti tersebut mengatakan sedikit-sedikit salafy menda’wahkan bid’atun dholalah….ukhti tersebut mengatakan dengan nada yang sedikit mengejek… Seandainya ukhti tersebut paham bahwa kalimat yang di ejeknya itu bukanlah perkataan sembarangan orang tapi itu adalah perkataan dari lisan seorang hamba Allah yang sangat mulia Rasulullah shalallahu wa`alahi wassalam…. Mudah mudahan Allah membukakan dan membimbing ukhti tersebut…. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu dauroh murobbi… seorang pembicara mengatakan bahwah beliau mengetes tauhid mad’u nya dengan di suruh mengambil sesuatu di kuburan… kalau dia masih takut berarti tauhidnya masih di pertanyakan… Subhanallah.. apakah cara ini pernah di praktekkan oleh Rasulullah shalallahu wa`alahi wassalam dan para sahabatnya? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya ada salah satu kebiasaan di majelis, yaitu acara evaluasi ….yang di maksudkan untuk mengevaluasi masing masing mad’u, ibadahnya, aktivitasnya dan lain lain. Seorang mad’u diharapkan membuka diri terhadap semua peserta liqo dan bercerita mengenai dirinya, keluarganya dan temannya.. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tidak jarang dan hampir pasti cerita yang di sampaikan membuka aib diri dan keluarga… suatu aib yang seharusnya di tutupi….&lt;br /&gt;Ikhwah fillah… ingat kisah seorang sahabat yang mengadukan pada beliau bahwa dia berizina.. dan Rasulullah shalallahu wa`alahi wasalam berusaha untuk tidak melihat dan pura pura tidak mendengarnya… Ini menggambarkan … Rasulullah shalallahu wa`alahi wassalam lebih senang bila seseorang yang berdosa dia menyimpan dosanya dan bertobat pada Allah dengan bersungguh sungguh … tidak ada kewajiban baginya untuk membagi aib dirinya…apalagi aib saudara dan keluarganya…. Wallahualam… &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu diriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu wa`alahi wassalam bersabda. :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Allah nanti akan mendekatkan orang mukmin, lalu meletakkan tutup dan menutupnya. Allah bertanya : "Apakah kamu tahu dosamu itu ?" Ia menjawab, "Ya Rabbku". Ketika ia sudah mengakui dosa-dosanya dan melihat dirinya telah binasa, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, "Aku telah menutupi dosa-dosamu di dunia dan sekarang Aku mengampuninya". Kemudian diberikan kepada orang mukmin itu buku amal baiknya. Adapun orang-orang Kafir dan orang-orang munafik, Allah Subhanahu wa Ta’ala memanggilnya di hadapan orang banyak. Mereka orang-orang yang mendustakan Rabbnya. Ketahuilah, laknat Allah itu untuk orang-orang yang zhalim" [Hadits Riwayat Bukhari Muslim] &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah… Allah telah menutupi dosa dosa hambanya… dan mengapa kita sebagai hambanya membuka dosa dosa kita sendiri…. Ada banyak cara untuk menasehati orang lain untuk berbagi pengalaman hidup tapi tidak harus membuka dosa dosa yang Allah telah tutupi… wallahualam….&lt;br /&gt;Selama majelis berjalan… ada daftar hadir  yang harus di isi yang juga berisi catatan amalan harian selama seminggu. Setiap perserta harus mengisinya dengan maksud untuk mengevaluasi setiap mad’u … untuk saling memotivasi bila ada catatan amal yang jelek… Sungguh ini juga rasanya tidak wajar..karena seharusnya seorang muslim harus tawadhu dan berhak menyembunyikan amal sholehnya….. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Satu kebid’ahan yang pasti selalu di lakukan adalah pada saat menutup majelis. Majelis harus ditutup dengan do’a robitoh…. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Rytha sempat menanyakan kepada sebagian dari mereka, ternyata sebagian besar dari tidak mengetahui bahwa do’a robithoh itu bukan berasal dari hadist Nabi shallahu’alaihi wa sallam melainkan hanyalah do’a karangan Hasan Al Banna… Awalnya Rytha sendiri tidak menyadari hal tersebut juga… astaghfirullah… &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ada satu buku dzikir yang di baca oleh semua pengikut tarbiyah yang di sebut dengan Al Ma’surat…. Syaikh Ihsan bin Ayisy al-Utaibi rahimahullahu berkata: "Di akhir al-Ma'tsurot terdapat wirid robithoh, ini adalah bid'ah shufiyyah yang diambil oleh Hasan al-Banna dari tarikatnya, Hashshofiyyah." .(Kitab TarbiyatuI Aulad fil Islam Ii Abdulloh Ulwan fi Mizani Naqd Ilmi hal. 126) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mereka sangat khusuk sekali sewaktu membacanya dan membacanya secara rutin selepas majelis… Tidak hanya dalam liqo saja… tapi juga pada tabligh akbar.. dauroh dauroh… Rytha pikir do’a ini dibacakan di majelis karena murobbinya belum paham.. tapi pada saat do’a itu kerap di bacakan oleh kalangan para "ustadz" ini menjadi sesuatu yang aneh sekali… Ditambah lagi dengan pembacaaannya yang sangat didramatisir dan diiringi dengan tangisan tangisan…. Astaghfirullah….. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ada suatu cerita dari mulut kemulut yang menyebar… bahwa do’a itu di yakini bisa mengikat hati.. Ceritanya dulu ada seorang anggota liqo yang mau keluar dari jama’ah … selanjutnya&lt;br /&gt;mereka mendo’akan ukhti tersebut dengan do’a robitoh ini…dan ukhti itu kebetulan tidak jadi keluar……. Jadilah dianggap do’a robithoh ini sangat berkesan...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Do’a ini merupakan do’a kebanggaan yang katanya akan dibaca di mana mana.. walaupun Anti (kamu untuk perempuan, ed) pergi ke luar negeri dan liqo di sana.. Anti pasti akan menemukan robithoh … astaghfirullah… &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bila do’a ini akan dibacakan terlebih dahulu membayangkan orang orang yang kita cintai , orang orang yang tidak kita kenal, akan lebih manjur khasiat nya… bisa menguatkan ikatan hati… na’uzubillah… ini sangat mirip dengan praktek praktek sufi… &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Beginilah kalau praktek agama di dasarkan pada sharing pengalaman….. para mad’u yang juga nantinya menjadi murobbi menjadi penyalur yang cepat berkembangnya cerita ke bid’ahan yang sama yang mereka dengar dari murobbi murobbi mereka…. Ikhwah sekalian, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Tidak diragukan lagi bahwa dzikir dan do'a termasuk di antara ibadah-ibadah yang paling afdhol (utama), dan ibadah dilandaskan alas tauqif dan ittiba', bukan atas hawa nafsu dan ibtida (membuat hal yang baru, ed) Maka do'a-do'a dan dzikir-dzikir Nabi shalallahu wa`alahi wassalam adalah yang paling utama untuk diamalkan oleh seorang yang hendak berdzikir dan berdo'a. Orang yang mengamalkan do'a-do'a dan dzikir-dzikir Nabi Shollallahu 'Alaihi Wasallam adalah orang yang berada di jalan yang aman dan selamat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Faedah dari hasil yang didapatkan dari mengamalkan do'a-do'a dan dzikir-dzikir Nabi Shollallahu 'Alaihi Wasallam begitu banyak sehingga tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, Adapun dzikir-dzikir dari selain Nabi Shollallahu 'Alaihi Wasallam , kadang-kadang diharomkan, kadang-kadang makruh, dan kadang-kadang di dalamnya terdapat kesyirikan yang kebanyakan orang tidak mengetahuinya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tidak diperkenankan bagi seorang pun membuat bagi manusia dzikir-dzikir dan do'a-do'a yang tidak disunnahkan, serta menjadikan dzikir-dzikir tersebut sebagi ibadah rutin seperti sholat lima waktu, bahkan ini termasuk agama bid'ah yang tidak diizinkan oleh Allah. Adapun menjadikan wirid yang tidak syar'i maka ini adalah hal yang terlarang, bersamaan dengan ini dzikir-dzikir dan wirid-wirid yang syar'i sudah memenuhi puncak dan akhir dari tujuan yang mulia, tidak ada seorang pun yang berpaling dari dzikir-dzikir dan wirid-wirid yang syar'i menuju kepada dzikir-dzikir dan wirid-wirid yang bid'ah melainkan (dialah) seorang yang jahil atau sembrono atau melampaui batas." [Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di dalam Majmu' Fatawa 22/510-511] &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mudah mudahan ini dapat membuat para ikhwah di tarbiyah dan kita semua umumnya untuk lebih berhati hati….banyak sekali praktek dzikir dzikir bid’ah dan praktek praktek ibadah yang tidak ada tuntunan syar’inya…. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Afwan bila ada kata kata yang tidak berkenan… &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Agar lebih paham… silahkan baca link link di footnote , dan telusuri website website tersebut.. insyaAllah kalau ikhwah sekalian ikhlas.. itu akan menghantarkan kepada kebenaran… Wallahualam bishshowab &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;InsyaAllah bersambung &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;foot note : &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;------------------------------------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;4.Taqliq dan fanatisme golongan&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;amp;id_online=116"&gt;http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;amp;id_online=116&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;5.Kedudukan Akal Dalam Islam, &lt;a href="http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;amp;id_online=172"&gt;http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;amp;id_online=172&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;6.Bolehkah Hadits Dhaif Diamalkan Dan Dipakai Untuk Fadhaailul A'maal [Keutamaan Amal] ? http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&amp;amp;article_id=1315&amp;amp;bagian=0 ; Pendapat Beberapa Ulama Tentang Hadits-Hadits Dha'if Untuk Fadhaailul A'maal&lt;br /&gt;&lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&amp;amp;article_id=1333&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&amp;amp;article_id=1333&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;7.Wajib Menjelaskan Hadits-Hadits Dha'if Kepada Umat Islam, &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&amp;amp;article_id=1359&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&amp;amp;article_id=1359&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;8.Adakah Bid'ah Hasanah?&lt;br /&gt;http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=127 Bid'ahnya Dzikir Berjamaah, &lt;a href="http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=157"&gt;http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=157&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2286779167317491760-2043854141936553470?l=ibnumuflih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/feeds/2043854141936553470/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2009/01/hijrahnya-seorang-muslimah-ke-manhaj.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/2043854141936553470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/2043854141936553470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2009/01/hijrahnya-seorang-muslimah-ke-manhaj.html' title='Hijrahnya Seorang Muslimah Ke  Manhaj Salaf II'/><author><name>Ibnumuflih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10057495785514708022</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2286779167317491760.post-1414850676294704348</id><published>2009-01-02T23:45:00.000-08:00</published><updated>2009-01-03T00:57:44.258-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><title type='text'>Catatan Perjalanan Dari Medan</title><content type='html'>assalammu`alaikum ... rasanya dah terlalu lama tidak menulis di blog ini dikeranakan kesibukan2 dan juga urusan balik kampung membuat saya terhenti seketika untuk menulis , sebelum saya menyambung tulisan tentang kisah hijrah nya seorang akhwat ke manhaj salaf, saya ingin bercerita tentang suasana yang saya lihat ketika saya balik kampung ke medan (dah hampir 3 tahun tak balik ke medan) rasanya tak banyak yang berubah , keadaan masih sama .. disana - sini urusan birokrasi masih banyak tercemar dengan rasuah makanya SUMUT itu terkenal dengan makna &lt;strong&gt;(Segala Urusan Memakai Uang Tunai )&lt;/strong&gt; dan ketika saya membaca surat khabar, gubernur sumatera utara syamsul ariffin sempat di tanya soalan ini, apakah anda mampu untuk membersihkan arti negatif dari perkataan Sumut , beliau hanya menjawab insya allah , dan biarlah kita berikan kesempatan kepadanya untuk membersihkan sumut dari unsur2 yang negatif , insya allah&lt;br /&gt;kebetulan ketika saya balik ke medan suasana dijalanan yang saya lihat di penuhi dengan bendera2 parti yang sedang berkempen untuk memilih wakil2 rakyat samada untuk negeri atau parlimen, dan untuk anda pengetahuan anda, pilihan raya tahun 2009 kali ini di indonesia di sertai oleh 44 parti yang mengirim wakilnya masing2 untuk bertanding pilihan raya.&lt;br /&gt;terbayang di benak saya, bagaimana banyaknya para calon yang akan bertanding dalam pilihan raya kali ini , dan berapa besar kertas undian nya dengan calon2 yang sedia ada bertanding ?? apakah ini arti demokrasi yang di raih hasil perjuangan reformasi di indonesia ?? kali ini saya tidak akan membahas permasalahan ini.. begitu banyak pertanyaan2 yang ada di dalam benak saya , belum lagi jika saya lihat di dalam parti2 yang bertanding tersebut ada yang mendakwa mereka memperjuangkan islam , dan ianya bukan satu parti tapi banyak parti, masingg2 mereka berusaha menunjukkan mereka memperjuangkan agama islam di dalam demokrasi pilihan raya ini , kalau iya pun memperjuangkan islam , mengapa mereka tidak satukan saja parti nya ? dan berjuang bersama ... tapi ya tentu saja itu semua hanya penyedap rasa (baca: ajinomoto) untuk meraih undi rakyat yang indonesia yang mayoriti nya beragama islam , dan pada hakikat nya masing2 dari parti yang mengatasnama kan islam ini mempunyai kenginan dan tujuan yang berbeza ... walau mereka masing2 berkata mereka memperjuangkan agama islam .. innalillahi wainna ilahi rajiu`n&lt;br /&gt;dan inilah bendera2 dari beberapa parti yang mengikuti pilihan raya tahun 2009 &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286980705099310258" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 258px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8g8I3J5LI/AAAAAAAAAMw/GBhq_o10sKU/s320/pknu_34.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8g8Mv5jQI/AAAAAAAAAMo/GpooiLazetU/s1600-h/pis_33.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286980706142620930" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 247px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8g8Mv5jQI/AAAAAAAAAMo/GpooiLazetU/s320/pis_33.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8g8BbLS8I/AAAAAAAAAMg/A12jUBr3XYc/s1600-h/partai_kasih_demokrasi_indonesia_32.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286980703102913474" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 250px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8g8BbLS8I/AAAAAAAAAMg/A12jUBr3XYc/s320/partai_kasih_demokrasi_indonesia_32.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8g76uXXJI/AAAAAAAAAMY/sgkkLDBA2NQ/s1600-h/partai_demokrat_31.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286980701304347794" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8g76uXXJI/AAAAAAAAAMY/sgkkLDBA2NQ/s320/partai_demokrat_31.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8g7y-F4fI/AAAAAAAAAMQ/0mRuUN_olmM/s1600-h/partai_patriot_30.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286980699222827506" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 258px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8g7y-F4fI/AAAAAAAAAMQ/0mRuUN_olmM/s320/partai_patriot_30.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8gZjJzLJI/AAAAAAAAAMI/plrFkCz9sUw/s1600-h/pbr_29.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286980110861413522" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8gZjJzLJI/AAAAAAAAAMI/plrFkCz9sUw/s320/pbr_29.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8gZtzTYII/AAAAAAAAAMA/2aD-uhHbPx0/s1600-h/pdip_28.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286980113719844994" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 247px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8gZtzTYII/AAAAAAAAAMA/2aD-uhHbPx0/s320/pdip_28.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8gZTLvtrI/AAAAAAAAAL4/DXCSAuklov8/s1600-h/pbb_27.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286980106574608050" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8gZTLvtrI/AAAAAAAAAL4/DXCSAuklov8/s320/pbb_27.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8gZAhofhI/AAAAAAAAALw/WSBFpwDacmk/s1600-h/pnbk_26.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286980101566135826" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 241px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8gZAhofhI/AAAAAAAAALw/WSBFpwDacmk/s320/pnbk_26.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8gYnsVjqI/AAAAAAAAALo/Cmy2fhfziOM/s1600-h/partai_damai_sejahtera_25.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286980094900145826" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8gYnsVjqI/AAAAAAAAALo/Cmy2fhfziOM/s320/partai_damai_sejahtera_25.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8fu1XerBI/AAAAAAAAALg/ljoo7gKowP8/s1600-h/partai_persatuan_pembangunan_24.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286979377016253458" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8fu1XerBI/AAAAAAAAALg/ljoo7gKowP8/s320/partai_persatuan_pembangunan_24.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8fu_eD3zI/AAAAAAAAALY/fUSUCoyVTGg/s1600-h/partai_golongan_karya_23.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286979379728211762" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8fu_eD3zI/AAAAAAAAALY/fUSUCoyVTGg/s320/partai_golongan_karya_23.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8fuQCrmWI/AAAAAAAAALQ/p3UrwFvm5js/s1600-h/partai_pelopor_22.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286979366996908386" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8fuQCrmWI/AAAAAAAAALQ/p3UrwFvm5js/s320/partai_pelopor_22.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8fuBHN7fI/AAAAAAAAALI/wqpTvFWKlTM/s1600-h/partai_republik_nusantara_21.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286979362989403634" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 253px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8fuBHN7fI/AAAAAAAAALI/wqpTvFWKlTM/s320/partai_republik_nusantara_21.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8fuDTH_fI/AAAAAAAAALA/oemZOGwHDPY/s1600-h/partai_demokrasi_kebangsaan_20.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286979363576217074" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8fuDTH_fI/AAAAAAAAALA/oemZOGwHDPY/s320/partai_demokrasi_kebangsaan_20.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8fQafhR9I/AAAAAAAAAK4/Mgq0G-pGEd0/s1600-h/partai_penegak_demokrasi_indonesia_19.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286978854406146002" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8fQafhR9I/AAAAAAAAAK4/Mgq0G-pGEd0/s320/partai_penegak_demokrasi_indonesia_19.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8fQMVc0FI/AAAAAAAAAKw/fsuvUmWlYOo/s1600-h/partai_matahari_bangsa_18.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286978850605813842" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8fQMVc0FI/AAAAAAAAAKw/fsuvUmWlYOo/s320/partai_matahari_bangsa_18.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8fQLu5sYI/AAAAAAAAAKo/UX95LGUBYyU/s1600-h/partai_karya_perjuangan_17.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286978850444128642" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8fQLu5sYI/AAAAAAAAAKo/UX95LGUBYyU/s320/partai_karya_perjuangan_17.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8fPgJhH-I/AAAAAAAAAKg/hh9llUEU3jE/s1600-h/partai_demokrasi_pembaruan_16.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286978838744604642" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8fPgJhH-I/AAAAAAAAAKg/hh9llUEU3jE/s320/partai_demokrasi_pembaruan_16.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8fPgXRggI/AAAAAAAAAKY/n1QJ3eEjEiM/s1600-h/pni_marhaenisme_15.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286978838802301442" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 266px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8fPgXRggI/AAAAAAAAAKY/n1QJ3eEjEiM/s320/pni_marhaenisme_15.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8cKo2evtI/AAAAAAAAAJA/uZQvXi5WbqY/s1600-h/ppi.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286975456646446802" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8cKo2evtI/AAAAAAAAAJA/uZQvXi5WbqY/s320/ppi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286975451841643650" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 242px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8cKW87RII/AAAAAAAAAI4/_ylfYS5hEPA/s320/pkb_13.jpg" border="0" /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8cKLsFKdI/AAAAAAAAAIw/6YWNrHKlk2I/s1600-h/partai_persatuan_daerah_12.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286975448818198994" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8cKLsFKdI/AAAAAAAAAIw/6YWNrHKlk2I/s320/partai_persatuan_daerah_12.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8cJrgOOeI/AAAAAAAAAIg/o26kk4i74_A/s1600-h/partai_perjuangan_indonesia_baru_10.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286975440178526690" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8cJrgOOeI/AAAAAAAAAIg/o26kk4i74_A/s320/partai_perjuangan_indonesia_baru_10.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8cKN2WaKI/AAAAAAAAAIo/yUCtTF1Pu7w/s1600-h/partai_kedaulatan_11.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286975449398143138" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8cKN2WaKI/AAAAAAAAAIo/yUCtTF1Pu7w/s320/partai_kedaulatan_11.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8bUwgp_5I/AAAAAAAAAH4/qnoyfygdAc8/s1600-h/partai+gerindra.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286974530989457298" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8bUwgp_5I/AAAAAAAAAH4/qnoyfygdAc8/s400/partai+gerindra.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286974545761416082" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8bVnikM5I/AAAAAAAAAIY/_L6cctw8-3I/s400/pan_9.jpg" border="0" /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8bVW_X2CI/AAAAAAAAAIQ/a1XPd2PQndY/s1600-h/partai_keadilan%20sejahtera_8.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286974541318838306" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8bVW_X2CI/AAAAAAAAAIQ/a1XPd2PQndY/s400/partai_keadilan%2520sejahtera_8.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8bVFXFDlI/AAAAAAAAAII/9Ft2i9uTXac/s1600-h/partai_keadilan_dan_persatuan_indonesia_7.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286974536586432082" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 281px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8bVFXFDlI/AAAAAAAAAII/9Ft2i9uTXac/s400/partai_keadilan_dan_persatuan_indonesia_7.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8bU8mUtJI/AAAAAAAAAIA/w6AHnHPunrg/s1600-h/partai_barisan_nasional.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286974534234453138" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 281px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8bU8mUtJI/AAAAAAAAAIA/w6AHnHPunrg/s400/partai_barisan_nasional.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8YNVd8eoI/AAAAAAAAAHI/-HKnkOGaswY/s1600-h/pprn.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286971104936360578" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 390px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8YNVd8eoI/AAAAAAAAAHI/-HKnkOGaswY/s400/pprn.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8YNWU8rAI/AAAAAAAAAHA/BVmrDcKx3VI/s1600-h/pppi.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286971105167059970" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 399px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8YNWU8rAI/AAAAAAAAAHA/BVmrDcKx3VI/s400/pppi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8YNA21l2I/AAAAAAAAAG4/JNCxUw9A7Ec/s1600-h/PKPB.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286971099403622242" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 129px; CURSOR: hand; HEIGHT: 133px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8YNA21l2I/AAAAAAAAAG4/JNCxUw9A7Ec/s400/PKPB.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8YNOln9II/AAAAAAAAAGw/cO_yKBQJPUY/s1600-h/hanura.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286971103089521794" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 250px; CURSOR: hand; HEIGHT: 259px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8YNOln9II/AAAAAAAAAGw/cO_yKBQJPUY/s400/hanura.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2286779167317491760-1414850676294704348?l=ibnumuflih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/feeds/1414850676294704348/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2009/01/blog-post_02.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/1414850676294704348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/1414850676294704348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2009/01/blog-post_02.html' title='Catatan Perjalanan Dari Medan'/><author><name>Ibnumuflih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10057495785514708022</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_VW5ur_l8FfI/SV8g8I3J5LI/AAAAAAAAAMw/GBhq_o10sKU/s72-c/pknu_34.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2286779167317491760.post-4798628637478281003</id><published>2008-12-18T16:40:00.000-08:00</published><updated>2009-01-17T20:52:35.006-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manhaj'/><title type='text'>Hijrahnya Seorang Muslimah Ke  Manhaj Salaf</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sebuah Catatan Blog Perjalanan Seorang Muslimah dari Manhaj Tarbiyah ke Manhaj Salaf" &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;catatan ini merupakan catatan pribadi yang di berikan keizinan oleh penulisnya untuk mempublikasikan kepada umum , supaya apa yang dirasakan oleh nya dapat di kongsi bersama bagi sesiapa saja yang masih lagi tersangkut dengan manhaj-manhaj yang menyelisihi manhaj salaf , mengingat panjang nya catatan ini saya akan bagi menjadi beberapa bahagian , dan catatan ini juga saya edit tanpa mengurangi maksud asal dari si penulis ... semoga catatan ini bermanfaat kepada kita semua, dan kepada si penulis, saya ucapkan .. barakallahi fiik , tetaplah istiqomah di dalam menempuh manhaj salaf , manhaj yang tidak ada lagi keraguan di dalam nya , manhaj yang penuh dengan hujjah  dan di atas nya lah kita berdiri untuk menebas segala macam khurafat dan bid`ah harakiyun ... allahu musta`an ..  &lt;span id = "fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Seorang ikhwan menanyakan lewat email mengapa Rytha hijrah….karena sesuatu hal email tersebut tidak sempat terbalas….&lt;br /&gt;Mungkin dengan sharing di sini bisa memberikan jawaban bukan saja buat beliau tapi kepada saudara saudara seiman lainnya yang sekarang masih dalam lingkaran hizbiyah…. Rytha tidak akan membahas dengan detail dari segi shar’inya karena insyaAllah sudah banyak sekali ulama-ulama ahlul sunnah yang lebih berkompoten yang membahasnya… InsyaAllah akan diberikan referensi kepada mereka yang berhati ikhlas dan memang benar benar mencari jalan yang benar dan lurus dan bersungguh sungguh untuk mempelajarinya…&lt;br /&gt;Yang akan Rytha paparkan di sini adalah apa yang Rytha rasakan dan yang Rytha alami sendiri.. Afwan ini tidak di maksudnya dalam ber ghibah yang semata mata untuk menjelekkan suatu golongan akan tertapi dalam rangka menasehati. Seperti halnya apa yang Imam Nawawi katakan… "Ketahuilah bahwasanya ghibah diperbolehkan untuk tujuan yang benar dan syar'i, di mana tidak mungkin sampai kepada tujuan tersebut, kecuali dengan cara berghibah, yang demikian itu disebabkan enam perkara : Yang keempat, dalam rangka memberi peringatan kepada kaum muslimin dari keburukan dan dalam rangka memberi nasehat kepada mereka, dan yang demikian itu dalam kondisi-kondisi berikut ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di antaranya, dalam rangka men-jarh (meyebutkan cacat) para majruhin (orang-orang yang disebutkan cacatnya) dari para rawi hadits dan saksi, dan yang demikian itu diperbolehkan berdasarkan ijma' kaum muslimin, bahkan bisa menjadi wajib hukumnya. Rytha maksud kan tulisan ini sebagai nasehat… insyaAllah…. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Rytha menulis judul tulisan ini sebagai Hijrah…. Tapi hijrah di sini bukan bermaksud berarti pindah tempat melainkan hijrah dari duduk dan bermajelis hizbiyah ke lingkungan yang bermanhaj salafus sholeh…. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di indonesia ada suatu hizbiyah1 yang sangat berkembang pesat menguasai hampir sebagian besar aktifitas aktifitas keagamaan yang mereka menyebutkan dirinya adalah "tarbiyah" a.k.a (also known as) "ikhwani" a.k.a "PKS" yang mengadopsi pemikiran ikhwanul muslimin2… dan menggunakan buku buku ulama mereka sebagai text books…&lt;br /&gt;Awalnya keputusan untuk hijrah itu terasa sangat sulit… karena sudah terlanjur dekat dan sayang dengan teman teman se- liqo3. Melihat wajah wajah polos mereka, yang tanpa mereka sadari mereka jatuh dalam suatu lingkaran yang mereka percaya sebagai lingkaran da’wah yang sunnah. Mereka orang-orang yang bersemangat untuk memperjuangkan Islam… Kadang hati semakin berat melihat jundi jundi kecil mereka yang polos….. Sangat sulit, ada perasaaan alangkah jeleknya meninggalkan saudara seiman tanpa terlebih dahulu melakukan sesuatu…..&lt;br /&gt;Dulu Rytha berfikir Rytha lebih baik tetap berada di lingkungan tersebut dan melakukan perubahan sedikit demi sedikit sesuai dengan kemampuan Rytha…tapi sepertinya tidak ada bedanya… &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Baru akhirnya di sadari hal tersebut tidak tepat. InsyaAllah nanti Rytha akan berbagi mengapa pemikiran tersebut tidak tepat.&lt;br /&gt;Suatu prinsip yang mendarah daging bagi para ikhwah tarbiyah adalah selama semua kelompok-kelompok pengajian yang ada bertujuan untuk mencari keridhoan Allah dan surga, maka kelompok itu semua adalah benar. Menganggap bahwa perbedaan itu adalah fitrah, dan justru menambah "khasanah" kekayaan cara berpikir umat Islam. Benar-benar telah terdoktrin oleh pemikirannya Hasan Al-Banna, yaitu: "Marilah kita bekerja sama untuk hal-hal yang disepakati, dan saling menghargai untuk hal-hal yang berbeda". InsyaAllah akan di share juga masalah ini nanti , Berikut ini adalah beberapa hal yang Rytha temukan menjadikan alasan Rytha untuk hijrah. Rytha akan bagi beberapa poin…. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;1. Murobbi.&lt;br /&gt;Murobbi atau guru lebih di pilih karena faktor kesenioritasan, berdasarkan lamanya seseorang tersebut bergabung. Sehingga tidak jarang di dapati bahwa kapasitas keilmuan seorang Murobbi lebih rendah dari mad’u nya (murid).&lt;br /&gt;Seorang "murobbi" mengatakan bahwa fenomena itu adalah suatu fenomena yang biasa bahkan inilah yang disebutkan sebagai "tarbiyah" yang sebenarnya. Bahwa kita harus bersabar untuk menghadapi guru yang kapasitas keilmuannya lebih rendah dari kita…Tidak jarang dan tidak aneh kalau Murobbi membaca al Qur’annya lebih jelek dari mad’u nya… mungkin yang di maksud dalam hal ini liqo di harapkan sebagai saran yang saling melengkapi antara mad'u dan murobbi.... &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Memang banyak pelajaran dan materi liqo yang sesungguhnya bagus dan dzat materi tersebut yang di ajarkan para ulama ahlul sunnah (seperti materi ma’rifatullah, ma’rifaturrasul dan lain lain ), tapi bila materi penting ini di sampaikan oleh murobbi yang belum tentu memiliki ilmu dan pemahaman yang baik, maka ini akan menyesatkan. Mungkin mereka akan membantah bahwa liqo yang sangat sebentar itu sangat mustahil untuk mencetak ahli syariah dan hanya lebih menekan kepada pembentukan generasi yang berwawasan dan berkepribadian Islami…&lt;br /&gt;Tapi fungsi dari murobi sendiri di sini di harapkan murobbi bisa menjadi orang tua, sahabat pemimpin dan guru pada mad’u nya. Selayaknya kapasitas seorang guru yang menyampaikan ilmu haruslah yang memiliki ilmu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalaman yang Rytha lihat di lapangan, setiap orang di tarbiyah bisa menjadi murobbi. Setiap kader di harapkan menjadi murobbi, harus siap siapapun yang di tunjuk untuk menjadi murobbi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Banyak yang menolak karena merasa kapasitas keilmuannya belum memadai. Tapi biasanya orang tersebut akan di nasehati bahwa kita harus berdawah walaupun untuk satu ayat. Kalau menunggu paham sampai siap… kita tidak akan pernah berda’wah. Di sisi yang lain mereka memerlukan kader yang pro aktif untuk menjadi murobbi karena adanya target perekrutan besar besaran untuk mencapai target beberapa persen dalam pemilu. Jadi di harapkan kader "senior" yang belum memiliki bimbingan (mad’u) harus berusaha mencari bimbingan. Bahkan ini di anggap suatu ke aiban bila sudah lama liqo’ tapi masih tidak memiliki mad’u. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Na’uzubillah… ikhwah yang paham pasti dapat merasakan alangkah berbahayanya pemikiran pemikiran seperti ini….. tapi ikhwah yang sudah berada di tarbiyah ikhwani pasti sangat paham dengan apa yang Rytha katakan…kalau benar benar jujur tidak akan menyangkal fenomena fenomena ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Memang benar Rasulullah shalallahu wa`alahi wassalam mengatakan bahwa sampaikanlah walau hanya satu ayat. Tapi ini berarti bahwa kita harus menyampaikan benar benar sesuatu yang sudah kita pahami dan kita kuasai… dan seharusnya berda’wah sesuai dengan kapasitas yang benar benar kita pahami… Dan bukanlah menjadi kewajiban setiap orang untuk menjadi murobbi dan guru. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menjadi murobbi dadakan atau menjadi murobbi karena di paksakan tanpa mengetahui ilmu syar’i secara benar justru akan menyesatkan…. Hanya berdasarkan belajar dan membaca semalam buku buku syar’i dalam rangka menyampaikan materi…. Ini bukan suatu hal yang menjadikan seorang tersebut sebagai murobbi…… &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kalau ingin berfikir jernih dan jujur ini bisa menjadi bibit munculnya pemikiran pemikiran yang salah… dan menimbulkan kebid’ahan kebid’ahan….&lt;br /&gt;Mungkin ada ikhwah yang mengatakan bahwa liqo yang hanya 2 or 3 jam [walau kadang bisa molor sampe seharian tidak jelas]… tidak mungkin sempurna dan hanya sempat disampaikan beberapa hal hal penting saja, jadi para mad’u di harapkan menambah keilmuan lainya karena mereka memiliki perangkat "tarbiyah" yang lain seperti dauroh, mabit, tatsqif, membaca buku dan lain lain. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ada baiknya kalau begitu para ikhwah tarbiyah juga mengikuti ta’lim dan dauroh ilmiyah dan membaca buku buku ilmiyah yang bermanhaj salaf yang di tulis oleh ulama ulama ahlul sunnah…. (Rytha yakin banyak ikhwah ikhwani yang tidak mengenal siapa yang di sebut ulama ) kebanyakan dari mereka hanya mengenal Hasan Al banna…. Said Qutb, Muhammad Ghazali, Yusuf Qordhawi, Said Hawa dan yang sejenisnya….) Tapi bukan mereka yang Rytha maksud sebagai ahlul sunnah…. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;InsyaAllah pada kesempatan lain akan di sampaikan beberapa ulama yang karya karya mereka yang patut di jadikan rujukan…. Ini akan lebih baik daripada ikutan mabid (baca: mabit, ed) yang merupakan malam ke-bid’ah-an atau membaca buku buku ulama ulama tersebut di atas yang banyak menyimpang dan di kritik ulama ulama ahlul sunnah….&lt;br /&gt;Setiap orang tidak harus menjadi murobbi.. bahkan seorang ulama besar ahli hadist abad ini Syaikh Nasiruddin Al-Albani beliau mengatakan diri beliau sebagai thollabul ilmy yaitu penuntut ilmu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita tidak memiliki kemampuan dalam bidang syar’i ini malah menjadi wajib bagi kita untuk tidak menyampaikan hal hal yang kita tidak pahami karena Allah sendiri melaknat orang orang yang menyampaikan apa apa yang dia tidak ketahui. Rytha masih ingat dengan penuturan seorang murobbi yang juga seorang istri ustadz bahwa beliau mengaku beliau sih memang tidak paham tentang ilmu syar’i tapi beliau lebih banyak akan berbagi pengalaman hidup. … bisa di bayangkan pengajian lebih banyak di gunakan untuk berbagi pengalaman pribadi, praktek deen hanya banyak didasarkan pada pengalaman dan interpretasi sendiri.. dan menurut apa apa yang di rasakan ….. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;sedikitnya keilmuan seorang murobbi membuat liqo’at terkadang hanya untuk membuang buang waktu.. Dapat di bayangkan seorang wanita terkadang harus meninggalkan rumah, meninggalkan anaknya atau membawa anaknya untuk berdiam di suatu tempat yang akhirnya berhasil pada kesia siaan… &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Rytha bisa merasakan bagaimana merasa sia sianya terkadang seseorang meninggalkan aktifitasnya hanya untuk berkumpul tampa menghasilkan hal berarti… &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pernah seorang murobbi membahas tentang bagaimana kita harus bersikap ramah terhadap sekeliling… kita harus menebar senyum…dan beliau memberi contoh dari perilaku seorang yang baik di lingkungan beliau… sampai pada suatu titik dimana kita juga harus senyum pada orang pemabuk yang merupakan laki laki non mahram… &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;ketika disampaikan ketidak setujuan…...beliau berusaha mengukuhkan pendapat beliau dengan "pengalaman pribadi beliau" dan cerita pengalaman orang lain… sangat jauh dari tinjauan fiqih dan syar’i yang syarat dengan hadist dan ayat dan juga fatwa fatwa ulama ahlul sunnah.. subhanallah… &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Murobbi yang lain… menyampaikan materi dari buku… sepanjang pengajian beliau akan membaca dari buku dan sesekali akan memberikan penjelasan … bukan penjelasan atsar…. Tafsir atau syarah.. atau perkataan ulama.. melainkan penjelasan secara logika ..... &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;footnote&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;1.Hizbiyyah Bukan Hizbullah : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&amp;amp;article_id=81&amp;amp;bagian=0 ; Benang Merah Antara Harokah Dan Khurofat 1/2&lt;br /&gt;http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&amp;amp;article_id=1694&amp;amp;bagian=0&lt;br /&gt;Benang Merah Antara Harokah Dan Khurofat 2/2&lt;br /&gt;http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&amp;amp;article_id=1695&amp;amp;bagian=0 Ciri Khas Pengikut Harokah ½&lt;br /&gt;http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&amp;amp;article_id=1564&amp;amp;bagian=0 Ciri Khas Pengikut Harokah 2/2&lt;br /&gt;http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&amp;amp;article_id=1565&amp;amp;bagian=0&lt;br /&gt;2 Sejarah Ikhwanul Muslimin, http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&amp;amp;article_id=1653&amp;amp;bagian=0&lt;br /&gt;Manhaj Dakwah Yang Melenceng Dari Syari'ah, http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&amp;amp;article_id=1785&amp;amp;bagian=0&lt;br /&gt;Sejarah Suram Ikhwanul Muslimin, http://darussalaf.or.id/index.php?name=News&amp;amp;file=article&amp;amp;sid=66&lt;br /&gt;3 Istilah pengajian berkelompok sering di sebut liqo. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;InsyaAllah bersambung. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2286779167317491760-4798628637478281003?l=ibnumuflih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/feeds/4798628637478281003/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/12/hijrahnya-seorang-muslimah-ke-manhaj.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/4798628637478281003'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/4798628637478281003'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/12/hijrahnya-seorang-muslimah-ke-manhaj.html' title='Hijrahnya Seorang Muslimah Ke  Manhaj Salaf'/><author><name>Ibnumuflih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10057495785514708022</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2286779167317491760.post-9142695549219668656</id><published>2008-12-12T02:43:00.000-08:00</published><updated>2008-12-12T03:05:22.520-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bid`ah'/><title type='text'>Bid`ah Hasanah : Satu Penilaian Semula IV</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;AMARAN MENGADAKAN BID‘AH&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Islam adalah agama wahyu dan bukan agama ciptaan manusia. Perbuatan menokok tambah (bid‘ah) dalam agama boleh menghilangkan ketule-nannya, sehingga menyebabkan orang ramai tidak akan dapat membezakan antara ajaran asal yang bersumber daripada Allah dengan yang ditokok tambah oleh manusia. Terdapat banyak hujah daripada al-Quran, al-Sunnah dan para ulama yang memberi amaran agar tidak menokok tambah dalam agama. Berikut ini dikemukakan sebahagian daripada hujah-hujah tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amaran daripada al-Qur’an tentang bid‘ah: ... &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pertama:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;أَمْ لَهُمْ شُرَكَاء شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Patutkah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang menentukan - mana-mana bahagian dari ugama mereka - sebarang undang-undang yang tidak diizinkan oleh Allah? [al-Syura 42:21]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Oleh itu, hendaklah mereka yang mengingkari perintahnya, beringat serta berjaga-jaga jangan mereka ditimpa bala bencana, atau ditimpa azab seksa yang tidak terperi sakitnya. [al-Nur 24:63]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُواْ بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَاناً وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan-perbuatan yang keji, sama ada yang nyata atau yang tersembunyi; dan perbuatan dosa; dan perbuatan menceroboh dengan tidak ada alasan yang benar; dan (diharamkan-Nya) kamu mempersekutukan sesuatu dengan Allah sedang Allah tidak menurunkan sebarang bukti (yang membenarkannya); dan (diharamkanNya) kamu memperkatakan terhadap Allah sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya.” [al-A’raaf 7:33]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#top"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amaran daripada al-Sunnah tentang bid‘ah:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hadith Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang memberi amaran kepada pembuat dan pengamal bid‘ah sangat banyak jumlahnya. Kebanyakan para penyusun kitab hadith tidak ketinggalan memasukkan satu bab khas mengenainya di dalam kitab-kitab mereka. Di sini disebutkan beberapa riwayat, antaranya:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pertama:&lt;br /&gt;Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;...فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya sesiapa yang hidup selepasku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah al-Khulafa al-Rasyidin al-Mahdiyyin (mendapat petunjuk). Berpeganglah dengannya dan gigitlah ia dengan geraham. Jauhilah kamu perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama) kerana setiap yang diada-adakan itu adalah bid‘ah dan setiap bid‘ah adalah sesat.&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Maksud “…gigitlah ianya dengan geraham…” ialah peganglah ianya dengan bersungguh-sungguh serta bersabarlah dengannya.&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua:&lt;br /&gt;Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Sesiapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini (Islam) apa yang bukan daripadanya maka ianya tertolak.”&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga:&lt;br /&gt;Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً. قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَال:َ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“……Sesungguhnya Bani Israil berpecah kepada 72 puak dan umatku akan berpecah kepada 73 puak. Kesemua mereka dalam neraka kecuali satu puak”. Mereka (para sahabat) bertanya: “Apakah puak itu wahai Rasulullah?” Jawab baginda: “Apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.”&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat:&lt;br /&gt;Abu Musa al-Asy‘ari radhiallahu 'anh berkata:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;صَلَيْنَا المَغْرِبَ مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ قُلْنَا: لَوْ جَلَسْنَا حَتَّى نُصَلِّى مَعَهُ اْلعَشَاءَ قَالَ: فَجَلَسْنَا فَخَرَجَ عَلَيْنَا فَقَالَ: "مَا زِلْتُمْ هَهُنَا؟" قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ صَلَيْنَا مَعَكَ الْمَغْرَبَ ثُمَّ قُلْنَا: نَجْلِسُ حَتَّى نُصَلَّى مَعَكَ اْلعِشَاءَ. قَال:"أحْسَنْتُمْ أَوْ أَصَبْتُمْ" قَالَ: فَرَفَعَ رَأسَهُ إلىَ السَّماِء وَكانَ كَثِيرْاً مِمَّا يَرْفَعُ رَأسَهُ إلىَ السَّماِء فَقَالَ: "النُّجُومُ أَمَنَـةٌ للسَّمَاِء فَإذا ذَهَبَتِ النُّجُومُ أَتى السَّمَاءَ مَا تُوْعَدُ، وَأناَ أَمَنَـةٌ لأَصْحَابِى فَإذا ذَهَبْتُ أَتى أَصْحَابِى مَا يُوْعَدُونَ وَأَصْحَابِى أَمَنَـةٌ لأمَّتِى فَإذَا ذَهَبَ أصْحَابِى أَتى أُمَّتِى مَا يُوْعَدُون&lt;/span&gt;".&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Kami telah menunaikan solat Maghrib bersama dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Kemudian kami berkata: “Kalaulah kita tunggu sehingga kita dapat bersolat Isyak bersama baginda.” Maka kami tunggu sehingga baginda keluar kepada kami lalu bersabda, “Kamu semua masih di sini?” Jawab kami: “Wahai Rasulullah! Kami telah menunaikan solat Maghrib bersama engkau kemudian kami berkata, mari kita duduk sehingga kita dapat bersolat Isyak bersamamu.” Sabda baginda: “Kamu semua telah melakukan sesuatu yang baik lagi betul.”&lt;br /&gt;Kemudian baginda mengangkat kepalanya (melihat) ke langit dan ramailah yang mengangkat kepala (melihat) ke langit lalu baginda bersabda: “Bintang-bintang tersebut adalah penyelamat langit. Apabila perginya bintang-bintang tersebut maka akan didatangilah langit apa yang telah dijanjikan untuknya. Aku adalah penyelamat sahabat-sahabatku. Apabila aku telah pergi maka akan didatangilah sahabat-sahabatku apa yang telah dijanjikan untuk mereka. Sahabat-sahabatku pula adalah penyelamat umatku. Apabila perginya sahabat-sahabatku maka akan didatangilah umatku apa yang dijanjikan untuk mereka.”&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Berkata al-Imam al-Nawawi rahimahullah:&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Maksud ungkapan “sahabat-sahabatku adalah penyelamat umatku” ialah mereka menyelamatkan umat dari zahirnya bid‘ah, mengada-adakan perkara baru dalam agama, fitnah terhadap agama, zahirnya syaitan, Rum dan selainnya ke atas mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#top"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amaran daripada para ulama’ tentang bid‘ah:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Para ulama’, terdiri daripada para sahabat dan para tokoh dulu dan kini, turut memberi amaran tentang bid ‘ah. Di sini disebutkan tiga contoh, satu daripada seorang sahabat, satu daripada seorang tokoh terdahulu dan satu daripada seorang tokoh terkini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Amaran ‘Abd Allah bin Mas‘ud.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;‘Abd Allah bin Mas‘ud radhiallahu 'anh adalah sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang begitu terkenal dengan keilmuan dan kefahamannya dalam agama. al-Imam al-Darimi rahimahullah (255H) meriwayatkan amaran serta bantahan beliau terhadap bid‘ah berzikir secara kumpulan yang muncul pada zamannya:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;عَنْ عمرو بن سلمة قَالَ: كُنَّا نَجْلِسُ عَلَى بَابِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَبْلَ صَلاَةِ الْغَدَاةِ فَإِذَا خَرَجَ مَشَيْنَا مَعَهُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَجَاءَنَا أَبُو مُوسَى الأَشْعَرِيُّ فَقَالَ أَخَرَجَ إِلَيْكُمْ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ بَعْد؟ُ قُلْنَا: لاَ! فَجَلَسَ مَعَنَا حَتَّى خَرَجَ فَلَمَّا خَرَجَ قُمْنَا إِلَيْهِ جَمِيعًا.&lt;br /&gt;فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنِّي رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ آنِفًا أَمْرًا أَنْكَرْتُهُ وَلَمْ أَرَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ إِلاَّ خَيْرًا. قَالَ: فَمَا هُوَ؟ فَقَالَ: إِنْ عِشْتَ, فَسَتَرَاهُ. قَالَ: رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ قَوْمًا حِلَقًا جُلُوسًا يَنْتَظِرُونَ الصَّلاَةَ, فِي كُلِّ حَلْقَةٍ رَجُلٌ وَفِي أَيْدِيهِمْ حَصًى, فَيَقُولُ: كَبِّرُوا مِائَةً, فَيُكَبِّرُونَ مِائَةً. فَيَقُولُ: هَلِّلُوا مِائَةً. فَيُهَلِّلُونَ مِائَةً. وَيَقُولُ: سَبِّحُوا مِائَةً. فَيُسَبِّحُونَ مِائَةً. قَالَ: فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ؟ قَالَ: مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ رَأْيِكَ وَانْتِظَارَ أَمْرِكَ.&lt;br /&gt;قَالَ: أَفَلاَ أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ, وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ. ثُمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلْقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ, فَقَالَ: مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ؟ قَالُوا: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًى نَعُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ. قَالَ: فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ, فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ, وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ! هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُونَ, وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ, وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ, وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ, أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلاَلَةٍ؟!&lt;br /&gt;قَالُوا: وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ. قَالَ: وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ. إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا أَنَّ قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِي لَعَلَّ أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ.&lt;br /&gt;فَقَالَ عَمْرُو بْنُ سَلَمَةَ: رَأَيْنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الْحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوْمَ النَّهْرَوَانِ مَعَ الْخَوَارِجِ. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Daripada ‘Amr bin Salamah&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt; katanya: “Satu ketika kami duduk di pintu ‘Abd Allah bin Mas‘ud sebelum solat subuh. Apabila dia keluar, kami akan berjalan bersamanya ke masjid. Tiba-tiba datang kepada kami Abu Musa al-Asy‘ari, lalu bertanya: “Apakah Abu ‘Abd al-Rahman&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt; telah keluar kepada kamu?” Kami jawab: “Tidak!”. Maka dia duduk bersama kami sehingga ‘Abd Allah bin Mas‘ud keluar. Apabila dia keluar, kami semua bangun kepadanya.&lt;br /&gt;Lalu Abu Musa al-Asy‘ari berkata kepadanya: “Wahai Abu ‘Abd al-Rahman, aku telah melihat di masjid tadi satu perkara yang aku tidak bersetuju, tetapi aku tidak lihat – alhamdulilah – melainkan ianya baik”. Dia bertanya: “Apakah ia?”. Kata Abu Musa: “Jika umur kamu panjang engkau akan melihatnya. Aku melihat satu puak, mereka duduk dalam lingkungan (halaqah) menunggu solat. Bagi setiap lingkungan (halaqah) ada seorang lelaki (ketua kumpulan), sementara di tangan mereka yang lain ada anak-anak batu. Apabila lelaki itu berkata : Takbir seratus kali, mereka pun bertakbir seratus kali. Apabila dia berkata: Tahlil seratus kali, mereka pun bertahlil seratus kali. Apabila dia berkata: Tasbih seratus kali, mereka pun bertasbih seratus kali.” Tanya ‘Abd Allah bin Mas‘ud: “Apa yang telah kau katakan kepada mereka?”. Jawabnya: “Aku tidak kata kepada mereka apa-apa kerana menanti pandangan dan perintahmu”. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Berkata ‘Abd Allah bin Mas‘ud: “Mengapa engkau tidak menyuruh mereka mengira dosa mereka dan engkau jaminkan bahawa pahala mereka tidak akan hilang sedikit pun”. Lalu dia berjalan, kami pun berjalan bersamanya. Sehinggalah dia tiba kepada salah satu daripada lingkungan berkenaan. Dia berdiri lantas berkata: “Apa yang aku lihat kamu sedang lakukan ini?” Jawab mereka: “Wahai Abu ‘Abd al-Rahman! Batu yang dengannya kami menghitung takbir, tahlil dan tasbih”. Jawabnya: “Hitunglah dosa-dosa kamu, aku jamin pahala-pahala kamu tidak hilang sedikit pun. Celaka kamu wahai umat Muhammad! Alangkah cepat kemusnahan kamu. Para sahabat Nabi masih lagi ramai, baju baginda belum lagi buruk dan bekas makanan dan minuman baginda pun belum lagi pecah.&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt; , apakah kamu berada di atas agama yang lebih mendapat petunjuk daripada agama Muhammad, atau sebenarnya kamu semua pembuka pintu kesesatan?” &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jawab mereka : “Demi Allah wahai Abu ‘Abd al-Rahman, kami hanya bertujuan baik.” Jawabnya : “Betapa ramai yang bertujuan baik, tetapi tidak menepatinya.” Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah menceritakan kepada kami satu kaum yang membaca al-Quran namun tidak lebih dari kerongkong mereka.&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Demi Allah aku tidak tahu, barangkali kebanyakan mereka dari kalangan kamu.” Kemudian beliau pergi.&lt;br /&gt;Berkata ‘Amr bin Salamah: “Kami melihat kebanyakan puak tersebut bersama Khawarij memerangi kami pada hari Nahrawan.”&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah bagaimana ‘Abd Allah bin Mas‘ud radhiallahu 'anh membantah perbuatan ibadah kumpulan ini walaupun mereka pada asalnya memiliki niat dan pandangan yang baik. Pada zahirnya tiada yang buruk pada perbuatan mereka. Namun oleh kerana ia merupakan ibadah yang tidak ada contoh daripada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam maka ia ditolak. Bahkan ‘Abd Allah bin Mas‘ud memberi amaran betapa perbuatan bid‘ah yang kecil akan mengheret seseorang kepada bid‘ah yang lebih besar. ‘Abd Allah bin Mas‘ud menggambarkan mereka akan menyertai Khawarij yang sesat. Justeru itu ‘Abd Allah bin Mas‘ud juga pernah menyebut:&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;اقتصاد في سنة خير من اجتهاد في بدعة&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sederhana dalam sesuatu sunnah lebih baik daripada bersungguh sungguh dalam sesuatu bid‘ah .&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;إن البدعة الصغيرة بريد إلى البدعة الكبيرة.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya bid‘ah yang kecil adalah pembawa kepada bid‘ah yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Amaran al-Imam Malik Bin Anas&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Seorang lelaki telah datang kepada al-Imam Malik rahimahullah (179H)&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftn14" name="_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt; dan berkata:&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftn15" name="_ftnref15"&gt;[15]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Abu ‘Abd Allah (gelaran al-Imam Malik) daripada mana aku patut berihram?” Jawab al-Imam Malik: “Daripada Zu Hulaifah (ذو حليفة) di mana tempat yang Rasulullah berihram.” Kata lelaki itu: “Aku ingin berihram daripada Masjid Nabi.” Jawab al-Imam Malik: “Jangan buat (demikian).” Kata lelaki itu lagi: “Aku ingin berihram daripada kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” Jawab al-Imam Malik: “Jangan buat (demikian), aku bimbang menimpa ke atas dirimu fitnah.” Tanya lelaki itu: “Apa fitnahnya? Ia hanya jarak yang aku tambah.”&lt;br /&gt;Jawab al-Imam Malik:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وأي فتنة أعظم من أن ترى أنك سبقت إلى فضيلة قصّر عنها رسول الله صلى الله عليه وسلم، وإني سمعت الله يقول: فَلْيَحْذَرْ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apakah lagi fitnah yang lebih besar daripada engkau melihat bahawa engkau telah mendahului satu kelebihan yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah menguranginya. Sesungguhnya aku telah mendengar Allah berfirman: (maksudnya) “Oleh itu, hendaklah mereka yang mengingkari perintahnya, beringat serta berjaga-jaga jangan mereka ditimpa bala bencana, atau ditimpa azab seksa yang tidak terperi sakitnya. [al-Nur 24:63]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan bahawa sekalipun lelaki tersebut ingin berihram daripada tempat yang begitu baik iaitu Masjid Nabi atau kubur baginda shallallahu 'alaihi wasallam, al-Imam Malik rahimahullah membantahnya disebabkan ia adalah ibadah yang tidak dilakukan oleh Nabi. Beliau menyatakan ini adalah fitnah kerana seakan-akan lelaki itu menganggap dia dapat melakukan ibadah yang lebih baik daripada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Amaran al-Syeikh Dr Yusuf al-Qaradawi:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ditanya kepada al-Syeikh Dr. Yusuf al-Qaradawi, semoga Allah memeliharanya, mengenai amalan Nisfu Sya’ban. Beliau menjawab:&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftn16" name="_ftnref16"&gt;[16]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tidak pernah diriwayatkan daripada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat bahawa mereka berhimpun di masjid untuk menghidupkan malam Nisfu Sya’ban, membaca do‘a tertentu dan solat tertentu seperti yang kita lihat pada sebahagian negeri orang Islam. Bahkan di sebahagian negeri, orang ramai berhimpun pada malam tersebut selepas maghrib di masjid. Mereka membaca surah Yasin dan solat dua raka‘at dengan niat panjang umur, dua rakaat yang lain pula dengan niat tidak bergantung kepada manusia, kemudian mereka membaca do‘a yang tidak pernah dipetik dari golongan salaf (para sahabah, tabi‘in dan tabi’ tabi‘in). Ianya satu do‘a yang panjang yang menyanggahi nusus (nas-nas al-Quran dan al-Sunnah), juga bercanggahan dan bertentang maknanya... &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perhimpunan (malam Nisfu Sya’ban) seperti yang kita lihat dan dengar berlaku di sebahagian negeri orang Islam adalah bid‘ah dan diada-adakan. Sepatutnya kita melakukan ibadat sekadar yang dinyatakan dalam nas. Segala kebaikan itu ialah mengikut salaf, segala keburukan itu ialah bid‘ah golongan selepas mereka dan setiap yang diadakan-adakan itu bid‘ah dan setiap yang bid‘ah itu sesat dan setiap yang sesat itu berada dalam neraka.&lt;br /&gt;Demikian tegasnya tokoh yang masyhur ini terhadap amalan bid‘ah yang menjadi pegangan atau amalan dalam kebanyakan negeri umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#top"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Penutup.htm"&gt;PENUTUP&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam ibadah tidak memadai hanya dengan niat yang baik tanpa mengikut syariat atau sunnah. Niat yang baik mestilah diiringi dengan cara yang betul. Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dia-lah yang telah mentakdirkan adanya mati dan hidup - untuk menguji dan menzahirkan keadaan kamu: siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya; dan Ia Maha Kuasa (membalas amal kamu), lagi Maha Pengampun. [al-Mulk 67:02]&lt;br /&gt;Makna “lebih baik amalnya” (أحسن عملا ) ialah siapa yang amalannya paling ikhlas dan paling betul (أخلصه وأصوبه). Ini kerana sesuatu amalan jika ikhlas tetapi tidak betul maka ianya tidak diterima. Begitu juga sekiranya betul tetapi tidak ikhlas, maka ianya tidak diterima.Betul merujuk kepada apa yang ditunjukkan oleh al-Qur’an dan al-Sunnah.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Insan tanpa panduan al-Quran dan al-Sunnah akan tersesat dalam menentukan cara ibadah kepada tuhan. Ini kerana sesuatu amalan jika ikhlas tetapi tidak betul maka ianya tidak diterima. Begitu juga sekiranya betul tetapi tidak ikhlas, maka ianya tidak diterima.yang berlaku di dalam agama-agama palsu. Mereka mencipta cara ibadah menurut akal fikiran mereka tanpa tunjuk ajar wahyu. Mereka tersesat jalan kerana mendakwa kehendak tuhan dalam ibadah tanpa bukti, sekalipun mungkin mereka itu ikhlas. Ini kerana ibadah adalah agama dan agama tidak boleh diambil melainkan dari tuhan itu sendiri. Untuk itu Islam mengharamkan bid‘ah atau mengada-adakan ibadah tanpa bersumber daripada al-Quran dan al-Sunnah. Keikhlasan tanpa diikuti dengan cara yang ditunjukkan oleh al-Quran dan al-Sunnah adalah sama seperti amalan percipta agama palsu yang ikhlas tanpa bimbingan wahyu.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Justeru itu ibadah mestilah bertepatan dengan apa yang dibawa oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berdalilkan apa yang disebut oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika benar kamu mengasihi Allah maka ikutilah daku, nescaya Allah mengasihi kamu serta mengampunkan dosa-dosa kamu. Dan (ingatlah), Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.” [Ali Imran 3:31]&lt;br /&gt;Islam mengharamkan bid‘ah atau mengada-adakan ibadah tanpa bersumber daripada al-Quran dan al-Sunnah. Keikhlasan tanpa diikuti dengan cara yang ditunjukkan oleh al-Quran dan al-Sunnah adalah sama seperti amalan percipta agama palsu yang ikhlas tanpa bimbingan wahyu.Ibadah yang tidak mengikut cara yang ditunjukkan oleh baginda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sekalipun niat pengamalnya baik, adalah tertolak. Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِي&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dan sesiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka tidak akan diterima daripadanya, dan dia pada hari akhirat kelak dari orang-orang yang rugi. [Ali Imran 3:85]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tidak boleh bagi sesiapa pun dari kalangan imam-imam kaum muslimin sekalipun tinggi darjat ilmunya, demikian juga tidak boleh bagi mana-mana badan ilmu sekalipun hebat kedudukannya, demikian juga tidak boleh bagi mana-mana institusi ilmu, atau golongan dari kaum muslimin sama ada kecil atau besar, untuk mencipta (ibtida’) ibadah yang baru dalam agama Allah atau menokok tambah ibadah yang ada dalam agama atau mengubah cara yang dilakukan pada zaman Rasululah shallallahu 'alaihi wasallam. Ini kerana pembuat syari‘at hanyalah Allah manakala al-Rasul (Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam) adalah penyampainya sedangkan kita hanyalah pengikutnya. Segala kebaikan itu dalam al-ittiba’ (mengikut apa yang ditentukan Allah dan Rasul-Nya).Dr. ‘Abd al-Karim Zaidan, semoga Allah memeliharanya, turut menekankan perbezaan antara niat yang ikhlas dan ibadah yang betul:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Amalan salih ialah apa yang sahih dan ikhlas kepada Allah. Apa yang sahih itu ialah yang menepati syarak. Maka membuat bid‘ah dalam agama dengan menambah atau mengurangkannya adalah sesuatu yang tidak dibolehkan dan tiada pahala bagi pengamalnya sekalipun dengan niat beribadah kepada Allah…&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bid‘ah itu lebih buruk daripada maksiat. Ini kerana bid‘ah me-ngubah agama serta menghukum dan mentohmah syarak sebagai cacat, berhajatkan kepada penyempurnaan, (sama ada dalam bentuk) pengurangan dan mengubahan. Ini adalah perkara yang sangat besar yang tidak boleh kita beriktikad atau beramal dengannya.a dengan menambah atau mengurangkannya adalah sesuatu yang tidak dibolehkan dan tiada pahala bagi pengamalnya sekalipun dengan niat beribadah kepada Allah…Untuk itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah memberi amaran mengenai bid‘ah, sabdanya:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jauhilah kamu perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama) kerana setiap yang diada-adakan itu adalah bid‘ah dan setiap bid‘ah adalah sesat.Maka segala kebaikan ialah apa yang dibawa oleh syarak dan berpada dengannya. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perlu ditekankan di sini, manhaj kita Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah ialah tidak menghukum seseorang kerana kejahilan yang tidak disengajakannya. Oleh itu jika seseorang itu melakukan ibadah dengan sangkaan ia adalah benar sedangkan hakikatnya adalah sebaliknya, dia tetap memperolehi pahala. Seseorang itu tidak dihukum disebabkan kejahilannya yang tidak disengajakan sedangkan dia telah berusaha untuk mendapatkan ilmu. Contohnya ialah orang awam yang tidak dapat membezakan antara hadith dengan bukan hadith, sahih dengan tidak sahih dan yang tidak mampu mengambil maklumat agama daripada sumbernya yang tulen. Ini semua dengan syarat dia tetap berusaha dan apabila sampai kepadanya ilmu yang sahih dan tulen, dia tidak bersikap ego terhadapnya tetapi terus merendahkan diri menerimanya. Hendaklah dia bertaubat dengan meninggalkan apa yang sebelum ini disangkakan benar kepada apa yang kini diketahuinya sahih lagi tulen. Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;إِ&lt;span style="font-size:180%;"&gt;لَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحاً فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kecuali orang yang bertaubat dan beriman serta mengerjakan amal yang baik, maka orang-orang itu, Allah akan menggantikan kejahatan mereka dengan kebaikan dan adalah Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani. [al-Furqan 25:70]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Umat Islam sepatutnya berlumba-lumba membuat bid‘ah dalam urusan dunia, bukan agama. Mereka diizinkan, malah disuruh memulakan perkara baru dalam urusan dunia yang memberi manfaat. Perkara kedua yang perlu ditekankan adalah, umat Islam sepatutnya berlumba-lumba membuat bid‘ah dalam urusan dunia, bukan agama. Malangnya mereka tidak membuat bid‘ah ini, iaitu memulakan ciptaan baru seperti senjata, peralatan moden, perubatan dan sebagainya. Padahal mereka diizinkan, malah disuruh memulakan perkara baru dalam urusan dunia yang memberi manfaat. Umat Islam masa kini jarang-jarang, malah hampir tiada, memulakan perkara yang baru dalam urusan dunia, sebaliknya hanya bergantung kepada dunia Barat. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Akhir kata, marilah kita berusaha agar ibadah kita menepati sunnah dan menjauhi bid‘ah. Marilah kita mendalami ilmu yang sahih lagi tulen agar dengan itu ibadah kita adalah sahih dan tulen juga. Apabila kita telah mencapai tahap ini, marilah kita membuktikan kesyukuran kita kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala dengan menyampaikan ilmu yang sahih dan tulen kepada umat Islam yang selainnya. Jangan menghukum mereka secara terburu-buru, sebaliknya betulkanlah mereka secara hikmah dan bijaksana. Jangan merasa gembira hanya apabila diri sendiri berada di atas kesahihan dan ketulenan tetapi bergembiralah hanya apabila umat Islam semuanya berada di atas kesahihan dan ketulenan. Berpegang kepada sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bukan sahaja dalam beribadah tetapi juga dalam berdakwah:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maka dengan sebab rahmat (yang melimpah-limpah) dari Allah (kepadamu wahai Muhammad), engkau telah bersikap lemah-lembut kepada mereka (sahabat-sahabat dan pengikutmu), dan kalaulah engkau bersikap kasar lagi keras hati, tentulah mereka lari dari kelilingmu.&lt;br /&gt;Oleh itu maafkanlah mereka (mengenai kesalahan yang mereka lakukan terhadapmu), dan pohonkanlah ampun bagi mereka, dan juga bermesyuaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah berazam (sesudah bermesyuarat, untuk membuat sesuatu) maka bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mengasihi orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. [Ali Imran 3:159]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Penutup.htm#top"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;footnote&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Diriwayatkan oleh Abu Daud dan al-Tirmizi, berkata al-Tirmizi: “Hadis ini hasan sahih”. Juga diriwayatkan oleh Ibn Majah dan al-Darimi dalam kitab Sunan mereka. Demikian juga oleh Ibn Hibban dalam Shahihnya dan al-Hakim dalam al-Mustadrak dengan menyatakan: “Hadith ini sahih”. Ini dipersetujui oleh al-Imam al-Zahabi (Tahqiq al-Mustadrak, 1/288).&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; al-Mubarakfuri, Tuhfah al-Ahwazi (تحفة الأحوذي), jld. 7, m.s. 414.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Rujuk Shahih Muslim – hadith no: 1718 (Kitab al-Aqdiyyah, Bab kritikan ke atas hukum batil dan perkara ciptaan baru).&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Diriwayatkan oleh al-Tirmizi dalam kitab Sunannya dan beliau berkata: “Hadis ini hasan gharib”. al-Diya` al-Maqdisi (الضياء المقدسي) menyatakan sanad hadith ini hasan. (al-Diya al-Maqdisi¸ al-Ahadith al-Mukhtarah, jld. 7, m.s. 278). al-Albani juga menyatakan ianya hasan. (al-Albani, Shahih Sunan al-Tirmizi, jld. 2, m.s. 334).&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab Shahihnya – hadith no: 2531 (Kitab keutamaan para sahabat, Bab menerangkan Nabi meninggalkan amanah kepada para sahabat...).&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Syarh Sahih Muslim, 16/66.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Beliau adalah seorang tabi`in, anak murid ‘Abd Allah bin Masud. Meninggal dunia pada 85H.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Gelaran untuk `Abd Allah bin Mas`ud.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Maksudnya baginda shallallahu ‘alaihi wasallam baru sahaja wafat, tetapi mereka telah melakukan bid`ah.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; Maksudnya Allah.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Ini salah satu sifat Khawarij yang disebut dalam hadith-hadith.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Riwayat al-Darimi di dalam Musnadnya dengan sanad yang dinilai sahih oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadith al-Shahihah, jld. 5, m.s. 11.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt; Lihat: Silsilah al-Ahadith al-Sahihah, jld. 5, m.s. 11.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt; Beliau ialah imam Mazhab Maliki, pembesar Atba’ al-Tabi‘in. Guru kepada al-Imam al-Syafi'i. Tokoh fekah dan hadith yang tiada tolok bandingnya. Karya beliau yang agung ialah kitab al-Muwattha’. Berkata al-Imam al-Sayuti: “Beliau guru para imam, Imam Dar al-Hijrah (Madinah), mengambil hadith daripadanya oleh al-Syafi‘i dan ramai lagi. Berkata al-Syafi’i: ‘Apabila datangnya athar, maka Malik adalah bintang’.” (al-Imam al-Sayuti, Tabaqat al-Huffaz, jld. 1, m.s. 96)&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftnref15" name="_ftn15"&gt;[15]&lt;/a&gt; al-Syatibi, al-I’tishom, m.s. 102.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab4.htm#_ftnref16" name="_ftn16"&gt;[16]&lt;/a&gt; Dr. Yusuf al-Qaradawi, Fatawa Mu`asarah, jld. 1, m.s. 382-383 (nukilan berpisah).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2286779167317491760-9142695549219668656?l=ibnumuflih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/feeds/9142695549219668656/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/12/bidah-hasanah-satu-penilaian-semula_12.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/9142695549219668656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/9142695549219668656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/12/bidah-hasanah-satu-penilaian-semula_12.html' title='Bid`ah Hasanah : Satu Penilaian Semula IV'/><author><name>Ibnumuflih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10057495785514708022</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2286779167317491760.post-3263709033477773258</id><published>2008-12-10T03:38:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T03:49:26.901-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bid`ah'/><title type='text'>Bid`ah Hasanah : Satu Penilaian Semula III</title><content type='html'>&lt;p&gt;SALAH FAHAM TERHADAP UCAPAN ‘UMAR AL-KHATTAB DAN HADITH SUNNAH HASANAH&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam usaha mem-pertahankan tindakan-tindakan yang dianggap bid‘ah di sisi syarak, sesetengah pihak menggunakan beberapa riwayat sebagai bukti bahawa diharuskan membuat bid‘ah selagi mana ia dipandang baik oleh pembuatnya. Antara yang masyhur ialah ucapan ‘Umar Ibn Khattab radhiallahu 'anh yang menyebut “sebaik-baik bid‘ah” untuk Solat Tarawih berjamaah dan perkataan “Sunnah Hasanah” dalam sebuah hadith Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Bab ini akan menjelaskan kekeliruan yang berkaitan dengan riwayat-riwayat tersebut... &lt;span id = "fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="ucapanUmar"&gt;&lt;/a&gt; Salah Faham Terhadap Ucapan ‘Umar al-Khattab&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Sesetengah pihak cuba berdalil dalam membolehkan bid‘ah dengan menyatakan bahawa Saiyyidina ‘Umar radhiallahu 'anh turut telah membuat bid‘ah. Mereka berkata, pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ada Solat Tarawih berjamaah lalu ‘Umar melakukannya dan menyatakannya sebagai: “Sebaik-baik bid‘ah” (&lt;span style="font-size:130%;"&gt;نعمت البدعة هذه&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;Yang mereka maksudkan ialah apa yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dalam Shahihnya dan al-Imam Malik dalam al-Muwattha’:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;عَنْ عَبْدِالرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِي اللَّه عَنْهم لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ. فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ. فَقَالَ عُمَرُ: إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ. ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِمْ. قَالَ عُمَرُ: نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنِ الَّتِي يَقُومُونَ.  يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Daripada ‘Abd al-Rahman bin ‘Abd al-Qari, katanya: Pada satu malam di bulan Ramadan aku keluar bersama dengan ‘Umar bin al-Khattab radhiallahu 'anh ke masjid. Di dapati orang ramai berselerakan. Ada yang solat bersendirian, ada pula yang bersolat dan sekumpulan (datang) mengikutinya.&lt;br /&gt; ‘Umar berkata: “Jika aku himpunkan mereka pada seorang imam adalah lebih baik.” Kemudian beliau melaksanakannya maka dihimpunkan mereka dengan (diimamkan oleh) Ubai bin Ka‘ab. Kemudian aku keluar pada malam yang lain, orang ramai bersolat dengan imam mereka (Ubai bin Ka‘ab).&lt;br /&gt;Berkata ‘Umar: “Sebaik-baik bid‘ah adalah perkara ini, sedangkan yang mereka tidur (solat pada akhir malam) lebih dari apa yang mereka bangun (awal malam).”&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan riwayat di atas, ada yang tersalah sangka dengan menganggap ‘Umar bin al-Khattab adalah orang yang pertama memulakan Solat Tarawih secara berjamaah. Maka dirumuskan bahawa ia adalah satu perbuatan bid‘ah yang dianggap baik oleh ‘Umar. Justeru boleh membuat bid‘ah di dalam ibadah asalkan ia dilakukan dengan niat yang baik.&lt;br /&gt;Sebenarnya rumusan seperti ini muncul kerana kurang membaca hadith-hadith Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah melakukan Solat Tarawih secara berjamaah dan ini jelas tertera dalam kitab-kitab hadith, seperti dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Hadith yang dimaksudkan berasal daripada ‘Aisyah radhiallahu 'anha:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ لَيْلَةً مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ فَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ وَصَلَّى رِجَالٌ بِصَلاَتِهِ. فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا. فَاجْتَمَعَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ فَصَلَّى فَصَلَّوْا مَعَهُ. فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا. فَكَثُرَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى فَصَلَّوْا بِصَلاَتِهِ. فَلَمَّا كَانَتِ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ عَجَزَ الْمَسْجِدُ عَنْ أَهْلِهِ حَتَّى خَرَجَ لِصَلاَةِ الصُّبْحِ. فَلَمَّا قَضَى الْفَجْرَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَتَشَهَّدَ ثُمَّ قَالَ: أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ مَكَانُكُمْ وَلَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْتَرَضَ عَلَيْكُمْ فَتَعْجِزُوا عَنْهَا فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ .&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar pada suatu pertengahan malam. Baginda solat di masjid (Masjid Nabi). Beberapa orang mengikut solat baginda (menjadi makmum). Pada pagi (esoknya) orang ramai bercerita mengenainya. Maka berkumpullah lebih ramai lagi orang (pada malam kedua). Baginda bersolat dan mereka ikut solat bersama. Pada pagi (esoknya) orang ramai bercerita mengenainya. Maka bertambah ramai ahli masjid pada malam ketiga. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar bersolat dan mereka ikut solat bersama. Apabila malam keempat, masjid menjadi tidak muat dengan ahli. (Baginda tidak keluar) sehingga pada waktu solat subuh. Selesai solat subuh, baginda mengadap orang ramai, bersyahadah seraya bersabda: “Amma ba’d, sesungguhnya bukan aku tidak tahu penantian kalian (di masjid pada malam tadi) tetapi aku bimbang difardukan (Solat Tarawih) ke atas kalian lalu kalian tidak mampu.&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Hal sebegini berlaku sehingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat.&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebahagian riwayat al-Bukhari dan Muslim disebut: “…yang demikian berlaku pada bulan Ramadhan.” (&lt;span style="font-size:130%;"&gt;وذلك في رمضان&lt;/span&gt;)   s&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Hadith ini dengan jelas menunjukkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah yang pertama memulakan Solat Tarawih secara berjamaah dengan satu imam. Walaubagaimanapun baginda tidak melakukannya secara berterusan, bukan kerana ia perbuatan yang salah tetapi kerana bimbang ia menjadi satu kewajipan. Apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat, kebimbangan ini tidak wujud lagi, maka dengan itu ‘Umar meneruskan semula Solat Tarawih secara berjamaah. Justeru ‘Umar al-Khattab bukanlah orang yang pertama memulakannya secara berjamaah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;al-Imam al-Syatibi rahimahullah menegaskan: &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Renungi hadith ini. Ia menunjukkan kedudukan Solat Tarawih adalah sunat. Sesungguhnya solat baginda pada peringkat awal menjadi dalil menunjukkan kesahihan menunaikannya di masjid secara berjamaah pada bulan Ramadan. Baginda tidak keluar selepas itu adalah kerana bimbang ia difardukan. Ini tidak menunjukkan ia dilarang secara mutlak kerana zaman baginda ialah zaman wahyu dan tasyri’ (perundangan) (sehingga) ada kemungkinan akan diwahyukan kepada baginda sebagai satu kewajipan jika manusia mengamalkannya. Apabila telah hilang ‘illah al-tasyri’&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt; dengan wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam maka ia kembali kepada asalnya.&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Timbul persoalan seterusnya, mengapakah Abu Bakr radhiallahu 'anh tidak menghimpunkan orang ramai untuk melakukan Solat Tarawih secara berjamaah? Untuk mengetahui jawapannya, kita merujuk sekali lagi kepada penjelasan al-Imam al-Syatibi rahimahullah:&lt;br /&gt;Adapun (sebab) Abu Bakr tidak mendirikannya adalah kerana salah satu daripada berikut, sama ada (pertama) dia berpendapat solat orang ramai pada akhir (malam) lebih afdal padanya dari dihimpunkan mereka dengan satu imam pada awal malam. Ini disebut oleh al-Turtus (&lt;span style="font-size:130%;"&gt;الطرطشي&lt;/span&gt;) ataupun (kedua) disebabkan kesempitan waktu pemerintahannya&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt; untuk melihat perkara-perkara cabang seperti ini sedangkan beliau sibuk dengan golongan murtad dan selainnya yang mana lebih utama daripada Solat Tarawih.&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Timbul persoalan kedua, kenapakah ‘Umar al-Khattab radhiallahu 'anh menggelar hal tersebut sebagai satu bid‘ah? Sekali lagi, penjelasan al-Imam al-Syatibi rahimahullah menjadi rujukan:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Dia menamakannya bid‘ah hanya disebabkan pada zahirnya kerana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah meninggalkannya dan sepakat pula ia tidak berlaku pada zaman Abu Bakr radhiallahu 'anh. Ia bukanlah bid‘ah pada makna (syarak). Sesiapa yang menamakan bid‘ah disebabkan hal ini, maka tiada perlu perbalahan dalam meletakkan nama. Justeru itu tidak boleh berdalil dengannya untuk menunjukkan keharusan membuat bid‘ah.&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;‘Umar menamakan Solat Tarawih berjamaah pada zamannya sebagai bid‘ah hanya disebabkan pada zahirnya. Ini kerana Rasulullah telah mening-galkannya dan sepakat pula ia tidak berlaku pada zaman Abu Bakr radhiallahu 'anh. Ia bu-kanlah bid‘ah pada makna (syarak). Jika hendak di-ukur pada makna syarak, ia sebenarnya adalah Sunnah.Jelaslah ucapan ‘Umar bukanlah merujuk kepada bid‘ah yang dilarang oleh syarak tetapi merujuk kepada bid‘ah yang dimaksudkan dari segi bahasa atau keadaan. Ini kerana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah melakukan Solat Tarawih secara berjamaah lalu berhenti disebabkan faktor penghalang yang dinyatakan tadi. Apabila faktor penghalang telah hilang, maka ‘Umar menghidupkannya semula. Justeru itu beliau menamakannya bid‘ah. Perkataan bid‘ah yang digunakan oleh ‘Umar radhiallahu 'anh hanya merujuk pada segi bahasa, tidak pada segi syarak. Dari segi syarak, ia adalah Sunnah kerana merupakan sesuatu yang pernah berlaku sebelumnya pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#top"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah Faham Terhadap Hadith Sunnah Hasanah&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terdapat sebuah hadith yang disering disalah fahami bagi membolehkan amalan bid‘ah. Hadith yang dimaksudkan ialah apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ. وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Sesiapa yang memulakan dalam Islam sunnah yang baik lalu ia diamalkan selepas itu, ditulis untuknya (pahala) seperti pahala orang yang mengamalkannya tanpa dikurangkan pahala mereka (para pengamal itu) sedikit pun. Sesiapa yang memulakan dalam Islam sunnah yang jahat lalu ia diamalkan selepas itu ditulis untuknya (dosa) seperti dosa orang yang mengamalkannya tanpa dikurangkan dosa mereka (para pengamal itu) sedikit pun.&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;Hadith ini dijadikan bukti bahawa tidak mengapa melakukan bid‘ah asalkan ia baik. Ini adalah bukti yang salah hasil daripada kefahaman yang salah. Kefahaman yang benar dapat diperoleh dengan merujuk kepada Sabab al-Wurud (&lt;span style="font-size:130%;"&gt;سبب الورود&lt;/span&gt;) bagi hadith ini&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;. Jika dalam pengajian tafsir ada bab yang dinamakan Sabab al-Nuzul, maka dalam hadith ia dinamakan Sabab al-Wurud atau Sabab Wurud al-Hadith. Saya ta’rifkan Sabab Wurud al-Hadith sebagai:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;ما دعا الحديثَ إلى وجوده، أيام صدوره.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Apa yang membawa kepada kewujudan hadith pada hari-hari kemunculannya&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Kadang-kala sebab ter-bitnya sesuatu hadith sangat mempengaruhi maksud hadith. Kesala-han dalam memahami sebab terbitnya hadith boleh membawa kepada kesalahan faham kepada maksud hadith.Maksudnya, faktor yang menyebabkan sesebuah hadith itu terbit daripada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam kata lain, faktor-faktor yang menyebabkan baginda mengucapkan sesuatu ucapan, melakukan sesuatu perbuatan atau mengakui sesuatu tindakan. Memahami sebab-sebab yang menyebabkan terbitnya sesebuah hadith adalah sangat penting bagi mengelakkan kita daripada meletakkan hadith tidak pada tempatnya. Ini kerana kadang-kala sebab terbitnya sesuatu hadith sangat mempengaruhi maksud hadith. Kesalahan dalam memahami sebab terbitnya hadith boleh membawa kepada kesalahan faham kepada maksud hadith. Umpamanya hadith yang di atas ada Sabab al-Wurudnya dan ini boleh dirujuk dalam hadith itu sendiri dalam bentuknya yang lengkap:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: جَاءَ نَاسٌ مِنَ الأَعْرَابِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. عَلَيْهِمُ الصُّوفُ. فَرَأَى سُوءَ حَالِهِمْ. قَدْ أَصَابَتْهُمْ حَاجَةٌ. فَحَثَّ النَّاسَ عَلَى الصَّدَقَةِ. فَأَبْطَئُوا عَنْهُ حَتَّى رُئِيَ ذَلِكَ فِي وَجْهِهِ. قَالَ: ثُمَّ إِنَّ رَجُلاً مِنَ لأَنْصَارِ جَاءَ بِصُرَّةٍ مِنْ وَرِقٍ. ثُمَّ جَاءَ آخَرُ ثُمَّ تَتَابَعُوا حَتَّى عُرِفَ السُّرُورُ فِي وَجْهِهِ.&lt;br /&gt;فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ. وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْء&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Daripada Jarir bin ‘Abd Allah katanya: Datang sekumpulan Arab Badawi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka memakai pakaian bulu. Baginda melihat buruknya keadaan mereka. Mereka ditimpa kesusahan. Baginda menggesa orang ramai bersedekah. Namun mereka lambat melakukannya sehingga kelihatan kemarahan pada wajah baginda. (Kata Jarir) Kemudian seorang lelaki daripada golongan Ansar datang dengan sebekas perak (dan mensedekahkannya). Kemudian datang seorang yang lain pula, kemudian orang ramai datang (bersedekah) berturut-turut. Sehingga terlihat kegembiraan pada wajah baginda.&lt;br /&gt;(Melihat yang sedemikian) Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Sesiapa yang memulakan dalam Islam sunnah yang baik lalu ia diamalkan selepas itu, ditulis untuknya (pahala) seperti pahala orang yang mengamalkannya tanpa dikurangkan pahala mereka (para pengamal itu) sedikit pun. Sesiapa yang memulakan dalam Islam sunnah yang jahat lalu ia diamalkan selepas itu ditulis untuknya (dosa) seperti dosa orang yang mengamalkannya tanpa dikurangkan dosa mereka (para pengamal itu) sedikit pun.&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Dengan merujuk Sabab al-Wurud dalam hadis di atas, kita dapat mengetahui bahawa “Sunnah Hasanah” yang dimaksudkan merujuk kepada sedekah yang dianjurkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia bukannya satu perbuatan yang tidak memiliki asal usul di dalam syariat. Memulakannya tidak bermaksud memulakan amalan baru, sebaliknya bermaksud memulakan langkah atau tindakan bagi perkara yang sudah ada asal usulnya.&lt;br /&gt;“Sunnah Hasanah” yang dimaksudkan merujuk kepada sedekah yang dianjurkan oleh Nabi. Ia bukannya satu perbuatan yang tidak memiliki asal usul di dalam syariat. Memulakannya tidak bermaksud memulakan amalan baru, sebaliknya memulakan langkah atau tindakan bagi perkara yang sudah ada asal usulnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lebih lanjut, marilah kita merujuk kepada penjelasan al-Syeikh ‘Ali Mahfuz&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt; dalam kitabnya al-Ibda’ fi Madarr al-Ibtida’ (الإبداع في مضارّ الابتداع) ketika menjawab kekeliruan orang-orang yang menjadikan hadith ini sebagai hujah bagi membolehkan bid‘ah:&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftn14" name="_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Jawapan terhadap kekeliruan ini ialah, bukanlah maksud memulakan sunnah itu membuat rekaan (baru). Namun maksudnya (ialah memulakan) amalan yang thabit (pasti) daripada sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam … Sesungguhnya sebab yang kerananya terbit hadith ini ialah sedekah yang disyariatkan … (lalu disebut hadith di atas secara lengkap) … hadith ini menunjukkan bahawa yang dikatakan sunnah di sini seperti apa yang dilakukan sahabat tersebut yang membawa sebekas perak. Dengan sebabnya terbukalah pintu sedekah dengan cara yang lebih nyata sedangkan sedekah memang disyariatkan dengan kesepakatan ulama’. Maka jelas maksudnya (“Sesiapa yang memulakan Sunnah Hasanah…”) di sini ialah sesiapa yang beramal. Ini kembali kepada hadith ( &lt;span style="font-size:130%;"&gt;من أحيا سنة قد أميتت بعدي فإن له من الإجر&lt;/span&gt;…).  s&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftn15" name="_ftnref15"&gt;[15]&lt;/a&gt; Seakan-akan sunnah itu sedang tidur maka sahabat radhiallahu 'anh berkenaan menggerakkannya dengan perbuatannya. Bukan maksudnya mengadakan sunnah yang (sebelumnya) tidak pernah ada.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Dalam Nuzhah al-Muttaqin Syarh Riyad al-Salihin (&lt;span style="font-size:130%;"&gt;نزهة المتقين شرح رياض الصالحين&lt;/span&gt;) karya Dr. Mustafa al-Bugha&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftn16" name="_ftnref16"&gt;[16]&lt;/a&gt; dan rakan-rakannya, dijelaskan:&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftn17" name="_ftnref17"&gt;[17]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Hadith ini dianggap sebagai asal dalam menentukan Bid‘ah Hasanah dan Saiyyiah. Bersegeranya sahabat, berlumba dan bersaing, dalam bersedekah adalah Bid‘ah Hasanah –seperti yang disebut oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dari sini difahami bahawa apa yang dikatakan Bid‘ah Hasanah itu adalah sesuatu yang pada asalnya disyarakkan seperti sedekah. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Berkata al-Syeikh Muhammad bin Salih al-‘Utsaimin rahimahullah (1421H)&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftn18" name="_ftnref18"&gt;[18]&lt;/a&gt;:&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftn19" name="_ftnref19"&gt;[19]&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Jika kita mengetahui sebab (terbitnya) hadith ini dan meletakkan maknanya dengan betul, maka jelas bahawa yang dimaksudkan dengan “memulakan sunnah” di sini ialah memulakan amal. Bukan memulakan tasyri’ (syariat baru). Ini kerana tasyri’ hanya boleh dimulakan oleh Allah dan Rasul-Nya. Maksud hadith “sesiapa yang memulakan” ialah memulakan amal dengannya dan orang ramai mencontohinya… atau boleh dimaksudkan juga sesiapa yang memulakan jalan yang baik yang menyampaikan kepada ibadah lalu orang ramai mencontohinya. Ini seperti menulis buku, meletakkan bab-bab ilmu, membina sekolah dan sebagainya dimana ia adalah jalan kepada perkara yang dituntut syarak. Apabila seorang insan memulakan jalan yang membawa kepada perkara yang dituntut oleh syarak dan jalan itu pula tidak terdiri daripada yang dilarang, maka dia termasuk dalam hadith ini. Jika makna hadith adalah seperti yang disalah fahami, iaitu seorang insan boleh membuat apa jua syariat yang dia mahu, bererti agama Islam belum sempurna pada (pengakhir) hayat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#top"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan Perbincangan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kesimpulan perbincangan, sekali lagi ditegaskan bahawa maksud hadith “…memulakan dalam Islam sunnah yang baik (Sunnah Hasanah)…” ialah memulakan perkara yang sudah sedia memiliki asal usul di dalam syarak seperti sedekah yang dianjurkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; footnote :&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt;Rujuk Shahih al-Bukhari – hadith no: 2010 (Kitab Solat Tarawih, Bab keutamaan orang yang beribadah pada malam Ramadhan) dan al-Muwattha’ (الموطأ) al-Imam Malik – hadith no: 231 (Kitab seruan kepada solat, Bab apa yang berkenaan solat pada malam Ramadhan).&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt;Saya katakan, Allah tidak mungkin menfardukan sesuatu yang manusia tidak mampu. Namun maksud Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ialah baginda bimbang umat Islam akan gagal atau cuai melakukannya lalu mereka berdosa. Baginda bersifat mengasihi umat, lalu mengelakkan dari ia diwajibkan oleh Allah.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Rujuk Shahih Muslim – hadith no: 761 (Kitab solat musafir dan menqasarkannya, Bab anjuran bersolat pada malam Ramadhan)&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Rujuk Shahih al-Bukhari – hadith no: 2011 (Kitab Solat Tarawih, Bab keutamaan orang yang beribadah pada malam Ramadhan)&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt;‘Illah al-Tasyri’ (علة التشريع) bermaksud punca yang menyebabkan diletakkan sesuatu perundangan atau hukum. Dalam kes ini, punca baginda mengelak solat tersebut berjamaah secara berterusan ialah bimbang ia menjadi kewajipan. Baginda tidak ingin membebankan umat dengan suatu kewajipan baru, dibimbangi mereka akan cuai dan akhirnya berdosa.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; al-Syatibi, al-I’tishom, m.s. 147.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Saiyyidina Abu Bakr radhiallahu 'anh hanya sempat memerintah dua tahun tiga bulan. (Ibn Kathir, al-Bidayah wa al-Nihayah (البداية والنهاية), jld. 7, m.s. 18)&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt; al-Syatibi, al-I’tishom, m.s. 147-148.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; al-Syatibi, al-I’tishom, m.s. 148.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; Rujuk Shahih Muslim – hadith no: 1017 (Kitab Zakat, Bab suruhan bersedekah sekalipun dengan setengah biji tamar…).&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Saya sebut “saya ta’rifkan” kerana penulisan para ulama terdahulu tidak meletakkan ta’rif yang jelas dan kaedah-kaedah yang tetap dalam ilmu ini sekalipun mereka ada menyebut tentang kepentingannya. Alhamdulillah saya telah memperolehi Ph.D dengan menulis tesis dalam subjek ini berjudul: Sabab Wurud al-Hadith: Dirasat Tahliliyyah bi tarkiz khas ‘ala Dawabit wa Ma‘ayir (سبب ورود الحديث: دراسة تحليلية بتركيز خاص على الضوابط والمعايير) dan menggunakan ilmu ini. Kaedah-kaedah ini adalah kesimpulan daripada penulisan para ulama hadith dan fikh terdahulu dan sekarang yang muktabar.&lt;br /&gt;[12]Rujukan yang sama sebelumnya, Shahih Muslim – hadith no: 1017 (Kitab Zakat, Bab suruhan bersedekah sekalipun dengan setengah biji tamar…).&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt; al-Syeikh ‘Ali Mahfuz semasa hidupnya adalah anggota Pembesar ‘Ulama Universiti al-Azhar. Buku tulisan beliau ini bertujuan memerangi bid‘ah yang banyak berlaku dalam masyarakat. Buku ini mendapat pengiktirafan para ulama al-Azhar dan dijadikan sukatan silibus pelajaran. Beliau meninggal dunia pada tahun 1942.  Sila lihat pujian dan pengiktirafan untuk buku ini dalam edisi cetakan Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt; ‘Ali Mahfuz, al-Ibda’ fi Madarr al-Ibtida’, m.s. 128-129. (nukilan berpisah)&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftnref15" name="_ftn15"&gt;[15]&lt;/a&gt; Hadith yang dimaksudkan ialah:&lt;br /&gt;مَ&lt;span style="font-size:130%;"&gt;نْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي قَدْ أُمِيتَتْ بَعْدِي فَإِنَّ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Sesiapa selepasku yang menghidupkan satu sunnah dari sunnahku yang telah mati, maka baginya pahala seperti orang yang beramal dengannya dengan tidak dikurangkan pahala mereka sedikitpun. Hadith ini diriwayatkan oleh al-Tirmizi dan Ibn Majah. al-Tirmizi menghasankannya. Akan tetapi yang benar hadis ini tertolak kerana kedua-duanya meriwayatkannya daripada jalan Kathir bin ‘Abd Allah, beliau matruk iaitu dianggap pendusta atau pereka hadith. Justeru itu penilaian yang dibuat oleh al-Imam al-Tirmizi dipertikaikan. Berkata al-Munziri rahimahullah (656H): “Bagi hadith ini ada syawahid (lafaz-lafaz hadith lain yang menyokongnya).” (al-Munziri, al-Tarhib wa al-Targhib, jld. 1, m.s. 47).&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftnref16" name="_ftn16"&gt;[16]&lt;/a&gt;Beliau ialah seorang tokoh semasa yang masyhur, bermazhab al-Syafi’i.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftnref17" name="_ftn17"&gt;[17]&lt;/a&gt;Dr. Mustafa al-Bugha, Nuzhah al-Muttaqin Syarh Riyad al-Salihin , jld. 1, m.s. 160.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftnref18" name="_ftn18"&gt;[18]&lt;/a&gt;Beliau ialah Abu ‘Abd Allah Muhammad bin al-Shalih bin Muhammad bin al-‘Utsaimin, seorang ahli fiqh yang terkenal daripada Arab Saudi. Banyak mengarang dan merupakan salah seorang ahli panel majlis fatwa Arab Saudi.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab3.htm#_ftnref19" name="_ftn19"&gt;[19]&lt;/a&gt; Muhammad bin Salih al-‘Utsaimin, Alfaz wa Mafahim (ألفاظ ومفاهيم), m.s. 53.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;bersambung &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2286779167317491760-3263709033477773258?l=ibnumuflih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/feeds/3263709033477773258/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/12/bidah-hasanah-satu-penilaian-semula-iii.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/3263709033477773258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/3263709033477773258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/12/bidah-hasanah-satu-penilaian-semula-iii.html' title='Bid`ah Hasanah : Satu Penilaian Semula III'/><author><name>Ibnumuflih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10057495785514708022</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2286779167317491760.post-1947939977308721198</id><published>2008-12-10T02:51:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T03:11:45.415-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bid`ah'/><title type='text'>Bid`ah Hasanah : Satu Penilaian Semula II</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;MEMAHAMI MAKSUD BID‘AH HASANAH&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sebelum kita menyelidiki maksud Bid‘ah Hasanah yang disebutkan dalam beberapa teks para ulama, terlebih dahulu kita wajar mendengar peringatan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berhubung dengan bid‘ah. Sabda baginda:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;...فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya sesiapa yang hidup selepasku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah al-Khulafa al-Rasyidin al-Mahdiyyin (mendapat petunjuk). Berpeganglah dengannya dan gigitlah ia dengan geraham. Jauhilah kamu perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama) kerana setiap yang diada-adakan itu adalah bid‘ah dan setiap bid‘ah adalah sesat.&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hadith ini, baginda menggunakan perkataan &lt;span style="font-size:180%;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;كلّ)&lt;/span&gt; yang bermaksud semua. Berpandukan hadith ini dan kefahaman kita terhadap maksud bid‘ah seperti yang dinyatakan oleh al-Imam al-Syatibi, maka bid‘ah dari segi istilah syarak tidak sepatutnya dibahagikan kepada hasanah (baik) dan saiyyiah (buruk). Yang benar kesemuanya adalah saiyyah dan dhalalah (kesesatan). ..  &lt;span id = "fullpost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;al-Imam Malik bin Anas rahimahullah (179H) berkata:&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة فقد زعم أن محمدا صلى الله عليه وسلم خان الرسالة، لأن الله يقول: (اليَومَ أكْمَلْتُ لَكُم دِينَكُمْ) فما لم يكن يومئذ دينا فلا يكون اليوم دينا. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sesiapa yang membuat bid‘ah dalam Islam dan menganggapnya baik maka dia telah mendakwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhianati risalah. Ini kerana Allah telah berfirman: "Pada hari ini aku telah sempurnakan agama kamu". Apa yang pada hari tersebut tidak menjadi agama, maka dia tidak menjadi agama pada hari ini. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perbahasan Bid‘ah Hasanah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sesiapa yang membuat bid‘ah dalam Islam dan menganggapnya baik maka dia telah mendakwa Muhammad mengkhianati risalah. Ini kerana Allah telah berfir-man: "Pada hari ini aku telah sempurnakan agama kamu". Apa yang pada hari tersebut tidak menjadi agama, maka dia tidak menjadi agama pada hari ini.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa tokoh sarjana Islam, terutamanya tokoh-tokoh mazhab al-Syafi’i, yang telah menyebut dalam kitab-kitab mereka istilah Bid‘ah Hasanah atau yang hampir dengannya, seperti Bid‘ah Mahmudah &lt;span style="font-size:130%;"&gt;(بدعة محمودة&lt;/span&gt;), bid‘ah wajib, bid‘ah sunat dan bid‘ah harus. Antara tokoh tersebut ialah al-Imam al-Syafi’i (204H), al-Imam al-‘Izz ‘Abd al-Salam (660H), al-Imam al-Nawawi (676H) dan al-Imam al-Sayuti (911H) rahimahumullah.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi apabila diteliti ucapan-ucapan mereka, kita dapati bid‘ah yang mereka maksudkan merujuk kepada Bid‘ah Hasanah dari sudut bahasa, bukan bid‘ah dari segi syarak. Marilah kita mengkaji lebih lanjut ucapan-ucapan mereka:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20topHYPERLINK#top"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbahasan Ucapan al-Imam al-Syafi‘i rahimahullah (204H)&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Berkata Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah (795H): &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Bid‘ah itu ada dua jenis: Bid‘ah Mahmudah (dipuji) dan Bid‘ah Mazmumah (dikeji). Apa yang menepati sunnah maka ia dipuji. Apa yang menyanggahi sunnah maka ia dikeji." (al-Imam al-Syafi’i) al-Syafi‘i berkata, "Bid‘ah itu ada dua jenis: Bid‘ah Mahmudah (dipuji) dan Bid‘ah Mazmumah (مذمومة) (dikeji). Apa yang menepati sunnah maka ia dipuji. Apa yang menyanggahi sunnah maka ia dikeji."&lt;br /&gt;(Ibn Rajab meneruskan) Maksud al-Syafi‘i rahimahullah ialah seperti yang kita sebutkan sebelum ini, bahawa Bid‘ah Mazmumah ialah apa yang tiada asal dari syariat untuk dirujuk kepadanya. Inilah bid‘ah pada istilah syarak. Adapun Bid‘ah Mahmudah ialah apa yang bertepatan dengan sunnah. Iaitu apa yang ada baginya asal untuk dirujuk kepadanya. Ia adalah bid‘ah dari segi bahasa, bukannya dari segi syarak kerana ia menepati sunnah. &lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Justeru itu ketika menghuraikan maksud pembahagian bid‘ah oleh al-Imam al-Syafi‘i, al-Hafizd Ibn Hajar al-‘Asqalani rahimahullah (852H) berkata:&lt;br /&gt;Maka bid‘ah pada ta’rifan syarak adalah dikeji. Ini berbeza dengan (maksud bid‘ah dari segi) bahasa di mana setiap yang diada-adakan tanpa sebarang contoh dinamakan bid‘ah sama ada dipuji ataupun dikeji.&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Antara bukti al-Imam al-Syafi‘i tidak memaksudkan bid‘ah dalam ibadah sebagai Bid‘ah Mahmudah ialah bantahan beliau terhadap golongan yang berterusan dalam berzikir secara kuat selepas solat. Amalan ini dianggap Bid‘ah Hasanah oleh sesetengah pihak.&lt;br /&gt;Ketika mengulas hadith Ibn ‘Abbas radhiallahu 'anh:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;إنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya mengangkat suara dengan zikir setelah orang ramai selesai solat fardu berlaku pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam… al-Imam al-Syafi’i dalam kitab utamanya al-Umm berkata:&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وأختار للامام والمأموم أن يذكرا الله بعد الانصراف من الصلاة ويخفيان الذكرَ إلا أن يكون إماما يُحِبُّ أن يتعلّم منه فيجهر حتى يُرى أنه قد تُعُلِّمَ منه ثم يُسِرّ.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pendapatku untuk imam dan makmum hendaklah mereka berzikir selepas selesai solat. Hendaklah mereka mensenyapkan zikir kecuali jika imam mahu dipelajari daripadanya (mengajar bacaan-bacaan zikir tersebut), maka ketika itu dikuatkan zikir. Sehinggalah apabila didapati telah dipelajari daripadanya, maka selepas itu hendaklah dia perlahankan.&lt;br /&gt;Adapun hadith Ibn ‘Abbas di atas, al-Imam al-Syafi’i menjelaskan seperti berikut:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وأحسبه إنما جهر قليلا ليتعلّم الناس منه وذلك لأن عامة الروايات التي كتبناها مع هذا وغيرها ليس يذكر فيها بعد التسليم تَهليلٌ ولا تكبير، وقد يذكر أنه ذكر بعد الصلاة بما وصَفْتُ، ويذكر انصرافَه بلا ذكر، وذكرت أمُّ سلمةَ مُكْثَه ولم يذكر جهرا، وأحسبه لم يَمكُثْ إلاّ ليذكرَ ذكرا غير جهْرٍ. فإن قال قائل: ومثل ماذا؟ قلت: مثل أنه صلّى على المنبر يكون قيامُه وركوعُه عليه وتَقهْقَرَ حتى يسجدَ على الأرض، وأكثر عمره لم يصلّ عليه، ولكنه فيما أرى أحب أن يعلم من لم يكن يراه ممن بَعُد عنه كيف القيامُ والركوعُ والرفع. يُعلّمهم أن في ذلك كله سعة. وأستحبُّ أن يذكر الإمام الله شيئا في مجلسه قدر ما يَتقدم من انصرف من النساء قليلا كما قالت أم سلمة ثم يقوم وإن قام قبل ذلك أو جلس أطولَ من ذلك فلا شيء عليه، وللمأموم أن ينصرفَ إذا قضى الإمام السلامَ قبل قيام الإمام وأن يؤخر ذلك حتى ينصرف بعد انصرافِ الإمام أو معه أَحَبُّ إلي له.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku berpendapat baginda menguatkan suara (zikir) hanya untuk seketika untuk orang ramai mempelajarinya daripada baginda. Ini kerana kebanyakan riwayat yang telah kami tulis bersama ini&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; atau selainnya, tidak menyebut selepas salam terdapat tahlil&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn8HYPERLINK#_ftn8"&gt; [8]&lt;/a&gt; dan takbir. Kadang-kala riwayat menyebut baginda berzikir selepas solat seperti yang aku nyatakan, kadang-kala disebut baginda pergi tanpa zikir. Umm Salamah pula menyebut duduknya baginda&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; (selepas solat) tetapi tidak menyebut baginda berzikir secara kuat. Aku berpendapat baginda tidak duduk melainkan untuk berzikir secara tidak kuat.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang berkata: "Seperti apa?"&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt;. Aku katakan, sepertimana baginda pernah bersolat di atas mimbar, yang mana baginda berdiri dan rukuk di atasnya, kemudian baginda undur ke belakang untuk sujud di atas tanah. Kebanyakan umur baginda, baginda tidak solat di atasnya (mimbar). Akan tetapi aku berpendapat baginda mahu agar sesiapa yang jauh yang tidak melihat baginda dapat mengetahui bagaimana berdiri (dalam solat), rukuk dan bangun (dari rukuk). Baginda ingin mengajar mereka keluasan dalam itu semua. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku suka sekiranya imam berzikir nama Allah di tempat duduknya sedikit dengan kadar yang seketika selepas kaum wanita pergi. Ini seperti apa yang Umm Salamah katakan. Kemudian imam boleh bangun. Jika dia bangun sebelum itu, atau duduk lebih lama dari itu, tidak mengapa. Makmum pula boleh pergi setelah imam selesai memberi salam, sebelum imam bangun. Jika dia lewatkan sehingga imam pergi, atau bersama imam, itu lebih aku sukai untuknya.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Nyata sekali al-Imam al-Syafi’i rahimahullah tidak menamakan ini sebagai Bid‘ah Hasanah, sebaliknya beliau berusaha agar kita semua kekal dengan bentuk asal yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Seandainya maksud Bid‘ah Mahmudah yang disebut oleh al-Imam al-Syafi’i merangkumi perkara baru dalam cara beribadah yang dianggap baik, sudah tentu beliau akan memasukkan zikir secara kuat selepas solat dalam kategori Bid‘ah Mahmudah. Dengan itu tentu beliau juga tidak akan berusaha menafikannya. Ternyata bukan itu yang dimaksudkan oleh beliau rahimahullah.&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20topHYPERLINK#top"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbahasan Ucapan al-Imam ‘Izz al-Din ‘Abd al-Salam rahimahullah (660H)&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitabnya Qawa‘id al-Ahkam fi Masalih al-Anam (&lt;span style="font-size:130%;"&gt;قواعد الأحكام في مصالح الأنام&lt;/span&gt;) al-Imam ‘Izz Abd al-Salam rahimahullah membahagikan bid‘ah kepada lima kategori:&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;1. Bid‘ah Wajibah (bid‘ah wajib),&lt;br /&gt;2. Bid‘ah Muharramah (bid‘ah yang diharamkan),&lt;br /&gt;3. Bid‘ah Mandubah (bid‘ah yang disunatkan),&lt;br /&gt;4. Bid‘ah Makruhah (bid‘ah makruh) dan&lt;br /&gt;5. Bid‘ah Mubahah (bid‘ah yang diharuskan). &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Beliau mungkin orang yang paling awal membuat pembahagian ini. Sebenarnya faktor utama yang menyebabkan beliau menyebut bid‘ah dalam pembahagian yang sedemikian merujuk kepada ta’rif bid‘ah yang disebutnya pada awal buku tersebut yang merangkumi bid‘ah dari segi syarak dan bahasa. Buktinya beliau menyebut ta’rif bid‘ah dengan berkata:&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;البدعة فعل ما لم يعهَدْ في عصر رسول الله&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bid‘ah adalah perbuatan yang tidak ada pada zaman Rasulullah.&lt;br /&gt;Ta’rif beliau begitu luas merangkumi perkara ibadah, cara baru dalam syarak dan urusan keduniaan yang tidak membabitkan penambahan syarak. Sedangkan bid‘ah dari segi syarak hanya tertumpu dalam persoalan cara taqarrub (menghampirkan diri kepada Allah melalui ibadah) dan perubahan atau penambahan pada jalan syarak. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Faktor yang menyebabkan al-Imam ‘Izz ‘Abd al-Salam membahagikan bid‘ah kepada 5 kategori ialah kerana beliau pada asalnya menta’rifkan bid‘ah dari kedua-dua segi syarak dan bahasa.&lt;br /&gt;Ta’rif yang begitu luas tersebut menyebabkan beliau membuat pembahagian ke atas maksud bid‘ah sepertimana di atas. Oleh itu kita dapati ketika menyentuh tentang Bid‘ah Wajibah (bid‘ah wajib) beliau berkata: &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bagi bid‘ah wajib itu beberapa contoh, salah satu daripadanya ialah menyibukkan diri dengan ilmu nahu yang dengannya difahami kalam Allah (firman Allah, iaitu al-Qur’an) dan kalam Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (sabda Rasulullah, iaitu hadis).&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn15"&gt;[15]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan penjelasan al-Imam al-Syatibi rahimahullah yang telah kita kaji sebelum ini, jelas bahawa ini tidak termasuk dalam bid‘ah dari segi syarak. Marilah kita ulangi apa yang disebut oleh al-Imam al-Syatibi:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan ikatan ini maka terpisahlah (tidak dinamakan bid‘ah) segala yang jelas –walaupun bagi orang biasa – rekaan yang mempunyai kaitan dengan agama seperti ilmu nahu, saraf, mufradat bahasa, Usul al-Fiqh, Usul al-Din dan segala ilmu yang berkhidmat untuk syariat. Segala ilmu ini sekalipun tiada pada zaman yang awal tetapi asas-asasnya ada dalam syarak… Justeru itu tidak wajar sama sekali dinamakan ilmu nahu dan selainnya daripada ilmu lisan, ilmu usul atau apa yang menyerupainya yang terdiri daripada ilmu-ilmu yang berkhidmat untuk syariat sebagai bid‘ah. Sesiapa yang menamakannya bid‘ah, sama ada atas dasar majaz (bahasa) seperti ‘Umar bin al-Khattab radhiallahu 'anh yang menamakan "bid‘ah" solat orang ramai pada malam-malam Ramadhan atau atas dasar kejahilan dalam membezakan sunnah dan bid‘ah, maka pendapatnya tidak boleh dikira dan dipegang.&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn16"&gt;[16]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan itu perbuatan sesetengah pihak mempergunakan pembahagian ini kepada bid‘ah-bid‘ah yang tidak dimaksudkan oleh al-Imam ‘Izz ‘Abd al-Salam rahimahullah adalah penyelewengan dalam menyalurkan maklumat kepada orang ramai.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu perlu ditambah bahawa al-Imam al-Syatibi telah menolak pembahagian yang dibuat oleh al-Imam al-‘Izz ‘Abd al-Salam dengan katanya: &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya pembahagian ini adalah sesuatu yang hanya direka, tidak ada dalil syar‘i yang menunjukkannya. Bahkan ia sendiri saling bercanggahan. Ini kerana hakikat bid‘ah ialah sesuatu yang tidak ditunjukkan oleh dalil syar‘i, sama ada daripada nas-nas syarak atau kaedah-kaedahnya. Kalau di sana ada dalil daripada syarak yang menunjukkan wajib, sunat, atau harus, maka itu bukanlah bid‘ah. Ia termasuk dalam keumuman amalan yang disuruh atau diberi pilihan. Mencampur aduk dalam menyenaraikan perkara-perkara tersebut adalah bid‘ah, iaitu mencampurkan antara perkara yang memiliki dalil yang menunjukkan kepada wajib, sunat atau harus dengan dua lagi (makruh dan haram) yang menyanggahinya.&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn17"&gt;[17]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maksud al-Imam al-Syatibi, jika ada dalil yang menunjukkan sesuatu perkara itu adalah wajib atau sunat, maka tidak wajar ia dinamakan bid‘ah. Lebih tegas lagi, al-Imam al-Syatibi menganggap pembahagian itu sendiri adalah bid‘ah.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20topHYPERLINK#top"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbahasan Ucapan al-Imam al-Nawawi rahimahullah (676H)&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn18"&gt;[18]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;al-Imam al-Nawawi dalam kitabnya Tahzib al-Asma` wa al-Lughat &lt;span style="font-size:130%;"&gt;(تهذيب الأسماء واللغات&lt;/span&gt;) mengulangi dan menyetujui pembahagian yang dibuat oleh al-Imam al-‘Izz ‘Abd al-Salam rahimahullah. Untuk menguatkannya, beliau menambah dalam tulisannya itu apa yang dibahagikan oleh al-Imam al-Syafi’i rahimahullah seperti disebutkan sebelum ini.&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn19"&gt;[19]&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jawapan kita terhadap perkara ini sama seperti yang telah disebutkan di atas. Jika diteliti karya-karya al-Imam al-Nawawi rahimahullah, beliau tidak pernah menganggap Bid‘ah Hasanah sebagaimana yang disangka oleh orang ramai masa kini. Di sini dinyatakan beberapa contoh:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pertama:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kitabnya al-Azkar, al-Imam al-Nawawi rahimahullah menyebut:&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn20"&gt;[20]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ketahui sesungguhnya yang betul lagi terpilih yang menjadi amalan al-Salaf al-Salih radhiallahu 'anhum ialah diam ketika mengiringi jenazah. Jangan diangkat suara dengan bacaan, zikir dan selainnya. Hikmahnya nyata, iaitu lebih menenangkan hati dan menghimpunkan fikiran mengenai apa yang berkaitan dengan jenazah. Itulah yang dituntut dalam keadaan tersebut. Inilah cara yang betul. Jangan kamu terpengaruh dengan banyaknya orang yang menyanggahinya. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Abu ‘Ali al-Fudail bin ‘Iyad rahimahullah pernah berkata: "Berpegang dengan jalan petunjuk, jangan engkau tewas disebabkan sedikit yang melaluinya. Jauhilah jalan yang sesat. Jangan engkau terpengaruh dengan banyaknya golongan yang rosak (yang melakukannya)."&lt;br /&gt;…… Adapun apa yang dilakukan oleh golongan jahil di Damsyik, iaitu melanjutkan bacaan al-Quran dan bacaan yang lain ke atas jenazah dan bercakap perkara yang tiada kaitan, ini adalah haram dengan ijma’ ulama. Sesungguhnya aku telah jelaskan dalam bab Adab al-Qiraah tentang keburukannya,besar keharamannya dan kefasikannnya bagi sesiapa yang mampu mengingkarinya tetapi tidak mengingkarinya. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Nyata bahawa al-Imam al-Nawawi rahimahullah tidak menamakan perbuatan mem-bacakan al-Qur’an ketika mengiringi jenazah sebagai Bid‘ah Hasanah. Maka perbuatan sesetengah pihak mengiringi jenazah dengan bacaan al-Fatihah setapak demi setapak sebanyak beberapa kali dibantah berdasar teks imam yang agung ini. Pun begitu ramai di kalangan mereka menamakannya Bid‘ah Hasanah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kedua:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam Syarh Sahih Muslim,&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn21"&gt;[21]&lt;/a&gt; al-Imam al-Nawawi rahimahullah menyebut:&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn22"&gt;[22]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sesungguhnya yang menjadi sunnah bagi salam dalam solat ialah dengan berkata: السلام عليكم ورحمة الله&lt;/span&gt; sebelah kanan, &lt;span style="font-size:130%;"&gt;السلام عليكم ورحمة الله&lt;/span&gt; sebelah kiri. Tidak disunatkan menambah وبركاته. Sekalipun ia ada disebut dalam hadith dhaif dan diisyaratkan oleh sebahagian ulama. Namun ia adalah satu bid‘ah kerana tidak ada hadith yang sahih (yang menganjurkannya). Bahkan yang sahih dalam hadith ini&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn23"&gt;[23]&lt;/a&gt; dan selainnya ialah meninggalkan tambahan itu.&lt;br /&gt;Tidakkah penambahan "waBarakatuh" merupakan satu penambahan yang pada zahirnya nampak baik? Jika Bid‘ah Hasanah ialah melabelkan semua yang nampak baik pada andaian manusia, tentu al-Imam al-Nawawi menamakan ini sebagai Bid‘ah Mustahabbah (yang disunatkan).&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketiga&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketika mensyarahkan hadis berikut:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّه عَنْه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لاَ تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الأَيَّامِ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Daripada Abi Hurairah radhiallahu 'anh, daripada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, baginda bersabda: "Jangan kamu mengkhususkan malam Jumaat dengan solat yang berbeza dengan malam-malam yang lain. Jangan kamu mengkhususkan hari Jumaat dengan puasa yang berbeza dengan hari-hari yang lain kecuali ia dalam (bilangan hari) puasa yang seseorang kamu berpuasa."&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn24"&gt;[24]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;al-Imam al-Nawawi rahimahullah berkata: &lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn25"&gt;[25]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada hadith ini larangan yang nyata bagi mengkhususkan malam Jumaat dengan sesuatu solat yang tiada pada malam-malam yang lain dan puasa pada siangnya seperti yang telah dinyatakan. Sepakat para ulama akan kemakruhannya. Para ulama berhujah dengan hadith ini mengenai kesalahan solat bid‘ah yang dinamakan Solat al-Raghaib&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn26"&gt;[26]&lt;/a&gt;. Semoga Allah memusnahkan pemalsu dan pereka solat ini. Ini kerana sesungguhnya ia adalah bid‘ah yang munkar daripada jenis bid‘ah yang sesat dan jahil. Padanya kemunkaran yang nyata. Sesungguhnya sejumlah para ulama telah mengarang karangan yang berharga sebegitu banyak dalam memburukkannya dan menghukum sesat orang menunaikan solat tersebut dan perekanya. Para ulama telah menyebut dalil-dalil keburukannya, kebatilannya dan kesesatan pembuatnya.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan bahawa al-Imam al-Nawawi rahimahullah tidak menamakan solat sunat yang tidak wujud dalam hadith sebagai Bid‘ah Hasanah. Bahkan beliau menghukum sebagai sesat. Ketika ditanya mengenai solat ini (Solat al-Raghaib), al-Imam al-Nawawi pernah berkata:&lt;br /&gt;Bid‘ah yang buruk lagi sangat munkar… jangan terpengaruh dengan ramai yang melakukannya di banyak negeri. Juga jangan terpengaruh disebabkan ia disebut dalam Qut al-Qulub dan Ihya ‘Ulum al-Din.&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn27"&gt;[27]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20topHYPERLINK#top"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab (المجموع شرح المهذب), al-Imam al-Nawawi rahimahullah menyetujui tokoh-tokoh mazhab al-Syafi’i yang membantah jamuan atau kenduri sempena kematian. Katanya:&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn28"&gt;[28]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Adapun menyediakan makanan oleh keluarga si mati dan menghimpunkan orang ramai kepadanya adalah tidak diriwayatkan daripada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedikit pun. Ia adalah bid‘ah yang tidak disukai."&lt;br /&gt;al-Imam al-Nawawi tidak menamakan amalan penyediaan makanan oleh keluarga si mati dan menghimpunkan orang ramai padanya sebagai satu Bid‘ah Hasanah. Bahkan kitab-kitab mazhab al-Syafi’i begitu kuat menentang hal ini.&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn29"&gt;[29]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20topHYPERLINK#top"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbahasan Ucapan al-Imam al-Sayuti rahimahullah (911H)&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn30"&gt;[30]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;al-Imam al-Sayuti (&lt;span style="font-size:130%;"&gt;السيوطي&lt;/span&gt;) telah menulis kitab khas berhubung dengan bid‘ah yang berjudul al-Amr bi al-Ittiba’ wa al-Nahy ‘an al-Ibtida’ (&lt;span style="font-size:130%;"&gt;الأمر بالاتباع والنهي عن الابتداع&lt;/span&gt;) Di dalamnya beliau menyebut maksud Bid‘ah Hasanah, katanya:&lt;br /&gt;Bid‘ah Hasanah disepakati keharusan membuatnya. Juga disunatkan demi mengharapkan pahala bagi sesiapa yang baik niatnya. Iaitu setiap pembuatan bid‘ah yang bertepatan dengan kaidah-kaidah syarak tanpa menyanggahinya sedikit pun. Perbuatannya tidak menyebabkan larangan syarak. Ini seperti membina mimbar, benteng pertahanan, sekolah, rumah (singgahan) musafir dan sebagainya yang terdiri dari jenis-jenis kebaikan yang tidak ada pada zaman awal Islam. Ini kerana ia bertepatan dengan apa yang dibawa oleh syariat yang memerintahkan membuat yang ma’ruf, tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa.&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn31"&gt;[31]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang telah dinyatakan sebelum ini, apa yang disebut di atas tidak sepatutnya dinamakan bid‘ah sama sekali. Bahkan ia termasuk dalam perkara-perkara yang disuruh dalam agama. Namun persoalan yang lebih penting adalah, apakah al-Imam al-Sayuti rahimahullah akan menganggap sesetengah perbuatan yang dianggap Bid‘ah Hasanah pada hari ini sebagai satu Bid‘ah Hasanah? Untuk memastikan hal ini marilah kita lihat beberapa contoh:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pertama:&lt;br /&gt;Sebagaimana al-Imam al-Nawawi dan lain-lain tokoh, al-Imam al-Sayuti turut menolak solat sunat Raghaib. Beliau berkata:&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn32"&gt;[32]&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah olehmu, semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya membesarkan hari tersebut dan malamnya (hari dan malam Jumaat pertama bulan Rejab) hanya perkara baru yang dibuat dalam Islam selepas 400 tahun. Diriwayatkan mengenainya hadith yang palsu dengan sepakat ulama yang mengandungi kelebihan berpuasa pada siangnya dan bersolat pada malamnya. Mereka menamakan solat Raghaib … Ketahuilah sesungguhnya solat yang bid‘ah ini menyanggahi kaedah-kaedah Islam dalam beberapa bentuk.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan bahawa al-Imam al-Sayuti rahimahullah tidak menamakan solat ini sebagai Bid‘ah Hasanah sekalipun ia disebut dalam beberapa kitab seperti Ihya ‘Ulum al-Din. Jika setiap yang dianggap baik dilabelkan sebagai Bid‘ah Hasanah maka solat ini juga patut dianggap Bid‘ah Hasanah. Namun mengada-adakan perkara baru dalam cara ibadah bukanlah Bid‘ah Hasanah.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kedua:&lt;br /&gt;Berkata al-Imam al-Sayuti rahimahullah ketika membantah amalan Nisfu Sya’ban:&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn33"&gt;[33]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Apa yang memuliakan bulan Sya’ban ialah amalan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa pada kebanyakan harinya. Hadith-hadith Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan athar para sahabat yang diriwayatkan menunjukkan ia malam yang ada kelebihan, (namun) tiada padanya solat yang khusus.&lt;br /&gt;Jelas bahawa solat sunat khusus bersempena Nisfu Sya’ban tidak dianggap oleh al-Imam al-Sayuti sebagai Bid‘ah Hasanah.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketiga&lt;br /&gt;Berkata al-Imam al-Sayuti rahimahullah berkenaan melafazkan niat sebelum solat:&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn34"&gt;[34]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;… Daripada bid‘ah (yang saiyyah) itu adalah, was-was dalam niat solat. Itu bukan daripada perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat baginda. Mereka tidak pernah melafaz sedikit pun niat solat melainkan hanya (terus) takbir. Allah telah berfirman:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya bagi kamu pada Rasulullah itu contoh yang baik." [al-Ahzab 33:21]&lt;br /&gt;Walaupun sesetengah pihak ada yang berpendapat menyebut lafaz niat dalam solat sebagai Bid‘ah Hasanah, namun tokoh mazhab al-Syafi’i yang terkenal ini tidak menganggapnya sedemikian. Ini kerana ia adalah sesuatu yang tidak dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mahupun para sahabat baginda.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20topHYPERLINK#top"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan Perbincangan&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perbincangan kita di atas secara jelas menunjukkan telah berlaku salah faham di kalangan masyarakat, termasuk di kalangan para penceramah dan agamawan, terhadap istilah Bid‘ah Hasanah yang digunakan oleh para tokoh mazhab al-Syafi’i rahimahumullah. Apa yang dimaksudkan oleh para tokoh tersebut adalah jauh berbeza. Oleh itu adalah wajar untuk merujuk semula kepada apa yang ditulis oleh tokoh-tokoh ini.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;foot note &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt;               Diriwayatkan oleh Abu Daud dan al-Tirmizi, berkata al-Tirmizi: “Hadis ini hasan sahih”. Juga diriwayatkan oleh Ibn Majah dan al-Darimi dalam kitab Sunan mereka. Demikian juga oleh Ibn Hibban dalam Shahihnya dan al-Hakim dalam al-Mustadrak dengan menyatakan: “Hadith ini sahih”. Ini dipersetujui oleh al-Imam al-Zahabi (Tahqiq al-Mustadrak, jld. 1,  m.s. 288).&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt;               al-Syatibi, al-I’tishom, m.s. 35.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt;               Beliau ialah Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Idris bin ‘Abbas al-Qurasyi. Lahir di Ghazzah, Palestin pada tahun 150H. Kata al-Imam Ahmad bin Hanbal: “Sesungguhnya Allah melimpahkan untuk manusia pada setiap permulaan seratus tahun orang yang mengajar mereka sunnah dan menafikan pembohongan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kami dapati pada seratus pertama ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz dan pada seratus kedua al-Syafi'i.” (al-Sayuti, Tabaqat al-Huffaz, jld. 1,  m.s. 157)&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt;               Ibn Rajab al-Hanbali, Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam (جامع العلوم والحكم), jld. 2, m.s. 52.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt;               Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari, jld. 15, m.s. 179.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt;               al-Syafi'i, Mausu‘at al-Imam al-Syafi'i: al-Umm (موسوعة الإمام الشافعي), jld. 1, m.s. 353.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt;               Maksud al-Imam al-Syafi'i ialah apa yang beliau tulis dalam al-Umm tersebut dalam bab Kalam al-Imam wa Julusihi Ba’d al-Salam (كلام الإمام وجلوسه بعد السلام) yang mana beliau telah mengemukakan beberapa hadith yang menunjukkan baginda tidak menguatkan suara ketika zikir selepas solat.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt;               Tahlil maksudnya ialah ucapan: لا إله إلا الله.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt;               Maksud al-Imam al-Syafi'i ialah hadith riwayat Umm Salamah yang beliau sebutkan pada awal bab berkenaan:&lt;br /&gt;كان رسول الله  صلى الله عليه وسلم  إذا سلم من صلاته قام النساء حين يقضي تسليمه ومكث النبي  صلى الله عليه وسلم في مكانه يسيرا قال ابن شهاب فنرى مكثه ذلك والله أعلم لكي ينفذ النساء قبل أن يدركهن من انصرف من القوم&lt;br /&gt;Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila memberi salam dari solat maka kaum wanita akan bangun apabila baginda selesai memberi salam. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pula duduk sekejap ditempatnya selepas solat. Kata Ibn Syihab: Kami berpendapat – Allah lebih mengetahui – tujuannya agar kaum wanita dapat pergi sebelum kaum lelaki keluar. Hadith ini turut diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, al-Nasai, Abu Daud, Ibn Majah dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt;             Maksudnya, apakah contoh perkara yang pernah baginda lakukan hanya seketika kemudian setelah orang ramai mempelajarinya baginda tinggalkan. al-Imam al-Syafi'i menyebut contoh ini untuk menyokong pendapat beliau bahawa zikir selepas solat secara kuat hanya dilakukan oleh baginda pada seketika sahaja, kemudian zikir baginda berzikir secara perlahan.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt;             Oleh itu perlu dibetulkan salah faham sesetengah pihak yang mendakwa sesiapa yang tidak berzikir secara kuat selepas solat ialah orang-orang yang tidak mengikut Mazhab al-Syafi’i. Ternyata bahawa dakwaan mereka adalah salah, bahkan menunjukkan pihak yang mendakwa itu tidak meneliti kitab al-Imam al-Syafi'i.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt;             Beliau lahir pada 577H atau 578H, bermazhab al-Syafi'i. Seorang tokoh ulama yang masyhur, pernah menjadi khatib masjid Damsyik dan pernah memegang jawatan ketua hakim Mesir. (Abu Taiyyib, Zail al-Taqyid, jld. 2, m.s. 128).&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt;             ‘Izz al-Din ‘Abd al-Salam, Qawa‘id al-Ahkam fi Masalih al-Anam, jld. 2, m.s. 133.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt;             Qawa‘id al-Ahkam fi Masalih al-Anam, jld. 2, m.s. 133.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref15" name="_ftn15"&gt;[15]&lt;/a&gt;             Qawa‘id al-Ahkam fi Masalih al-Anam, jld. 2, m.s. 133.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref16" name="_ftn16"&gt;[16]&lt;/a&gt;             al-Syatibi, al-I’tishom, m.s. 27-28. (nukilan berpisah)&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref17" name="_ftn17"&gt;[17]&lt;/a&gt;             al-I’tishom, m.s. 145-146.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref18" name="_ftn18"&gt;[18]&lt;/a&gt;             al-Imam al-Nawawi ialah seorang tokoh besar mazhab al-Syafi’i. Namanya Yahya bin Syaraf, lahir pada 631H. Menulis pelbagai karangan yang bermanfaat. Antara yang lazim dijadikan buku pengajian di majlis-majlis tempatan ialah Hadis 40 Imam Nawawi dan Riyadus Salihin. (al-Sayuti, Tabaqat al-Huffaz, jld. 1, m.s. 513)&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref19" name="_ftn19"&gt;[19]&lt;/a&gt;             al-Nawawi, Tahzib al-Asma` wa al-Lughat, jld. 3, m.s. 21.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref20" name="_ftn20"&gt;[20]&lt;/a&gt;             al-Nawawi, al-Azkar, m.s. 225-226. (nukilan berpisah)&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref21" name="_ftn21"&gt;[21]&lt;/a&gt;. Namun ia lebih dikenali dengan nama ringkas: شرح صحيح مسلم.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref22" name="_ftn22"&gt;[22]&lt;/a&gt;             al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, jld. 1, m.s. 115.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref23" name="_ftn23"&gt;[23]&lt;/a&gt;             Maksudnya hadith dalam Shahih Muslim yang tidak menyebut penambahan itu.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref24" name="_ftn24"&gt;[24]&lt;/a&gt;             Rujuk Shahih Muslim – hadith no: 1144 (Kitab Puasa, Bab tegahan berpuasa hanya pada hari Jumaat).&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref25" name="_ftn25"&gt;[25]&lt;/a&gt;             al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, jld. 3, m.s. 211.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref26" name="_ftn26"&gt;[26]&lt;/a&gt;             Iaitu solat yang dilakukan pada malam Jumaat pertama bulan Rejab. Sedih sekali amalan dan hadith palsu ini digalakkan dan disebut di dalam kitab Ihya ‘Ulum al-Din. al-Hafizd Zain al-Din al-‘Iraqi rahimahullah (806H) ketika mentakhrij kitab al-Ihya telah memberitahu kepalsuan hadith ini. (Ihya ‘Ulum al-Din bersama takhrij al-Hafizd al-‘Iraqi, jld. 1, m.s. 268). Semoga Allah mengampuni kita dan al-Imam al-Ghazali rahimahullah (505H). Kita bersangka baik kepadanya dengan menganggap beliau tidak mengetahui hadith ini palsu. Ini kerana beliau bukan ahli dalam bidang hadith seperti yang dinyatakan oleh tokoh-tokoh hadith yang lain.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref27" name="_ftn27"&gt;[27]&lt;/a&gt;             Nukilan berpisah daripada buku ‘Ali Hasan ‘Ali, Kitab al-Ihya ‘Ulum al-Din fi al-Mizan, m.s. 21.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref28" name="_ftn28"&gt;[28]&lt;/a&gt;             al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab, jld. 5, m.s. 320.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref29" name="_ftn29"&gt;[29]&lt;/a&gt;             Antaranya Ibn Naqib dalam Anwar al-Masalik (أنوار المسالك) menyebut: “Apa yang dilakukan oleh keluarga si mati dengan menyediakan makanan dan menghimpunkan manusia kepadanya (makanan) adalah bid‘ah”. (m.s. 182).&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref30" name="_ftn30"&gt;[30]&lt;/a&gt;             Beliau imam yang masyhur, ‘Abd al-Rahman bin Abi Bakr al-Misri. Bermazhab al-Syafi'i. Lahir pada 849H. Membesar di Kaherah. Pakar dalam berbagai ilmu. Pada umurnya 40 tahun, beliau mengasingkan diri dan menulis berbagai karya. (‘Umar Kahalah (كحالة), Mu’jam al-Muallifin (معجم المؤلفين), jld. 2, m.s. 82).&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref31" name="_ftn31"&gt;[31]&lt;/a&gt;             al-Sayuti, al-Amr bi al-Ittiba’ wa al-Nahy ‘an al-Ibtida’, m.s. 25.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref32" name="_ftn32"&gt;[32]&lt;/a&gt;             al-Amr bi al-Ittiba’ wa al-Nahy ‘an al-Ibtida’, m.s. 52 &amp;amp; 54 (nukilan berpisah)&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref33" name="_ftn33"&gt;[33]&lt;/a&gt;             al-Amr bi al-Ittiba’ wa al-Nahy ‘an al-Ibtida’, m.s. 57.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab2.htm#_ftnref34" name="_ftn34"&gt;[34]&lt;/a&gt;             al-Amr bi al-Ittiba’ wa al-Nahy ‘an al-Ibtida’, m.s. 100.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;bersambung &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2286779167317491760-1947939977308721198?l=ibnumuflih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/feeds/1947939977308721198/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/12/bidah-hasanah-satu-penilaian-semula-ii.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/1947939977308721198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/1947939977308721198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/12/bidah-hasanah-satu-penilaian-semula-ii.html' title='Bid`ah Hasanah : Satu Penilaian Semula II'/><author><name>Ibnumuflih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10057495785514708022</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2286779167317491760.post-7837464594952267086</id><published>2008-12-09T01:02:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T03:52:22.526-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bid`ah'/><title type='text'>Bid`ah Hasanah : Satu Penilaian Semula</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Bid`ah hasanah.. satu perkataan yang sering kita dengar dari mulut ustaz2 kita, ataupun tokoh2 agamawan kita didalam membenarkan satu amalan yang tidak ada nash nya sama ada dari alquran maupun dari hadith, dapat saya katakan, secara am nya (dan tentunya bukan keseluruhan nya ) majoriti masyarakat kita dah sebati dengan bid`ah hasanah ini, mulai dari lahir sampai kita meninggal, amalan masyarakat kita di penuhi dengan bid`ah hasanah (betul ke hasanah ? ) , dan yang uniknya amalan bid`ah hasanah ini bentuk nya ada dalam bentuk mingguan, bulanan dan tahunan. banyak contoh2 bid`ah hasanah yang dapat kita lihat di dalam masyarakat kita , diantara nya adalah:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;-barjanji&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;-perayaan maulud&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;-perayaan israk mikraj&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;-perayaan malam nisfu syaaban&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;-pembacaan yasin setiap malam jumaat&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;-kenduri arwah&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;-mentalqinkan mayat di kuburan&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;-menyambut awal tahun dan menutup akhir tahun etc, &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;terlalu banyak contoh2 nya jika ingin di senaraikan satu persatu ,ringkasnya hampir semua amalan bid`ah2 yang mereka lakukan di beri &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;LABEL dengan trade mark BID`AH HASANAH&lt;/span&gt; , timbul satu persoalan jika semua bid`ah itu hasanah lalu bid`ah mana yang sesat nya ??? dah semua hasanah ... ? semoga dengan adanya artikel ini membuat anda akan lebih faham tentang istilah bid`ah hasanah tersebut .... insya allah &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ta’rif Bid‘ah Dari Segi Bahasa&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bid‘ah dari segi bahasa diambil dari kata بَدَعَ . Berkata Ibn Manzur (ابن منظور) rahimahullah:&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;بدع الشيءَ يَبدَعُه بَدعا، وابتدعهُ: أنشأه وبدأه.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Telah membuat sesuatu bid‘ah (past tense), sedang membuatnya (present tense) dan bad‘an (masdar/ kata terbitan) bererti mengadakan dan memulakan.&lt;br /&gt;Berkata Muhammad bin Abi Bakr al-Razi rahimahullah:&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;بدع الشيء: اخترعه لا على مثال.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Membuat bid‘ah sesuatu bermaksud mengadakannya tanpa ada suatu contoh.&lt;br /&gt;Dalam al-Mu’jam al-Wajiz disebutkan hampir sama seperti di atas iaitu mengadakan sesuatu tanpa contoh sebelumnya.&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Demikian kesemua mu’jam bahasa arab menyebut makna yang hampir sama.&lt;br /&gt;Inilah bid‘ah dari segi bahasa iaitu membuat sesuatu yang belum ada contoh sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20topHYPERLINK#top"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ta’rif Bid‘ah Dari Segi Istilah&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bid‘ah ialah jalan yang direka di dalam agama, yang menyerupai syariah, tujuan mengamalkannya untuk berlebihan dalam mengabdikan diri kepada Allah.&lt;br /&gt;Ta’rif (definisi) yang baik bagi perkataan bid‘ah dari segi istilah ialah ta’rif yang dikemukakan oleh al-Imam Abu Ishaq al-Syatibi (&lt;span style="font-size:130%;"&gt;الشاطبي&lt;/span&gt;) rahimahullah (790H)&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; dalam kitabnya yang masyhur berjudul al-I’tishom (&lt;span style="font-size:130%;"&gt;الاعتصام&lt;/span&gt;). Kebanyakan para pengkaji bersetuju bahawa al-Syatibi telah mengemukakan ta’rif jami’ dan mani’ ( &lt;span style="font-size:130%;"&gt;جامع ومانع&lt;/span&gt;). &amp;nbp;&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Antaranya Dr. Ibrahim bin ‘Amir al-Ruhaili dalam tesis Ph.Dnya ketika membandingkan beberapa ta’rif yang dibuat oleh beberapa tokoh terdiri daripada Ibn Taimiyyah&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt;, al-Syatibi, Ibn Rajab dan al-Sayuti rahimahumullah, menyimpulkan bahawa ta’rif al-Syatibi adalah yang paling terpilih&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt;. al-Syatibi mena’rifkan bid‘ah sebagai:&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;طريقة في الدين مخترعة تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Jalan yang direka di dalam agama, yang menyerupai syariah, tujuan mengamalkannya untuk berlebihan dalam mengabdikan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20topHYPERLINK#top"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huraian al-Imam al-Syatibi Terhadap Ta’rif Bid‘ah &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;al-Imam al-Syatibi rahimahullah setelah memberikan ta’rif ini, tidak membiarkan kita tertanya-tanya maksudnya, sebaliknya beliau sendiri telah menghuraikan maksud ta’rif ini. Di sini dinyatakan beberapa poin penting huraian al-Imam al-Syatibi:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pertama:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dikaitkan jalan &lt;span style="font-size:130%;"&gt;(طريقة&lt;/span&gt;) dengan agama kerana rekaan itu dilakukan dalam agama dan perekanya menyandarkan kepada agama. Sekiranya jalan rekaan hanya khusus dalam urusan dunia ia tidak dinamakan bid‘ah, seperti membuat barangan dan kota. Oleh kerana jalan rekaan dalam agama terbahagi kepada apa yang ada asalnya dalam syariat dan kepada apa yang tiada asalnya dalam syariat, maka dimaksudkan dengan ta’rif ini ialah bahagian rekaan yang tiada contoh terdahulu daripada al-Syari’ (Pembuat syariat iaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala).&lt;br /&gt;Tidak dinamakan bid‘ah segala rekaan dan ilmu yang berkhidmat untuk syariat. Segala ilmu ini sekalipun tiada pada zaman yang awal, tetapi asas-asasnya ada dalam syarak.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ini kerana ciri khas bid‘ah ialah ia terkeluar daripada apa yang digariskan oleh al-Syari’. Dengan ikatan ini maka terpisahlah (tidak dinamakan bid‘ah) segala yang jelas – sekalipun bagi orang biasa – rekaan yang mempunyai kaitan dengan agama seperti ilmu nahu, saraf, mufradat bahasa, Usul al-Fiqh, Usul al-Din dan segala ilmu yang berkhidmat untuk syariat. Segala ilmu ini sekalipun tiada pada zaman yang awal, tetapi asas-asasnya ada dalam syarak.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Justeru itu, tidak wajar sama sekali dinamakan ilmu nahu dan selainnya daripada ilmu lisan, ilmu usul atau apa yang menyerupainya yang terdiri daripada ilmu-ilmu yang berkhidmat untuk syariat sebagai bid‘ah. Sesiapa yang menamakannya bid‘ah, sama ada atas dasar majaz (bahasa kiasan) seperti ‘Umar bin al-Khattab radhiallahu 'anh yang menamakan bid‘ah solat orang ramai pada malam-malam Ramadhan, atau atas dasar kejahilan dalam membezakan sunnah dan bid‘ah, maka pendapatnya tidak boleh dikira dan dipegang.&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kedua:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maksud &lt;span style="font-size:130%;"&gt;(تضاهي الشرعية&lt;/span&gt;) ialah menyerupai jalan syarak sedangkan ia bukanlah syarak pada hakikatnya. Bahkan ia menyanggahi syarak dari beberapa sudut:&lt;br /&gt;Antaranya: Meletakkan batasan-batasan&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; seperti seseorang yang bernazar untuk berpuasa berdiri tanpa duduk, berpanas tanpa berteduh, membuat keputusan mengasing diri untuk beribadah, menghadkan makanan dan pakaian dari jenis tertentu tanpa sebab.&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Antaranya: Beriltizam dengan cara (kaifiyyat&lt;span style="font-size:130%;"&gt; كيفيات&lt;/span&gt; ) dan bentuk (haiat &lt;span style="font-size:130%;"&gt;هيئات&lt;/span&gt; ) tertentu.&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Ini seperti zikir dalam bentuk perhimpunan dengan satu suara, menjadikan perayaan hari lahir Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan seumpamanya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Antaranya: Beriltizam dengan ibadah tertentu dalam waktu tertentu sedangkan tidak ada penentuan tersebut dalam syarak. Ini seperti beriltizam puasa pada hari Nisfu Sya’ban dan bersolat pada malamnya&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt; . &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan adat kebia-saan tidak termasuk dalam bid‘ah yang dilarang oleh syari‘at. Yang dilarang ialah apa yang berkaitan dengan agama.&lt;br /&gt;Kemudian bid‘ah-bid‘ah tersebut disamakan dengan perkara-perkara yang disyariatkan. Jika penyamaan itu adalah dengan perkara-perkara yang tidak disyariatkan maka ia bukan bid‘ah. Ia termasuk dalam perbuatan-perbuatan adat kebiasaan.&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketiga:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maksud &lt;span style="font-size:130%;"&gt;(يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله&lt;/span&gt;): "Tujuan mengamalkannya untuk berlebihan dalam mengabdikan diri kepada Allah" ialah menggalakkan ibadah. Ini kerana Allah berfirman:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dan (ingatlah) Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mereka menyembah dan beribadat kepadaKu. [al-Zariyat 51:56]&lt;br /&gt;Seakan-akan pembuat bid‘ah melihat inilah tujuannya. Dia tidak tahu bahawa apa yang Allah tetapkan dalam undang-undang dan peraturan-peraturan-Nya sudah memadai.&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn15"&gt;[15]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Seterusnya al-Imam al-Syatibi menjelaskan:&lt;br /&gt;Telah jelas dengan ikatan ini (yang dijelaskan) bahawa bid‘ah tidak termasuk dalam adat. Apa sahaja jalan yang direka di dalam agama yang menyerupai perkara yang disyariatkan tetapi tidak bertujuan beribadah dengannya, maka ia terkeluar dari nama ini (bid‘ah).&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20_ftn16"&gt;[16]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/l%20topHYPERLINK#top"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan Ta’rif al-Imam al-Syatibi&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Daripada apa yang dita’rifkan dan dihuraikan oleh al-Imam al-Syatibi rahimahullah, dapat dibuat beberapa kesimpulan:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Bid‘ah ialah jalan syarak yang baru di reka dan dianggap ibadah dengannya. Adapun membuat perkara baru dalam urusan dunia tidak boleh dinamakan bid‘ah.&lt;br /&gt;Bid‘ah ialah sesuatu yang tidak ada asal dalam syariat. Adapun apa yang ada asalnya dalam syariat tidak dinamakan bid‘ah.&lt;br /&gt;Ahli bid‘ah menganggap jalan, bentuk, cara bid‘ah mereka adalah satu cara ibadah yang dengannya mereka mendekatkan diri kepada Allah.&lt;br /&gt;Bid‘ah kesemuanya buruk. Apa yang dinamakan Bid‘ah Hasanah yang membabitkan perkara-perkara duniawi bukanlah bid‘ah pada istilahnya. &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt;footnote :&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab1.htm#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt; Ibn Manzur, Lisan al-‘Arab, jld. 8, m.s. 6.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab1.htm#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt; al-Razi, Mukhtar al-Sihah, m.s. 38.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab1.htm#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt; al-Mu’jam al-Wajiz, m.s. 40.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab1.htm#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt; Beliau ialah Abu Ishaq Ibrahim bin Musa al-Gharnati (الغرناطي) Tokoh Andalus yang agung, bermazhab Malik. Seorang muhaddith, faqih (ahli fekah) dan usuli (ahli usul fekah). Mengarang beberapa buah kitab yang agung. Kitab beliau al-Muwafaqat (الموافقات) menjadi rujukan utama dalam ilmu usul al-Fiqh. Bahkan beliau dianggap paling cemerlang dalam mengemukakan perbincangan Maqasid al-Syara’. Demikian juga kitab al-I’tishom ini mendapat pengiktirafan yang besar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab1.htm#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt; Sesuatu ta’rif yang baik hendaklah yang jami’ lagi mani’. Jami’ bermaksud ia menghimpunkan unsur-unsur utama dalam ta’rif, sementara mani’ bermaksud ia menghalang unsur-unsur yang tidak berkaitan masuk ke dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab1.htm#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt; Berkata al-Imam al-Sayuti (w 911H): “Ibn Taimiyyah: seorang syaikh, imam, al-`allamah (sangat alim), hafizd (dalam hadith), seorang yang kritis, faqih, mujtahid, seorang penafsir al-Quran yang mahir, Syaikh al-Islam, lambang golongan zuhud, sangat sedikit sepertinya di zaman ini, …salah seorang tokoh terbilang …memberi perhatian dalam bidang hadith, memetik dan menapisnya, pakar dalam ilmu rijal (para perawi), `illal hadith (kecacatan tersembunyi hadith) juga fiqh hadith, ilmu-ilmu Islam, ilmu kalam dan lain-lain. Dia daripada lautan ilmu, daripada cendikiawan yang terbilang, golongan zuhud dan tokoh-tokoh yang tiada tandingan.”(al-Imam al-Sayuti, Tabaqat al-Huffaz, m.s. 516).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab1.htm#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt; Dr. Ibrahim ‘Amir al-Ruhaili, Mauqif Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah min Ahl al-Ahwa wa al-Bida’, jld. 1, m.s. 90-92.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab1.htm#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt; al-Syatibi, al-I’tishom, m.s 27.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab1.htm#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt; al-I’tishom, m.s.27-28.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab1.htm#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt; Maksudnya batasan-batasan yang tidak diletakkan oleh syariat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab1.htm#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt; Ini seperti jamaah tertentu pada zaman kini, dimana di kalangan mereka ada yang menganggap pakaian fesyen baju negeri atau bangsa tertentu seperti kurta India, atau gaya serban guru tarikat mereka sebagai pakaian agama.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab1.htm#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt; Maksudnya yang tiada dalil syarak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab1.htm#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt; Saya menambah, terdapat sebuah hadith yang sahih mengenai kelebihan Nisfu Sya’ban, iaitu hadith:&lt;br /&gt;طلع الله إلى خلقه في ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن.&lt;br /&gt;Allah melihat kepada hamba-hamba-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, maka Dia ampuni semua hamba-hamba-Nya kecuali musyrik (orang yang syirik) dan yang bermusuhan (orang benci membenci). Hadis ini diriwayatkan oleh Ibn Hibban, al-Bazzar dan lain-lain. al-Albani mensahihkan hadith ini dalam Silsilah al-Ahadith al-Shahihah, jld. 3, m.s. 135. Namun hadith ini tidak mengajar kita untuk melakukan apa-apa amalan pada malam berkenaan seperti yang dilakukan oleh sesetengah masyarakat. Justeru para ulama seperti al-Imam al-Syatibi membantahkan amalan-amalan khas yang dilakukan pada malam tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab1.htm#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt; al-Syatibi, al-I’tishom, m.s. 28.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab1.htm#_ftnref15" name="_ftn15"&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt; al-I’tishom, m.s. 29.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="http://www.hafizfirdaus.com/ebook/BidahHasanah/Bab1.htm#_ftnref16" name="_ftn16"&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt; al-I’tishom, m.s. 30.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt;bersambung &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2286779167317491760-7837464594952267086?l=ibnumuflih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/feeds/7837464594952267086/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/12/bidah-hasanah-satu-penilaian-semula.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/7837464594952267086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/7837464594952267086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/12/bidah-hasanah-satu-penilaian-semula.html' title='Bid`ah Hasanah : Satu Penilaian Semula'/><author><name>Ibnumuflih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10057495785514708022</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2286779167317491760.post-5628117503911563087</id><published>2008-12-05T05:52:00.000-08:00</published><updated>2008-12-05T06:03:49.824-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hadis'/><title type='text'>Hukum Mengamalkan Hadis Dhoif III</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;TIDAK BOLEH MENGATAKAN HADITS DHA'IF DENGAN LAFAZH JAZM [LAFAZH YANG MEMASTIKAN ATAU MENETAPKAN]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;[a]. Ada (lafazh yang digunakan dalam menyampaikan (meriwayatkan) hadits menurut pendapat Ibnu Shalah&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Apabila orang menyampaikan (meriwayatkan) hadits dha’if, maka tidak boleh anda berkata: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;”Atau lafazh jazm yang lain, yakni lafazh yang memastikan atau menetapkan, seperti: "Fa'ala, rawaya, qola".&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Boleh membawakan hadits dha’if itu dengan lafazh: “Telah diriwayatkan atau telah sampai kepada kami be-gini dan begitu.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;”Demikianlah seterusnya hukum hadits-hadits yang masih diragukan tentang shahih dan dha’ifnya. Tidak boleh kita berkata atau menulis: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;[b]. Pendapat Imam an-Nawawi rahimahullahTelah berkata para ulama ahli tahqiq dari pakar-pakar hadits, “Apabila hadits-hadits itu dha’if tidak boleh kita katakan:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” atau:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengerjakan,” atau:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan,” atau:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang,” atau:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghukum.”&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dan lafazh-lafazh lain dari jenis lafazh jazm (pasti atau menetapkan).&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tidak boleh juga mengatakan:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Telah meriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.” atau: &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Telah menyebutkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;”Dan yang seperti itu dari shighat-shighat (bentuk-bentuk) jazm. Tidak boleh juga menyebutkan riwayat yang lemah dari tabi’in dan orang-orang yang sesudahnya dengan shighat-shighat jazm. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Seharusnya kita mengatakan hadits atau riwayat lemah dan hadits atau riwayat yang tidak kita ketahui derajat-nya dengan perkataan:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;"Telah diriwayatkan.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;"Telah dinukil darinya.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;"Telah disebutkan.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;"Telah diceritakan.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dan yang seperti itu disebut shighat tamridh (bentuk lafazh yang berarti ada penyakitnya), dan tidak boleh dengan shighat jazm.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;PERKATAAN PARA ULAMA AHLI HADITS&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Shighat jazm seperti: "qola, rawaya" dan lainnya hanya digunakan untuk hadits-hadits shahih dan hasan saja. Sedangkan shighat-shighat tamridh, seperti: "ruwiya", atau "dukira"ó dan lainnya digunakan selain itu. Karena shighat jazm berarti menun-jukkan akan sahnya suatu khabar (berita) yang disandarkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebab itu tidak boleh dimutlakkan. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Jadi, bila ada ulama yang masih menggunakan shighat (lafazh) jazm untuk berita yang belum jelas, berarti ia telah berdusta atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Adab meriwayatkan ini banyak dilanggar oleh para penulis kitab-kitab fiqh dan juga jumhur Fuqahaa’ dari madzhab Syafi’i, bahkan dilanggar pula oleh jumhur ahli ilmu, kecuali sebagian kecil dari ahli ilmu dari para Ahli Hadits yang mahir.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Perbuatan tasaahul (menggampang-gampangkan) dalam masalah yang hadits merupakan perbuatan yang jelek. Kebanyakan dari mereka menyebutkan hadits shahih dengan shighat tamridh:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Diriwayatkan darinya.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;”Sedangkan dalam menyebutkan hadits dha’if, maka mereka menyebutkan dengan shighat yang jazm: "rawaya fulanun" atau qola".&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Hal ini sebenarnya telah menyimpang dari kebenaran yang telah disepakati oleh Ahli Hadits. [Lihat al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzhab, oleh Imam an-Nawawi (I/63), cet. Daarul Fikr.]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;WAJIB MENJELASKAN HADITS-HADITS DHAI'F KEPADA UMAT ISLAM&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;[a]. Perkataan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany rahimahullahAda yang perlu saya tambahkan dari perkataan Imam an-Nawawy di atas tentang penggunaan lafazh tamridh:"ruwiya, yuhkay, dzukira" dan yang seperti itu untuk hadits dha’if&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Zaman sekarang ini penggunaan lafazh-lafazh itu tidak-lah mencukupi, karena ummat Islam banyak yang tidak mengetahui hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan tidak faham pula kitab-kitab hadits sehu-bungan dengan masalah itu dan tidak mengerti pula apa maksud perkataan khatib di mimbar mengucapkan: “Diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;” Bahwa yang dimaksud khatib yaitu hadits itu dha’if, sedangkan mereka banyak yang tidak faham. Maka, wa-jib bagi ulama untuk menjelaskan hal yang demikian itu sebagaimana yang disebutkan oleh Atsar dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Artinya : Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan apa-apa yang mereka ketahui, apakah kamu suka mereka itu dusta atas nama Allah dan Rasul-Nya?!” [HR. Al-Bukhari, Fat-hul Bari (I/225), lihat Shahih Targhib wat Tarhiib (hal. 52), cet. Maktabah al-Ma’arif th. 1421 dan Tamaamul Minnah (hal. 39-40) oleh Syaikh Mu-hammad Nashiruddin al-Albany]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;[b]. Perkataan Syaikh Ahmad Muhammad SyakirAku berpendapat (sekarang ini) wajib menerangkan hadits-hadits yang dha’if di dalam setiap keadaan (dan setiap waktu), karena bila tidak diterangkan kepada ummat Islam tentang hadits-hadits dha’if, maka orang yang mem-baca kitab (atau mendengarkan) akan menyangka bahwa hadits itu shahih, lebih-lebih bila yang menukilnya atau menyampaikannya itu dari kalangan ulama Ahli Hadits. Hal tersebut karena ummat Islam yang awam menjadikan kitab dan ucapan ulama itu sebagai pegangan bagi mereka. Kita wajib menerangkan hadits-hadits dha’if dan tidak boleh mengamalkannya baik dalam ahkam maupun dalam masalah fadhaa-ilul a’maal dan lain-lainnya. Tidak boleh bagi siapa pun berhujjah (berdalil) melainkan dengan apa-apa yang sah dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dari hadits-hadits shahih atau hasan. [Lihat al-Ba’itsul Hadits Syarah Ikhtishar ‘Uluumil Hadits oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir (hal. 76), cet. Maktabah Daarut Turats th. 1399 H atau I/278, ta’liq: Syaikh Imam al-Albany cet. I Daarul ‘Ashimah th. 1415 H&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;]AKIBAT TASAAHUL DALAM MERIWAYATKAN HADITS DHAIF&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tasaahul (bermudah-mudah)nya para ulama, ustadz, kyai, dalam menulis dan menyampaikan hadits dha’if tanpa disertai keterangan tentang kelemahannya merupakan faktor penyebab yang terkuat yang mendorong ummat Islam melakukan bid’ah-bid’ah di dalam agama dan ke-banyakan dalam masalah-masalah ibadah. Umumnya ummat Islam menjadikan pokok pegangan mereka dalam masalah ibadah dari hadits-hadits lemah dan bathil bahkan maudhu’ (palsu), seperti melaksanakan shalat dan puasa Raghaa-ib di awal bulan Rajab, malam pertengahan (nisfu Sya’ban), berpuasa di siang harinya, mengadakan perayaan maulud Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Diba’an, baca Barzanji, Yasinan, malam Isra’ Mi’raj dan lain-lain. Akibat tasaahul-nya para ulama, ustadz dan kyai, maka banyak dari ummat Islam yang masih mempertahankan bid’ah-bid’ah itu dan menghidup-hidupkannya. Berarti ada dua bahaya besar yang akan menimpa ummat Islam dengan membawakan hadits-hadits dha’if:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pertama.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Terkena ancaman berdusta atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, diancam masuk Neraka.KeduaTimbulnya bid’ah yang berakibat sesat dan di-ancam masuk Neraka, na’udzubillah min dzaalik."Tiap-tiap bid’ah itu sesat dan tiap-tiap kesesatan di Neraka.” [Hadits shahih riwayat an-Nasa-i (III/189), lihat Shahih Sunan Nasa-i (I/346 no. 1487) dan Misykatul Mashaabih (I/51)]KHATIMAHMudah-mudahan kita terpelihara dari berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dari me-lakukan bid’ah yang telah membuat ummat mundur, terbelakang, berpecah belah dan jauh dari petunjuk al-Qur-an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih. Keadaan seperti merupakan kendala bangkitnya ummat Islam.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Wallaahu a’laam bish Shawaab&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;.[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;MARAAJI&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;’1. Shahih al-Bukhari. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;2. Fat-hul Baari Syarah Shahiihil Bukhary, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar as-Asqalany.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;3. Shahih Muslim.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;4. Syarah Shahih Muslim, oleh Imam an-Nawawy.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;5. Sunan Abi Dawud.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;6. Sunan an-Nasa-i.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;7. Sunan Ibnu Majah.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;8. Jaami’ at-Tirmidzi.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;9. Musnad Imam Ahmad.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;10. Al-Jarh wat Ta’dil, oleh Ibnu Abi Hatim. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;11. Majmu’ Fataawaa, oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;12. Manaarul Munif fis Shahih wad Dha’if, oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;13. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzhab, oleh Imam Nawawy.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;14. Lisanul Mizaan, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;15. Al-Qaulul Badi’ fii Fadhilas Shalah ‘ala Habibisy Syafi’i, oleh al-Hafizh as-Sakhawy.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;16. Tanzihusy Syari’ah al-Marfu’ah, oleh Ibnu ‘Araq.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;17. Ad-Dhu’afa Ibnu Hibban.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;18. Qawa’idut Tahdits, oleh Jamaluddin al-Qasimy.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;19. Al-Ba’itsul Hatsits fii Ikhtishaari ‘Uluumil Hadiits, oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;20. Silsilah Ahaadits ad-Dha’ifah wal Maudhu’ah, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;21. Dha’iif Jami’ush Shaghiir, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;22. Shahiih Jami’ush Shaghiir oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;23. Tamaamul Minnah fii Takhriji Fiqhis Sunnah, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;.24. Shahiih at-Targhib wat Tarhiib oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;.25. ‘Uluumil Hadits wa Musthalahuhu oleh Dr. Subhi Shalih.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;26. Al-Adzkaar, oleh Imam an-Nawawy. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2286779167317491760-5628117503911563087?l=ibnumuflih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/feeds/5628117503911563087/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/12/hukum-mengamalkan-hadis-dhoif_05.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/5628117503911563087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/5628117503911563087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/12/hukum-mengamalkan-hadis-dhoif_05.html' title='Hukum Mengamalkan Hadis Dhoif III'/><author><name>Ibnumuflih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10057495785514708022</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2286779167317491760.post-3855255139766365694</id><published>2008-12-05T05:39:00.000-08:00</published><updated>2008-12-05T05:50:58.645-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hadis'/><title type='text'>Hukum Mengamalkan Hadis Dhoif II</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;PENDAPAT BEBERAPA ULAMA TENTANG HADITS-HADITS DHAIF UNTUK FADHAAILUL A'MAAL [KEUTAMAAN AMAL]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Di kalangan ulama, ustadz dan kyai sudah tersebar bahwa hadits-hadits dha’if boleh dipakai untuk fadhaa-ilul a’maal. Mereka menyangka tentang bolehnya itu tidak ada khilaf di antara ulama. Mereka berpegang kepada perka-taan Imam an-Nawawi yang menyatakan bahwa bolehnya hal itu sudah disepakati oleh ahli ilmu&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Apa yang dinyatakan Imam an-Nawawi rahimahullah tentang adanya kesepakatan ulama yang membolehkan memakai hadits dha’if untuk fadhaa-ilul a’maal ini merupakan satu kekeliruan yang nyata. Sebab, ada ulama yang tidak sepakat dan tidak setuju digunakannya hadits dha’if untuk fadhaa-ilul a’maal. Ada beberapa pakar hadits dan ulama-ulama ahli tahqiq yang berpendapat bahwa hadits dha’if tidak boleh dipakai secara mutlak, baik hal itu dalam masalah ahkam (hukum-hukum) maupun fadha-il. &lt;span id  = "fullpost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;[a]. Syaikh Muhammad Jamaluddin al-Qasimi menyebutkan dalam kitabnya, Qawaaidut Tahdits: "Hadits-hadits dha’if tidak bisa dipakai secara mutlak untuk ahkaam maupun untuk fadhaa-ilul a’maal, hal ini disebutkan oleh Ibnu Sayyidin Nas dalam kitabnya, ‘Uyunul Atsar, dari Yahya bin Ma’in dan disebutkan juga di dalam kitab Fat-hul Mughits. Ulama yang berpendapat demikian adalah Abu Bakar Ibnul Araby, Imam al-Bukhari, Imam Muslim dan Imam Ibnu Hazm. [Qawaaidut Tahdits min Fununi Musthalahil Hadits, hal. 113, tahqiq: Muhammad Bahjah al-Baithar]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;[b]. Menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany rahimahullah (Ahli Hadits zaman sekarang ini), ia berpendapat: "Pendapat Imam al-Bukhari inilah yang benar dan aku tidak meragukan tentang kebenarannya." [Tamaamul Minnah fii Ta’liq ‘ala Fiqhis Sunnah hal. 34, cet. Daarur Rayah, th. 1409 H]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Menurut para ulama, hadits dha’if tidak boleh diamalkan, kerana: &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pertama&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Hadits dha’if hanyalah mendatangkan sangkaan yang sangat lemah, orang mengamalkan sesuatu dengan prasangka, bukan sesuatu yang pasti diyakini.Firman Allah:"Artinya : Sesungguhnya sangka-sangka itu sedikit pun tidak bisa mengalahkan kebenaran." [Yunus: 36]Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:"Artinya : Jauhkanlah dirimu dari sangka-sangka, kerana sesungguhnya sangka-sangka itu sedusta-dusta perkataan." [HR. Al-Bukhari (no. 5143, 6066) dan Muslim (no. 2563) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kedua&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kata-kata fadhaa-ilul a’maal menunjukkan bahwa amal-amal tersebut harus sudah ada nashnya yang shahih. Adapun hadits dha’if itu sekedar penambah semangat (targhib), atau untuk mengancam (tarhiib) dari amalan yang sudah diperintahkan atau dilarang dalam hadits atau riwayat yang shahih. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ketiga&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Hadits dha’if itu masih meragukan, apakah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau bukan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:"Artinya Tinggalkanlah apa-apa yang meragukan kamu (menuju) kepada yang tidak meragukan." [HR. Ahmad (I/200), at-Tirmidzi (no. 2518) dan an-Nasa-i (VIII/327-328), ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabir (no. 2708, 2711), dan at-Tirmidzi berkata, "Hadits hasan shahih."]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Keempat&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang perkataan Imam Ahmad, "Apabila kami meriwayatkan masalah yang halal dan haram, kami sangat keras (harus hadits yang shahih), tetapi apabila kami meriwayatkan masalah fadhaa-il, targhiib wat tarhiib, kami tasaahul (bermudah-mudah)." Kata Syaikhul Islam: "Maksud perkataan ini bukanlah menyunnahkan suatu amalan dengan hadits dha’if yang tidak bisa dijadikan sebagai hujjah, karena masalah sunnah adalah masalah syar’i, maka yang harus dipakai pun haruslah dalil syar’i. Barangsiapa yang mengabarkan bahwa Allah cinta pada suatu amalan, tetapi dia tidak bawakan dalil syar’i (hadits yang shahih), maka sesungguhnya dia telah mengadakan syari’at yang tidak diizinkan oleh Allah, sebagaimana dia menetapkan hukum wajib dan haram.[ Majmuu’ Fataawaa, oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (XVIII/65).]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kelima&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Syaikh Ahmad Muhammad Syakir menerangkan tentang maksud perkataan Imam Ahmad, Abdurahman bin Mahdi dan ‘Abdullah Ibnul Mubarak tersebut, beliau berkata, "Bahwa yang dimaksud tasaahul (bermudah-mudah) di sini ialah mereka mengambil hadits-hadits hasan yang tidak sampai ke derajat shahih untuk masalah fadhaa-il. Karena istilah untuk membedakan antara hadits shahih dengan hadits hasan belum terkenal pada masa itu. Bahkan kebanyakan dari ulama mutaqadimin (ulama terdahulu) hanyalah membagi derajat hadits itu kepada shahih atau dha’if saja. (Sedang yang dimaksud dha’if itu sebagiannya adalah hadits hasan yang bisa dipakai untuk fadhaa-ilul a’maal-pen). [Baaitsul Hatsits Syarah Ikhtishaar Uluumil Hadiits, oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir (hal 87), cet. III Maktabah Daarut Turats, th. 1979 M/1399 H atau cet. I Daarul ‘Ashimah, ta’liq: Syaikh al-Albany]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sebagai tambahan dan penguat pendapat ulama yang tidak membolehkan dipakainya hadits dha’if untuk fadhaa-ilul a’maal. Saya bawakan pendapat Dr. Subhi Shalih, ia berkata: "Menurut pendapat agama yang tidak diragukan lagi bahwa riwayat lemah tidak mungkin untuk dijadikan sumber dalam masalah ahkam syar’i dan tidak juga untuk fadhilah akhlaq (targhib wat tarhib), karena sesungguhnya zhan atau persangkaan tidak bisa mengalahkan yang haq sedikit pun. Dalam masalah fadhaa'il sama seperti ahkam, ia termasuk pondasi agama yang pokok, dan tidak boleh sama sekali bangunan pondasi ini lemah yang berada di tepi jurang yang dalam. Oleh karena itu, kita tidak bisa selamat bila kita meriwayatkan hadits-hadits dha’if untuk fadhaa-ilul a’maal, meskipun sudah disebutkan syarat-syaratnya." [ Lihat Uluumul Hadiits wa Musthalaahuhu (hal. 211), oleh Dr. Subhi Shalih, cet. 1982 M]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;SYARAT-SYARAT DITERIMANYA HADITS DHA'IF UNTUK FADHAA-ILUL A'MAAL&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Di atas sudah saya kemukakan bahwa pendapat yang terkuat adalah pendapat Imam al-Bukhari, Muslim dan Ibnu Hazm tentang tidak diterimanya hadits dha’if untuk fadhaa-ilul a’maal. Akan tetapi tentunya sejak dulu sampai hari ini masih saja ada ulama yang memakainya. Oleh karena itu, saya bawakan pendapat al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany tentang syarat-syarat diterimanya hadits dha’if untuk fadhaa-ilul a’maal, beliau berkata: "Sudah masyhur di kalangan ulama bahwa ada di antara mereka orang-orang yang tasaahul (bermudah-mudah/menggampang-gampangkan) dalam membawakan hadits-hadits fadhaa-il kendatipun banyak di antaranya yang dha’if bahkan ada yang maudhu’ (palsu). Oleh karena itu wajiblah atas ulama untuk mengetahui syarat-syarat dibolehkannya beramal dengan hadits dha’if, yaitu ia (ulama) harus meyakini bahwa itu dha’if dan tidak boleh dimasyhurkan agar orang tidak mengamalkannya yakni tidak menjadikan hadits dha’if itu syari’at atau mungkin akan disangka oleh orang-orang jahil bahwa hadits dha’if itu mempunyai Sunnah (untuk diamalkan)." [Tamaamul Minnah hal. 36.]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Syaikh Muhammad bin Abdis Salam telah menjelaskan hal ini dan hendaklah seseorang berhati-hati terkena ancaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (hadits Samurah di atas). Bila sudah ada ancaman ini bagaimana mungkin kita akan mengamalkan hadits dha’if?&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dalam hal ini (ancaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) terkena bagi orang yang mengamalkan hadits dha’if dalam masalah ahkam (hukum-hukum) ataupun fadhaa-ilul a’maal, karena semua ini termasuk syari’at. [Tabyiinul A’jab (hal. 3-4) dinukil oleh Syaikh al-Albany dalam Tamamul Minnah (hal. 36)]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Al-Hafizh as-Sakhawy, murid al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany t, beliau berkata: "Aku sering mendengar syaikhku (Ibnu Hajar) berkata: "Syarat-syarat bolehnya beramal dengan hadits dha’if:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;[1]. Hadits itu tidak sangat lemah. Maksudnya, tidak boleh ada rawi pendusta, atau dituduh berdusta atau hal-hal yang sangat berat kekeliruannya&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;[2]. Tidak boleh hadits dha’if jadi pokok, tetapi dia harus berada di bawah nash yang sudah shahih.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;[3]. Tidak boleh hadits itu dimasyhurkan, yang akan ber-akibat orang menyandarkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apa-apa yang tidak beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan."Imam as-Sakhawi berkata: "Syarat-syarat kedua dan ketiga dari Ibnu Abdis Salam dan dari shahabatnya Ibnu Daqiqiil ‘Ied.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;" Imam ‘Alaiy berkata: "Syarat pertama sudah disepakati oleh para ulama hadits." [ Lihat al-Qaulu Badi’ fii Fadhlish Shalah ‘alal Habibisy Syafi’i (hal. 255), oleh al-Hafizh as-Sakhawi, cet. Daarul Bayan Lit Turats]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Bila kita perhatikan syarat pertama saja, maka kewa-jiban bagi ulama dan orang yang mengerti hadits, untuk menjelaskan kepada ummat Islam dua hal yang penting:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pertama.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Mereka harus dapat membedakan hadits-hadits dha’if dan yang shahih agar orang-orang yang menga-malkannya tidak meyakini bahwa itu shahih, hingga mereka tidak terjatuh ke dalam bahaya dusta atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kedua.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Mereka harus dapat membedakan hadits-hadits yang sangat lemah dengan hadits-hadits yang tidak sangat lemah.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Bagi para ulama, ustadz, dan kyai yang masih bersikeras bertahan untuk tetap memakai hadits-hadits dha’if untuk fadhaaa-ilul a’maal, saya ingin ajukan pertanyaan untuk mereka: "Sanggupkah mereka memenuhi syarat pertama, kedua dan ketiga itu?" Bila tidak, jangan mereka mengamalkannya. Kemudian apa sulitnya bagi mereka untuk mengambil dan membawakan hadits-hadits yang shahih saja yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dan kitab-kitab hadits lainnya. Apalagi sekarang -alhamdulillah- Allah sudah mudahkan adanya kitab-kitab hadits yang sudah dipilah-pilah antara yang shahih dan yang dha’if. Dan kita berusaha untuk memiliki kitab-kitab itu, sehingga dapat membaca, memahami, mengamalkan dan menyampaikan yang benar kepada ummat Islam.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;bersambung &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2286779167317491760-3855255139766365694?l=ibnumuflih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/feeds/3855255139766365694/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/12/hukum-mengamalkan-hadis-dhoif-ii.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/3855255139766365694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/3855255139766365694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/12/hukum-mengamalkan-hadis-dhoif-ii.html' title='Hukum Mengamalkan Hadis Dhoif II'/><author><name>Ibnumuflih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10057495785514708022</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2286779167317491760.post-5161027545007060045</id><published>2008-12-05T03:57:00.000-08:00</published><updated>2008-12-05T04:13:00.966-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hadis'/><title type='text'>Hukum Mengamalkan Hadis Dhoif</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;BOLEHKAH HADITS DHA’IF DIAMALKAN DAN DIPAKAI UNTUK FADHAA-ILUL A’MAAL [KEUTAMAAN AMAL] ?&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Para ulama Ahli Hadits berusaha mengumpulkan dan membukukan hadits-hadits lemah dan palsu dengan tujuan agar kaum Muslimin berhati-hati dalam membawakan hadits yang disandarkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan agar tidak menyebarluaskan hadits-hadits itu hingga orang menyangkanya sebagai sesuatu yang shahih padahal tidak, bahkan ada maudhu’ (palsu), walaupun sudah sering ditulis dan dijelaskan tentang kelemahan dan kepalsuan hadits-hadits itu, akan tetapi masih saja kita lihat dan kita dengar para da’i, muballigh, ustadz, ulama, kyai membawakan dan menyampaikan hadits-hadits tersebut, bahkan banyak pula yang ditulis dalam kitab atau majalah, hingga kebanyakan kaum Muslimin menyangkanya sebagai sabda-sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang benar dan sahih. Oleh kerana itu, saya awali tulisan ini dengan ancaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang-orang yang berdusta atas nama beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian diikuti dengan pendapat-pendapat para ulama tentang penggunaan hadits-hadits dha’if.. &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;ANCAMAN BERDUSTA ATAS NAMA RASULULLAH SHALALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;[1] “Artinya : Barangsiapa berdusta atas (nama)ku dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya dari Neraka.” &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Hadits ini berderajat MUTAWATIR, kerana menurut penyelidikan hadits ini diriwayatkan lebih dari 60 (enam puluh) orang Shahabat ridhwanullahi ‘alaihim jami’an, di antaranya adalah&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;1. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;2. Anas radhiyallahu ‘anhu. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;3. Zubair radhiyallahu ‘anhu.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;4. ‘Ali radhiyallahu ‘anhu.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;5. Jabir radhiyallahu ‘anhuma.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;6. Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;7. Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu dan lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dan hadits di atas pun telah dicatat oleh lebih dari 20 (dua puluh) Ahli Hadits, di antaranya: Imam Ahmad, al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, ad-Darimy, dan lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Di antara hadits-hadits tersebut adalah:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;[2]. Dari ‘Ali, ia berkata: “Telah bersabda rasulullah, ‘Janganlah kamu berdusta atas (nama)ku, karena se-sungguhnya barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka pasti ia masuk Neraka.’” [HR. Ahmad (I/83), al-Bukhari (no. 106), Muslim (I/9) dan at-Tirmidzi (no. 2660)]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;[3]. Dari Mughirah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: Se-sungguhnya berdusta atas (nama)ku tidaklah sama seperti berdusta atas nama orang lain. Barangsiapa berdusta atas (nama)ku dengan sengaja, maka hendak-lah ia mengambil tempat duduknya dari Neraka.” [ HR. Al-Bukhari (no. 1291) dan Muslim (I/10), diri-wayatkan pula semakna dengan hadits ini oleh Abu Ya’la (I/414 no. 962), cet. Darul Kutub al-‘Ilmiyyah dari Sa’id bin Zaid.)]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Maksud berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu ialah: “Membuat-buat omongan atau cerita dengan sengaja yang disandarkan atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia mengatakan: ‘Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda atau mengerjakan begini dan tidak mengerjakan hal yang demikian.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;’”Orang yang berdusta dengan sengaja atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan masuk api Neraka.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Oleh kerana itu, wajib atas kaum Muslimin untuk berhati-hati jangan sampai terjatuh dalam dusta atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Para ulama telah sepakat tentang haramnya memba-wakan hadits-hadits maudhu’ (palsu), yakni hadits yang dibuat orang atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan sengaja maupun tidak sengaja. Bolehnya mem-bawakan hadits maudhu’ itu hanya ketika menerangkan kepalsuannya kepada ummat, agar ummat selamat dari berdusta atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;HADITS DHAIF (LEMAH)&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Hadits dha’if itu ada dua macam:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;1. Hadits yang sangat dha’if.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;2. Hadits yang tidak terlalu dha’if.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tidak ada perselisihan di antara para ulama dalam menolak hadits yang terlalu dha’if. Hanya ada perselisihan di antara ulama tentang membawakan/memakai hadits yang tidak terlalu dha’if untuk:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;1. Fadhaa-ilul A’maal (keutamaan amal), maksudnya hadits-hadits yang menerangkan tentang keutamaan- keuta-maan amal.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;2. At-Targhiib (memotivasi), yakni hadits-hadits yang &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;3. At-Tarhiib (menakuti), yakni hadits-hadits yang berisi ancaman Neraka dan hal-hal yang mengerikan bagi orang yang mengerjakan suatu perbuatan&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;4. Kisah-kisah tentang para Nabi ‘alaihimush Shalatu wa sallam dan orang-orang shalih.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;5. Do’a dan dzikir, yaitu hadits-hadits yang berisi lafazh-lafazh do’a dan dzikir.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;ANCAMAN BAGI ORANG YANG MEMBAWAKAN HADITS DHAIF&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Para ulama yang masih membawakan hadits-hadits dha’if dan menyandarkannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tergolong sebagai pendusta, kecuali apabila mereka tidak tahu. Tentang masalah ini, Syaikh Abu Syammah berkata: “Perbuatan ulama yang membawakan hadits-hadits dha’if adalah suatu kesalahan yang nyata bagi orang-orang yang mengerti hadits, ulama’-ulama’ ushul dan pakar-pakar fiqih, bahkan wajib atas mereka untuk menerangkannya jika ia mampu. Jika ulama’ tidak mampu menerangkan-nya, maka ia termasuk orang-orang yang diancam oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya: &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;[4]. Dari Samurah, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Barangsiapa yang menyam-paikan hadits dariku, dia tahu bahwa itu dusta, maka dia termasuk salah seorang pendusta.’” [HR. Muslim (I/9).]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Syaikh Abu Syammah berpendapat bahwa tidak boleh menyebutkan suatu hadits dha’if melainkan ia wajib me-nerangkan kelemahannya. [Lihat al-Baits ‘ala Inkari Bida’ wal Hawadits (hal. 54) dan Tamaamul Minnah fiit Ta’liq ‘ala Fiqhis Sunnah hal. 32-33.]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Penjelasan:Menurut hadits di atas seorang dianggap dusta apa-bila ia membawakan hadits-hadits yang diketahuinya dusta (tidak benar).&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ada dua golongan ulama yang terkena ancaman hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, yaitu: Ulama yang tahu ke-dha’if-an hadits dan yang tidak tahu. Dalam masalah ini ada dua hukum: &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pertama : jika ulama, ustadz atau kyai tersebut tahu tentang lemahnya hadits-hadits yang dibawakan itu, te-tapi ia tidak menerangkan kelemahannya, maka ia ter-masuk pendusta (curang) terhadap kaum Muslimin dan termasuk yang diancam oleh hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Imam Ibnu Hibban berkata: “Di dalam kabar ini (hadits Samurah di atas), ada dalil yang menunjukkan bahwa seseorang yang menyampaikan hadits atau meriwayat-kannya yang tidak sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu menyampaikan atau meriwayatkan hadits yang lemah atau yang diada-adakan oleh manusia sedang dia tahu bahwa itu dusta, maka dia termasuk pendusta, hal ini lebih keras lagi apabila ulama (ustadz, kyai-pent) tersebut yakin bahwa itu dusta tapi masih disampaikan juga. Hadits ini juga terkena kepada orang yang masih meragukan ke-shahih-an atau kelemahan apa-apa yang ia sampaikan atau riwayatkan.” [Lihat adh-Dhua’faa oleh Ibnu Hibban (I/7-8).]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Imam Ibnu Abdil Hadi menukil perkataan Ibnu Hibban ini dalam kitab ash-Sharimul Mankiy (hal. 165-166) dan beliau menyetujuinya.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kedua : jika si ulama, ustadz atau kyai tidak mengetahui kelemahan hadits (riwayat), tetapi dia masih menyampai-kan (meriwayatkan) juga, maka dia termasuk orang-orang yang berdosa, karena dia telah berani menisbatkan (me-nyandarkan) hadits atau riwayat kepada Nabi j tanpa ia mengetahui sumber hadits (riwayat) itu.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;[5]. Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Telah bersabda Ra-sulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Cukuplah seo-rang dikatakan &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:“Artinya : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mem-punyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung-an jawabnya.” [Al-Israa’: 36]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Imam Ibnu Hibban berkata dalam kitab adh- Dhu’afa’ (I/9): “Di dalam hadits ini (no. 5) ada ancaman bagi se-seorang yang menyampaikan setiap apa yang dia dengar sehingga ia tahu dengan seyakin-yakinnya bahwa hadits atau riwayat itu shahih.” [Lihat Tamaamul Minnah fii Ta’liq ‘alaa Fiqhis Sunnah hal. 33.]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Imam an-Nawawi pernah berkata: “Bahwa tidak halal berhujjah bagi orang yang mengerti hadits hingga ia tidak tahu, dia harus bertanya kepada orang yang ahli.” [Lihat Qawaaidut Tahdits min Fununi Musthalahil Hadits hal. 115 oleh Syaikh Muhammad Jamaluddin al-Qasimi, tahqiq dan ta’liq Muhammad Bahjah al-Baithar]&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M] &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;bersambung &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2286779167317491760-5161027545007060045?l=ibnumuflih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/feeds/5161027545007060045/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/12/hukum-mengamalkan-hadis-dhoif.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/5161027545007060045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/5161027545007060045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/12/hukum-mengamalkan-hadis-dhoif.html' title='Hukum Mengamalkan Hadis Dhoif'/><author><name>Ibnumuflih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10057495785514708022</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2286779167317491760.post-8865423134444493688</id><published>2008-12-03T16:35:00.000-08:00</published><updated>2008-12-03T16:53:34.337-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muslimah'/><title type='text'>Menjaga Kehormatan Wanita Muslimah</title><content type='html'>Wahai saudariku muslimah, wanita adalah kunci kebaikan suatu umat. ia adalah pembangun generasi manusia. Maka jika kaum wanita baik, maka baiklah suatu generasi. Namun sebaliknya, jika kaum wanita itu rusak, maka akan rusak pulalah generasi tersebut.&lt;br /&gt;Maka, engkaulah wahai saudariku… engkaulah penjaga amanah pembangun generasi umat ini. Jadilah engkau wanita muslimah yang sejati, wanita yang senantiasa menjaga kehormatanya Yang menjunjung tinggi hak Rabb-nya. Yang setia menjalankan sunnah rasul-Nya&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Wanita Berbeza Dengan Laki-Laki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَمَاخَلَقْتُ الجِنَّ وَ الإِنْسَ إِلاَّلِيَعْبُدُوْنِ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (Qs. Adz-Dzaariyat: 56)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Allah telah menciptakan manusia dalam jenis perempuan dan laki-laki dengan memiliki kewajiban yang sama, yaitu untuk beribadah kepada Allah. Dia telah menempatkan lelaki dan wanita pada kedudukannya masing-masing sesuai dengan ketentuan nya. Dalam beberapa hal, sebagian mereka tidak boleh dan tidak bisa menggantikan yang lain.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Keduanya memiliki kedudukan yang sama. Dalam peribadatan, secara umum mereka memiliki hak dan kewajiban yang tidak berbeza. Hanya dalam masalah-masalah tertentu, memang ada perbezaan. Hal itu Allah sesuaikan dengan naluri, kebiasaan, dan kondisi masing-masing.&lt;br /&gt;Allah mentakdirkan bahwa laki-laki tidaklah sama dengan perempuan, baik dalam bentuk penciptaan, bentuk tubuh, dan susunan anggota badan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأنْثَى&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Dan laki-laki itu tidaklah sama dengan perempuan." (Qs. Ali Imran: 36)&lt;br /&gt;Kerana perbezaan ini, maka Allah mengkhususkan beberapa hukum syar’i bagi kaum laki-laki dan perempuan sesuai dengan bentuk dasar, keahlian dan kemampuannya masing-masing. Allah memberikan hukum-hukum yang menjadi keistimewaan bagi kaum laki-laki, diantaranya bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan, kenabian dan kerasulan hanya diberikan kepada kaum laki-laki dan bukan kepada perempuan, laki-laki mendapatkan dua kali lipat dari bagian perempuan dalam hal warisan, dan lain-lain. Sebaliknya, Islam telah memuliakan wanita dengan memerintahkan wanita untuk tetap tinggal dalam rumahnya, serta menjaga suami dan anak-anaknya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mujahid meriwayatkan bahwa Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata: "Wahai Rasulullah, mengapa kaum laki-laki bisa pergi ke medan perang sedang kami tidak, dan kamipun hanya mendapatkan warisan setengah bagian laki-laki?" Maka turunlah ayat yang artinya, "Dan janganlah kamu iri terhadap apa yang dikaruniakan Allah…" (Qs. An-Nisaa’: 32)" (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari, Imam Ahmad, Al-Hakim, dan lain sebagainya)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saudariku, maka hendaklah kita mengimani apa yang Allah takdirkan, bahwa laki-laki dan perempuan berbeza. Yakinlah, di balik perbezaan ini ada hikmah yang sangat besar, kerana Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mari Menjaga Kehormatan Dengan Berhijab&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Berhijab merupakan kewajiban yang harus ditunaikan bagi setiap wanita muslimah. Hijab merupakan salah satu bentuk pemuliaan terhadap wanita yang telah disyariatkan dalam Islam. Dalam mengenakan hijab syar’i haruslah menutupi seluruh tubuh dan menutupi seluruh perhiasan yang dikenakan dari pandangan laki-laki yang bukan mahram. Hal ini sebagaimana tercantum dalam firman Allah Ta’ala:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya." (Qs. An-Nuur: 31)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mengenakan hijab syar’i merupakan amalan yang dilakukan oleh wanita-wanita mukminah dari kalangan sahabiah dan generasi setelahnya. Merupakan keharusan bagi wanita-wanita sekarang yang menisbatkan diri pada islam untuk meneladani jejak wanita-wanita muslimah pendahulu meraka dalam berbagai aspek kehidupan, salah satunya adalah dalam masalah berhijab. Hijab merupakan cermin kesucian diri, kemuliaan yang berhiaskan malu dan kecemburuan (ghirah). Ironisnya, banyak wanita sekarang yang menisbatkan diri pada islam keluar di jalan-jalan dan tempat-tempat umum tanpa mengenakan hijab, tetapi malah bersolek dan bertabaruj (berhias) tanpa rasa malu. Sampai-sampai sukar dibezakan mana wanita muslim dan mana wanita kafir, sekalipun ada yang memakai kerudung, akan tetapi kerudung tersebut tak ubahnya hanyalah seperti hiasan penutup kepala.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:&lt;br /&gt;"Semoga Alloh merahmati para wanita generasi pertama yang berhijrah, ketika turun ayat:&lt;br /&gt;"dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedadanya," (Qs. An-Nuur: 31)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Maka mereka segera merobek kain panjang/baju mantel mereka untuk kemudian menggunakannya sebagai khimar penutup tubuh bagian atas mereka."&lt;br /&gt;Subhanallah… jauh sekali keadaan wanita di zaman ini dengan keadaan wanita zaman sahabiah.&lt;br /&gt;Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa hijab merupakan kewajiban atas diri seorang muslimah dan meninggalkannya menyebabkan dosa yang membinasakan dan mendatangkan dosa-dosa yang lainnya. Sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya hendaknya wanita mukminah bersegera melaksanakan perintah Alloh yang satu ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: "Dan tidaklah patut bagi mukmin dan tidak (pula) bagi mukminah, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, kemudian mereka mempunyai pilihan (yang lain) tentang urusan mereka, dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya. Maka sungguhlah dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata." (Qs. Al-Ahzab: 36)&lt;br /&gt;Mengenakan hijab syar’i mempunyai banyak keutamaan, diantaranya:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menjaga kehormatan.&lt;br /&gt;Membersihkan hati.&lt;br /&gt;Melahirkan akhlaq yang mulia.&lt;br /&gt;Tanda kesucian.&lt;br /&gt;Menjaga rasa malu.&lt;br /&gt;Mencegah dari keinginan dan hasrat syaithoniah.&lt;br /&gt;Menjaga ghairah.&lt;br /&gt;Dan lain-lain.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kembalilah Ke Rumahmu&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Dan hendaklah kamu tetap berada di rumahmu." (Qs. Al-Ahzab: 33)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Islam telah memuliakan kaum wanita dengan memerintahkan mereka untuk tetap tinggal dalam rumahnya. Ini merupakan ketentuan yang telah Allah syari’atkan. Oleh karena itu, Allah membebaskan kaum wanita dari beberapa kewajiban syari’at yang di lain sisi diwajibkan kepada kaum laki-laki, diantaranya:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Digugurkan baginya kewajiban menghadiri shalat jum’at dan shalat jama’ah.&lt;br /&gt;Kewajiban menunaikan ibadah haji bagi wanita disyaratkan dengan mahram yang menyertainya.&lt;br /&gt;Wanita tidak berkewajiban berjihad.&lt;br /&gt;Sedangkan keluarnya mereka dari rumah adalah rukhshah (keringanan) yang diberikan karena keperluan dan darurat. Maka, hendaklah wanita muslimah tidak sering-sering keluar rumah, apalagi dengan berhias atau memakai wangi-wangian sebagaimana halnya kebiasaan wanita-wanita jahiliyah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perintah untuk tetap berada di rumah merupakan hijab bagi kaum wanita dari menampakkan diri di hadapan laki-laki yang bukan mahram dan dari ihtilat. Apabila wanita menampakkan diri di hadapan laki-laki yang bukan mahram maka ia wajib mengenakan hijab yang menutupi seluruh tubuh dan perhiasannya. Dengan menjaga hal ini, maka akan terwujud berbagai tujuan syari’at, yaitu:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;-Terpeliharanya apa yang menjadi tuntunan fitrah dan kondisi manusia berupa pembagian yang adil diantara hamba-hamba-Nya yaitu kaum wanita memegang urusan rumah tangga sedangkan laki-laki menangani pekerjaan di luar rumah.&lt;br /&gt;-Terpeliharanya tujuan syari’at bahwa masyarakat islami adalah masyarakat yang tidak beriktilath (percampuran antara lelaki dan wanita). Kaum wanita memiliki komunitas khusus yaitu di dalam rumah sedang kaum laki-laki memiliki komunitas tersendiri, yaitu di luar rumah.&lt;br /&gt;Memfokuskan kaum wanita untuk melaksanakan kewajibannya dalam rumah tangga dan mendidik generasi mendatang. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Islam adalah agama fitrah, dimana kemaslahatan umum seiring dengan fitrah manusia dan kebahagiaannya. Jadi, Islam tidak memperbolehkan bagi kaum wanita untuk bekerja kecuali sesuai dengan fitrah, tabiat, dan sifat kewanitaannya. Sebab, seorang perempuan adalah seorang istri yang mengemban tugas mengandung, melahirkan, menyusui, mengurus rumah, merawat anak, mendidik generasi umat di madrasah mereka yang pertama, yaitu: ‘Rumah’.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bahaya Tabarruj Model Jahiliyah&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bersolek merupakan fitrah bagi wanita pada umumnya. Jika bersolek di depan suami, orang tua atau teman-teman sesama wanita maka hal ini tidak mengapa. Namun, wanita sekarang umumnya bersolek dan menampakkan sebagian anggota tubuh serta perhiasan di tempat-tempat umum. Padahal di tempat-tempat umum banyak terdapat laki-laki non mahram yang akan memperhatikan mereka dan keindahan yang ditampakkannya. Seperti itulah yang disebut dengan tabarruj model jahiliyah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di zaman sekarang, tabarruj model ini merupakan hal yang sudah dianggap biasa, padahal Allah dan Rasul-Nya mengharamkan yang demikian.&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Dan hendaklah kamu tetap berada di rumahmu, dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti model berhias dan bertingkah lakunya orang-orang jahiliyah dahulu (tabarruj model jahiliyah)." (Qs. Al-Ahzab: 33)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: "Ada dua golongan ahli neraka yang tidak pernah aku lihat sebelumnya; sekelompok orang yang memegang sebatan seperti ekor sapi yang dipakai untuk menyebat manusia, dan wanita-wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang, mereka berjalan melenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak bisa mencium aromanya. Sesungguhnya aroma jannah tercium dari jarak sekian dan sekian." (HR. Muslim)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk tabarruj model jahiliyah diantaranya:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menampakkan sebagian anggota tubuhnya di hadapan laki-laki non mahram.&lt;br /&gt;Menampakkan perhiasannya,baik semua atau sebagian.&lt;br /&gt;Berjalan dengan dibuat-buat.&lt;br /&gt;Mendayu-dayu dalam berbicara terhadap laki-laki non mahram.&lt;br /&gt;Menghentak-hentakkan kaki agar diketahui perhiasan yang tersembunyi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan, Mahkota Kaum Wanita&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menikah merupakan sunnah para Nabi dan Rasul serta jalan hidup orang-orang mukmin. Menikah merupakan perintah Allah kepada hamba-hamba-Nya:&lt;br /&gt;"Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Qs. An-Nuur: 32)&lt;br /&gt;Pernikahan merupakan sarana untuk menjaga kesucian dan kehormatan baik laki-laki maupun perempuan. Selain itu, menikah dapat menentramkan hati dan mencegah diri dari dosa (zina). Hendaknya menikah diniatkan karena mengikuti sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menjaga agama serta kehormatannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tidak seharusnya bagi wanita mukminah bercita-cita untuk hidup membujang. Membujang dapat menyebabkan hati senantiasa gelisah, terjerumus dalam banyak dosa, dan menyebabkan terjatuh dalam kehinaan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kemaslahatan-kemaslahatan pernikahan:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;-Menjaga keturunan dan kelangsungan hidup manusia. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;-Menjaga kehormatan dan kesucian diri&lt;br /&gt;-Memberikan ketentraman bagi dua insan. Ada yang dilindungi dan melindungi. Serta memunculkan kasih sayang bagi keduanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah beberapa perkara yang harus diperhatikan oleh setiap muslimah agar dirinya tidak terjerumus ke dalam dosa dan kemaksiatan dan tidak menjerumuskan orang lain ke dalam dosa dan kemaksiatan. Allahu A’lam.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Referensi:Menjaga Kehormatan Muslimah, Syaikh Bakar Abu Zaid.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Penyusun: Ummu Uwais dan Ummu Aiman&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Muraja’ah: Ustadz Nur Kholis Kurdian, Lc. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2286779167317491760-8865423134444493688?l=ibnumuflih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/feeds/8865423134444493688/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/12/menjaga-kehormatan-wanita-muslimah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/8865423134444493688'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/8865423134444493688'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/12/menjaga-kehormatan-wanita-muslimah.html' title='Menjaga Kehormatan Wanita Muslimah'/><author><name>Ibnumuflih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10057495785514708022</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2286779167317491760.post-5359728248332309674</id><published>2008-12-01T22:13:00.000-08:00</published><updated>2008-12-01T22:37:26.905-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>Menjawab Tuduhan Menjelaskan Kebenaran III</title><content type='html'>Ulama Ahli Sunnah Wal-Jamaah Sepakat bahawa Allah Istawa di atas 'Arasy-Nya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesepakatan Ahli Sunnah wal-Jamaah yang berpegang dengan akidah para Salaf al-Ummah meyakini firman Allah di bawah ini&lt;br /&gt;(tanpa tamsil, tasybih, ta’wil, tahrif dan takyif)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;اَلرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah bersemayam di atas 'ArasyNya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummi Salamah radiallahu 'anha berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Al-Istiwa (bersemayam) itu tidak majhul (maklum/diketahui), caranya pula tidak diketahui (majhul) namun berikrar (berpegang) dengannya adalah keimanan dan menentangnya (tidak percaya bahawa Allah bersemayam) adalah kufur".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn57" name="_ftnref57"&gt;[57]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id= "fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semasa Imam Malik rahimahullah ditanya tentang maksud ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;اَلرَّحْمَنٌ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;“Ar-Rahman (Allah) bersemayam di atas ‘Arasy.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beliau menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;اَلاِسْتِوَاءُ مَعْلُوْمٌ وَالْكَيْفُ مَجْهُوْلٌ وَالاِيْمَانُ بِه وَاجِبٌ وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Al-Istiwa adalah sesuatu yang telah dimaklumi, (mempertanyakan) bagaimana (bentuk, rupa dan keadaannya) adalah mempertanyakan sesuatu yang majhul (tidak diketahui), mengimani perkara tersebut adalah wajib dan mempersoalkannya adalah merupakan suatu yang bid'ah".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn58" name="_ftnref58"&gt;[58]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Al-Istiwa adalah sesuatu yang telah dimaklumi, (mempertanyakan) bagaimana (bentuk, rupa dan keadaannya) adalah mempertanyakan sesuatu yang majhul (tidak diketahui), mengimani perkara tersebut adalah wajib dan mempersoalkannya adalah merupakan suatu yang bid'ah"&lt;br /&gt;Imam Malik rahimahullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istiwanya Allah di atas 'ArasyNya menunjukkan ketinggianNya atas segala makhluk dan Dia sentiasa berada dalam ketinggian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil-dalil dari al-Quran yang menjelaskan ketinggian Allah Subhanahu wa-Ta'ala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلاَرْضَ وَلاَ يَؤُوْدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمِ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan Kursi Allah meliputi langit dan bumi dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan Dia (Allah) Maha Tinggi lagi Maha Agung".&lt;br /&gt;(QS. Al-Baqarah, 2:255).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اْلاَعْلَى.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sucikanlah nama Rabbmu Yang Paling Tinggi".&lt;br /&gt;(QS. Al-A'la, 87:1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;اِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah itu Maha Tinggi lagi Maha Besar".&lt;br /&gt;(QS. An-Nisa, 4:34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;ذَلِكَ بِاَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَاَنَّ مَا يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ هُوَالْبَاطِلُ وَاَنَّ اللهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"(Kuasa Allah) yang demikian itu adalah kerana sesungguhnya Allah, Dialah (Rabb) yang Hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil. Dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung".&lt;br /&gt;(QS. Al-Haj, 22:62).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيْرُ الْمُتَعَالِ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang Maha Mengetahui semua yang ghaib dan yang nyata (yang nampak atau yang lahir), Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi".&lt;br /&gt;(QS. Ar-Ra'ad, 13:9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;حَتَّى اِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوْبِهِمْ قَالُوْا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوْا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata: Apakah yang telah difirmankan oleh Rabbmu, mereka menjawab: (Perkataan) yang hak (benar). Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung".&lt;br /&gt;(QS. Saba', 34:23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;اِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيْمٌ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Dia (Allah Subhanahu wa-Ta'ala) Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana".&lt;br /&gt;(QS. Asy-Syura, 42:51).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis-hadis sahih yang menjelaskan ketinggian Allah Subhanahu wa-Ta'ala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ اَنَّ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِذَا قَضَى اللهُ اْلاَمْرَ فِى السَّمَآءِ ضَرَبَتِ الْمَلاَئِكَةُ بِاَجْنِهَتِهَا خَضْعَانًا لِقَوْلِهِ كَاَنَّهُ سِلْسِلَةٌ عَلَى&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:180%;"&gt;صَفْوَانٍ يُنْقِذُهُمْ ذَلَكَ حَتَّى اِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوْبِهِمْ قَالُوْا : مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ؟ قَالُوْا الْحَقُّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari Abu Hurairah radiallahu 'anhu bahawasanya Nabi sallallahu 'alaihi wa-sallam bersabda: Apabila Allah menetapkan perintah di atas langit para malaikat memukul sayap-sayapnya kerana patuh akan firmanNya seakan-akan terdengar seperti gemerincing rantai (yang ditarik) di atas batu rata, hal itu menakutkan mereka (sehingga mereka jatuh pengsan kerana takut). Ketika dihilangkan rasa takut dari hati mereka, mereka berkata: Apakah yang difirmankan oleh Tuhanmu). Mereka menjawab: Firman Al-Hak yang benar dan Dialah yang Maha Tinggi dan Maha Besar".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn59" name="_ftnref59"&gt;[59]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِتَّقُوْا دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ فَاِنَّهَا تَصْعَدُ اِلَى اللهِ كَاَنَّهَا شِرَارَةٌ . وَفِى&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:180%;"&gt;لَفْظٍ : اِلَى السَّمَآءِ&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari Abdullah bin Umar radiallahu 'anhuma berkata: Bersabda Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam: Hati-hatilah kamu dari doa orang yang teranaiya (dizalimi atau diperlakukan secara tidak adil) kerana sesungguhnya doa mereka naik kepada Allah seperti bunga api. Pada lafaz yang lain, naik ke langit".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn60" name="_ftnref60"&gt;[60]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;عَنْ جَـابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِى خُطْبَتِهِ يَوْمَ عَرَفَةَ : اَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ ؟ فَقَالُوْا : نَعَمْ . فَجَعَلَ يَرْفَعُ&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:180%;"&gt;اِلَى&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:180%;"&gt;السَّـمَاءِ وَيَنْكُتُهَا اِلَيْهِمْ وَيَقُوْلُ : اَللَّهُمَّ اشْهَدْ&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari Jabir bin Abdullah radiallahu 'anhu bahawa Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam bersabda semasa berkhutbah di hari 'Arafah: Apakah aku sudah sampaikan (risalahku)? Para sahabat menjawab: Ya! Kemudian Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam mengisyaratkan jari telunjuknya ke langit lalu bersabda: Ya Allah saksikanlah!".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn61" name="_ftnref61"&gt;[61]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;عَنِ سَـعِيْدِ الْخُـدْرِيِّ اَنَّ رَسُـوْلَ اللهِ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَـلَّمَ قَالَ : اَلاَ تَاْمَنُوْنَنِيْ وَاَنَا اَمِيْنٌ مَنْ فِى السَّمَآءِ يَاْتِنِيْ خَبَرٌ مِنَ السَّمَآءِ صَبَاحٌ وَمَسَاءٌ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari Sa'ed al-Khudri sesungguhnya Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam telah bersabda: Tidakkah kamu mempercayai aku sedangkan aku yang dipercayai oleh ( Zat) Yang berada di atas langit Yang menurunkan khabar (wahyu) pada waktu pagi dan petang?".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn62" name="_ftnref62"&gt;[62]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَلرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ اِرْحَمُوْا مَنْ فِى اْلاَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِى السَّمَآءِ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Telah bersabda Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam: Orang-orang yang menyayangi akan disayangi oleh Ar-Rahman (Allah). Sayangilah orang yang di bumi, akan disayangi oleh Yang di langit (Allah)".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn63" name="_ftnref63"&gt;[63]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَالَّذِيْ نَفْسِىْ بِيَدِهِ ، مَا مِنْ رَجُـلٍ يَدْعوْ اِمْرَاَتَهُ اِلَى فِرَاشِـهِ فَاَبَى عَلَيْهِ ، اِلاَّ كَانَ الَّذِيْ فِى السَّمَآءِ سَاخِطًا&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:180%;"&gt;عَلَيْهَا حَتَّى يَرْضَى عَنْهَا&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bersabda Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam: Demi nyawaku yang di tanganNya, tidaklah seseorang lelaki (suami) yang mengajak isterinya ke tempat tidurnya maka ia (isterinya) enggan mematuhinya kecuali Yang di langit (Allah) akan mengutuknya (memurkainya) sehinggalah ia diredhai oleh suaminya".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn64" name="_ftnref64"&gt;[64]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;اِنَّهُ سَـاعَةٌ تُفْتَحُ فِيْهَا اَبْوَابَ السَّـمَآءِ فَاُحِبُّ اَنْ يَصْعَدَ لِيْ فِيْهَا عَمَلٌ صَالِحٌ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya pada waktu itu dibuka pintu-pintu langit, maka aku suka amal-amal solehku diangkat naik pada saat tersebut".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn65" name="_ftnref65"&gt;[65]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;كَمْ اِلَهًا تَعْبُدُ الْيَوْمَ ؟ قَال : سَبْعَةٌ . سِتَّةٌ فِى اْلاَرْضِ وَوَاحِدٌ فِى السَّمَآءِ . فَقَالَ : فَاِذَا اَصَابَكَ الضَّرَرَ فَمَنْ تَدْعُوْا ؟ قَالَ : اَلَّذِيْ فِى السَّمَاءِ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bertanya Rasulullah (kepada Amran bin Hussin sebelum beliau memeluk Islam): Berapa tuhan yang engkau sembah pada hari ini? Beliau menjawab: Tujuh, enam di bumi dan satu di langit. Baginda bertanya: Diketika engkau ditimpa bahaya maka tuhan yang mana yang engkau seru? Beliau menjawab: Tuhan yang di langit".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn66" name="_ftnref66"&gt;[66]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Zainab radiallahu ‘anha berbangga kerana beliau dinikahkan oleh Allah yang di atas langit yang ketujuh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;زَوَّجَكُنَّ اَهَالِيكُنَّ وَزَوَّجَنِيَ اللهُ مِنْ فَوْقَ سَبْعَ سَمَاوَاتِ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu dikahwinkan oleh ahli-ahli kamu dan aku dikahwinkan oleh Allah dari atas langit yang ketujuh".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn67" name="_ftnref67"&gt;[67]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Semasa kewafatan 'Aisyah, Ibn Abbas radiallahu ‘anhu berkata kepadanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُنْ&lt;span style="font-size:180%;"&gt;تُ اُحِبُّ نِسَـاءَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَـلَّمَ وَلَمْ يَكُنْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ اِلاَّطَيِّبًا وَاَنْزَلَ اللهُ بَرَاءَ تكِ مِنْ فَوْقَ سَبْعَ سَمَاوَاتِ&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku sentiasa mencintai para isteri Rasulullah salallahu 'alaihi wa-sallam sebagaimana mencintai Rasulullah dan tidak pernah Rasulullah salallahu 'alaihi wa-sallam mencintai sesuatu kecuali kerana kebaikannya dan Allah telah membersihkan engkau dari atas langit yang ketujuh".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn68" name="_ftnref68"&gt;[68]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ : هَذِهِ اِمْرَاَةٌ سَمِعَ اللهُ شَكْوَاهَا مِنْ فَوْقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ هَذِهِ خَوْلَةُ بِنْتُ ثَعْلَبَةُ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berkata 'Umar bin al-Khattab: Inilah wanita yang didengar oleh Allah pengaduannya dari atas langit yang ketujuh, inilah Khaulah binti Thalabah".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn69" name="_ftnref69"&gt;[69]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;لَمَّا قَضَى اللهُ الْخَلْقَ كَتَبَ كِتَابًا عِنْدَهُ سَبَقَتْ رَحْمَتِيْ غَضَبِيْ فَهوْ عِنْدَهُ فَوْقَ السَّمَآءِ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setelah Allah mencipta makhluk, ditulis satu kitab di sisiNya: RahmatKu mendahului kemurkaanKu, maka ia di sisiNya di atas 'Arasy".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn70" name="_ftnref70"&gt;[70]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil-dalil di atas menerangkan bahawa Allah Subhanahu wa-Ta'ala bersemayam di atas 'ArasyNya.&lt;br /&gt;'ArasyNya berada di atas langit yang ketujuh sebagaimana yang telah disepakati oleh jumhur ulama Salaf as-Soleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah mempunyai sifat, mempunyai tangan, bersemayam di atas 'ArasyNya, mempunyai muka dan al-Quran itu Kalamullah bukan makhluk dan ia diturunkan (dari langit)".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn71" name="_ftnref71"&gt;[71]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Imam Abu Hasan al-Asy'ari rahimahullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingkari keterangan dan penetapan nama-nama, sifat, zat dan perbuatan Allah sebagaimana yang terdapat pada dalil-dalil dari al-Quran, hadis-hadis dan athar yang sahih ini adalah kufur hukumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam al-Auza'ie dianggap Imam ahli Syam dizamannya, beliau telah menegaskan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;كُنَّا وَالتَّابِعُوْنَ مُتَوَافِرُوْنَ نُقُوْلُ : اَنَّ اللهَ عَلَىعَرْشِهِ وَنُؤْمِنُوْا بِمَاوَرَدَتْ بِهِ السُّنَةَ مِنْ صِفَاتِ اللهِ تَعَالَى.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami dan para Tabi'in sepakat menetapkan dengan qaul kami bahawa:&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah di atas 'ArasyNya dan kami beriman dengan apa yang telah dinyatakan oleh sunnah berkenaan sifat-sifat Allah Ta'ala".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn72" name="_ftnref72"&gt;[72]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ وَهَبٍ قَالَ : كُنْتُ عِنْدَ مَالِكٍ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَقَالَ : يَا اَبَا عَبْدَ الرَّحْمَن " اَلرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى " كَيْفَ اسْتَوَى ؟ فَاَطْرَقَ مَالِكُ فَاَخَذَتْهُ الرَّحْضَاءَ ثُمَّ رَفَعَ رَاْسَهُ فَقَالَ : اَلرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىكَمَاوَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ وَلاَ يُقَالُ كَيْفَ وَكَيْفَ عَنْهُ مَرْفُوْعٌ وَمَا اَرَاكَ اِلاَّ صَاحِبُ بِدْعَة فَاَخْرِجُوْهُ&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Abdullah bin Wahab berkata: Aku pernah bersama Malik maka masuk seorang lelaki lalu bertanya: Wahai Aba Abdul Rahman! "Ar-Rahman (Allah) bersemayam di atas 'Arasy", bagaimana Dia bersemayam? Beliau terus mengingkari dan dengan keadaannya yang marah sambil mengangkat kepalanya berkata: Ar-Rahman (Allah) bersemayam di atas 'ArasyNya sebagaimana yang telah disifatkan oleh Allah pada dirinya sendiri dan janganlah ditanya bagaimana dan kenapa kerana telah marfu' tentangnya, dan tidaklah aku ketahui tentang dirimu kecuali seorang pelaku bid'ah, maka keluarkanlah dia". &lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn73" name="_ftnref73"&gt;[73]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertanyakan "Bagaimana Allah bersemayam di atas 'Arasy" dianggap oleh Imam Malik dan Rabi'ah sebagai pertanyaan yang haram dan bid'ah, kerana bertanya tentang apa yang tidak diketahui oleh manusia, dan sesuatu yang tidak diketahui maka tidak mungkin mereka akan memperolehi jawapannya.&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn74" name="_ftnref74"&gt;[74]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya memperkatakan sifat-sifat Allah adalah sebahagian dari memperkatakan tentang zatNya, sebagaimana akal tidak berdaya mengetahui tentang zatNya maka begitu jugalah akal tidak mampu mengetahui tentang bagaimananya sifat Allah.&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn75" name="_ftnref75"&gt;[75]&lt;/a&gt; Beginilah manhaj yang diikuti oleh para Salaf as-Soleh rahimahumullah (tentang memahami sifat dan zat Allah 'Azza wa-Jalla), mereka meletakkan kesempurnaan akal mengikut tempat dan kadar kemampuannya&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn76" name="_ftnref76"&gt;[76]&lt;/a&gt; dan tidak mencabuli ayat-ayat dan sabda NabiNya dengan akal dan hawa nafsunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;قَالَ التُّرْمِزِيُّ : وَهُوَ عَلَى الْعَرْشِ كَمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسهُ فِى كِتَابِهِ كَذَا قَالَ غَيْرُ وَاحَدٍ مِنْ اَهْلِ الْعِلْمِ. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berkata Turmizi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bersemayam di atas 'Arasy sebagaimana yang disifatkanNya sendiri di dalam kitabNya. Beginilah perkataan ahli ilmu yang bukan seorang sahaja yang mengatakannya seperti itu".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn77" name="_ftnref77"&gt;[77]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah di Langit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahli Sunnah wal-Jamaah yang mengikut pemahaman para Salaf as-Soleh, mereka sepakat meyakini bahawa Allah di langit yang ketujuh bersemayam di atas 'ArasyNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin al-Mubarak semasa beliau ditanya tentang di mana Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَقِيْلَ لِعَبْدِاللهِ بْنِ الْمُبَارَكِ كَيْفَ نَعْرِفُ رَبَّنَا قَالَ بِاَنَّهُ فَوْقَ السَّمَآءِ السابِعَةِ عَلَى الْعَرْشِ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan ketika ditanyakan kepada Abdullah bin al-Mubarak: Bagaimana kita mengetahui Tuhan kita? Beliau berkata: Kita mengetahuiNya bahawa sesungguhnya Dia di langit yang ketujuh di atas 'ArasyNya".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn78" name="_ftnref78"&gt;[78]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jahmiyah tidak dianggap golongan Ahli Sunnah wal-Jamaah kerana tergelincir dari manhaj Salaf. Mereka tidak mempercayai Allah di langit:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَقِيْلَ لِيَزِيْدِ بْنِ هَارُوْن : مَنِ الْجَهْمِيَّةُ ؟ فَقَالَ : مَنْ زَعَمَ اَنَّ الرَّحْمَنَ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى عَلَى خِلاَفِ مَا يَقِرُّ فِى قُلُوْبِ الْعَامَةِ فَهُوْ جَهْمِيْ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan ditanyakan kepada Yazid bin Harun: Siapa Jahmiyah? Maka beliau berkata: Sesiapa yang mempercayai bahawa Ar-Rahman (Allah) bersemayam di 'ArasyNya tetapi tidak sebagaimana yang dipercayai oleh orang-orang Islam, maka itulah Jahmiyah".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn79" name="_ftnref79"&gt;[79]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jahmiyah mempercayai Allah bersemayam di ‘Arasy, tetapi tidak percaya Allah di langit, maka sesiapa yang mempunyai keyakinan seperti ini dia adalah Jahmiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Hamad bin Zaid:&lt;br /&gt;"Jahmiyah ialah mereka yang menyatakan bahawa di langit tidak ada sesuatu (Allah bukan di langit)".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn80" name="_ftnref80"&gt;[80]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara ayat yang disalah-tafsir oleh ahli bid'ah dan Jahmiyah ialah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;قَالَ لاَ تَخَافَا ، اِنَّنِيْ مَعَكُمَآ اَسْمَعُ وَاَرَى. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah berfirman: Janganlah kamu berdua merasa takut, sesungguhnya Aku berserta kamu berdua, Aku Mendengar dan Melihat".&lt;br /&gt;(QS. Taha, 20:46).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (اِنَّنِيْ مَعَكُمَا) "Sesungguhnya Aku berserta kamu berdua" ialah ilmuNya.&lt;br /&gt;Iaitu ilmu Allah berserta kita dan meliputi segala-galanya.&lt;br /&gt;Allah Maha Mengetahui kerana ilmu pengetahuan Allah berada di mana-mana.&lt;br /&gt;Allah berserta kita dengan ilmuNya kerana Dia Mendengar dan Melihat kita.&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn81" name="_ftnref81"&gt;[81]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Namun, Allah bersemayam di atas ‘ArasyNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat di atas dapat dijelaskan dengan nas-nas di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اِنَّكُمْ تَدْعُوْنَ سَمِيْعًاقَرِيْبًا وَهُوَ مَعَكُمْ (اَيْ مَعَكُمْ بِعِلْمِهِ)&lt;br /&gt;"Sesungguhnya kamu menyeru Yang Maha Mendengar, Yang Hampir Yang sentiasa berserta kamu (iaitu IlmuNya)".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn82" name="_ftnref82"&gt;[82]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَعِنْدَهُ مَفَاتِيْحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا اِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ اِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِىظُلُمَاتِ اْلاَرْضِ وَلاَرَطْبٍ وَلاَيَابِسٍ اِلاَّفِىكِتَابٍ مُّبِيْنَ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia Mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia Mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak ada sesuatu yang basah dan yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Loh Mahfuz)".&lt;br /&gt;(QS. Al-An'am, 6:59).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis yang menunjukkan Allah di atas 'ArasyNya, 'ArasyNya di langit dan ilmuNya di mana-mana ialah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;قَالَ مُعَاوِيَةُ بْنُ حَكَمُ السُّلَمِى وَكَانَتْ لِيْ جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِيْ اُحدٍ وَالْجُوَانِيَةِ فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ فَاِذَا بِالذِّئْبِ قَدْ ذَهَبَ بَشَاةٍ مِنْ غَنَمِهَا وَاَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِيْ آدَمَ اَسَفَ كَمَا يَاْسفُوْنَ . لَكِنِّيْ صَكَكْتُهَا صَكَّةً فَاَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ . قُلْتُ : يَارَسُوْلَ اللهِ اَفَلاَ اَعْتِقُهَا قَالَ: اِئْتِنِيْ بِهَا. فَقَالَ لَهَا: اَيْنَ اللهُ قَالَتْ : فِى السَّمَآءِ . قَالَ: مَنْ اَنَا قَالَتْ : اَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ. قالَ : اَعْتِقْهَا فَاِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berkata Muawiyah bin Hakam As-Sulami: Aku memiliki seorang hamba wanita yang mengembalakan kambing di sekitar pergunungan Uhud dan Juwaniyah. Pada suatu hari aku melihat seekor serigala menerkam dan membawa lari seekor kambing gembalaannya. Sedang aku termasuk seorang anak Adam kebanyakan. Maka aku mengeluh sebagaimana mereka. Kerananya wanita itu aku pukul dan aku marahi. Kemudian aku menghadap Rasulullah, maka baginda mempersalahkan aku. Aku berkata: Wahai Rasulullah! Adakah aku harus memerdekakannya? Jawab Rasulullah: Bawalah wanita itu ke sini. Maka Rasulullah bertanya kepada wanita itu. Di mana Allah? Dijawabnya: Di langit. Rasulullah bertanya: Siapakah aku? Dijawabnya: Engkau Rasulullah. Maka baginda bersabda: Merdekakanlah (bebaskanlah) wanita ini, kerana dia adalah seorang mukminah".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn83" name="_ftnref83"&gt;[83]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua penjelasan di atas melalui dalil-dalil dari al-Quran dan hadis-hadis yang sahih mengkhabarkan bahawa Allah bersemayan di 'ArasyNya yang berada di langit, maka semua dalil-dalil tersebut adalah juga sebagai hujjah untuk menolak alasan mereka yang mengharamkan seseorang dari bertanya "Di mana Allah berada?" atau (اَيْنِيَّة الله) "Di mananya Allah".&lt;br /&gt;Bertanya kepada seseorang "Di mana Allah" untuk membetulkan akidahnya adalah sunnah, kerana Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa-sallam sendiri telah bertanya kepada seorang hamba perempuan dengan pertanyaan: "Di mana Allah?".&lt;br /&gt;Berdasarkan hadis ini, maka siapakah yang lebih berhak diikuti dan wajib dijadikan contoh jika bukan Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa-sallam, baginda tidak pernah mengikut hawa nafsunya apabila memperkatakan atau menjelaskan sesuatu tentang agama Allah. Oleh itu, seseorang yang bertanya "Di mana Allah?" tidak boleh dihukum sesat atau menyalahi sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn Abbas, ad-Dahhak, Malik, Sufiyan ath-Thauri dan ramai lagi berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia (Allah) bersama kamu: Iaitu yang bersama kamu ialah ilmuNya". .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa-sallam telah memberi amaran dan peringatan yang tegas kepada mereka-mereka yang enggan mengikuti contoh dan mentaati baginda dalam segala urusan agama, sama ada yang berkaitan dengan persoalan akidah, ibadah atau mu'amalah. Baginda bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;كُلُّ اُمَّتِيْ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ اِلاَّ مَنْ اَبَى قَالُوْا وَمَنْ يَاْبَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : مَنْ اَطَاعَنِى دَخَلَ الْجَنَّةِ وَمَنْ عَصَانِيْ قَقَدْ اَبَى&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setiap umatku semuanya akan masuk syurga kecuali sesiapa yang menolak. Mereka bertanya, siapakah yang menolak wahai Rasulullah? Baginda bersabda: Sesiapa yang mentaati aku dia masuk syurga dan sesiapa bermaksiat (menentangku) maka dia telah menolak".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn84" name="_ftnref84"&gt;[84]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْ بَعْدِ مَاتَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَ تْ مَصِيْرً&lt;/span&gt;ا.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan sesiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang dikuasainya. Kami masukkan ia ke dalam Jahanam dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali".&lt;br /&gt;An-Nisa, 4:115.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah disepakati oleh ulama Salaf as-Soleh, bahawa keyakinan mereka yang menyerupakan, mensekufukan, memisalkan, mensetarakan atau mengumpamakan Allah dengan makhlukNya adalah sesat dan boleh membawa kepada perbuatan syirik.&lt;br /&gt;Ia bertentangan dengan ayat-ayat al-Quran, terutamanya ayat di surah asy-Syura "Tidak ada sesuatupun yang serupa denganNya", 42:11 dan ayat di surah al-Ikhlas "Dan tidak ada seorangpun yang setara/sekufu dengan Dia (Allah)", 112:4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Ulama Salaf menetapkan zat, nama-nama dan sifat-sifat Allah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mereka mensucikan Allah Subhanahu wa-Ta'ala dari diserupakan dengan segala makhlukNya yang berdasarkan firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tiada suatu yang semisal denganNya dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat".&lt;br /&gt;(QS. Asy-Syura, 42:11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menjauhkan penyerupaan dengan cara ingin tahu, bertanya atau mempersoalkan "Bagaimana" zat dan sifat-sifat Allah. Kerana hanya Allah sahaja yang benar-benar Mengetahui akan sifat dan zatNya. Maka larangan dari mempersoalkan sifat Allah berdasarkan firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِهِ عِلْمًا.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmuNya".&lt;br /&gt;(QS. Taha, 20:110)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia tidak mampu mengenal sifat-sifat dan zat Allah kecuali melalui wahyu, kerana Allah berada di atas langit yang ketujuh di atas ‘ArasyNya. Hanya Allah Maha Mengetahui segala keghaiban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;عَالِمُ الْغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ اَحَدًا اِلاَّ مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُوْلٍ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui yang ghaib. Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seseorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diredhaiNya".&lt;br /&gt;(QS. Al-Jin, 72:26-27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam juga tidak mengetahui apa yang berada dan terjadi di alam ghaib, termasuklah di Loh al-Mahfuz kecuali setelah dikhabarkan oleh Allah Azza wa-Jalla kepada baginda sebagaimana diungkapkan dalam syair al-Bushairi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;فَاِنَّ مِنْ جُوْدِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتُهَا&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَمِنْ عُلُوْمِكَ عِلْمُ اللُّوْحِ وَالْقَلَمِ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya kedermawananMu terhadap dunia dan kemudaratannya # Dan bahagian (termasuk) dari ilmuMu adalah ilmu Loh al-Mahfuz dan ilmu al-Qalam.&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn85" name="_ftnref85"&gt;[85]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidaktahuan atau kejahilan seseorang tentang keadaan alam ghaib telah dikhabarkan oleh Allah dalam beberapa ayat al-Quran:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَعِنْدَهُ مَفَاتِيْحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا اِلاَّ هُوَ&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan pada sisi Allah sahaja kunci-kunci semua yang ghaib. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri".&lt;br /&gt;(QS. Al-An'am, 6:59).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;قُلْ لاَ يَعْلَمُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضِ الْغَيْبَ اِلاَّ اللهُ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Katakanlah! Tidak ada seseorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah".&lt;br /&gt;(QS. An-Naml, 27:65).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya: Bahawa segala apa yang telah dijelaskan (di atas), adalah berlandaskan al-Quran, as-Sunnah yang sahih dan mengikut panduan para Salaf as-Soleh radiallahu 'anhum, mereka sekalian beriman dengan segala apa yang telah dikhabarkan oleh Allah tentang diriNya di dalam kitabNya, dan beriman dengan segala apa yang telah dijelaskan oleh RasulNya tentangNya. Mereka beriman dengan keimanan yang selamat, iaitu tidak dilakukan pada sifat, zat dan nama-namaNya tahrif, ta'til, takyif dan tamsil.&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn86" name="_ftnref86"&gt;[86]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad rahimahullah pula berkata:&lt;br /&gt;"Tidak diharuskan mensifatkan Allah kecuali dengan apa yang telah disifatkanNya sendiri oleh diriNya atau dengan apa yang telah disifatkan oleh RasulNya dan tidak pula melampaui batasan al-Quran dan al-Hadis".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn87" name="_ftnref87"&gt;[87]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingkari Zat, Nama &amp;amp; Sifat Allah adalah Sesat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat segolongan (firqah) yang digelar golongan "Mu'attilah" (مُعَطِّلَةٌ) "Yang menolak serta membatalkan, zat sifat dan nama-nama Allah"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka (golongan mu’attilah ini) mengingkari dan menafikan sama ada keseluruhan sifat dan nama Allah atau sebahagian darinya. Maka telah disepakati oleh jumhur ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah dan para ulama Salaful Ummah bahawa golongan ini adalah golongan yang sesat dan terkeluar dari millah Islamiyah. Begitu juga sesiapa yang mengingkari atau menafikan adanya sifat-sifat serta nama-nama Allah yang husna maka dia dihukum kafir atau zindik menurut hukum syara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firqah Mu'attilah dan mereka yang sefahaman dengan firqah ini berpendapat dan menuduh sesiapa yang percaya bahawa Allah Subhanahu wa-Ta'ala bersifat (mempunyai sifat) dan mempunyai nama, maka kepercayaan tersebut (menurut mereka) akan membawa kepada persamaan (menyamakan dan menserupakan) Allah Subhanahu wa-Ta'ala dengan makhlukNya. Sesungguhnya Allah Azza wa-Jalla telah membantah pendapat atau keyakinan golongan Mu’attilah yang batil ini sebagaimana yang terdapat di dalam firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai kePerkasaan dari apa yang mereka (sifatkan) katakan".&lt;br /&gt;(QS. As-Safat, 37:180)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesiapa yang menolak atau menafikan adanya nama-nama serta sifat Allah, maka sekali lagi perlu ditegaskan bahawa penafian dalam hal serupa ini adalah batil dan membawa kepada kesesatan dan kekafiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hakikatnya Allah telah menetapkan sendiri nama-nama, sifat dan zatNya di dalam al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada siapa yang berhak dan boleh menafikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh itu, adanya zat, nama dan sifat bagi Allah wajib diimani oleh setiap muslim dan muslimah sehingga tidak boleh dipersoalkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah yang bermanhaj Salaf as-Soleh membantah dan menolak sekeras-kerasnya pendapat yang mungkar ini&lt;br /&gt;(iaitu pendapat yang membatalkan dan meniadakan sifat, zat dan nama-nama Allah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara mereka yang membantah sekeras-kerasnya ialah&lt;br /&gt;Imam Abu Hanifah rahimahullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau telah mengithbatkan (menetapkan) dan menjelaskan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah Azza wa-Jalla:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَلَهُ يَدٌ وَوَجْهٌ وَنَفْسٌ كَمَا ذَكَرَهُ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ فَمَا ذَكَرَهُ اللهُ تَعَالَى فِى الْقَرْآنِ مِنْ ذِكْرِ الْوَجْهِ وَالْيَدِ وَالنَّفْسِ فَهُوَ لَهُ صِفَاتٌ بِلاَ كَيْف ، وَلاَ يُقَالُ اِنَّ يَدَهُ قُدْرَتَهُ اَوْ نِعْمَتَهُ ِلاَنَّ فِيْهِ اِبْطَالُ الصِّفَة.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"BagiNya tangan, muka dan nafs sebagaimana yang diterangkan di dalam al-Quran, maka apa yang diterangkan oleh Allah Ta'ala di dalam al-Quran seperti menyebut muka, tangan dan nafs, maka bagiNya sifat tanpa ditanya bagaimana? Dan tidak boleh dikatakan bahawa tanganNya ialah kudrat (kuasa)Nya atau nikmatnya kerana perbuatan tersebut membatalkan sifat (Allah)".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn88" name="_ftnref88"&gt;[88]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persamaan pada nama (nama Allah) dengan nama makhlukNya tidaklah semestinya menunjukkan adanya persamaan di antara Allah dengan makhlukNya, sama ada pada zat atau pada sifat.&lt;br /&gt;Sebagai contoh, walaupun tangan manusia dan haiwan adalah sama pada istilah nama, namun ia tetap berlainan pada rupa, bentuk dan kebolehan tangan tersebut berfungsi.&lt;br /&gt;Begitulah juga dengan tangan Allah Azza wa-Jalla dan semua sifat-sifatNya yang amat sempurna, ia tidak akan sama atau menyerupai tangan dan sifat sekalian makhlukNya kerana telah ditegaskan melalui firmannya tentang ketidak-samaannya nama, zat dan sifat Allah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tiada suatu pun yang serupa denganNya".&lt;br /&gt;(QS. Asy-Syura, 42:11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hasan Al-Asy’ari ketika ditanya tentang sifat wajah bagi Allah beliau berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;نَقُوْلُ ذَلِكَ خِلاَفًالِمَا يَقُوْلُهَ الْمُبْتَدِعُوْنَ ، وَقَدْ دَلَّ عَلَى ذَلِكَ قَوْلُهَ عَزَّ وَجَلَّ {وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُوْ الْجَلاَلِ وَاْلِكْرَامِ}&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami mengatakan tentang hal tersebut (sifat muka bagi Allah) yang berlawanan dengan apa yang dikatakannya oleh orang-orang bid’ah (Ahli bid’ah), telah jelas menunjukkan tentang hal tersebut sebagaimana firman Allah: ‘Dan tetap kekal Wajah Tuhammu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan’ (QS. Ar-Rahman 55:27)”. &lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn89" name="_ftnref89"&gt;[89]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peyerupaan Yang Menyesatkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIDAK BOLEH KHILAF DALAM PERSOALAN AKIDAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Musyabbihah" .(مُشَبِّهَةٌ) Maksud dari kalimah musyabbihah ialah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang menyerupakan (sifat dan zat) Allah dengan (sifat dan zat) makhlukNya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara firqah (kumpulan/golongan) terbesar yang tersasar sehingga terjebak ke dalam golongan ini ialah para syeikh (para pemimpin) tarikat kebatinan atau kesufian/tasawuf serta para pengikutnya yang mengaku bermazhab Asy’ari akidahnya. Mereka dianggap sesat kerana perbuatan mereka yang mudah dan suka mentakwil&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn90" name="_ftnref90"&gt;[90]&lt;/a&gt; mentamsil,&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn91" name="_ftnref91"&gt;[91]&lt;/a&gt; mentakyif dan menta'til nama-nama, sifat dan zat Allah. Lantaran yang demikian, akhirnya mereka sama ada menafikan zat dan sifat-sifat Allah atau menyamakan sifat Allah dengan sifat-sifat dan zat makhlukNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Abu Hasan al-Asy’ari rahimahullah apabila menjelaskan tentang sifat tangan bagi Allah Azza wa-Jalla beliau berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;نَقُوْلُ ذَلِكَ بِلاَ كَيْف ، وَقَدْ دَلَّ عَلَيْهِ قَوْلهُ عَزَّ وَجَلَّ {لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ}&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menyatakannya tanpa bertanya bagaimana, dan telah jelas menunjukkan tentang firman Allah Azza wa-Jalla: ‘Yang telah Ku ciptakan dengan kedua tanganKu’(QS. Saad 38:75)”. &lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn92" name="_ftnref92"&gt;[92]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibawakan juga oleh Imam Abu Hasan al-Asy’ari hadis sahih:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;خَلَقَ اللهُ آدَمَ بِيَدِهِ ، فَمَسَحَ ظَهْرَهُ بِيَدِهِ ، فَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ ذُرِّيَتَهُ . فَثَبَتَ أَنَّ لَهُ يَدَيْنِ بِلاَ كَيْف.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah menjadikan Adam dengan Tangannya, maka disapu dadanya dengan tanganNya, maka dikeluarkan darinya zuriatnya”. &lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn93" name="_ftnref93"&gt;[93]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengelakkan dari terperangkap ke dalam firqah yang sesat yang berpunca dari talbis Iblis, sewajarnya setiap mukmin sentiasa belajar dan melengkapkan diri mereka dengan perisai ilmu yang dipelajari dari para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah yang berjalan di atas manhaj Salaf as-Soleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mazhab Syafie , Bukan Mazhab Ibn Taimiyah atau Wahhabi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Syafie dan Imam Ibn Taimiyah kedua-dua mereka menentang khurafat tariqat sufi falsafi, penyelewengan tasawuf dan tariqat kebatinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Imam Syafie:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;اَلتَّصَوُّفُ مَبْنِيٌّ عَلَى الْكَسَلِ وَلَوْ تَصَوَّفَ رَجُلٌ اَوَّلَ النَّهَارِ لَمْ يَاْتِ الظُّهْرَ اِلاَّ وَهُوَ اَحْمَقُ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tasawuf dibina di atas kemalasan, jika sekiranya seseorang itu menganut tasawuf di awal siang (pagi), tidak akan sempat sampai ke waktu Zuhur, dia sudah jadi bodoh (biul/goblok)".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn94" name="_ftnref94"&gt;[94]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Syafie menyamakan penyelewengan dan khurafat dalam SUFI dengan perbuatan ZINDIK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menegaskan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ&lt;span style="font-size:180%;"&gt; يَدِيْنُ بِهَذَا (التَّصَوُّف) فَهُوَ زِنْدِيْقٌ اَوْ بِتَعْبِيْرٍ اَدَقٍّ صُوْفِيّ فَالصُّوْفِيُّ مَرَادِفَةٌ لِكُلِّ مَا يُنَاقِضُ الاِيْمَان الْحَق. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesiapa yang menganut agama ini (sufi) maka dia seorang yang zindik atau dengan kata lain dia adalah sufi yang zindik, maka fahaman sufi samalah seperti setiap fahaman yang menentang keimanan yang hak”.&lt;br /&gt;Lihat: Bahaya Tarikat Sufi/Tasawuf Terhadap Masyarakat, p.47, Rasul Dahri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Syafie amat benci kepada kezindikan sufi lalu beliau berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lari meninggalkan Kota Basrah kerana di sana terdapat golongan zindik (sufi/tasawuf), mereka mengerjakan sesuatu yang baru yang mereka sebut dengan tahlilan&lt;br /&gt;Talbis Iblis, p.370, Ibn Qayyim al-Jauzi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Hasan al-Basri rahimahullah amat benci dan memberi ancaman kepada kaum-kaum sufi falsafi yang ghalu kepada syeikh mereka. Beliau berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;أما عَلِمْتَ اَنَّ اَكْثَرَ اَصْحَابُ النَّارِ اَصْحَابُ اْلاَكْسِيةِ ؟ (اَلتَّصَوُّفِ).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidakkah engkau ketahui sesungguhnya kebanyakan penghuni neraka ialah penganut sufi/tasawuf?".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn95" name="_ftnref95"&gt;[95]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika diteliti, dikaji dan disemak semula kitab-kitab ulama Salaf as-Soleh yang memperkatakan tentang sufi (tasawwuf) atau tariqat kebatinan, mereka mengancam dengan berbagai-bagai ancaman yang keras dan menegaskan tentang sesatnya kebanyakan aliran sufi (tasawuf) atau kaum-kaum tarikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah menyelamatkan umat Islam dari bencana aliran sufi dan tariqat yang sesat lagi menyesatkan, maka sama-samalah kita meminta kepada Allah Azza wa-Jalla agar kita dan semua umat Islam diberi kefahaman yang benar tentang akidah, ibadah dan akhlak Islamiyah yang sahih. Amin ya Rabbal ‘Alamin..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nota kaki:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref57" name="_ftn57"&gt;[57]&lt;/a&gt; Lihat: علاقة الاثبات والتفويض بصفات رب العالمين hlm. 32. Redza bin Nu'san Mukti. Dikeluarkan juga oleh al-Lalakaii dalam شرح اصول&lt;br /&gt;[58] Al-Akidah al-Wasitiyah. Ibn Taimiyah. Syarah Soleh Fauzan al-Fauzan. Hlm. 14.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref59" name="_ftn59"&gt;[59]&lt;/a&gt; H/R Bukhari dan Ibnu Majah. Disahihkan oleh al-Albani.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref60" name="_ftn60"&gt;[60]&lt;/a&gt; H/R al-Hakim, ad-Darimi dan az-Zahabi (disahihkan oleh al-Albani).&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref61" name="_ftn61"&gt;[61]&lt;/a&gt; H/R Bukhari, Muslim, Abu Daud, ad-Darimi dan Ibn Majah (Disahihkan oleh al-Albani).&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref62" name="_ftn62"&gt;[62]&lt;/a&gt; H/R Ahmad. 3/4. Bukhari. No. 4351. Muslim, bab az-Zakah. 144. Ahmad, Abu Daud, an-Nasaii dan Baihaqi.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref63" name="_ftn63"&gt;[63]&lt;/a&gt; H/R Abu Daud. 4941, hadis hasan sahih. H/R al-Baihaqi dalam "Asma wa as-Sifat" hlm. 300.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref64" name="_ftn64"&gt;[64]&lt;/a&gt; H/R Muslim, bab an-Nikah. 121.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref65" name="_ftn65"&gt;[65]&lt;/a&gt; H/R Ahmad dan Turmizi. (Hadis sahih).&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref66" name="_ftn66"&gt;[66]&lt;/a&gt; H/R Al-Baihaqi dalam "Al-Asma wa-Sifat" hlm. 300.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref67" name="_ftn67"&gt;[67]&lt;/a&gt; H/R Bukhari No. 7420. Baihaqi "Al-Asma wa-Sifat". Hlm. 296.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref68" name="_ftn68"&gt;[68]&lt;/a&gt; H/R Bukhari No. 7421.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref69" name="_ftn69"&gt;[69]&lt;/a&gt; Dikeluarkan oleh al-Baihiqi di dalam sanadnya.Lihat: اجتماع الجيوش الاسلامية hlm. 39. Ibn Qaiyim.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref70" name="_ftn70"&gt;[70]&lt;/a&gt; H/R Bukhari, 7554. Muslim, bab at-Taubah, 14.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref71" name="_ftn71"&gt;[71]&lt;/a&gt; Lihat: اعتقاد ائمة الحديث Hlm. 50-51. Ismaili.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref72" name="_ftn72"&gt;[72]&lt;/a&gt; Lihat: فتح البارى. Jld. 13. Hlm. 406. Ibn Hajar al-Asqalani.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref73" name="_ftn73"&gt;[73]&lt;/a&gt; Ibid. Hlm. 407.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref74" name="_ftn74"&gt;[74]&lt;/a&gt; الدعوة السلفية فى مفهومها الصحيح عقيدة وعبادة Hlm. 92. Sa'udin Mohammad Al-Kasbi.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref75" name="_ftn75"&gt;[75]&lt;/a&gt; Ibid.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref76" name="_ftn76"&gt;[76]&lt;/a&gt; Ibid.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref77" name="_ftn77"&gt;[77]&lt;/a&gt; Lihat: عون المعبود. Jld. 13. Hlm. 42.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref78" name="_ftn78"&gt;[78]&lt;/a&gt; Lihat: السنة hlm. 5. Abdullah bin al-Imam Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref79" name="_ftn79"&gt;[79]&lt;/a&gt; Lihat: الابانة الكبرى (ق195/1) Ibn Battah.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref80" name="_ftn80"&gt;[80]&lt;/a&gt; Lihat: ابانة الكبرى Ibn Battah (ق917/1). Lihat:الرد على الجهمية Ibn Abi Hatim. Lihat: السنةhlm. 12. Abdullah bin Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref81" name="_ftn81"&gt;[81]&lt;/a&gt; Lihat: العقيدة الاسلامية من الكتاب والسنة الصحيحة hlm. 18.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref82" name="_ftn82"&gt;[82]&lt;/a&gt; H/R Muslim.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref83" name="_ftn83"&gt;[83]&lt;/a&gt; H/R. Muslim dan Abi Daud.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref84" name="_ftn84"&gt;[84]&lt;/a&gt; H/R Bukhari no. 782.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref85" name="_ftn85"&gt;[85]&lt;/a&gt; Lihat: اركان الاسلام والايمان Muhammad bin Jamil Zinu.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref86" name="_ftn86"&gt;[86]&lt;/a&gt; Lihat: شرح العقيدة الوسطية hlm. 21. Ibn Taimiyah.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref87" name="_ftn87"&gt;[87]&lt;/a&gt; Ibid.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref88" name="_ftn88"&gt;[88]&lt;/a&gt; Lihat: مَنْهَج اهل السنة والجماعة فى توحيد الله تعالى Jld. 1. Hlm. 42. Khalid bin Abdul Latif bin Muhammad Nor.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref89" name="_ftn89"&gt;[89]&lt;/a&gt; Lihat: Al-Ibanah an-Usul ad-Dianah, hlm. 105.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref90" name="_ftn90"&gt;[90]&lt;/a&gt; Namun, tidak semua takwil dianggap batil (fasid), menurut Ibn Qaiyim al-Jauzi: Takwil yang diterima ialah takwil makna yang sebenar dari segi zahir ayat. Termasuklah takwil umum yang dianggap ayat yang muhkamah dan ayat mutasyabihah, perintah dan tegahan. Maka takwil yang diterima ialah yang sesuai dengan apa yang digambarkan oleh nas dan dikuatkan oleh Sunnah yang menyokongnya. Lihat: (الصواعق المرسلة) Juz 1. Hlm. 171.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref91" name="_ftn91"&gt;[91]&lt;/a&gt; Qias menurut bahasa "Tamsil" iaitu memisalkan/menyerupakan. Mengqias atau mentamsil sifat atau zat Allah dengan sifat atau zat makhluk haram hukumnya, Allah berfirman: فَلاَ تَضْرِبُوْا للهِ اْلاَمْثَالَ "Maka janganlah kamu mengadakan misal-misal/penyerupaan bagi Allah". An-Nahl, 16:74.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref92" name="_ftn92"&gt;[92]&lt;/a&gt; Al-Ibanah an-Usul ad-Dianah. Hlm. 106.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref93" name="_ftn93"&gt;[93]&lt;/a&gt; Al-Ibanah an-Usul ad-Dianah. Hlm. 106. (H/R Ahmad dalam Musnad 448-450. Abu Daud No. 4703 dalam As-Sunnah. Turmizi No. 3077. Malik dalam Al-Muata’ 2/897-899. Disahihkan oleh Ibn Hibban dalam As-Sahih No. 15357. Hakim 2/234-235. Hadis Sahih dengan beberapa syahidnya. Maka (melalui hadis ini) telah ditetapkan bagiNya dua tangan tanpa ditanya bagaimana.)&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref94" name="_ftn94"&gt;[94]&lt;/a&gt; Lihat: Bahaya Tarikat Sufi/Tasawuf Terhadap Masyarakat. Hlm. 30. Rasul Dahri. Cetakan pertama 1998 Malaysia. Lihat: Talbisu al-Iblis. hlm. 159. Ditahqiq dan ditashih oleh para ulama al-Azhar as-Syarif kali kedua pada 1368H. Dar al-Kutub al-Ilmiyah. Beirut.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref95" name="_ftn95"&gt;[95]&lt;/a&gt; At-Tasawuf. Hlm. 21 Dr. Mustafa Hilmi. Dar ad-Dakwah. Al-Iskandariah.&lt;br /&gt;السنة &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2286779167317491760-5359728248332309674?l=ibnumuflih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/feeds/5359728248332309674/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/12/menjawab-tuduhan-menjelaskan-kebenaran_01.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/5359728248332309674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/5359728248332309674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/12/menjawab-tuduhan-menjelaskan-kebenaran_01.html' title='Menjawab Tuduhan Menjelaskan Kebenaran III'/><author><name>Ibnumuflih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10057495785514708022</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2286779167317491760.post-8111585018185721178</id><published>2008-12-01T03:41:00.000-08:00</published><updated>2008-12-01T22:13:11.201-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>Menjawab Tuduhan Menjelaskan Kebenaran II</title><content type='html'>Fitnah Dilontarkan kepada Wahhabi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramai dari kalangan ulama Ahli Sunnah yang difitnah oleh aktivis bid’ah, malah mereka sanggup berbohong atas nama ulama.&lt;br /&gt;Antara mereka yang menjadi mangsa selain Imam Syafie ialah Ibn Taimiyah.&lt;br /&gt;Mereka menuduh Ibn Taimiyah berkata:&lt;br /&gt;"Duduknya Tuhan di atas ‘Arasy sama dengan duduknya Ibn Taimiyah di atas kerusinya dan turunnya Tuhan dari langit sama seperti turunnya Ibn Taimiyah dari mimbar dan Tuhan itu dilihat (di sebelah) atas, boleh ditunjuk dengan anak jari ke atas".. &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata ini diambil dari Ibnu Bathutah, malangnya dia tidak pernah mendengar malah tidak pernah menghadiri majlis-majlis ilmu yang disampaikan oleh Ibn Taimiyah. Menurut catitan sejarah, sampainya Ibnu Bathutah di Damsyik pada hari Khamis 9hb. Ramadan 727H. Ibn Taimiyah dimasukkan ke penjara Damsyik pada awal bulan Sya'ban ditahun yang sama (727H). Tercatit dalam sejarah bahawa Ibn Taimiyah wafat pada malam Isnin 20hb. Zulqaidah 728H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn Taimiyah dituduh sebagai Wahabbi oleh mereka yang jahil tentang sejarah Ibn Taimiyah dan sejarah Muhammad bin Abdul Wahab, kerana kononnya Ibn Taimiyah menyerupakan Allah dengan makhlukNya (Mujassimah). Tuduhan ini berpunca dari kata-kata Ibn Bathutah, sedangkan Ibn Taimiyah penentang Musyabbihah dan Mujassimiyah sebagaimana penolakan beliau terhadap golongan Qadariyah, Jahmiyah dan Muktazilah&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Timbul persoalan, bagaimana Ibnu Bathutah boleh melihat Ibn Taimiyah menyampaikan ilmu di atas mimbar Jamek dan boleh mendengar majlis ilmunya sedangkan setibanya Ibnu Bathutah di Damsyik Ibn Taimiyah telah dimasukkan ke dalam penjara[47]&lt;br /&gt;Begitu juga, Ibn Taimiyah tidak pernah menyampaikan ilmunya di atas mimbar Jamek sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Bathutah: "Aku menghadiri majlisnya pada hari Jumaat, dia sedang menyampaikan ilmunya di atas mimbar Jamek". Malah Ibn Taimiyah tidak pernah berkhutabah di atas mimbar walaupun Ibnu Bathutah mendakwa: "Dia turun dari tangga-tangga mimbar". Kebiasaannya Ibn Taimiyah hanya duduk di atas kerusi semasa beliau menyampaikan pelajarannya.&lt;br /&gt;Sebenarnya Ibnu Bathutah tidak pernah menulis tentang pelayarannya dengan tangannya sendiri [48]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana ALLAH ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah telah mengkhabarkan dengan firmanNya bahawa Dia mempunyai sifat, zat, nama dan bersemayam di atas ‘ArasyNya. Amat mustahil Bahasa Arab yang jelas yang digunakan oleh Allah Azza wa-Jalla di dalam al-Quran untuk menjelaskan tentang sifat, zat, nama dan tentang bersemayam di atas ‘ArasyNya&lt;br /&gt;Allah telah menjelaskan dengan firmanNya bahawa dijadikan al-Quran dalam Bahasa Arab agar mudah difahami oleh para hambaNyatidak dapat difahami oleh hambanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ إِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka".&lt;br /&gt;(QS. Ibrahim 14:4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;لِسَانُ الَّذِيْ يُلْحِدُوْنَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِيْنٌ &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahawa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam, sedangkan al-Quran adalah dalam Bahasa Arab yang terang”.&lt;br /&gt;(QS. An-Nahl, 16:103).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;“Sesungguhnya Kami menjadikan al-Quran dalam Bahasa Arab supaya kamu memahami(nya)”.&lt;br /&gt;(QS. Az-Zukhruf. 43:3).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat di atas menjelaskan bahawa bahasa al-Quran adalah bahasa yang jelas agar kita mudah memahaminya. Maka sudah pasti firman Allah di bawah ini dapat difahami dengan mudah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;اَلرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ar-Rahman (Allah) bersemayam di atas 'ArasyNya".&lt;br /&gt;(QS. Taha, 20:5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;اِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلاَرْضِ فِى سِتَّةِ اَيَّامٍ ثَمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Lalu Dia bersemayam di atas 'Arasy".&lt;br /&gt;(QS. Al-A'raaf, 7:54)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;اِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضَ فِى سِتَّةِ اَيَّامٍ ثَمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Tuhanmu itu adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian Ia bersemayam di atas 'Arasy".&lt;br /&gt;(QS. Yunus, 10:3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kemudian Dia (Allah) bersemayam di atas 'Arasy".&lt;br /&gt;(QS. Al-Furqan, 25:59&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;اَللهُ الَّذِيْ رَفَعَ السَّمَوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah adalah Zat yang mengangkat langit tanpa tiang yang kamu lihatnya, kemudian Ia bersemayam di atas 'Arasy".&lt;br /&gt;(QS. Ar-Ra'd, 13:2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;اَللهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِى سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُمْ مِنْ دُوْنِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلاَ شَفِيْعٍ اَفَلاَ تَتَذَكَّرُوْنَ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy. Tidak ada bagi kamu selain daripadaNya seorang penolongpun dan tidak seorang pemberi syafa'at. Maka apakah kamu tidak berfikir?".&lt;br /&gt;(QS. As-Sajadah, 32:4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالاَرْضَ فِى سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dialah yang telah menjadikan langit dan bumi dalam enam hari (masa) kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy".&lt;br /&gt;(QS. Al-Hadid, 57:4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ءَ&lt;span style="font-size:180%;"&gt; اَمِنْتُمْ مَنْ فِى السَّمَآءِ اَنْ يَخْسِفَ بِكُمْ اْلاَرْضَ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahawa Dia akan menyungkir-balikkan bumi bersama kamu".&lt;br /&gt;(QS. Al-Mulk, 67:16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;اِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَالِحُ يَرْفَعُهُ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"KepadaNya (Allah yang di langit) naik perkataan-perkataan yang baik dan amal soleh dinaikkanNya".&lt;br /&gt;(QS. Fathir, 35:10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;بَلْ رَفَعَهُ اِلَيْهِ وَكَانَ اللهُ عَزِيْزًا حَكِيْمًا.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepadaNya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".&lt;br /&gt;(QS. An-Nisa', 4:158)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;يَاعِيْسَى اِنِّيْ مُتَوَفِّيْكَ وَرَافِعُكَ اِلَيَّ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mematikan engkau dan mengangkatmu kepadaKu!".&lt;br /&gt;(QS. Ali Imran, 3:55)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;يَخَافُوْنَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka (di langit) dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)".&lt;br /&gt;(QS. An-Nahl, 16:50)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah dijelaskan di dalam al-Quran, mutawatir di sunnah RasulNya serta ijmak para ulama Salaf as-Soleh bahawa Allah Ta'ala di langit. Dia bersemayam di atas 'ArasyNya.&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn49" name="_ftnref49"&gt;[49]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sesiapa yang tidak menerima dan menolak berita ini, dia adalah seorang yang kufur terhadap wahyu Allah kerana berita penerangan yang menjelaskan Allah di langit dan bersemayam di atas ‘ArasyNya merupakan wahyu dari Allah Subhanahu wa-Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadis-hadis sahih terdapat banyak keterangan yang menunjukkan bahawa Allah itu di atas langit ketujuh sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah di dalam al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Muhammad telah menjelaskan bahawa Allah itu di langit&lt;br /&gt;Penjelasan ini juga dengan menggunakan Bahasa Arab yang jelas dan terang&lt;br /&gt;Pastinya ia mudah difahami oleh mereka yang mahu beriman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : رَبُّنَا الَّذِيْ فِى السَّمَآءِ تَقَدَّسَ اسْمُكَ ، اَمْرُكَ فِى السَّمَاءِ وَالاَرْضِ كَمَا رَحْمَتُكَ فِى السَّمَاءِ اِجْعَلْ رَحْمَتَكَ فِى اْلاَرْضِ&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:180%;"&gt;اِغْفِرْلَنَا حُوْبَنَا وَخَطَايَانَا اَنْتَ رَبُّ الطَّيِّبِيْنَ اَنْزِلْ رَحْمَةً مِنْ رَحْمَتِكَ وَشِفَاءً مِنْ شِفَاءِ كَ عَلَى الْوَجَعِ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya Tuhan kami, Tuhan yang di langit! Engkau mensucikan namaMu (juga) urusanMu yang di langit dan di bumi. Sebagaimana halnya rahmatMu di langit itu, maka jadikanlah pula rahmatMu itu di bumi. Ampunilah dosa-dosa dan kesalahan kami. Turunkanlah suatu rahmat dari antara rahmatMu dan suatu kesembuhan dari kesembuhan yang datang dariMu atas penyakit ini, hingga benar-benar sembuh".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn50" name="_ftnref50"&gt;[50]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;عَنِ بْنِ مَسْعُوْد قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَلْعَرْشُ فَوْقَ الْمَاءِ وَاللهُ فَوْقَ الْعَرْشِ لاَ يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ مِنْ اَعْمَالِكُمْ . وَفِى الرِّوَايَةِ&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:180%;"&gt;: وَهُوَ يَعْلَمُ مَا اَنْتُمْ عَلَيْهِ&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari Ibn Mas'oud berkata: Bersabda Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam: 'Arasy itu berada di atas air dan Allah berada di atas 'Arasy. Tidak satupun dari amal kamu yang tersembunyi dari pengetahuanNya. Dan pada riwayat yang lain: Dia Mengetahui apa yang kamu kerjakan".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn51" name="_ftnref51"&gt;[51]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;اَلاَ تَامِنُوْنِيْ وَاَنَا اَمِيْنٌ مَنْ فِى السَّمَآءِ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Tidakkah kamu mahu percaya kepada aku sedangkan aku dipercayai oleh Yang di langit (Allah yang di langit)".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn52" name="_ftnref52"&gt;[52]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian (فِى السَّمَآءِ) "Di langit" ialah (عَلَى السَّمَآءِ) "Di atas langit" bukan meliputi semua langit sebagaimana penjelasannya dari hadis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;اِنَّ اللهَ كَتَبَ كِتَابًا فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah Menulis segala ketentuan yang berada di sisiNya di atas 'Arasy".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn53" name="_ftnref53"&gt;[53]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis di atas menjelaskan Allah berada di atas ‘ArasyNya bukan meliputi ‘Arasy. Hadis ini diperkuat oleh firman Allah Subhanahu wa-Ta'ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;اَلرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuhan Yang Maha Pemurah, bersemayam di atas 'Arasy".&lt;br /&gt;(QS. Taha, 20:5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini menjelaskan bahawa Allah di atas ‘Arasy bukan meliputi ‘Arasy atau meliputi seluruh langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;ثُمَّ اسْتَوَى اِلَى السَّمَآءِ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan Dia berkehendak menuju langit".&lt;br /&gt;(QS. Al-Baqarah, 2:29).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut al-Baghawi yang dinukil dari Ibn Abbas dan ramai lagi para mufassir, bahawa apabila memperkatakan tentang (di mana Allah) mereka hanya berpegang pada lahir lafaz "Istawa" (استوى) “bersemayan di atas ‘Arasy dan ‘ArasyNya di langit”. Menyerahkan kepada ilmu Allah bagaimananya keTinggian Allah 'Azza wa-Jalla yang sebenarnya.&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn54" name="_ftnref54"&gt;[54]&lt;/a&gt; Allah mempunyai zat “Jisim”. Namun, zat Allah Yang Maha Esa tidak menyerupai zat makhlukNya, kerana Allah Subhanahu wa-Ta’ala telah firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Tiada sesuatu yang menyerupaiNya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَلَمْ يَكُنْ لَه كُفُوًا اَحَدٌ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Dan tidak ada seseorangpun yang setara denganNya”. (QS. Al-Ikhlas, 112:4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Ibn Taimiyah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;مِنَ اْلاِيْمَانِ بِاللهِ : اَلاِيْمَانُ بِمَا وَصَفَ بِهِ نَفَسَهُ مِنْ غَيْرِتَحْرِيْفِ فى كِتَابِهِ ، وَبِمَا وَصَفَ بِهِ رَسُوْلَهُ مِنْ غَيْرِ تَحْرِيْفِ وَلاَ تَعْطِيْل وَغَيْرِ تَكْيِيْفِ وَلاَ تَمْثِيْلِ بَلْ يُؤْمِنُ بِاَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ (لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Beriman kepada Allah ialah beriman dengan apa yang disifatkannya sendiri tanpa tahrif mengikut sebagaimana di dalam kitabNya, mengikut sebagaimana disifatkan oleh RasulNya tanpa tahrif, ta'til (meniadakan sifat Ilahiyah, mengingkari keberadaan sifat-sifat tersebut pada ZatNya), tanpa takyif (diperbagaimana) dan tanpa tamsil (memisalkan dengan makhluk), sebaliknya beriman bahawa Allah Subhanahu wa-Ta’ala (Tiada sesuatu yang semisal denganNya dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat)".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn55" name="_ftnref55"&gt;[55]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn Taimiyah berkata tentang golongan berjaya dan menolak Musyabbihah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Fahaman (yang selamat ialah) yang pertengahan, bukan golongan Jahmiyah yang menta'til (sifat Allah) dan bukan juga golongan ahli tamsil seperti Musyabbihah".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn56" name="_ftnref56"&gt;[56]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersambung&lt;br /&gt;Nota kaki:&lt;br /&gt;[46] Lihat: Syarah Hadis Nuzul. Hlm. 2. Zahir as-Syawisy. Cetakan kelima. 1397H-1977M. Al- Maktab al-Islami. Beirut.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref47" name="_ftn47"&gt;[47]&lt;/a&gt; Ibid. Hlm. 2.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref48" name="_ftn48"&gt;[48]&lt;/a&gt; Ibid.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref49" name="_ftn49"&gt;[49]&lt;/a&gt; Lihat: علاقات الاثبات والتفويض بصفات رب العالمين&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref50" name="_ftn50"&gt;[50]&lt;/a&gt; H/R Abu Daud. No. 2892. Ahmad 6/21. (Hadis hasan).&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref51" name="_ftn51"&gt;[51]&lt;/a&gt; H/R Abu Daud, Abdullah bin Ahmad, Tabrani dan Baihaqi (Hadis hasan, sanadnya sahih)&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref52" name="_ftn52"&gt;[52]&lt;/a&gt; H/R Bukhari No. 4351.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref53" name="_ftn53"&gt;[53]&lt;/a&gt; H/R Bukhari dan Muslim.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref54" name="_ftn54"&gt;[54]&lt;/a&gt; Lihat: القواعد الْمُثْلَى فى صفات الله واسكائه الحسنى Hlm. 58. Uthaimin.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref55" name="_ftn55"&gt;[55]&lt;/a&gt; Lihat: Syarah al-Akidah al-Wasitiyah. Hlm. 17-19, Ibn Taimiyah. Cetakan ketiga. al-Maktabah as-Salafiyah, Madinah al-Munawarah. Saudi Arabia.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref56" name="_ftn56"&gt;[56]&lt;/a&gt; Lihat: Mujmal Iktiqad Aimmatus Salaf. Hlm. 86, Dr. Abdullah bin Abdulmuhsin at-Turky. Cetakan pertama. 1413 -1993. Muassasah ar-Risalah. Beirut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2286779167317491760-8111585018185721178?l=ibnumuflih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/feeds/8111585018185721178/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/12/menjawab-tuduhan-menjelaskan-kebenaran.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/8111585018185721178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/8111585018185721178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/12/menjawab-tuduhan-menjelaskan-kebenaran.html' title='Menjawab Tuduhan Menjelaskan Kebenaran II'/><author><name>Ibnumuflih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10057495785514708022</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2286779167317491760.post-1204433497321125104</id><published>2008-11-30T04:17:00.000-08:00</published><updated>2008-12-01T22:06:42.460-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>Menjawab Tuduhan Menjelaskan Kebenaran</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Melontarkan gelaran yang buruk, gambaran negatif dan tuduhan palsu terhadap golongan yang digelar Wahhabi oleh aktivis bid’ah (mubtadi’) dan orang-orang yang sealiran dengan mereka kini sudah menjadi resam dalam masyarakat Islam.&lt;br /&gt;Fitnah yang direka oleh ahli bid’ah bermula apabila generasi muda yang intelek mula mendekati dan mengamal sunnah sahihah yang dihidupkan oleh golongan yang digelar Wahhabi.Ibadah-ibadah sunnah yang diamal dan dipertahankan oleh golongan ini amat bertentangan dengan amalan tradisi bid’ah yang dipelihara oleh golongan yang sudah sekian lama terperangkap dalam amalan-amalan bid’ah yang masih dianggap sebagai bid’ah hasanah walaupun sudah jelas bahawa ia adalah bid’ah dhalalah (bid’ah yang sesat). Tulisan ini membongkar tembelang golongan mubtadi’ yang menggeruni kemunculan generasi penghidup sunnah yang digelar Wahhabi.Bacalah tulisan ini sehingga selesai supaya anda faham dan mengetahui hakikat sebenar siapa Wahhabi, siapa Salafi dan siapa yang bermazhab Syafie.. &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahhabi atau Salafi, dua kalimah ini sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat Melayu di Malaysia, Singapura, Indonesia, Berunai dan selatan Thailand. Tetapi dua kalimah ini belum diketahui dan difahami dengan betul oleh kebanyakan mereka walaupun sudah menjadi polemik yang berlarutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini bukan bertujuan membincang atau mendefinisikan dua kalimah tersebut, tetapi akan mendedahkan salah sangka, salah faham dan salah tanggapan kebanyakan masyarakat Islam yang mengaku sebagai golongan yang bermazhab Asy’ari akidahnya, Syafie fiqhnya dan al-Ghazali akhlaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini akan membuktikan melalui fakta ilmiyah bahawa akidah yang dituduh sebagai akidah Wahhabi adalah merupakan akidah sahihah (akidah yang benar) mengikut manhaj Salaf as-Soleh yang menjadi pegangan Imam Syafie, Maliki, Hambali, Hanafi dan para ulama muktabar yang bermazhab as-Syafie. Malah tulisan ini akan membuktikan bahawa apa yang dituduh sebagai pegangan Wahhabi maka yang sebenarnya itulah juga pegangan Imam Abu Hasan al-Asy’ari sama ada di bidang akidah, ibadah, fiqh atau akhlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moga-moga dengan terbitnya tulisan-tulisan seperti ini, insya Allah para syaitan jenis jin dan manusia tidak akan mampu menggunakan makar, talbis dan penipuan mereka yang menyeru umat Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa-sallam diakhir zaman menuju jalan kesesatan melalui alasan bid’ah hasanah. Seruan mereka telah menyesatkan ramai manusia yang tertipu dengan amalan-amalan para penyesat yang terperangkap dalam kebatilan bid’ah yang dianggap sebagai sunnah atau disangka bid’ah hasanah. Akibatnya ramai umat yang telah ditipu oleh mereka yang suka memutar-belitkan fakta agama, menafsirkan agama ala aklani, sufi batini dan gaya Muktazilah yang diilhamkan oleh syaitan. Semuanya itu berlaku kerana menuruti keinginan dan tuntutan hawa nafsu dan demi memperolehi kepentingan dunia yang sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISLAM AKAN SENTIASA TERPELIHARA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam telah mengkhabarkan bahawa agama Islam dan segala ilmunya akan sentiasa terpelihara. Yang akan memelihara dan menjaganya hanyalah orang-orang yang adil. Tentunya yang paling adil ialah mereka yang digelar golongan Salaf as-Soleh[1] serta mereka yang berittiba’ serta mengikut manhaj mereka. Dikatakan begitu kerana hanya kalangan salafi yang mempertahankan agama ini dari dicemari oleh berbagai-bagai bid’ah, khurafat, syirik, kesesatan dan penyelewengan diakhir zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginda telah mengkhabarkan perkara tersebut dengan bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَحْ&lt;span style="font-size:180%;"&gt;مِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ ، يَنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفِ الْغَالِيْنَ ، وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ ، وَتَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Akan terus dipelihara ilmu agama ini dari setiap generasi oleh orang-orang yang adil (amanah), mereka sentiasa membasmi agama ini dari segala putar belit orang-orang yang melampau penyimpangannya, kedustaan orang-orang yang berdusta atas nama agama dan penafsiran orang-orang yang jahil”.[2]&lt;br /&gt;Malangnya mereka yang kuat berpegang dan mempertahankan kebenaran yang diambil dan diikuti melalui manhaj Salaf as-Soleh terutama yang dipimpin oleh Imam Syafie dituduh sebagai golongan Wahhabi dan sesat. Tuduhan yang tidak berasas ini semakin hari semakin melampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SALAH FAHAM TERHADAP WAHHABI DAN SYAFIE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah sama ada Imam Syafie, Maliki, Hambali, Hanafi dan selain mereka telah bersepakat bahawa Allah bersemayam di ‘ArasyNya, tetapi disangka oleh golongan yang mendakwa diri mereka bermazhab Asy’ari bahawa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang berkeyakinan Allah Bersemayam di atas ‘ArasyNya ialah golongan Wahhabi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan semua para ulama besar Salaf as-Soleh yang muktabar mereka bersepakat dan berakidah bahawa Allah bersemayam di atas ‘ArasyNya tanpa khilaf.&lt;br /&gt;Siapakah Ulama Salaf yang menegaskan bahawa Allah bersemayam di ‘ArasyNya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam al-Auza'ie rahimahullah, Imam ahli Syam menegaskan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;كُنَّا وَالتَّابَعُوْنَ مُتَوَافِرُوْنَ نَقُوْلُ : انَّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ وَنُؤْمِنُ بِمَا وَرَدَتْ بِهِ السُنَّةَ مِنْ صِفَاتِ اللهِ تَعَالَى.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Kami dan para Tabi'in semuanya menetapkan dengan kesepakatan qaul kami bahawa: Sesungguhnya Allah di atas 'ArasyNya dan kami beriman dengan apa yang telah dinyatakan oleh Sunnah berkenaan sifat-sifat Allah Ta’ala".[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Abu Hasan al-Asy'ari rahamahullah menegaskan al-Quran bukan makhluk dan diturunkan oleh Allah yang berada di langit. Beliau menjelaskan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah mempunyai sifat, mempunyai tangan, bersemayam di atas ‘ArasyNya dan mempunyai muka. Al-Quran itu Kalamullah bukan makhluk dan al-Quran diturunkan dari langit".[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullah berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di atas langit-langit itulah ‘Arasy, maka tatkala ‘Arasy berada di atas langit-langit Allah berfirman: Apakah kamu merasa aman terhadap Zat yang berada di atas langit? Sesungguhnya Ia istiwa (bersemayam) di atas ‘Arasy yang berada di atas langit dan tiap-tiap yang tinggi itu dinamakan As-Sama (langit), maka ‘Arasy berada di atas langit. Bukanlah yang dimaksudkan di dalam firman: Apakah kamu merasa aman terhadap Zat yang berada di atas langit? Bukan di seluruh langit, tetapi ‘ArasyNya yang berada di atas langit."[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullah seterusnya berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya setelah seseorang bertanya: Apa yang kamu katakan berkenaan istiwa? Katakan kepadanya: Kami sesungguhnya berkata bahawa Allah ‘Azza wa-Jalla bersemayam di atas ‘ArasyNya yang sesuai denganNya sebagaimana firman Allah:}Ar-Rahman (Allah) bersemayam di atas ‘ArasyNya{ (QS. Taha. 5). Firmannya lagi: }KepadaNyalah naik perkataan-perkataan yang baik{ (QS. Fatir. 10). Firman Allah: }Tetapi (yang sebenarnya) Allah telah mengangkat Isa kepadaNya{ (QS. An-Nisa. 158). Firman Allah: }Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya{ (QS. As-Sajadah. 5). Firman Allah: }Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahawa dia akan menjungkir- balikkan bumi bersama kamu{ (QS. Al-Mulk. 16). Maka langit di atasnya adalah ‘Arasy, maka apabila ‘Arasy di atas langit-langit maka Allah berfirman: }Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit{ kerana Allah beristiwa di atas ‘Arasy di atas langit….Dan kita lihat sekalian orang-orang Islam mengangkat tangan mereka menghadap langit apabila berdoa kerana Allah Azza wa-Jalla beristiwa di atas ‘Arasy yang berada di atas langit-langit, jika sekiranya Allah Azza wa-Jalla di atas ‘ArasyNya pasti mereka tidak mengangkat tangan mereka menghadap langit (menghadap ‘Arasy)”. [6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Abu Hasan al-Asy’ari rahimahullah seterusnya menegaskan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telah berkata orang-orang dari golongan Muktazilah, Jahmiyah dan al-Hururiyah:&lt;br /&gt;Sesungguhnya firman Allah (Allah bersemayam di atas ‘ArasyNya)&lt;br /&gt;mereka berkata Istaula (bukan istiwa) dan Allah Azza wa-Jalla di setiap tempat (فى كل مكان),&lt;br /&gt;merekamenentang bahawa Allah Azza wa-Jalla di atas ‘ArasyNya”. [7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Abu Hassan Al-Asy’ari rahimahullah menjelaskan melalui hadis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Nafi’ bin Jabir dari bapanya sesungguhnya Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda: Turun Tuhan kami ‘Azza wa-Jalla setiap malam ke langit dunia, lalu berfirman: Adakah sesiapa yang meminta maka Aku akan memberinya, adakah sesiapa yang meminta pengampunan maka Aku akan mengampunkannya, sehinggalah terbit fajar”. [8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Abu Hassan Al-Asy’ari rahimahullah menjelaskan lagi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebagaimana telah dipastikan bahawa Allah Azza wa-Jalla beristiwa di atas ‘ArasyNya dan menolak semua yang bertentangan dengannya, sebagaimana yang disalin dari Ahli Rawi dari Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam: Diriwayatkan dari Nafi’ bin Jabir dari bapanya bahawa Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda: Tuhan kita ‘Azza wa-Jalla turun pada setiap malam ke langit dunia kemudian berfirman: Adakah sesiapa yang meminta Aku akan memberinya, Adakah sesiapa yang meminta ampun Aku akan mengampunkannya sehinggalah terbitnya fajar”. [9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seterusnya Imam Abu Hasan al-Asy’ari rahimahullah menekankan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah ‘Azza wa-Jalla berfiman: } Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas (langit) mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka){ An-Nahl 50. Dan Allah berfirman: }Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap{ Fussilat. 11. Dan Allah berfirman: }Kemudian Dia bersemayam di atas ‘ArasyNya, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia{ Al-Furqan 59. Dan Allah berfirman: }Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy. Tidak ada bagi kamu selain daripadaNya seseorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafaat. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?{ As-Sajadah 4. Maka semua ayat-ayat tersebut menunjukkan bahawasanya Allah Ta’ala di langit beristiwa di atas ‘ArasyNya. Dan langit menurut kesepakatan manusia bukanlah bumi. Maka telah menunjukkan bahawa Allah Ta’ala menyendiri dengan kewahdaniatanNya beristiwa di atas ‘Arsay dengan istiwa yang sesuai dengan kebesaranNya tanpa berhulul (menyerap) dan berittihad (bersatu)”. [10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Syafie rahimahullah menjelaskan melalui riwayat yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Talib radiallahu ‘ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَاَنَّ لَهُ يَدَيْنِ بَقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ (بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوْطَتَانِ) وَاَنَّ لَهُ يَمِيْنًا بِقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ (وَالسَّمَوَاتُ مَطْوِيَات بِيَمِيْنِهِ) وَاَنَّ لَهُ وَجْهًا بِقَوْلِهِ (كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلاَّ وَجْهَه)...وَاَنَّ لَهُ قَدَمًا بِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ (حَتَّى يَضَعَ عَزَّ وَجَلَّ فِيْهَا قَدمَهُ) وَاَنَّ لَهُ اُصْبُعًا بِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (مَا مِنْ قَلْبٍ اِلاَّ هُوَ بَيْنَ اُصْبُعَيْنِ مِنْ اَصَابِعِ الرَّحْمَن) نُثبِتُ هَذِهِ الصِّفَات وَنَنفِي التَّشْبِيْه كَمَا نفِى ذَلِكَ عَنْ نَفْسِهِ تَعَالَى ذِكْرُهُ فَقَالَ (لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;"BagiNya dua tangan sebagaimana firmanNya:&lt;br /&gt;(Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BagiNya tangan&lt;br /&gt;sebagaimana firmanNya: Langit digulung dengan tangan kananNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah mempunyai wajah&lt;br /&gt;sebagaimana firmanNya: Setiap sesuatu akan binasa kecuali WajahNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginya kaki&lt;br /&gt;sebagaimana sabda Nabi saw: Sehinggalah Dia meletakkan wajah dan KakiNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mempunyai jari&lt;br /&gt;sebagaimana sabda Nabi sallallahu 'alaihi wa-sallam: Tiadalah hati itu kecuali antara jari-jari dari jari-jari Ar-Rahman (Allah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menetapkan sifat-sifat ini dan menafikan dari menyerupakan sebagaimana dinafikan sendiri oleh Allah&lt;br /&gt;sebagaimana difirmankan: (Tiada sesuatu yang semisal denganNya dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat)".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Imam Syafie rahimahullah seterusnya menjelaskan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan Allah Ta'ala di atas 'ArasyNya (Dan 'ArasyNya) di langit”.&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Syafie rahimahullah seterusnya menjelaskan lagi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita menetapkan sifat-sifat (mengithbatkan sifat-sifat Allah) sebagaimana yang didatangkan oleh al-Quran dan yang warid tentangNya dari sunnah, kami menafikan tasybih (penyerupaan) tentangNya kerana dinafikan oleh diriNya sendiri sebagaimana firmanNya (Tiada sesuatu yang semisal denganNya)".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Syafie rahimahullah telah menjelaskan juga tentang turun naiknya Allah Subhanahu wa-Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَاَنَّهُ يَهْبِطُ كُلَّ لَيْلَةٍ اِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا بِخَبَرِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Dia turun setiap malam ke langit dunia (sebagaimana) menurut khabar dari Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn14" name="_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Imam Syafie rahimahullah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah di atas ‘ArasyNya dan ‘ArasyNya di atas langit"&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn15" name="_ftnref15"&gt;[15]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sepakat dalam meyakini tentang turun-naiknya Allah iaitu berlandaskan hadis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;يَنْزِلُ رَبُّنَا اِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كُلَّ لَيْلَةٍ حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرِ فَيَقُوْلُ : مَنْ يَدْعُوْنِي فَاَسْتَجِيْبَ لَهُ ، مَنْ يَسْاَلُنِيْ فَاعْطِيْهِ ، مَنْ يَسْتَغفرُنِيْ فَاَغْفِرلَهُ&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuhan kita turun ke langit dunia pada setiap malam apabila sampai ke satu pertiga dari akhir malam, maka Ia berfirman: Sesiapa yang berdoa akan Aku perkenankan, sesiapa yang meminta akan Aku tunaikan dan sesiapa yang meminta keampunan akan Aku ampunkan".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn16" name="_ftnref16"&gt;[16]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah pernah ditanya tentang di mana Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَقِيْلَ لِعَبْدِ اللهِ بْنِ الْمُبَارَكِ : كَيْفَ نَعْرِفُ رَبَّنَا ؟ قَالَ : بَاَنَّهُ فَوْقَ السَّمَآءِ السَابِعَةِ عَلَى الْعَرْشِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Ketika ditanyakan kepada Abdullah bin al-Mubarak: Bagaimana kita boleh mengetahui di mana Tuhan kita? Beliau menjawab: Dengan mengetahui bahawa Dia di atas langit ketujuh di atas ‘Arasy".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn17" name="_ftnref17"&gt;[17]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah itu di langit berdasarkan hadis sahih:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;قَالَ مُعَاوِيَةُ بْنُ حَكَمُ السُّلَمِي : وَكَانَتْ لِيْ جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِيْ اُحُدٍ وَالْجُوَانِيَةِ فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ فَاِذَا بَالذِّئْبِ قَدْ ذَهَبَ بِشَاةٍ مِنْ غَنَمِهَا وَاَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِيْ آدَمَ اَسَفَ كَمَا يَاْسِفُوْنَ . لَكِنَّيْ صَكَكْتُهَا صَكَّةً فَاَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ . قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ اَفَلاَ اَعْتِقُهَا ؟ قَالَ : اِئْتِنِيْ بِهَا . فَقَالَ لَهَا : اَيْنَ اللهُ ؟ قَالَتْ : فِى السَّمَاءِ . قَالَ : مَنْ اَنَا ؟ قَالَتْ : اَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ . قَالَ : اَعْتِقُهَا فِاِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Berkata Muawiyah bin Hakam as-Sulami: Aku memiliki seorang hamba wanita yang mengembalakan kambing di sekitar pergunungan Uhud dan Juwainiyah. Pada suatu hari aku melihat seekor serigala menerkam dan membawa lari seekor kambing gembalaannya. Sedang aku termasuk seorang anak Adam kebanyakan. Maka aku mengeluh sebagaimana mereka. Kerananya wanita itu aku pukul dan aku marahi. Kemudian aku menghadap Rasulullah, maka baginda mempersalahkan aku. Aku berkata: Wahai Rasulullah, adakah aku harus memerdekakannya!" Jawab Rasullullah: Bawalah wanita itu ke sini. Maka Rasulullah bertanya kepada wanita itu. “ Di mana Allah? Dijawabnya: Di langit. Rasullullah bertanya lagi: Siapa aku? Dijawabnya: Engkau Rasullullah. Maka baginda bersabda: Merdekakanlah wanita ini kerana dia adalah seorang mukminah".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn18" name="_ftnref18"&gt;[18]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesiapa mengingkari sesungguhnya Allah berada di atas langit, maka sesungguhnya dia telah kafir. Adapun terhadap orang yang tawaqquf (diam) dengan mengatakan: Aku tidak tahu apakah Tuhanku di langit atau di bumi? Berkata al-Imam Abu Hanifah: Sesungguhnya dia telah kafir kerana Allah telah berfirman: Ar-Rahman di atas ‘Arasy al Istiwa"&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn19" name="_ftnref19"&gt;[19]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah berada di atas langit sedangkan ilmuNya di tiap-tiap tempat (di mana-mana), tidak tersembunyi sesuatupun daripadaNya"&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn20" name="_ftnref20"&gt;[20]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar, Allah di atas Arasy-Nya dan tidak sesiapapun yang tersembunyi daripada pengetahuanNya"&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn21" name="_ftnref21"&gt;[21]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa TIDAK menetapkan Allah Ta'ala di atas ‘ArasyNya dan Allah istiwa di atas tujuh langitNya, maka ia telah kafir dengan Tuhannya".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn22" name="_ftnref22"&gt;[22]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata lagi Imam Ibnu Khuzaimah (dari kalangan ulama as-Syafieyah):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami beriman dengan khabar dari Allah Jalla wa-'Ala sesungguhnya Pencipta kami Ia beristiwa (bersemayam) di atas ‘ArasyNya. Kami Tidak mengganti/mengubah kalam (firman) Allah dan kami tidak akan mengucapkan perkataan yang tidak pernah dikatakan (Allah) kepada kami sebagaimana (perbuatan kaum) yang menghilangkan sifat-sifat Allah seperti golongan Jahmiyah yang pernah berkata: Sesungguhnya Dia istawla (menguasai) ‘ArasyNya bukan istiwa (bersemayam). Maka mereka telah mengganti perkataan yang tidak pernah dikatakan (Allah) kepada mereka, ini menyerupai perbuatan Yahudi tatkala diperintah mengucapkan: Hithtatun (Ampunkanlah dosa-dosa kami), tetapi mereka mengucapkan (mengubah): Hinthah (makanlah gandum)! Mereka (kaum Yahudi) telah menyalahi perintah Allah Yang Maha Agung dan Maha Tinggi maka seperti itulah (perbuatan kaum) Jahmiyah".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn23" name="_ftnref23"&gt;[23]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menjelaskan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak boleh mensifatkan Allah bahawa Ia berada di tiap-tiap tempat. Bahkan (wajib) mengatakan: Sesungguhnya Allah di atas langit (yakni) di atas ‘Arasy sebagaimana Ia telah berfirman: Ar-Rahman di atas ‘Arasy, Ia beristiwa.&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn24" name="_ftnref24"&gt;[24]&lt;/a&gt; Dan wajiblah memutlakkan sifat istiwa tanpa takwil, sesungguhnya Allah istiwa dengan ZatNya di atas ‘Arasy. KeadaanNya di atas ‘Arasy disebut pada tiap-tiap kitab yang Ia turunkan kepada tiap-tiap Nabi yang Ia utus tanpa bertanya (para nabi yang diutus tidak bertanya): Bagaimana caranya (Allah istiwa di atas ‘ArasyNya)?"&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn25" name="_ftnref25"&gt;[25]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Az-Zahabi, salah seorang ulama besar bermazhab Syafie:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesiapa mengingkari bahawa Allah ‘Azza wa-Jalla di langit, maka dia seorang yang kafir”.&lt;br /&gt;(Lihat: مختصرالعلو للعلي الغفار oleh al-Hafiz Syamsuddin az-Zahabi. Hlm. 137).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Siapa Sebenarnya Menolak Mazhab Syafie?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ada golongan yang sering memutar-belitkan hujjah "Di mana Allah?"&lt;br /&gt;melalui ayat-ayat al-Quran yang diolah dan disalahtafsirkan melalui akal, hawa nafsu dan falsafah secara batil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara ayat yang disalahgunakan tentang memahami "Di mana Allah?" ialah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;اَلَمْ تَرَى اَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّـمَاوَاتِ وَمَا فِى اْلاَرْضِ ، مَايَكُوْنُ مِنْ نَّجْوَى ثَلاَثَةٍ اِلاَّ هُوَ رَابِعُهُمْ وَلاَ خَمْسَةٍ اِلاَّ هُوَ سَادِسُهُمْ وَلاَ اَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلاَ اَكْثَرَ اِلاَّ هُوَ مَعَهُمْ اَيْنَ مَاكَانُوْا ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا عَمِلُوْا يَوْمَ الْقِيَامَةِ اِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang ada di bumi. Tiada perkataan rahsia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempat. Dan tiada (perkataan antara) lima orang melainkan Dialah yang keenam. Dan tiada (pula) perkataan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau yang lebih banyak melainkan Dia ada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada Hari Kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu".&lt;br /&gt;Al-Mujadalah, 58:7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keseluruhan ayat ini sehinggalah ke akhir ayat memperkatakan "Pengetahuan Allah atau ilmuNya" iaitu "Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah Mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi".&lt;br /&gt;Ayat ini dimulakan dengan pengkhabaran bahawa Allah Mengetahui (ilmuNya) tentang apa yang di langit dan apa yang di bumi. Dia Mengetahui bisikan dua orang yang berbisik-bisik atau yang lebih dari dua orang.&lt;br /&gt;Ayat ini diakhiri dengan perkataan tentang ilmu Allah, iaitu firmanNya: "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu". Ini membuktikan Allah sentiasa bersama kita ilmuNya, bukan zatNya.&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn26" name="_ftnref26"&gt;[26]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad telah menerangkan tentang maksud ayat ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;اِفْتَتَحَ اْلاَيَة بِالعِلْمِ وَاخْتَتَمَهَا بِالْعِلْمِ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dimulakan ayat ini dengan memperkatakan ilmu dan diakhiri juga dengan memperkatakan ilmu".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn27" name="_ftnref27"&gt;[27]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Imam Ahmad bahawa yang dimaksudkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah bersama hambaNya ialah yang bersama ilmuNya bukan zatNya",&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana ditafsirkan oleh Ibn Jarir dari Ad-Dahak beliau menjelaskan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia (Allah) di atas 'ArasyNya dan yang bersama dengan mereka (manusia) ialah ilmuNya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seterusnya beliau menjelaskan:&lt;br /&gt;“Bahawasanya Dia menyaksikan mereka dengan ilmuNya dan Dia (Allah) di atas 'ArasyNya".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn28" name="_ftnref28"&gt;[28]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibn Katsir rahimahullah pula dengan tegas menjelaskan tentang ayat ini di dalam tafsirnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَلِهَذَا حَكَى غَيْرُ وَاحِدِ اْلاِجْمَاعِ عَلَى اَنَّ الْمُرَادَ بِهَذِهِ اْلاَيَةِ مَعِيَّةُ عِلْمهُ تَعَالَى.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Oleh kerana yang demikian, telah menceritakan bukan seorang malah secara ijmak atas kesepakatan mereka bahawa yang dimaksudkan oleh ayat ini ialah Allah bersama seseorang ilmuNya".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn29" name="_ftnref29"&gt;[29]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seterusnya Al-Hafiz Imam Ibn Katsir rahimahullah menjelaskan lagi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;لاَ يَغِيْبُ عَنْهُ مِنْ اُمُوْرِهِمْ شَـيْء ثُمَّ قَالَ تَعَالَى {ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوْا يَوْمَ الْقِيَامَةِ اِنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٍ}.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Tidak tersembunyi dari pengetahuanNya segala apapun perkara (urusan) mereka, oleh kerana itu Allah berfirman: Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada Hari Kiamat apa yang mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn30" name="_ftnref30"&gt;[30]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَمَا كُنْتُمْ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan Dia bersama kamu di mana sahaja kamu berada".&lt;br /&gt;(QS. Al-Hadid, 57:4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ahli Sunnah wal-Jamaah maksud ayat di surah Al-Hadid 57: 4 ini ialah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah bersatu dengan mereka KudratNya, pendengaran, pentadbiran, kerajaan atau dengan makna kerububiyahanNya, sedangkan Dia di atas ‘ArasyNya dan di atas segala makhluk-makhlukNya”.&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn31" name="_ftnref31"&gt;[31]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sufiyan At-Thauri rahimahullah telah menafsirkan ayat di atas dengan hadis riwayat Imam Bukhari:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;بِاَنَّ ذَلِكَ عِلْمُهُ كَمَا رُوِيَ ذَلِكَ عَنْهُ الْبُخَارِي.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya (apa yang dimaksudkan oleh) ayat tersebut ialah (yang bersama kita) IlmuNya sebagaimana yang telah diriwayatkan (tentang ayat tersebut) dari Bukhari".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn32" name="_ftnref32"&gt;[32]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَقَالَ الذَّهَبِى : رُوِيَ غَيْرُ وَاحِدٍ عَنْ معْدَانٍ قَالَ : سَاَلْتُ سُفْيَانَ الثَّوْرِى عَنْ قَوْلِهِ تَعَالَى : (وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَمَا كُنْتُمْ) قَالَ : بِعِلْمِهِ.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Berkata az-Zahabi: Telah diriwayatkan bukan sahaja hanya dari seorang, dari Ma'dan berkata: Aku telah bertanya kepada Sufiyan at-Thauri tentang firman Allah (Dan Dia bersama kamu di mana sahaja kamu berada) beliau berkata: (Yang bersama ialah) IlmuNya".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn33" name="_ftnref33"&gt;[33]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Ibn Jarir dalam menafsirkan ayat ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia melihat kamu wahai manusia! Di mana sahaja kamu berada, Dia mengetahui (apa sahaja) tentang kamu dan mengetahui segala amal kamu.., Dan Dia di atas 'ArasyNya dan 'ArasyNya di atas langit yang ke tujuh".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn34" name="_ftnref34"&gt;[34]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Al-Qasim Al-Asfahani rahimahullah berkata:&lt;br /&gt;"Maka jika sekiranya mereka mempersoalkan kamu tentang pentakwilan ayat (dan Dia bersama kamu di mana kamu berada) dan kamu menafsirkan (maksud ayat tersebut yang bersama ialah) IlmuNya? Kami katakan: Kami tidak mentakwilkan kerana sesungguhnya ayat tersebut menunjukkan bahawa yang dimaksudkan yang bersama ialah ilmuNya kerana Dia berfirman diakhir ayat tersebut (Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui di atas segala sesuatu)".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn35" name="_ftnref35"&gt;[35]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Imam Ibnu Katsir tentang ayat ini:&lt;br /&gt;"Dia (Allah) mengawasi kamu, memerhatikan segala perbuatan kamu di mana sahaja kamu berada sama ada di daratan atau di lautan, dimalam hari atau disiangnya, di dalam rumah-rumah kamu atau di luar rumah. Maka segala-galanya itu dalam pengetahuanNya (ilmuNya) tanpa terkecuali. Segala-galanya adalah di bawah penglihatanNya, pendengaranNya, maka Dia mendengar percakapan kamu, melihat kedudukan kamu, mengetahui semua rahsia-rahsia kamu dan bisikan kamu kerana Dia telah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;اَلاَ اِنَّهُمْ يَثْنُوْنَ صُدُوْرَهُمْ لِيَسْتَخْفُوْا مِنْهُ اَلاَ حِيْنَ يَسْتَغْشُوْنَ ثِيَابَهُمْ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّوْنَ وَمَا يُعْلِنُوْنَ اِنَّهُ عَلِيْمٌ بِذَاتِ الصُّدُوْرِ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ingatlah, sesungguhnya (orang munafik itu) memalingkan dada mereka untuk menyembunyikan diri daripadanya (Muhammad)! Ingatlah, diwaktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan! Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn36" name="_ftnref36"&gt;[36]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seterusnya Allah ‘Azza wa-Jalla berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;سَوَاءٌ مِّنْكُمْ مَّنْ اَسَرَّ الْقَوْلَ وَمَنْ جَهَرَ بِهِ وَمَنْ هُوَ مُسْتَخْفِ بِالَّيْلِ وَسَارِبُ بِالنَّهَارِ&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Sama sahaja (bagi Tuhan) siapa di antaramu yang merahsiakan ucapannya dan siapa yang berterus-terang dengan ucapannya itu, dan siapa yang bersembunyi dimalam hari dan yang berjalan disiang hari".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn37" name="_ftnref37"&gt;[37]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seterusnya Imam Ibnu Katsir menjelaskan:&lt;br /&gt;"Tiada Ilah (yang wajib diibadahi) selain Dia, tiada Tuhan (Pencipta) selain Dia dan telah thabit di dalam hadis sahih bahawa Rasulullah salallahu 'alaihi wa-sallam bersabda kepada Jibril semasa ditanya tentang ihsan, baginda bersabda: Hendaklah kamu menyembahNya (Allah) seolah-olah kamu melihatNya dan jika kamu tidak melihatNya sesungguhnya Dia melihat kamu".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn38" name="_ftnref38"&gt;[38]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama dan melihat tidaklah serupa kerana tidak semestinya melihat itu bersama pada zatNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Abu Hayyan Al-Andelusi, At-Thauri dan juga Al-Qurtubi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْ بِالْعِلْمِ وَالقَدْرِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Dia bersama kamu: Yang bersama ilmuNya dan kudrahNya".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn39" name="_ftnref39"&gt;[39]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua keterangan di atas menjelaskan bahawa "Allah Maha Mengetahui" apa sahaja yang dilakukan oleh makhlukNya dan apa yang tersemat di hatinya kerana ilmu Allah bersamanya, bukan zatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;قَالَ الاَلُوْسِىْ وَاْلاَيَةُ تَمْثِيْلٌ لإِحَاطَةِ عِلْمُ اللهِ بِهِمْ وَتَصْوِيْرٌ لِعَدَمِ خُرُوْجِهِمْ عَنْهُ اَيْنَمَا كَانُوْا&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berkata Al-Alusi: Semua ayat (yang memperkatakan persoalan di mana Allah, pent.) sebagai pembuktian bahawa ilmu Allah meliputi mereka dan menggambarkan bahawa tidak terlepasnya mereka dari ilmu Allah walaupun di mana mereka berada".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn40" name="_ftnref40"&gt;[40]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;قَالَ الْقَاسِمِي : وَقَدْ بَسَطَ اْلإِمَامُ اَحْمَدُ الْكَلاَمَ عَلَى الْمَعِيَّةِ فِى الرَّدِّ عَلَى الْجَهْمِيّةِ : وَلَفْظُ الْمَعِيَّةِ فِى كِتَابِ اللهِ جَاءَ عَامًا كَمَا فِى هَاتَيْنِ اْلآيَتَيْنِ اَلْحَدَيْدِ وَالْمُجَادَلَةِ وَجَاءَ خَاصًافِى قَوْلِهِ تَعَالَى : (اِنَّ اللهَ مَعَ الَّذِيْنَ اتَّقُوْا وَالَّذِيْنَ هُمْ مُحْسِنُوْنَ) وَقَوْلُهِ : (اِنَّنِيْ مَعَكُمَا اَسْمَعُ وَاَرَى) وَقَوْلِهِ : (لاَتَحْزَنْ اِنَّ اللهَ مَعَنَا) فَلَوْكَانَ الْمُرَادُ بِذَاتِهِ معَ كُلِّ شَيْءٍ لَكَانَ التَّعْمِيْمِ يُنَاقِضُ التَّخْصِيْص فَاِنَّهُ قَدْ عَلِمَ اَنَّ قَوْلَهُ : (لاَ تَحْزَنْ اِنَّ اللهَ مَعَنَا) اَرَادَ بِهِ تَخْصِيْصهُ وَاَبَا بَكْرٍ دُوْنَ عَدُوِّهِمْ مِنَ الْكُفَارِ.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;"Berkata Al-Qasimi: Imam Ahmad telah membentangkan bantahannya terhadap Jahmiyah tentang kepercayaan (مُعِيَّة) (Allah di mana-mana meliputi semua makhluk). Dan (Berkata Imam Ahmad): Lafaz ma'iyah (مَعِيَّةٌ) di dalam kitab Allah didatangkan secara am sebagaimana di dua potong ayat ini -al-Hadid dan al-Mujadalah - dan ada kalanya didatangkan secara khas sebagaimana firman Allah: (Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan mereka-mereka yang berbuat kebaikan). FirmanNya lagi: (Sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, mendengar dan melihat). FirmanNya lagi: (Janganlah engkau berdukacita sesungguhnya Allah bersama kita). Jika sekiranya yang dimaksudkan di ayat ini bahawa zatnya berserta/bersama setiap sesuatu, tentulah jika dimaksudkan secara umum (bersama makhlukNya) ia bertentangan dengan yang khusus, sesungguhnya telah diketahui bahawa firman Allah (Janganlah engkau berdukacita sesungguhnya Allah bersama kita) jika dikehendaki (oleh Jahmiyyah) secara umum (Allah berserta makhlukNya ini tentulah di samping) bersama Rasulullah juga termasuklah Allah bersama musuh Rasulullah sedangkan Abu Bakar tidak terhitung musuh dari kalangan kuffar (musuh). Begitu juga firman Allah (Sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang bertakwa dan mereka yang berbuat baik) ayat ini khusus tidak termasuk orang-orang yang zalim dan pelaku maksiat".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn41" name="_ftnref41"&gt;[41]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;قَالَ اْلإِمَامُ اَحْمَدُ رَحِمَهُ الله : فَلَفْظُ الْمَعِيَّةِ لَيْسَتْ فِى لُغَةِ الْعرَبِ وَلاَ شيْء مِنَ الْقُرْآنِ اَنْ يُرَادَ بِهَا اِخْطِلاَط اِحْدَى الذَّاتَيْنِ بِاْلاُخْرَى كَمَا فِى قَوْلِهِ تَعَالَى : (مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ) وَفِىقَوْلِهِ : (فَاُوْلَئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِيْنَ) وَقَوْلِهِ (اِتَّقُوْا اللهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصَّادِقِيْنَ) وَفِى قَوْلِهِ : (وَجَاهِدُوْا مَعَكُمْ) وَمِثْلُ هَذَا كَثِيْرٌ فَامْتَنَعَ اَنْ يَكُوْنَ قَوْلُهُ (وَهُوَ مَعَكُمْ) يَدُلُّ عَلَى اَنَّ ذَاتَهُ مُخْتَلِطَةٌ بِذَوَاتِ الْخَلْقِ.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;"Maka lafaz (مَعِيَّةٌ) (Yang bermaksud bersama) yang terdapat dalam Bahasa Arab dan juga di dalam al-Quran tidak pernah diertikan lafaz tersebut (bersama atau berserta) kepada pengertian: "Bercampur/bersatunya dua zat (yang berlainan) antara satu dengan yang lain. Contohnya firman Allah: }Muhammad itu utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya{. FirmanNya: }Maka mereka itu bersama orang-orang yang beriman{. Dan firmanNya: }Bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan bersamalah dengan orang-orang yang siddiqin{. Ayat seperti yang dicontohkan ini amat banyak. Ayat ini dapat menghalang dari memaksudkan firman Allah (Dia bersama kamu) yang menunjukkan bahawa ZatNya meliputi sekalian zat-zat makhlukNya".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn42" name="_ftnref42"&gt;[42]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Al-Qasimi rahimahullah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Telah menjadi kebiasaan ucapan termasuk dalam tajuk yang lain yang jelas bahawa lafaz (مَعِيَّةٌ) "bersama/berserta" dalam apa bahasa sekalipun menunjukkan berkumpul, berserta dan bersama, jika dilibatkan dengan para hamba tidak dinafikan bahawa ia menunjukkan ketinggian 'ArasyNya. Kesimpulannya lafaz ma'iyah (bersama) dalam segala tempat mengikut perkiraanNya, berserta semua makhluk IlmuNya, KudratNya serta KekuasaanNya dan dikhususkan sebahagian mereka dengan pertolongan, kemenangan dan bantuanNya".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn43" name="_ftnref43"&gt;[43]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua nas-nas di atas menunjukkan Allah Azza wa-Jalla bersama dengan sesiapa sahaja, tetapi yang bersama adalah ilmuNya bukan zatNya, kerana Allah bersemayam di atas ‘ArasyNya yang berada di atas langit. Inilah keyakinan Ahli Sunnah wal-Jamaah yang bermanhaj Salaf as-Soleh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَهُوَ اللهُ فِى السَّمَوَاتِ وَفِى اْلاَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَاتَكْسِبُوْنَ.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Dan Dialah Allah (yang disembah), baik di langit atau di bumi, Dia mengetahui apa yang kamu lahirkan dan mengetahui apa yang kamu usahakan".&lt;br /&gt;(QS. Al-An'am, 6:3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata al-Ajiri tentang ayat di atas dalam membantah fahaman Jahmiyah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَمِمَّا يَلْبِسُوْنَ بِهِ عَلَى مَنْ لاَ عِلْم مَعَهُ قَوْلُهُ تَعَالَى (وَذَكَرَ اْلاَيَةُ السَّابِقَةُ) قَالَ : وَهَذَا كُلُّهُ اِنَّمَا يَطْلُبُوْنَ بِهِ الْفِتْنَةُ وَهُوَعِنْدَاَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ اَهْلِ الْحَقِّ (وَهُوَاللهُ فِى السَّمَوَاتِ وَفِى اْلاَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُوْنَ) هُوَ كَمَا قَالَ اَهْلُ الْحَقِّ : يَعْلَمُ سِرَّكُمْ مِمَّا جَاءَتْ بِهِ السُّنَنُ اَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى عَرْشِهِ وَعِلْمُهُ مُحِيْطٌ بِجَمِيْعِ خَلْقِهِ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّوْنَ وَمَاتُعْلِنُوْنَ يَعْلَمُ الْجَهْرَ مِنْ الْقَوْلِ وَيَعْلَمُ مَاتَكْتُمُوْنَ&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Dan apa yang meyelubungi mereka yang tidak berilmu tentang firman Allah lalu berkata: Dan ini pada keseluruhannya sesungguhnya memerlukan penjelasan dari ahli ilmu dan ahli hak, yang mana pada hakikatnya (Dialah Allah Yang disembah), baik oleh mereka yang berada di langit ataupun di bumi, Dia Mengetahui apa yang kamu rahsiakan dan apa yang kamu lahirkan dan Mengetahui apa yang kamu usahakan iaitu sebagaimana yang dikatakan oleh ahli kebenaran: Dialah Yang Mengetahui rahsia kamu sebagaimana yang didatangkan beritanya oleh sunnah-sunnah bahawasanya Allah 'Azza wa-Jalla di atas 'ArasyNya dan IlmuNya meliputi seluruh makhlukNya, Dia Mengetahui apa yang mereka rahsiakan dan apa yang mereka lahirkan, Mengetahui perkataan yang terang dan Mengetahui apa yang tersembunyi".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn44" name="_ftnref44"&gt;[44]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat beberapa ayat yang menyerupai (maksud) ayat di atas, iaitu firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَهُوَ الَّذِيْ فِى السَّمَآءِ اِلَهٌ وَفِى اْلاَرْضِ اِلَهٌ.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi".&lt;br /&gt;(QS. Az-Zukhruf, 43:84.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Ilah ialah: "Tuhan yang berhak disembah/diibadahi" iaitu Tuhan Yang Esa yang disembah oleh makhluk di langit (para Malaikat) sebagaimana Dia juga Tuhan Yang Maha Esa yang disembah oleh makhluk di bumi".&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftn45" name="_ftnref45"&gt;[45]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun nas-nas di dalam al-Quran atau hadis-hadis sahih yang menjelaskan bahawa Allah di langit: "Allah bersemayam di atas 'ArasyNya" telah diulang berkali-kali. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;bersambung... &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nota kaki: &lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt;      Lihat: Buku “ Manhaj Salaf Akidah Salaf “.  Oleh Rasul bin Dahri, Terbitan Jahabersa. Johor Bahru.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt;      Disahihkan oleh Al-Albani.  Lihat:  Al-Misykah.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt;      Lihat:  Fathul Bari. Jld. Hlm. 406. Ibn Hajar al-Asqalani.  Dar Ihya at-Turath al-Arabi.  Beirut.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt;      Lihat:  Iktiqad Aimmatul hadis hlm. 50-51. Ismaili.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt;      Lihat:  Al-Ibanah an-Usul ad-Dianah.  Hlm.  48.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt;      Lihat: الابانة عن اصول الديانة oleh Imam Abu Hasan Al-Asy’ari. Hlm. 97-98.  Lihat:  الأسماء والصفات oleh Al-Baihaqi. Lihat:  التوحيد وصفات الرب oleh Al-Imam Ibn Khuzaimah.  Lihat:  العلو لعلي الغفار oleh Az-Zahabi.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt;      Lihat:  الابانة عن أصول الديانة hlm.  97.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt;      Lihat:  Al-Ibanah an-Usul ad-Dianah. Hlm. 99 – 100.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt;      Lihat:  Al-Ibanah an-Usul ad-Dianah, hlm. 99.  Dikeluarkan oleh Ad-Darimi, Ibn Majah 1367.  Ibnu Khuzaimah dalam “At-Tauhid” 87.  Ahmad 4/16.  Al-Ajiri dalam “As-Syariah” 310-311.  Isnadnya sahih, rijalnya thiqah dan perawinya termasuk perawi Bukhari dan Muslim.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt;    Lihat:  Al-Ibanah an-Usul ad-Dianah. Hlm 100.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt;    Lihat:  Iktiqad Aimmah al-Arba'ah Abi Hanifah wa Malik wa Syafie wa Ahmad.  Hlm. 46- 47. Cetakan pertama. 1412 -1992. Darul  'Asimah Saudi Arabia.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt;    Lihat:  Iktiqad Aimmah al-Arba'ah, Abi Hanifah, Malik, Syafie wa- Ahmad.  Hlm.  40.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt;    Ibid.  Hlm.  42.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt;    Ibid.  Hlm.  47.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref15" name="_ftn15"&gt;[15]&lt;/a&gt;    Ibid.  179.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref16" name="_ftn16"&gt;[16]&lt;/a&gt;    H/R Bukhari (1141), Muslim (758), Abu Daud (4733), Turmizi (4393),  Ibn Majah (1366) dan  Ahmad (1/346).&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref17" name="_ftn17"&gt;[17]&lt;/a&gt;    Lihat:  As-Sunnah.  Hlm. 5.  Abdullah bin al-Imam Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref18" name="_ftn18"&gt;[18]&lt;/a&gt;    H/R Muslim dan Abi Daud.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref19" name="_ftn19"&gt;[19]&lt;/a&gt;    Lihat:  Mukhtasar al-Ulum, Hlm. 137.  Imam Az-Zahabi.  Tahqiq al Albani.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref20" name="_ftn20"&gt;[20]&lt;/a&gt;    Ibid.  Hlm. 140.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref21" name="_ftn21"&gt;[21]&lt;/a&gt;    Ibid. 188.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref22" name="_ftn22"&gt;[22]&lt;/a&gt;    Lihat:  Ma'rifah Ulum al-Hadis.   Hlm.  84.  Riwayat yang sahih, dikeluarkan oleh al-Hakim. &lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref23" name="_ftn23"&gt;[23]&lt;/a&gt;    Lihat:  Kitabut Tauhid Fi Ithbatis Sifat.  Hlm. 101.  Oleh Ibnu Khuzaimah.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref24" name="_ftn24"&gt;[24]&lt;/a&gt;    Surah Taha, 20:5.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref25" name="_ftn25"&gt;[25]&lt;/a&gt;    Lihat:  Fatawa Hamwiyah Kubra.  Hlm. 84.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref26" name="_ftn26"&gt;[26]&lt;/a&gt;    Lihat:  علاقة الاثبات والتفويض بصفات رب العالمين Hlm. 80.  Redza bin Nu'san  Mu'ti.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref27" name="_ftn27"&gt;[27]&lt;/a&gt;    Ibid.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref28" name="_ftn28"&gt;[28]&lt;/a&gt;    Lihat:  الشريعة Hlm.  298.  al-Ajiri.  Ditahkik oleh Hamid.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref29" name="_ftn29"&gt;[29]&lt;/a&gt;    Lihat:  Tafsir Ibn Kathir, jld. 4. hlm.  322.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref30" name="_ftn30"&gt;[30]&lt;/a&gt;    Ibid.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref31" name="_ftn31"&gt;[31]&lt;/a&gt;    Lihat:    القواعد الْمُثْلَى فى صفات الله واسمائه الحسنى  Hlm. 58.  Uthaimin.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref32" name="_ftn32"&gt;[32]&lt;/a&gt;    H/R Bukhari فى خلق افعال العباد.  Lihat:  الشرعة hlm 298.  Al-Ajiri.  الابانة الكبرى    Jld. 1. Hlm. 194.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref33" name="_ftn33"&gt;[33]&lt;/a&gt;    Lihat:  علاقة الاثبات والتفويض بصفات رب العالمين hlm.81. Redza bin Nu'san  Mu'ti.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref34" name="_ftn34"&gt;[34]&lt;/a&gt;   Lihat:  تفسير الطبري jld. 27. hlm. 125.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref35" name="_ftn35"&gt;[35]&lt;/a&gt;    Ibid. Jld. 2.  hlm. 186.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref36" name="_ftn36"&gt;[36]&lt;/a&gt;    QS. Hud, 11:5.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref37" name="_ftn37"&gt;[37]&lt;/a&gt;    QS. Ar Ra'd, 13:10.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref38" name="_ftn38"&gt;[38]&lt;/a&gt;    Lihat:  تفسير ابن كثير.  Jld. 4.  Hlm.  304.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref39" name="_ftn39"&gt;[39]&lt;/a&gt;    Lihat:  البحر المحيط  Jld. 9.  Hlm.  217.  Dan تفسير القرطبى Jld. 18. Hlm. 137.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref40" name="_ftn40"&gt;[40]&lt;/a&gt;    Lihat:   علاقة الاثبات والتفويض بصفات رب العالمين hlm. 82. Redza bin  Nu'san Mu'ti.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref41" name="_ftn41"&gt;[41]&lt;/a&gt;    Ibid.  Hlm.  82-83.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref42" name="_ftn42"&gt;[42]&lt;/a&gt;    Ibid. &lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref43" name="_ftn43"&gt;[43]&lt;/a&gt;    Lihat:  محاسن التأويل.  Hlm. 5674.  Al-Qasimi.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref44" name="_ftn44"&gt;[44]&lt;/a&gt;    Lihat:  عَلاَقة الاثبات والتفويض بصفات رب العالمين.  Hlm.  83-84.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://rasuldahri.com/images/Yang%20Benar%20Mazhab%20Syafie.htm#_ftnref45" name="_ftn45"&gt;[45]&lt;/a&gt;    Lihat:  الشرعية.  Hlm. 298.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2286779167317491760-1204433497321125104?l=ibnumuflih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/feeds/1204433497321125104/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/11/melontarkan-gelaran-yang-buruk-gambaran.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/1204433497321125104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/1204433497321125104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/11/melontarkan-gelaran-yang-buruk-gambaran.html' title='Menjawab Tuduhan Menjelaskan Kebenaran'/><author><name>Ibnumuflih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10057495785514708022</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2286779167317491760.post-6618578649262775105</id><published>2008-11-29T09:36:00.000-08:00</published><updated>2008-12-03T00:48:01.662-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><title type='text'>Meluruskan Salah Faham Tentang Wahabi</title><content type='html'>Wahabi” bukan sahaja salah dari sudut gelaran, ia juga salah dari sudut beberapa tuduhan dan salah faham yang disandarkan kepadanya. banyak orang berbicara tentang wahabi tanpa dasar ilmu yang benar , kebanyakan dari mereka yg berbicara ini hanya merupakan "cakap dengar" dari kawan2 atau tokoh2 agamawan yang sememangnya membenci perjuangan dakwah syaikh muhammad bin abdul wahab yang memberantas segala macam syirik dan khurafat, saya juga pernah bertanya kepada beberapa org sahabat saya tentang wahabi, dan apa yang mereka fahami tentang wahabi, jawaban yang di berikan juga bernada negatif , begitu juga dengan pengirim artikel di sebuah laman web, yang salah faham dan mungkin juga tidak mengerti dengan perjuangan dakwah syaikh muhammad bin abdul wahab, artikel ini merupakan tulisan dari Hafiz Firdaus Yang saya nukil dari laman web nya , semoga bermanfaat kiranya .. insya allah &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah Faham Pertama: Wahabi Dan Kuasa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah faham pertama yang akan diluruskan ialah dakwaan bahawa gerakan Wahabi dimulai dan disokong oleh kuasa-kuasa Barat, khasnya Inggeris. Bagi meluruskan salah faham ini, saya merujuk kepada sumber sejarah kuasa-kuasa Barat itu sendiri kerana ia adalah “sumber dalaman” yang lebih tepat bagi menggambarkan apa yang dilakukan oleh kuasa-kuasa tersebut pada zaman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kuasa Inggeris memang wujud pada zaman itu, tetapi peranannya hanya bersifat komersil, iaitu menjaga keselamatan perairan teluk bagi laluan kapal-kapal perdagangannya dari India yang merupakan tanah jajahannya saat itu. [Sarah Searight – The British In The Middle East, dikemukakan oleh Jalal Abu al-Rub – Biography And Mission of Muhammad Ibn Abdul Wahhab (Madinah Publishers &amp;amp; Distributors, Florida, 2003), ms. 76-77] Pihak Inggeris atau mana-mana kuasa Barat ketika itu tidak berminat untuk membantu mengembalikan umat Islam kepada agamanya yang tulen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Bukan sekadar tidak minat membantu, kuasa-kuasa Barat sebenarnya amat membenci gerakan Wahabi kerana ia sebenarnya membangkitkan umat Islam. Seorang ahli sejarah Perancis, Almosio Sidio, menulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila Inggeris dan Perancis mengetahui kesepakatan yang tercapai antara Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad ibn Sa’ud untuk mentajdidkan agama (Islam) dan ramai masyarakat Arab yang mengikutinya, mereka bimbang ini akan membangkitkan umat Islam dari kelekaan yang menyelubungi umat saat itu. Justeru mereka (Inggeris dan Perancis) bimbang Islam akan kembali kuat sebagaimana pada zaman Umar bin al-Khaththab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka khuatir peperangan atas nama agama akan kembali hidup, memberikan kemenangan kepada Islam dan kekalahan kepada kuasa-kuasa Eropah. Atas dasar inilah Inggeris dan Perancis meminta khilafah Turki Uthmaniyah untuk memerangi gerakan yang disebut-sebut sebagai “Wahabi” itu dan pihak khilafah telah mewakilkan urusan ini kepada gabenor Mesir, Muhammad Ali Pasha.” [The General History of The Arabs; dinukil dari Biography And Mission of Muhammad Ibn Abdul Wahhab, ms. 78]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah Faham Kedua: Wahabi dan Khilafah Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyhur dikatakan, gerakan Wahabi bertanggungjawab menjatuhkan khilafah Islam Turki Uthmaniyyah. Salah faham ini dapat dijawab dari dua sudut. Pertama, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak pernah menentang khilafah Turki Uthmaniyyah. Sikap beliau dalam persoalan ini adalah sebagaimana yang ditulisnya sendiri:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku meyakini kewajipan mendengar serta mentaati para pemimpin kaum muslimin. Ia sama ada di kalangan pemimpin yang shalih mahu pun yang buruk akhlaknya. Ini selagi mana mereka tidak memerintahkan perkara kemaksiatan terhadap Allah. Ketaatan ini ditujukan terhadap sesiapa sahaja yang dilantik sebagai khalifah yang dipersetujui lantikannya oleh orang ramai yang meredhai kepimpinannya. Ini walaupun dia memperolehi kekuasaan khalifah melalui jalan paksaan, tetap menjadi suatu kewajipan mentaatinya dan dilarang melakukan penentangan terhadapnya. [Majmu’ah Muallafat al-Syaikh, Jil. 5, hlm. 11; dalam Membersihkan Salah Faham Terhadap Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab oleh Abdul Aziz bin Muhammad al-Abd. Al-Lathif (Jahabersa, Johor Bahru, 2008), buku 3, ms. 159]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, sama ada wujud atau tidak gerakan Wahabi, khilafah Turki Uthmaniyyah pada zaman itu memang memiliki pelbagai kelemahan dan masalah, dalaman dan luaran. Sesiapa yang mengkaji sumber-sumber sejarah yang adil lagi jujur berkenaan kedudukan khilafah saat itu akan mengetahui ia dalam keadaan sedang jatuh dan akan jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuba fikirkan, dengan kejatuhan khilafah, siapakah yang akan mengambil alih menjaga dua bandar suci umat Islam: Mekah dan Madinah? Lebih-lebih lagi Semenanjung Arab ketika itu lebih bersifat “No man’s land” di mana ia hanya dikuasai oleh kabilah-kabilah kecil secara berselerakan. Shalih Abud mengulas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiada bukti menunjukkan bahawa negeri Najd pernah tertakluk di bawah penguasaan atau autoriti khilafah Uthmaniyyah. Selain itu tidak pernah wujud mahu pun sebuah batalion atau markaz ketenteraan khilafah Uthmaniyyah di sana. Ini sebelum lahirnya pergerakan dakwah al-Syeikh al-Imam (Muhammad bin Abdul Wahhab).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya menerusi fakta kukuh berdasarkan kepada dokumen khilafah Turki Uthmaniyyah yang direkodkan oleh Yamen Ali Effendi (1018H/1609M) bertajuk “Qawaniyyin Aali Uthman Mudomin Daftar al-Diwan” ternyata khilafah Uthmaniyyah terbahagi kepada 32 buah negeri atau wilayah. 14 daripadanya merupakan negeri-negeri tanah Arab. Namun negeri Najd tidak termasuk di dalamnya.” [‘Aqidah al-Syeikh Muhammad bin ‘Abd. al-Wahhab wa Atharuha fi al-‘Alam al-Islami, Jil. 1, hlm. 27; dalam Membersihkan Salah Faham…, buku 3, ms. 162]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah al-Utsaimin menambah: “Negeri Najd tidak pernah berada di bawah penguasaan kerajaan Uthmaniyyah sebelum lahirnya pergerakan dakwah al-Syeikh al-Imam (Muhammad bin Abdul Wahhab). Selain itu, ia juga tidak pernah disatukan di bawah satu pemerintahan yang kuat dalam jangka masa yang lama. Ini sama ada ketika sebahagian dari wilayahnya berada di bawah penguasaan Bani Jabr atau pun Bani Khalid. Ia disebabkan suasana peperangan yang silih berganti antara wilayah mahu pun kabilah negeri Najd yang terdiri dari pelbagai jenis puak sehingga agak sukar untuk disatukan keseluruhannya.” [Muhammad bin ‘Abd. al-Wahhab Hayatuhu wa Fikruhu, hlm. 11; dalam Membersihkan Salah Faham…, buku 3, ms. 162]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi saya bertanya kepada para pembaca yang budiman sekalian, dengan kejatuhan khilafah, siapakah yang akan mengambil alih menjaga dua bandar suci umat Islam: Mekah dan Madinah? Diingatkan bahawa sekalipun kuasa-kuasa Barat wujud di kawasan itu atas tujuan komersil, tidak dapat dinafikan bahawa mereka juga tentu memiliki hasrat untuk mengambil alih kota Mekah dan Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah! Dengan kewujudan gerakan Wahabi yang dapat menyatukan umat Islam Semenanjung Arab, kedua-dua bandar suci itu tetap berada di tangan umat Islam. Jika tidak, nescaya Masjid al-Haram di Mekah dan Masjid an-Nabawi di Madinah akan menerima nasib yang sama seperti Masjid al-Aqsa di Palestin. Fikir-fikirkanlah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah Faham Ketiga: Wahabi dan Peperangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang pernah menyatakan kepada saya bahawa syaikh mereka memiliki bukti yang lengkap dengan sanad bahawa gerakan Wahabi melakukan peperangan dan pembunuhan beramai-ramai di Semenanjung Arab semata-mata untuk mengembangkan ajaran mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuduhan ini tidak perlu diberi perhatian kerana sanad tersebut, jika ia benar wujud, tidak memiliki apa-apa nilai. Ini kerana orang-orang yang duduk dalam rantaian sanad tersebut, biografi mereka tidak tercatit dalam mana-mana kitab al-Jarh wa al-Ta’dil. Sekadar mengetahui nama dan status mereka sebagai “orang agamawan” adalah tidak memadai. Dalam ilmu hadis, mereka termasuk dalam kategori para perawi yang majhul, maka dengan itu sanad tersebut adalah dha’if. Sanad sebegini tidak boleh dijadikan hujah dalam membuat tuduhan atau menjadi bukti dalam kes jenayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun peperangan yang berlaku di Semenanjung Arab, kedua-dua sumber sejarah ada mencatitkannya. Sumber yang berpihak kepada dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab berkata ia dimulakan oleh golongan yang tidak setuju dengan gerakan beliau. Sumber yang berpihak kepada golongan yang tidak setuju dengan dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab berkata ia dimulakan oleh gerakan beliau. Siapakah yang benar dan sebesar manakah skala peperangan itu – tiada siapa yang mengetahuinya. Apa yang pasti, tidak wujud kesan-kesan peninggalan sejarah yang dapat dijadikan bukti adanya peperangan yang diceritakan dalam kitab-kitab sejarah itu. Berbeza dengan peperangan yang belaku di belahan dunia yang lain, ia dapat dibuktikan melalui kesan-kesan peninggalan sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah Faham Keempat: Wahabi dan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fahaman Wahabi sering dikaitkan dengan kepercayaan kononnya Tuhan memiliki jasmani dan anggota. Ini berlaku kerana fahaman Wahabi yang enggan mentakwilkan sifat-sifat Allah seperti muka, tangan dan kaki yang tertera dalam al-Qur’an dan al-Sunnah yang sahih. Ini jelas adalah satu salah faham kerana fahaman Wahabi beriman kepada sifat-sifat Allah serta memahami maksudnya manakala bentuk atau tatacara sifat itu diserahkan kepada Allah, tanpa sebarang penyerupaan dengan mana-mana sifat makhluk-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah juga fahaman Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah sebagaimana yang diterangkan oleh al-Tirmizi (279H): “Dan sungguh telah berkata tidak seorang daripada ahli ilmu tentang hadis ini dan apa yang seumpamanya daripada riwayat-riwayat tentang al-Sifat dan (tentang) Penurunan Rabb (Allah) Tabaraka wa Ta’ala pada setiap malam ke langit dunia. Mereka berkata riwayat-riwayat seperti ini adalah benar (thabit) dan berimanlah kepada ia dan jangan dibayangkan (seperti apa) dan jangan ditanya bentuk, ciri-ciri dan tatacaranya (kaifiat). Inilah yang telah diriwayatkan daripada Malik (bin Anas) dan Sufyan bin ‘Uyaynah dan ‘Abdullah bin Mubarak, sesungguhnya mereka telah berkata tentang hadis-hadis seperti ini (yang berkaitan nas-nas al-Sifat): Terimalah ia (berimanlah kepadanya) tanpa mempersoalkan bentuk, ciri-ciri dan tatacara (kaifiat). Dan demikianlah juga pendapat ahli ilmu Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala golongan al-Jahmiyyah, mereka mengingkari riwayat-riwayat seperti ini (nas-nas al-Sifat) sambil berkata ini adalah tasybih (penyerupaan dengan makhluk). Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah menyebut hal ini tidak sekali dalam kitab-Nya (al-Qur’an) seperti Tangan dan Pendengaran dan Penglihatan akan tetapi golongan al-Jahmiyyah telah mentakwilkan ayat-ayat ini dan menafsirkannya kepada sesuatu yang berlainan daripada tafsiran ahli ilmu. Mereka (al-Jahmiyyah) berkata sesungguhnya Allah tidak mencipta (Nabi) Adam (‘alaihi salam) dengan Tangan-Nya. Mereka berkata maksud Tangan-Nya di sini adalah kekuatan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal berkata Ishaq bin Ibrahim: “Sesungguhnya yang dianggap tasybih (penyerupaan dengan makhluk) hanyalah apabila seseorang berkata Tangan sepertimana tangan (makhluk) atau seumpama tangan (makhluk), Pendengaran sepertimana pendengaran (makhluk) atau seumpama pendengaran (makhluk). Justeru apabila seseorang berkata Pendengaran sepertimana pendengaran (makhluk) atau seumpama pendengaran (makhluk) maka barulah ia dianggap sebagai penyerupaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apabila seseorang berkata sebagaimana firman Allah Ta’ala di dalam kitab-Nya (al-Qur’an): Tangan dan Pendengaran dan Penglihatan tanpa dipersoalkan bentuk, ciri-ciri dan tatacaranya (kaifiat) dan tidak dikatakan seumpama pendengaran (makhluk) dan tidak juga dikatakan sepertimana pendengaran (makhluk) maka ini tidak dianggap sebagai penyerupaan. Malah ia adalah sepertimana firman Allah Ta’ala di dalam kitab-Nya (al-Qur’an): Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [al-Syura 42:11]” [Sunan al-Tirmizi (tahqiq: Ahmad Syakir dan rakan-rakan; Dar al-Hadith, Kaherah 1999), jld. 3, ms. 33.]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah Faham Keempat: Wahabi dan Mazhab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fahaman Wahabi kononnya dianggap tidak mengikuti mana-mana mazhab fiqh yang empat. Sekali lagi ini adalah satu salah faham. Orang yang dituduh sebagai Wahabi, mereka masih mengikuti mazhab di tempat masing-masing. Hanya dalam beberapa persoalan terpencil, apabila didapati hujah mazhab lain adalah lebih kuat kerana lebih mendekati dalil al-Qur’an dan al-Sunnah yang sahih, maka pendapat mazhab tersebut diikuti dalam persoalan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh itu orang yang dituduh sebagai Wahabi di Malaysia masih mengikuti Mazhab al-Syafi’e, orang yang dituduh sebagai Wahabi di India-Pakistan masih mengikuti Mazhab Hanafi, orang yang dituduh sebagai Wahabi di Timur Tengah masih mengikuti Mazhab Hanbali dan orang yang dituduh sebagai Wahabi di Afrika Utara masih mengikuti Mazhab Maliki. Hanya dalam beberapa persoalan terpencil mereka mengikut mazhab yang lain kerana faktor kekuatan dalil dan hujah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sebenarnya adalah sikap yang benar sebagaimana yang diterangkan oleh Ibn Rajab al-Hanbali (795H): “Berdasarkan keterangan-keterangan para imam mazhab, adalah menjadi kewajipan apabila seseorang itu menemui suatu perintah daripada Rasulullah s.a.w. atau mengetahuinya, untuk menerangkannya kepada sekian umat, menasihatkan mereka dengan penuh keikhlasan dan memerintahkan mereka untuk mengikutinya walau pun jika ia bertentangan dengan pendapat para imam mazhab atau seseorang lain yang terkemuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah kerana kedudukan Rasulullah s.a.w. adalah yang paling hak untuk dihormati dan ditaati, melebihi dan mengatasi mana-mana pendapat orang atau tokoh lain yang mungkin atas sebab-sebab yang tidak disengajai telah bertentangan dengan perintah Rasulullah. Oleh kerana inilah kita dapati para sahabat dan generasi selepas mereka membantah sesiapa sahaja yang didapati melakukan sesuatu yang bertentangan dengan sunnah yang sahih. Adakalanya bantahan ini mereka lakukan dengan amat keras, bukan disebabkan perasaan benci kerana para sahabat itu sememangnya amat menyayangi dan menghormati mereka, akan tetapi Rasulullah itu lebih mereka sayangi dan perintahnya lebih tinggi kedudukannya berbanding perintah mana-mana makhluk lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justeru itu apabila terdapat perselisihan antara ajaran Nabi dan ajaran manusia, ajaran Nabi-lah yang lebih berhak ditunaikan dan ditaati. Ini tidaklah bermaksud sebagai menghina kedudukan imam ikutan seseorang itu kerana secara pasti dia akan diampuni atas ketidak-sengajaannya dan silapnya, bahkan si imam tersebut akan lebih rela jika ajarannya itu diketepikan apabila didapati bertentangan dengan ajaran Nabi s.a.w. yang sahih.” [Dikemukakan oleh Salih al-Fulani dalam Iqaz al-Himan, ms. 93; dinukil dari Sifat Solat al-Nabi oleh al-Albani (Maktabah al-Ma‘arif, Riyadh, 1996), ms. 54-55]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah Faham Kelima: Wahabi dan Kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahabi sering dihubungkan dengan kekerasan. Benarkah demikian? Realitinya, pihak yang menuduh itulah yang sebenarnya bersikap keras. Di sana sini mereka menuduh sekian-sekian individu dan kumpulan sebagai Wahabi yang menyesatkan. Adakalanya tuduhan ini diterjemahkan dalam bentuk fizikal, seperti mengharamkan penerbitan, menghalang kuliah-kuliah agama dan menangkap para tokoh yang mereka tuduh sebagai Wahabi. Tindakan-tindakan tersebut berlaku tanpa tersembunyi sehingga diketahui dalam media-media perdana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun di kalangan orang yang dituduh sebagai Wahabi, mungkin ada yang bersikap keras. Namun perlu juga ditinjau dari sudut yang lain, kerana istilah “keras” itu sendiri boleh bersifat relatif. Keberanian, ketegasan, kesungguhan adalah sifat yang terpuji yang boleh ditafsirkan sebagai “kekerasan” oleh pihak yang sukar menerima kenyataan. Demikian juga, menyatakan yang haq di atas yang batil boleh juga ditafsirkan sebagai kekerasan oleh pihak yang sekian lama telah selesa dengan kebatilan tersebut&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2286779167317491760-6618578649262775105?l=ibnumuflih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/feeds/6618578649262775105/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/11/meluruskan-salah-faham-tentang-wahabi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/6618578649262775105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/6618578649262775105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/11/meluruskan-salah-faham-tentang-wahabi.html' title='Meluruskan Salah Faham Tentang Wahabi'/><author><name>Ibnumuflih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10057495785514708022</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2286779167317491760.post-2094033548170038606</id><published>2008-11-27T01:58:00.000-08:00</published><updated>2008-11-27T02:05:15.698-08:00</updated><title type='text'>Keutamaan Bulan Dzulhijjah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Artikel ini membahas tentang hal-hal yang dianjurkan untuk diamalkan pada sepuluh hari dibulan dzulhijjah, kerana amal shaleh pada hari-hari tersebut lebih Allah cintai dibanding amalah-amalah dihari lain, diantara amal tersebut adalah haji, umrah, berkurban, puasa pada hari arafah dan amalan shaleh lain secara umum yang sangat dicintai Allah. &lt;span id="fullpost"&gt;Segala puji hanya milik Allah ta'ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada utusan Allah, Nabi Muhammad , keluarga dan sahabat-sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan Sepuluh Hari Dzul Hijjah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas , bahwasanya Rasulullah  bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ &lt;span style="font-size:130%;"&gt;مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أََحَبُّ إِلَىاللهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنيِ أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوْا: يَارَسُوْلَ اللهِ وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ }&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Tiada hari yang lebih di cintai Allah ta'ala untuk berbuat suatu amalan yang baik dari pada hari-hari ini yaitu sepuluh hari Dzul Hijjah, para sahabat bertanya," wahai Rasulullah, tidak pula dengan jihad fii sabilillah? Rasulullah menjawab," tidak, tidak pula jihad fii sabilillah, kecuali jika ia keluar dengan jiwa dan hartanya, kemudian ia tak kembali lagi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah  bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ &lt;span style="font-size:130%;"&gt;مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ وَلاَ أَحَبُّ إِلىَ اللهِ الْعَمَلَ فِيْهِنَّ مِنْ هَذِهِ اْلأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوْا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّحْمِيْد ِ}&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Tiada hari yang lebih baik dan lebih di cintai Allah ta'ala untuk beramal baik padanya dari sepuluh hari Dzul Hijjah, maka perbanyaklah membaca tahlil (Laa ilaaha illallah), takbir (Allahu Akbar) dan tahmid (Alhamdu lillah)".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula Ibnu Hibban dalam shahihnya meriwayatkan dari Jabir , bahwa Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ &lt;span style="font-size:130%;"&gt;أَفْضَلُ الأَيَّامِ يَوْمُ عَرَفَةَ }&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Hari yang paling utama adalah hari Arafah"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amalan-Amalan Yang Disyari'atkan Pada Sepuluh Hari Dzul Hijjah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan ini adalah amalan yang paling utama. Banyak sekali hadits-hadits Rasulullah r yang menjelaskan keutamaan haji dan umrah, di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ &lt;span style="font-size:130%;"&gt;اَلْعُمْرَةُ إِلىَ الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ اْلمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ }&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari umrah yang satu ke umrah yang lain sebagai penghapus dosa-dosa diantara keduanya dan haji yang mabrur tidak ada balasannya, kecuali surga"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan banyak lagi hadits-hadits yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Puasa dengan sempurna (penuh) pada sepuluh hari Dzul Hijjah atau semampunya, terutama pada hari Arafah (9 Dzul Hijjah) bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji. Tidak diragukan bahwa ibadah puasa merupakan bentuk amalan yang utama dan ia merupakan amalan yang di pilih oleh Allah ta'ala untuk diri-Nya. Sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits Qudsy:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ &lt;span style="font-size:130%;"&gt;اَلصَّوْمُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ إِنَّهُ تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِيْ }&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Puasa adalah untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya, dia (hamba yang berpuasa) meninggalkan syahwat, makan dan minumnya demi Aku"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudry t berkata, Rasulullah  bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ &lt;span style="font-size:130%;"&gt;مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُوْمُ يَوْمًا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ بَاعَدَ اللهُ بِذَلِكَ الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِيْنَ خَرِيْفًا }&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Tidaklah ada seorang hamba yang berpuasa sehari di jalan Allah, melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka selama tujuh puluh tahun (jarak tempuh perjalanan selama tujuh puluh tahun) karena puasanya". (Muttafaq Alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Qatadah t, bahwa Rasulullah  bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ &lt;span style="font-size:130%;"&gt;صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِيْ بَعْدَهُ&lt;/span&gt; }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya mengharap kepada Allah agar puasa pada hari Arafah menghapuskan dosa tahun sebelumnya dan tahun yang sesudahnya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Membaca takbir (Allahu Akbar) dan memperbanyak dzikir pada hari-hari ini, Allah ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ &lt;span style="font-size:130%;"&gt;وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ َ} (27) سورة الحـج&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari –hari yang telah ditentukan". (QS. Al Hajj: 28).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari yang telah di tentukan dalam ayat ini ditafsirkan dengan sepuluh hari Dzul Hijjah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama berpendapat bahwa disunahkan pada hari-hari ini untuk memperbanyak dzikir, sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, termaktub dalam musnad Imam Ahmad:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ &lt;span style="font-size:130%;"&gt;فَأَكْثِرُوْا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّحْمِيْدِ }&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Maka perbanyaklah pada hari-hari ini tahlil, takbir dan tahmid"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Bukhari rahimahullah menjelaskan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhuma, mereka berdua pergi ke pasar pada sepuluh hari Dzul Hijjah untuk menggemakan takbir pada khalayak ramai, lalu orang-orang mengikuti takbir mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ishaq meriwayatkan dari para ahli fiqih pada masa tabi'in, bahwa mereka mengucapkan pada sepuluh hari Dzul Hijjah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَ&lt;span style="font-size:130%;"&gt;للَّهُ أَكْبَرُ الَّلهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَالَّلهُ أَكْبَرُ اَلَّلهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada ilah yang berhak untuk di sembah kecuali Allah, dan Allah Maha Besar, AllAh Maha besar dan bagi Allah segala pujian"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan disunnahkan pula mengeraskan suara ketika melantunkan takbir di tempat-tempat umum, seperti: di pasar, di rumah, di jalan umum atupun di masjid dan di tempat-tempat yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ &lt;span style="font-size:130%;"&gt;وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ } (185) سورة البقرة&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu". (QS. Al Baqarah: 185).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak diperbolehkan melantunkan takbir secara jama'i (bersama-sama dengan satu suara), karena hal itu tidak pernah dicontohkan oleh para ulama salaf, karena yang sesuai dengan sunah Nabi adalah bertakbir sendiri-sendiri tidak bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan inilah cara yang disyari'atkan pada setiap dzikir dan do'a, terkecuali bila ada seseorang yang tidak mengetahui maka boleh dibaca bersama-sama dengan tujuan untuk mengajarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dibolehkan berdzikir dengan semampunya dari berbagai macam takbir, tahmid, tasbih dan do'a-do'a lain yang disyari'atkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Bertaubat dan menutup setiap pintu maksiat dan dosa, hingga ia meraih ampunan dan rahmat Allah, karena maksiat dapat menjauhkan seseorang dari rahmat-Nya, sedangkan keta'atan dapat mendekatkan seseorang kepada Allah dan meraih cinta-Nya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah , bahwa Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ &lt;span style="font-size:130%;"&gt;إِنَّ اللهَ يُغَارُ وَغَيْرَةُ اللهِ أَنْ يَأْتِيَ اْلَمْرءُ مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ }&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah cemburu dan cemburunya Allah adalah terhadap hamba-Nya yang melakukan hal-hal yang diharamkan-Nya"( Muttafaq 'alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Memperbanyak amal shaleh dan ibadah-ibadah yang di sunnahkan, seperti; shalat, jihad, membaca Al quran, dan beramar ma'ruf nahi munkar dan lain-lain, karena sesungguhnya ibadah-ibadah semacam ini dilipatgandakan pahalanya, bahkan amalan-amalan yang biasa lebih utama dan dicintai Allah dari pada amalan yang utama pada waktu yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Disyari'atkan untuk melantunkan takbir di sepanjang malam dan siang hingga shalat Ied (ini dinamakan takbir mutlak), begitu pula takbir muqayyad yaitu takbir yang dilakukan setelah shalat jama'ah fardhu. Bagi mereka yang tidak melaksanakan ibadah haji, waktu takbir di mulai sejak fajar hari Arafah, sedangkan bagi mereka yang sedang melaksanakan ibadah haji, waktunya di mulai dari Zhuhur hari qurban hingga Ashar hari tasyriq yang terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Disyari'atkan pula qurban pada hari raya Iedul-Adha dan hari-hari tasyriq. Sunnah ini sejak nabi Ibrahim 'alaihissalam, di saat Allah menebus Ismail 'alaihissalam (putera Ibrahim) dengan seekor hewan sembelihan yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat dalam hadits shahih bahwa Rasulullah  berqurban dengan dua ekor kambing yang gemuk, beliau menyembelihnya dengan tangan sendiri, dengan cara: membaca bismillah dan bertakbir seraya meletakkan kakinya pada kedua leher kambing. (Muttafaq 'alaihi ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Imam Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha bahwa Nabi r bersabda,"Bila kalian melihat hilal (bulan sabit) Dzul Hijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkorban maka hendaknya ia tidak memotong rambut dan kukunya". Dan dalam riwayat yang lain dijelaskan," Maka janganlah ia mengambil rambut dan kukunya hingga ia menyembelih qurbannya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang kali hal tersebut diserupakan dengan seseorang yang menggiring sembelihannya, Allah ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ &lt;span style="font-size:130%;"&gt;وَلاَ تَحْلِقُواْ رُؤُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُِ} (196) سورة البقرة&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Dan janganlah kamu mencukur kepalamu sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya". (QS. Al Baqarah: 196).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks larangan di atas khusus untuk pemilik hadyu (hewan sembelihan yang dibawa dari negri seseorang yang melakukan haji) tidak termasuk istri dan anak, kecuali jika salah satu dari mereka memiliki kurban khusus, dan tidak mengapa membasuh kepala dan menggaruknya meskipun hal itu menyebabkan beberapa helai rambut tercabut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Hendaknya seorang muslim bersungguh-sungguh melaksanakan shalat Ied, mendengarkan khutbah, mendapat pencerahan ilmu, dan mengetahui hikmah disyari'atkannya shalat Ied, yaitu: hari untuk menggemakan kesyukuran dan beramal kebajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan menodai hari ini dengan kebanggaan dan kesombongan, serta tidak menghabiskan waktu untuk hura-hura dan terjerumus ke dalam hal-hal yang diharamkan, semisal; dansa, ke diskotik, mabuk-mabukan dan lain sebagainya yang akan menghapuskan segala pahala amal shaleh di sepuluh hari Dzul Hijjah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Akhirnya hendaknya setiap muslim dan muslimah memanfaatkan semaksimal mungkin hari-hari ini untuk ketaatan kepada Allah, dzikir dan syukur kepada-Nya serta memenuhi semua kewajiban dan menjauhi setiap larangan begitu pula meraih karunia-karunia Allah untuk mendapatkan ridha-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hanya Allah pemberi taufiq dan hidayah kejalan yang lurus, mudah-mudahan Allah senantiasa mencurahkan rahmat dan kesejahteraan-Nya kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;izin cetak No: 1218/5 tanggal 1/1/1409 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterbitkan oleh Biro Percetakan Dirjen Penelitian Fatwa, Dakwah dan Bimbingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tulis oleh hamba yang membutuhkan ampunan Rabbnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah Bin Abdurrahman Al-Jibrin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anggota Badan Fatwa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2286779167317491760-2094033548170038606?l=ibnumuflih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/feeds/2094033548170038606/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/11/keutamaan-bulan-dzulhijjah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/2094033548170038606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/2094033548170038606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/11/keutamaan-bulan-dzulhijjah.html' title='Keutamaan Bulan Dzulhijjah'/><author><name>Ibnumuflih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10057495785514708022</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2286779167317491760.post-7294117121144247948</id><published>2008-11-25T04:45:00.000-08:00</published><updated>2008-11-25T05:09:18.292-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Semasa'/><title type='text'>Sekadar Meluahkan Perasaan</title><content type='html'>alhamdulillah ... setelah beberapa hari tidak menulis, akhirnya aku luangkan masa untuk menulis, ketika melakukan surfing internet aku menemukan, sebuah blog yang isinya membuat dadaku begitu sesak, jantungku berdebar begitu kencang menahan segala emosi, aku hanya mampu beristighfar ...aku  terbaca ucapan welcome nya : ISLAM VS WAHHABI dan ketika aku membaca isi artikel2 yang ada di dalamnya, sungguh isinya penuh dengan FITNAH, KEDUSTAAN YANG AMAT BANYAK, TIDAK AMANAH DALAM MENUKIL, ku cuba untuk menelpon nya pada no yang tercatit, dengan tujuan bertanya kepadanya atas artikelnya yang sama sekali jauh dari kebenaran, ku cuba telefon hingga 3 kali tetapi tidak ada yang mengangkat , belum pernah aku temukan seumur hidup aku orang yang seperti ini , sungguh... betapa besar fitnahnya, bukan hanya asatidz yang di malaysia habis di fitnah nya, tetapi juga `ulama rabbani tidak lepas dari fitnah dan caci maki nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tertulis di blog nya: &lt;br /&gt;Pekerjaan: Pensyarah&lt;br /&gt;Pendidikan: Usuluddin Aqidah Wal Falsafah Uni. Al-Azhar&lt;br /&gt;Kepakaran: Aqidah Ahlu Sunnah Wal Jamaah &amp; Ilmu Hadith&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wahai orang yang amat miskin , itu kah hasil yang engkau peroleh dari belajar menuntut ilmu di mesir ? sungguh .. ilmu yang engkau dapatkan tidak membawa kebaikan sedikitpun untukmu, hanya menambah dosa2 yang telah engkau miliki .. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semoga allah menyelamatkan kaum muslimin dari segala fitnah yang kau tulis di blogmu, jika kau terbaca tulisanku ini .. bersikaplah seperti lelaki, jawab panggilan telefonku .. aku ingin bertanya denganmu jika kau memang seorang yang berilmu.. sesungguh tulisan2 yang kau letak di blogmu bagaikan sarang labah2 yang begitu lemah .. dan amat mudah untuk di hancurkan .. allahu musta`an .&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2286779167317491760-7294117121144247948?l=ibnumuflih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/feeds/7294117121144247948/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/11/sekadar-meluahkan-perasaan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/7294117121144247948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/7294117121144247948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/11/sekadar-meluahkan-perasaan.html' title='Sekadar Meluahkan Perasaan'/><author><name>Ibnumuflih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10057495785514708022</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2286779167317491760.post-4152167836480998690</id><published>2008-11-23T00:32:00.000-08:00</published><updated>2008-11-23T00:34:41.214-08:00</updated><title type='text'>Dialoq Islam Kristian III</title><content type='html'>PERJANJIAN BARU JUGA MEMBENARKAN &lt;br /&gt;Baptis Bertentangan Dengan Yesus &lt;br /&gt;Pada Perjanjian Baru, kita temukan bahwa orang--orang Yahudi masih mengharapkan terpenuhinya ramalan "Seorang seperti Musa", lihat Yohanes 1:19-25. Ketika Ye-sus menyatakan sebagai Mesias dari orang-orang Yahudi, mereka mulai bertanya dimana Elia? Orang-orang Yahudi mempunyai sebuah ramalan paralel bahwa sebelum keda-tangan Mesias, Elia harus datang terlebih dahulu pada keda-tangannya yang kedua. Yesus menyatakan kepercayaan Yahudi ini: &lt;span id="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"... Memang Elia akan datang Menurut Perjanjian Baru, bangsa Yahudi bukanlah orang-orang yang menerima begitu saja kata-kata siapa pun yang akan menjadi Mesias. Dalam penyelidikannya mereka mengalami kesulitan yang hebat dalam menemukan Mesias yang benar. Dan, kitab Yohanes menyatakan, "Dan inilah kesaksian Yohanes," (pembaptis) "Ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia, 'Siapakah engkau?' Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya, Aku bukan Mesias'." (Hal ini wajar karena tidak mungkin ada 2 Mesias pada saat bersamaan. Jika Yesus adalah Mesias maka Yohanes tidak mungkin Mesias!) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, mereka bertanya kepadanya, "Kalau begitu, sia-pakah engkau? Elia?" &lt;br /&gt;Dia menjawab, "Bukan!" &lt;br /&gt;Di sini Yohanes Pembaptis bertentangan dengan Yes-us! Yesus menyatakan bahwa Yohanes adalah Elia dan Yohanes menyangkal bahwa dia adalah yang dimaksud oleh Yesus. Satu dari dua (Yesus atau Yohanes) dilarang Tuhan! Benar-benar tidak berbicara kebenaran. Pada kesaksian Yesus sendiri, Yohanes Pembaptis adalah nabi terbesar bangsa Israel: &lt;br /&gt;Aku berkata kepadamu, "Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis...." (Injil - Matius 11: 11) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita umat Islam mengetahui bahwa Yohanes Pembap-tis adalah Nabi Yahya Alaihis-salam. Kita memuliakannya sebagai nabi yang benar dari Allah. Nabi Suci Yesus, kita kenal sebagai Isa Alaihis-salam, dia juga dimuliakan sebagai utusan yang hebat dari Yang Maha Kuasa. Bagaimana kami umat Islam menyatakan salah satu dari mereka berbohong? Kita tinggalkan masalah antara Yesus dan Yohanes agar dipe-cahkan oleh umat Kristen, karena kitab suci mereka me-ngandung banyak ketidak sesuaian yang telah mereka sembunyikan sebagai "pernyataan gelap tentang Yesus". Kami umat Islam sangat tertarik dengan pertanyaan terakhir yang ditujukan kepada Yohanes Pembaptis oleh orang-or-ang Yahudi, "Engkaukan Nabi itu? Dia menjawab, "Bukan!" (Injil - Yohanes 1: 21) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga Pertanyaan &lt;br /&gt;Silahkan perhatikan bahwa terdapat 3 pertanyaan yang jelas dan berbeda, ditujukan kepada Yohanes Pembaptis dan 3 buah jawaban "tidak" yang tegas dari Yohanes. Sebagai ikhtisar: &lt;br /&gt;l. Apakah engkau Mesias? &lt;br /&gt;2. Apakah engkau Elia? &lt;br /&gt;3. Apakah engkau nabi itu? &lt;br /&gt;Tetapi umat Kristen yang berpengetahuan, entah ba-gaimana hanya melihat 2 pertanyaan diterapkan di sini.Un-tuk menjelaskan keragu-raguan bahwa orang-orang Yahudi benar-benar mempunyai tiga ramalan terpisah dalam fikiran mereka ketika mereka menanyai Yohanes Pembaptis. Mari kita baca bantahan orang-orang Yahudi, pada ayat-ayat berikut: . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka bertanya kepadanya, katanya, 'Mengapa engkau membaptis, jika engkau bukan Mesias, bukan Elia dan bukan nabi itu?" (Injil - Yohanes 1: 25) &lt;br /&gt;Orang-orang Yahudi sedang menunggu terpenuhinya 3 ramalan yang jelas: Pertama, kedatangan Mesias. Kedua, kedatangan Elia dan ketiga, kedatangan nabi itu. &lt;br /&gt;"Nabi Itu" &lt;br /&gt;Jika kita lihat Injil manapun yang mempunyai indeks atau referensi silang, maka kita akan menemukan dalam catatan pinggir pada halaman dimana kata-kata "Nabi Ter-sebut" atau "Nabi Itu" dalam Yohanes 1: 25 bahwa kata-ka-ta ini mengacu pada ramalan di ulangan 18:15 dan 18. Dan, bahwa "Nabi Itu" - "Nabi Seperti Musa" - 'Like unto Thee' telah dibuktikan dengan bukti yang berlimpah bahwa Ia itu adalah Muhammad dan bukan Yesus! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami umat Islam tidak menyangkal bahwa Yesus ada-lah "Mesias", yang diterjemahkan sebagai "Kristus". Kami tidak mempertentangkan "ribuan dan satu ramalan" yang banyak dikatakan umat Kristen pada Perjanjian Lama yang meramalkan kedatangan Mesias. Apa yang kami katakan adalah Ulangan 18:18 tidak mengacu pada Yesus tetapi itu adalah sebuah ramalan yang jelas tentang Nabi Suci Muham-mad Shallallahu Alaihi wa Sallam. &lt;br /&gt;Dominee, dengan sangat sopan berpisah dengan saya sambil mengatakan bahwa ini adalah diskusi yang sangat me-narik dan dia akan sangat senang jika suatu hari saya datang dan berbicara kepada jamaahnya dengan tema tersebut. Satu setengah dasawarsa telah berlalu sejak itu, tetapi saya masih tetap menunggu hak tersebut. Saya yakin Dominee bersung-guh-sungguh sewaktu dia menawarkan, tetapi dia mungkin keras kepala dan siapa yang mau kehilangan domba-dom-banya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian Pahit &lt;br /&gt;Kepada domba-domba kristus saya berkata, "Mengapa tidak menerapkan ujian pahit yang Tuhan kehendaki sendiri agar diterapkan kepada siapa saja yang akan menjadi penuntut kenabian?" Dia telah berkata: "Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik… dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka." (Injil - Matheus 7: 16-20). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Anda takut menerapkan uji coba ini terha-dap ajaran Muhammad? Kamu akan mendapatkan dalam Perjanjian Lama Tuhan - Kitab Suci Al-Qur'an- pemenuhan ajaran Musa dan Yesus yang benar, yang akan membawa kebahagian dan kedamaian yang diinginkan kepada dunia. "Jika seorang manusia seperti Muhammad dianggap kediktatoran dunia modern, dia akan berhasil memecahkan masalah-masalah yang akan membawa dunia kepada kedamaian dan kebahagiaan yang dibutubkan." (George Bernard Shaw) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Teragung &lt;br /&gt;Majalah mingguan "TIME" edisi 15 Juli 1974 memuat opini-opini pilihan dari sejumlah sejarawan, penulis, kaum militer, pengusaha dan lainnya tentang masalah-masalah: "Siapa pemimpin besar dalam sejarah?" Beberapa mengata-kan, Hitler; lainnya mengatakan, Gandhi, Budha, Lincoln dan yang disenangi lainnya. Tetapi Jules Masserman, se-orang psikoanalis Amerika, membuat batas yang tegas dan memberi kriteria yang benar untuk menilai. &lt;br /&gt;Dia berkata, "Pemimpin harus memenuhi 3 fungsi: &lt;br /&gt;1. Menyediakan petunjuk yang mensejahterakan, &lt;br /&gt;2. Menyediakan sebuah organisasi sosial di mana rakyat merasa relatif aman, dan &lt;br /&gt;3. Menyediakan mereka satu set keyakinan." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan 3 kriteria di atas dia meneliti sejarah dan meng-analisanya: Hitler, Pasteur, Caesar, Musa, Confucius dan banyak lagi dan akhirnya menyimpulkan: &lt;br /&gt;"Orang-orang seperti Pasteur dan Salk adalah pemim-pin pada pengertian pertama. Orang-orang seperti Gandhi dan Confucius pada satu sisi serta Alexander, Caesar dan Hitler pada sisi lain adalah pemimpin pada pengertian yang kedua dan mungkin yang ketiga. Yesus dan Budha hanya masuk pada kategori ketiga saja. Bolehjadi pemimpin terbe-sar sepanjang masa adalah Muhammad, seorang yang meng-gabungkan ketiga fungsi tersebut, sedangkan untuk tingkatan yang lebih rendah adalah Musa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan standar obyektif yang dibuat Profesor Universitas Chicago, yang saya yakin adalah seorang Yahudi, Yesus dan Budha tidak termasuk dalam gambaran "Pemim-pin-pemimpin besar umat manusia", tetapi dengan sebuah kebetulah yang aneh, grup Musa dan Muhammad bersama--sama menambah bobot lebih jauh terhadap argumen bahwa Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad seperti Musa: Ulangan 18: 18 Like unto Thee -Seperti Musa! &lt;br /&gt;Yang terhormat Pendeta James L. Dow dalam Collins Dictionary of the Bible memberi bukti lebih jauh, bahwa Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad seperti Musa: "Sebagai negarawan dan pemberi hukum, Musa adalah pencipta orang-orang Yahudi. Dia menemukan percampur-an yang tidak tepat dari bangsa Semit, tidak ada satu pun dari.... "Satu-satunya orang dalam sejarah yang dapat dibandingkan kepadanya adalah Muhammad." (Pendeta James L. Dow) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kesimpulan, saya akhiri dengan sebuah kutipan dari seorang pendeta Kristen, komentator Injil, yang kemudian diikuti perkataan Tuhannya: &lt;br /&gt;"Kriteria utama dari nabi yang benar adalah karakter moral pengajarannya." (Prof. Dummelow ) &lt;br /&gt;"Dari buahnya kita akan mengetahui mereka." (Yesus Kristus) &lt;br /&gt;Marilah Kita Bermusyawarah Bersama-sama &lt;br /&gt;"Katakanlah, 'Hai Ahli kitab, marilah (berpegang) ke-pada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesutu pun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang Iain sebagai sesembahan selain Allah'. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mere-ka: 'Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)'." (QS. Ali 'Imran:64) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ahli kitab" adalah sebutan penghormatan yang dibe-rikan kepada orang-orang Yahudi dan Kristen di dalam Kitab Suci Al-Qur'an. Di sini umat Islam diperintahkan untuk mengajak -"Hai Ahli kitab!"- Hai orang-orang yang berilmu! Hai orang-orang yang menyatakan sebagai penerima wahyu, kitab suci; Marilah bermusyawarah bersama-sama mencapai konsep yang sama - "bahwa kita beribadah tidak kepada yang lain kecuali Allah, karena tidak ada selain Allah yang layak untuk disembah, bukan karena "…Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan Bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku." (Injil - Keluaran 20:5) Tetapi karena dia Tuhan dan pemberi harapan kita, penyu-sun dan pendukung kita, patut untuk semua pujian, doa dan ketaatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara abstrak orang-orang Yahudi dan Kristen akan setuju terhadap ketiga hal di dalam ayat Al Qur'an itu. Dalam prakteknya mereka gagal. Terlepas dari penyelewengan ajar-an dari kesatuan atas satu Tuhan yang benar (Allah Subha-nahu wa Ta'ala) ada pertanyaan tentang kependetaan suci, (hal inijuga diturunkan di antara kaum Yahudi), seperti jika seorang manusia belaka -Cohen, atau Paus, atau Pendeta, atau Brahma- dapat menyatakan keunggulan terpisah dari pengetahuan dan kemurnian hidupnya, atau dapat berdiri di antara manusia dan Tuhan dalam beberapa pengertian khusus. Islam tidak mengenal kependetaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan Islam diberikan kepada kita di sini dalam sebuah bentuk singkat: &lt;br /&gt;"Katakanlah (hai orang orang mu'min), 'Kami ber iman kepada Allah dan apa yang drhuunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'i1, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan 'Isa serta apa yang diberi-kan kepada nabi-nabi dari Rabbnya. Kami tidak mem-beda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepadaNya'." (QS. Al-Baqarah: 136). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi umat Islam jelas. Seorang Muslim tidak menya-takan mempunyai sebuah agama khusus untuk dirinya sendiri. Islam bukanlah agama suatu golongan atau etnis. Dalam pandangannya semua agama adalah satu, karena ke-benaran adalah satu: Islam adalah agama yang sama dengan agama yang telah disampaikan oleh nabi-nabi terdahulu. (QS. Asy-Syuura: 13). Semua kitab-kitab tersebut mengajar-kan kebenaran. Intinya adalah kesadaran akan kehendak dan rencana Allah serta ikhlas dalam ketaatan atas rencana itu. Jika seseorang menginginkan sebuah agama selain itu, dia menyalahi kodratnya, dan menyalahi keinginan dan rencana Allah. Seperti tidak seorang pun dapat mengharap petunjuk, padahat ia dengan pertimbangan mendalam telah mening-galkan petunjuk. ang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu, 'Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia',… Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis." (Injil - Matius 17: 11-13) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2286779167317491760-4152167836480998690?l=ibnumuflih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/feeds/4152167836480998690/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/11/dialoq-islam-kristian-iii.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/4152167836480998690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/4152167836480998690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/11/dialoq-islam-kristian-iii.html' title='Dialoq Islam Kristian III'/><author><name>Ibnumuflih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10057495785514708022</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2286779167317491760.post-2305128720023852691</id><published>2008-11-23T00:27:00.000-08:00</published><updated>2008-11-23T00:32:07.778-08:00</updated><title type='text'>Dialoq Islam Kristian II</title><content type='html'>BUKTI LEBIH LANJUT &lt;br /&gt;Ismail Anak Pertama &lt;br /&gt;Sejak Dominee tanpa daya menyetujui setiap permasa-lahan, saya berkata, "Dominee, sejauh ini yang saya lakukan hanya membuktikan satu point (masalah) dari keseluruhan ramalan. Membuktikan rangkaian kata Like Unto Thee (Seperti kamu - Seperti Musa). RamaIan tersebut lebih ba-nyak dari sebuah ungkapan berikut: &lt;br /&gt;"Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperli engkau ini..." Penekanannya pada kata-kata "Dari antara saudara mereka." Musa dan kaumnya, orang-orang Yahudi, di sini ditujukan sebagai satu kesatuan ras, dan sebagai 'saudara' mereka tanpa ragu-ragu adalah bangsa Arab. Perhatikanlah, kitab suci Injil menyata-kan Ibrahim (Abraham) sebagai "Sahabat Tuhan". Ibrahim mempunyai 2 orang istri, Sarah dan Hajar. Hajar melahirkan seorang anak Ibrahim, putra pertamanya. "... dan Ibrahim menamai anak yang dilahirkan Hajar itu Ismail. "(Kejadian 16:15). "Dan, Ibrahrim memanggil Ismail, anaknya.... " (Ke-jadian 17: 23). "Dan, Ismail, anaknya, berumur 13 tahun ketika dikerat kulit khatannya. "(Kejadian 17: 25). Sampai usia 13 tahun Ismail adalah satu-satunya anak dan benih Ibra-him, ketika perjanjian disahkan antara Tuhan dan Ibrahim. Tuhan memberi Ibrahim anak laki-laki melalui Sarah, yang dinamakan Ishak, yang sangat muda dibandingkan Ismail. &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Arab dan Yahudi &lt;br /&gt;Jika Ismail dan Ishak adalah anak dari ayah yang sama (Ibrahim), maka mereka adalah kakak beradik. Karena itu, anak dari salah seorang mereka adalah saudara dari anak yang lain. Keturunan Ishak adalah bangsa Yahudi dan ketu-runan Ismail adalah bangsa Arab jadi mereka bersaudara satu sama lain. Injil menegaskan "...Dan, dia (Ismail) akan menentang semua saudaranya." (Kejadian 16: 12). "Dan, dia (Ismail) wafat dan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya." (Kejadian 25: 17). Anak-anak Ishak adalah saudara dari keturunan Ismail. Dengan cara yang sama Muhammad ber-asal dari saudara bangsa Israel, karena dia adalah keturunan anak Ismail putra Ibrahim. Hal ini tepat sekali dengan ra-malan tersebut: "... dari antara saudaramu" (Ulangan 18: 18). Ramalan itu dengan jelas menyebutkan nabi yang akan datang yang seperti Musa, harus tidak berasal dari anak-anak Ismail atau di antara mereka sendiri, tetapi berasal dari antara saudara mereka. Karena itu Muhammad berasal dari saudara mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman dalam Mulut &lt;br /&gt;Lebih jauh ramalan mengatakan, "... dan Aku akan menaruh fuman-Ku dalam mulutnya..." Apakah artinya jika dikatakan, "Saya akan menaruh firman saya dalam mulut Anda?" Perhatikan, ketika mula-mula saya meminta Anda (Dominee) untuk membuka Ulangan 18: 18 dan jika saya meminta Anda untuk membacanya, lalu Anda telah mem-bacanya, apakah itu berarti saya telah menaruh firman saya dalam mulut Anda?" &lt;br /&gt;Dominee menjawab, "Tidak." &lt;br /&gt;Tetapi, saya melanjutkan, "Jika saya mengajari Anda sebuah bahasa yang Anda tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, seperti bahasa Arab, dan bila saya meminta An-da untuk membaca atau mengulangi sesudah saya, apa yang saya ucapkan; yaitu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Katakanlah, 'Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula dlperanak- kan. Dan, tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.' (QS. Al-Ikhlas: 1-4). &lt;br /&gt;Tidakkah saya sedang menaruh kata-kata asing yang belum pernah didengar dan telah kamu ucapkan, ke dalam mulut Anda?" Dominee tentu saja setuju. &lt;br /&gt;Dengan cara yang sama, saya berkata; "Kata-kata kitab suci Al-Qur' an, wahyu yang diberikan oleh Tuhan Yang Ma-ha Kuasa kepada Muhammad diungkapkan." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah menyatakan bahwa Muhammad ketika itu ber-usia 40 tahun. Ia berada dalam sebuah gua kira-kira 3 mil ke utara dari kota Makkah. Hari itu adalah malam ke 17 bulan Ramadhan (dalam buku aslinya yang berbahasa Inggris di-tulis: "malam ke 27 bulan Ramadhan). Dalam gua malaikat Jibril memerintahkannya dalam bahasa daerahnya: &lt;br /&gt;"`Baca!" atau 'nyatakan!' atau 'bawakan!"' Muham-mad ketakutan dan dalam keadaan kebingungan menjawab: &lt;br /&gt;"Saya tak dapat membaca!" Malaikat memerintahkan untuk kedua kalinya dengan hasil yang sama. Pada yang ke-tiga kalinya malaikat melanjutkan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barulah Muhammad mengerti apa yang harus dilakukannya hanyalah mengulangi untuk berlatih. Dan dia mengulangi kata-kata yang ditaruh dalam mulutnya: &lt;br /&gt;"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari se-gumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah YangMaba Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketabuin,ya." (QS. Al-'Alaq: 1-5). &lt;br /&gt;Ini semua adalah ayat pertama yang diwahyukan kepa-da Muhammad, yang sekarang merupakan permulaan surat ke 96 (Al-'Alaq) dari Al-Qur'an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesaksian Orang-orang Yang Beriman &lt;br /&gt;Segera setelah malaikat pergi, Muhammad berlari ke rumahnya. Dengan ketakutan dan berkeringat seluruh tubuhnya, beliau meminta istri tercintanya, Khadijah, untuk menyelimutinya. Beliau berbaring, dan istrinya meman-danginya. Ketika telah tenang kembali, Muhammad menje-laskan kepada istrinya apa yang telah dilihat dan didengar-nya. Khadijah meyakinkannya bahwa ia percaya kepada Muhammad dan bahwa Allah tidak akan membiarkan hal mengerikan seperti itu terjadi padanya. Apakah ini semua adalah pengakuan seorang penipu? Apakah penipu mengaku bahwa ketika seorang malaikat mendatangi mereka dengan pesan dari Yang Maha Tinggi, mereka menjadi kuatir, keta-kutan dan berkeringat seluruh tubuhnya, lari ke rumah menu-ju istrinya? Setiap kritikus dapat melihat bahwa reaksi dan pengakuannya ini adalah dari seorang yang jujur dan tulus, manusia kebenaran -Al Amin- yang jujur, yang tulus dan yang dapat dipercaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 23 tahun berikut dalam hidup kenabiannya, kata-kata tersebut 'ditaruh dalam mulutnya' dan beliau mengucapkannya. Kata-kata tersebut memberi pengaruh yang tak terhapuskan dalam hati dan pikirannya; dan ketika jumlahnya bertambah, kata-kata suci tersebut dicatatnya pa-da daun, kulit dan tulang belikat hewan, serta di dalam hati murid-murid yang tekun. Sebelum kematiannya, kata-kata ini disusun dalam urutan seperti yang dapat kita temukan saat ini dalam Kitab Suci Al-Qur'an. Kata-kata wahyu tersebut benar-benar ditaruh di dalam mulutnya; tepat seperti dikatakan dalam ramalan pada diskusi, "Dan Aku akan menaruh Firman-Ku dalam mulutnya." (Injil - Ulangan 18: 18) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Yang Ummi &lt;br /&gt;Pengalaman Muhammad di dalam gua Hira, kemudi-an dikenal sebagai Jabal Nur, dan reaksinya terhadap wahyu pertama benar-benar memenuhi ramalan Injil yang lain. Pada kitab Yesaya 29:12, kita baca: "Dan apabila kitab itu" (Al-kitab, Al-Qur'an - 'pembacaan', 'pembawaan') "diberi-kan kepada seorang yang tidak dapat membaca" Nabi yang ummi, Al Qur'an surat Al-A'raf ayat 158, dengan mengatakan, "Baiklah baca ini, Saya berdo'a untuk kamu" (Kalimat: "Saya berdo'a untuk kamu" tidak ada dalam nas-kah Yahudi, bandingkan dengan Katholik Roma "versi Douay" danjuga dengan "versi standar yang sudah direvisi", Revised Standard Version) "Dan ia akan menjawab, 'Aku tidakdapatmembaca'. " "Aku tidak dapat membaca!" adalah terjemahan yang tepat dari kata-kata yang di-ucapkan 2 kali oleh Muhammad kepada Roh Kudus, Malaikat Jibril, ketika dia memerintahkan ("Baca!"). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Izinkan saya mengutip ayat tersebut secara lengkap tan-pa terpotong seperti pada "versi King James" atau "versi yang telah disahkan" yang lebih terkenal: "Dan, apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan, 'Baiklah baca ini, saya berdo'a untuk kamu', maka ia akan menjawab, 'Aku tidak dapat membaca'." (Injil - Yesaya 29: 12) &lt;br /&gt;Yang perlu diperhatikan adalah belum ada Injil berba-hasa Arab pada abad 6 Masehi, ketika Muhammad hidup dan berda'wah. Disamping itu beliau benar-benar tidak dapat membaca dan menulis. Tak ada seorang manusia pun yang pernah mengajarinya sebuah kata. Gurunya adalah pencipta-nya : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan, tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) me-nurut kemauan hawa nafsunya. Ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. " (QS. An-Najm: 3-5) &lt;br /&gt;Tanpa pengajaran dari seorang manusia pun, ia mem-buat malu orang-orang yang berpengetahuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan Penting &lt;br /&gt;"Perhatikan!" Saya berkata kepada Dominee, "Bagai-mana ramalan tersebut sesuai sekali dengan Muhammad. Kami tak perlu menjabarkan ramalan agar terpenuhi dalam diri Muhammad." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominee membalas, "Semua penjelasan Anda terde-ngar sangat baik, tetapi itu semua tidak mempunyai konse-kuensi yang nyata, karena kami umat Kristen memiliki Yesus Kristus sebagai reinkarnasi Tuhan, yang menyelamatkan kami dari perbudakan dosa!" &lt;br /&gt;Saya bertanya, "Tidak penting?" &lt;br /&gt;Tuhan tidak menganggap demikian! Dia mengalami banyak kesulitan agar peringatannya diingat. Tuhan tahu bahwa akan ada orang-orang seperti Anda yang dengan ke-pandaian berbicara, dengan senang akan mengurangi kata--katanya, sehingga dia melanjutkan Ulangan 18:18 dengan peringatan yang menakutkan: ayat terdekat berikutnya, "Dan, ha1 tersebut akan terjadi". "Orang yang tidak mende-ngarkan segala Firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, daripadanya akan Kutuntut pertanggungja-waban." (Pada Injil Katholik kata-kata terakhirnya adalah --"Aku akan menjadi pembalas dendam"- Aku akan memba-las untuknya - Aku akan membalasnya!) "Apakah hal ini tidak menakutkanmu? Tuhan Yang Maha Kuasa sedang, mengancam pembalasan dendam! Nafas kita terengah-engah jika beberapa penjahat mengancam, tidakkah kamu takut pada peringatan Tuhan?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ajaib dari keajaiban-keajaiban!" Pada Ulangan 18:19 kita mendapatkan pemenuhan lebih jauh pada diri Muhammad! Perhatikan kata-kata, "... firman-Ku yang akan diucapkan Nabi itu dengan nama-Ku," "Atas nama siapa Muhammad berbicara?" Saya membuka Kitab Suci Al-Qur-'an -terjemahan Ustadz Yusuf Ali, pada surat 114, Surat An-Naas, atau 'Manusia'- surat terakhir, dan menunjukkan pada Dominee formula di atas, surat tersebut: &lt;br /&gt;"Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." Dan di atas surat 113: &lt;br /&gt;"Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." Dan setiap surat sebelumnya 112, 111, 110, . . . . . formula dan artinya sama untuk setiap halaman, karena akhir surat-surat akhir adalah pendek dan masing--masingnya kira-kira hanya satu halaman. &lt;br /&gt;"Dan apa yang diinginkan ramalan tersebut?'... yang akan diucapkan dia (nabi itu) dengan nama-Ku' dan atas nama siapa Muhammad berbicara? 'Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.' Isi ramalan tersebut terpenuhi dalam diri Muhammad. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setiap surat dalam Al-Qur'an kecuali surat ke 9 (At-Taubah) dimulai dengan formula: "De-ngan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." Umat Islam memulai setiap kegiatan yang sah menurut hukum dengan formula suci. Tetapi umat Kristen memulai: "Dengan nama Bapak, Anak dan Roh Kudus." &lt;br /&gt;Memperhatikan Ulangan bab 18; saya telah memberi-kan kepada Anda lebih dari 15 alasan bagaimana ramalan tersebut ditujukan kepada Muhammad bukan Yesus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersambung..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2286779167317491760-2305128720023852691?l=ibnumuflih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/feeds/2305128720023852691/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/11/dialoq-islam-kristian-ii.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/2305128720023852691'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/2305128720023852691'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/11/dialoq-islam-kristian-ii.html' title='Dialoq Islam Kristian II'/><author><name>Ibnumuflih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10057495785514708022</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2286779167317491760.post-3785602795147027753</id><published>2008-11-21T23:08:00.000-08:00</published><updated>2008-11-23T00:27:26.036-08:00</updated><title type='text'>Dialog Islam Kristian</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;The Choice Islam and Christianity : Dialog Islam Kristian sebuah karya dari ahmad deedat yang di kenal sebagai pakar kristologi, bercerita tentang pengalaman nya berdebat dengan pendeta untuk membuktikan bahwasanya di dalam kitab injil itu sendiri ada bercerita tentang datang nya seorang nabi yang terakhir sebagaimana yang telah di khabarkan oleh nabi isa `alahissalam, ketika anda membaca dialoq2 antara ahmad deedat dengan pendeta tersebut anda akan melihat kepetahan nya dalam berhujjah , buku ini amat berguna untuk sesiapa saja yang masih meragukan akan kebenaran agama islam ... seperti yang pernah dikatakan oleh sahabat saya : Ketika Aku Telah Mengenal Agama Kristian Bagaimana Aku Boleh diMurtadkan ?? &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahagian Pertama&lt;br /&gt;Apa Yang Dikatakan Injil Tentang Muhammad SAW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERTEMUAN BESAR PERTAMAKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika Al-Qur'an itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani lsrail mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al-Qur'an ...' "(QS. Al-Ahqaaf: 10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara ketua, ibu-ibu dan bapak-bapak,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema pembicaraan sore ini "Apa Yang Dikatakan Injil Tentang Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, tiada keraguan hal ini tentu mengejutkan kebanyakan Anda karena pembicara adalah seorang Muslim. Bagaimana bisa terjadi seorang Muslim menjelaskan secara terperinci ramalan kitab orang Yahudi dan Kristen?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai anak muda, sekitar 30 tahun yang lalu, saya menghadiri serangkaian ceramah keagamaan oleh seorang ahli ilmu agama kristen, yang terhormat Pendeta Hiten, pada "Theatre Royal", Durban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paus atau Kissinger?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendeta yang terhormat ini, menjelaskan secara terperinci ramalan-ramalan Injil. Ia terus membuktikan bahwa kitab Injil meramalkan kebangkitan Sovyet Rusia dan hari akhir. Pada satu tahap ia melanjutkan pembuktian lebih luas bahwa kitab sucinya tidak menghilangkan Paus dari ramalannya. Dengan penuh semangat ia berbicara panjang lebar untuk meyakinkan pendengarnya bahwa "Beast 666" yang disebutkan dalam kitab wahyu tersebut --kitab terakhir dari Perjanjian Baru-- adalah Paus, pendeta Kristus dibumi. Tidak pantas bagi kita umat Islam untuk ikut dalam pertentangan anfara Katholik Roma dan Protestan ini. Tetapi, penjelasan terakhir orang Kristen mengatakan bahwa "Beast 666" pada kitab Injil adalah Dr. Henry Kissinger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarjana-sarjana Kristen berlaku jujur dan tak kenal lelah dalam usahanya membuktikan kasus mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceramah Pendeta Hiten membuat saya bertanya jika kitab Injil meramalkan banyak hal --bahkan termasuk "Paus" dan "Israel"-- maka tentunya harus ada sesuatu yang mengatakan tentang kedermawanan terbesar dari umat manusia --Nabi suci Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pemuda saya mulai mencari jawabannya: Saya menemui banyak pendeta, menghadiri ceramah dan membaca segala sesuatu yang dapat saya hubungkan dengan ramalan Injil. Malam ini saya akan menceritakan kepada Anda satu dari tanya jawab-tanya jawab ini dengan seorang dominee dari Gereja Reformasi Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka Keberuntungan 13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya diundang ke Transvaal untuk berbicara pada peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Saya mengetahui bahwa di propinsi tersebut bahasa Afrika digunakan secara umum, bahkan oleh bangsa saya sendiri, saya merasa harus sedikit belajar bahasa ini, sehingga dapat merasa sedikit seperti di rumah sendiri dengan masyarakat tersebut. Saya membuka buku petunjuk telepon dan mulai menelpon para pembicara gereja Afrika. Saya menyatakan maksud saya kepada para pendeta bahwa saya tertarik berdialog dengan mereka, tetapi mereka semua menolak permintaan saya dengan permohonan maaf yang dapat diterima. Angka 13 adalah angka keberuntungan saya. Telepon ke 13 membuat saya merasa senang dan lega. Van Heerden, seorang dominee, setuju untuk bertemu saya di rumahnya pada Sabtu siang, sehingga saya harus pergi ke Transvaal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominee menerima saya di Beranda dengan sambutan yang bersahabat, dan berkata jika saya tidak keberatan, ia akan senang jika ayah mertuanya yang berasal dari Free State (seorang pria tua berumur 70-an) bergabung dengan kami dalam diskusi. Saya tidak keberatan. Kami bertiga duduk di perpustakaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Tidak Ada?&lt;br /&gt;Saya mengajukan pertanyaan, "Apakah yang dikata-kan Injil tentang Muhammad?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa ragu-ragu ia menjawab, "Tidak ada!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya, "Mengapa tidak ada? Berdasarkan penafsiran Anda Injil mengatakan banyak hal tentang kebangkitan Soviet Rusia dan tentang hari akhir, bahkan ten-tang Paus dari Katholik Roma?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berkata, "Ya, tetapi tidak ada tentang Muhammad!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya lagi, "Mengapa tidak ada? Muhammad seorang yang bertanggungjawab membawa jutaan pengikutnya menjadi sebuah komunitas yang mendunia, yang dengan pengaruhnya, percaya pada: Keajaiban kelahiran Yesus, Bahwa Yesus adalah Mesias,&lt;br /&gt;Bahwa dengan izin Tuhan, Ia dapat menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang buta sejak lahir dan penderita kusta. Tentunya kitab tersebut (Injil) mengatakan sesuatu tentang pemimpin besar manusia ini, yang berkata sangat baik tentang Yesus dan ibunya Maryam?" (Kesejahteraan untuk mereka berdua).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua dari Free State menjawab, "Anakku, saya telah membaca Injil selama 50 tahun lebih danjika terdapat sesuatu yang menyinggung tentang Muhammad, saya akan mengetahuinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Ada Nama Itu&lt;br /&gt;Saya bertanya, "Menurut Anda, bukankah di dalam Perjanjian Lama terdapat ratusan ramalan sehubungan dengan kedatangan Yesus".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominee menyela, "Bukan ratusan, bahkan ribuan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berkata, "Saya tidak akan memperdebatkan 1001 ramalan di Perjanjian Lama sehubungan dengan kedatangan Yesus Kristus, karena umat Islam di seluruh dunia telah menerimanya tanpa perlu pembuktian dari ramalan Injil mana pun. Kami umat Islam secara defacto telah menerima Yesus dengan pengaruh Muhammad saja, dan saat ini di dunia terdapat tidak kurang dari 900.000.000 pengikut Muhammad yang mencintai, memuliakan dan menghormati utusan Tuhan yang besar ini --Yesus Kristus-- tanpa perlu diyakinkan oleh umat Kristen melalui arti Injil dalam dialek bahasa mereka. Dari ribuan ramalan tersebut, dapatkah Anda menunjukkan satu saja ramaian yang menyebutkan nama Yesus? Istilah Mesias yang diterjemahkan Kristus adalah bukan nama tetapi sebuah sebutan. Adakah sebuah ramalan yang mengatakan bahwa nama Mesias akan menjadi Yesus dan nama ibunya akan menjadi Maria; bahwa yang seharusnya menjadi ayahnya adalah Yusuf si tukang kayu; bahwa ia akan lahir pada masa pemerintahan raja Hero dan lain-lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak! Tidak ada perincian seperti itu!" jawab Dominee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya, "Lalu bagaimana Anda menyimpulkan bahwa ribuan ramalan tersebut mengacu kepada Yesus?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Ramalan Tersebut?&lt;br /&gt;Dominee menjawab, "Perhatikan, ramalan adalah kata-kata yang menggambarkan sesuatu yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Ketika hal itu terjadi, kita lihat secara nyata pemenuhan atas apa yang telah diperkirakan di masa lalu dalam ramalan-ramalan tersebut."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berkata, "Apa yang sebenarnya Anda lakukan adalah bahwa Anda menyimpulkan, mencari alasan, menempatkan dua dan dua bersama-sama."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berkata, "Ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berkata, "Jika ini yang Anda lakukan dengan ribuan ramalan untuk membenarkan pendapat Anda tentang keaslian Yesus, mengapa kita tidak melakukan sistem yang sama untuk Muhammad? Dominee setuju hal tersebut adalah argumen yang adil, alasan yang dapat diterima dalam memperlakukan masalah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memintanya untuk membuka Ulangan, pasal 18, ayat 18 (kitab kelima dari kitab Yahudi dan Kristen). Saya membaca ayat tersebut berdasarkan ingatan dalam versi Afrika, dengan tujuan sedikit berlatih bahasa yang digunakan bangsa di Afrika Selatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'N Profeet Sal Ek Vir Hulle&lt;br /&gt;Verwek Uit Die Midde Van Hulle Broers,&lt;br /&gt;Soos Jy Is,&lt;br /&gt;En Ek Sal My Woorde In Sy Mond Le,&lt;br /&gt;En Hy Sal Aan Hulle Se&lt;br /&gt;Alles Wat Ek Hom Beveel&lt;br /&gt;Deut. 18:18&lt;br /&gt;Terjemahannya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya." (Injil-Ulangan 18: 18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Seperti Musa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya meminta maaf karena pelafalan yang tidak jelas dalam membacakan versi tersebut dalam bahasa Afrika. Dominee meyakinkan saya bahwa saya melakukannya dengan baik. Saya bertanya, "Kepada siapa ramalan tersebut ditujukan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa keraguan sedikit pun dia menjawab, "Yesus!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya, "Mengapa Yesus, namanya tidak disebut di sini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominee menjawab, "Karena ramalan adalah kata-kata yang menggambarkan sesuatu yang akan terjadi pada masa yang akan datang, kita temukan kata-kata dalam ayat ini cukup melukiskannya. Anda lihat, kata yang paling penting dari ramalan ini adalah Soos Jy Is (like unto thee), --seperti kamu-- seperti Musa, dan Yesus seperti Musa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya, "Dalam hal apa Yesus seperti Musa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya adalah; "Pertama, Musa adalah seorang Yahudi dan Yesus juga seorang Yahudi; Kedua, Musa adalah seorang nabi dan Yesus juga seorang nabi karena itu Yesus seperti Musa dan itu tepat sekali seperti yang dikatakan Tuhan kepada Musa-- Soos Jy Is.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dapatkah Anda pikirkan persamaan-persamaan lain antara Musa dan Yesus?" tanya saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominee mengatakan ia tidak dapat memikirkan yang lain. Saya membalas, "Jika hanya dua kriteria ini saja untuk menentukan calon dalam ramalan pada Ulangan 18: 18, maka untuk kasus ini kriteria dapat dipenuhi oleh setiap tokoh setelah Musa pada kitab Injil: Solomon, Yesaya, Ezekiel, Daniel, Hosea, Yoel, Malachi, Yohanes Pembaptis dan lain-lain, karena mereka semua juga seorang "Yahudi" dan "Nabi". Mengapa tidak menerapkan ramalan tersebut kepada salah satu nabi-nabi ini, dan mengapa harus Yesus? Mengapa kita harus menganggap yang satu ikan sementara yang lainnya unggas?" Dominee tidak menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya meneruskan, "Perhatikan, kesimpulan saya adalah Yesus hampir tidak seperti Musa, dan jika salah, saya akan senang jika Anda meluruskan saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga Ketidaksamaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berkata, saya memberi alasan kepadanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Yesus tidak seperti Musa, karena, menurut Anda "Yesus adalah Tuhan", tetapi Musa bukanlah Tuhan. "Apakah hal ini benar?" saya bertanya kepada Dominee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominee menjawab, "Ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berkata, "Karena itu Yesus tidak seperti Musa!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, menurut Anda "Yesus Mati Untuk Dosa-dosa Dunia", tetapi Musa tidak mati untuk hal tersebut. "Apakah hal ini benar?" saya bertanya kepada Dominee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menjawab lagi, "Ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berkata, "Karena itu Yesus tidak seperti Musa!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, menurut Anda "Yesus Pergi Ke Neraka Selama Tiga Hari", tetapi Musa tidak masuk ke sana. "Apakah hal ini benar?" saya bertanya kepada Dominee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menjawab tanpa perlawanan, "Ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyimpulkan, "Karena itu Yesus tidak seperti Musa!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tetapi ...," kata Dominee menyela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lanjutkan dulu, kataku, "ini semua bukanlah fakta yang sukar, kokoh dan nyata. Hal ini adalah persoalan keyakinan belaka di mana seorang awam dapat tersandung dan jatuh. Marilah kita diskusikan sesuatu yang sangat sederhana, sangat mudah, yang jika orang awam diundang untuk mendengar diskusi tersebut mereka tidak akan kesulitan mengikutinya, bagaimana?" Dominee sangat senang dengan usulan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DELAPAN ARGUMEN YANG TAK TERBANTAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ayah dan Ibu&lt;br /&gt;Musa mempunyai seorang ayah dan seorang ibu. Muhammad juga mempunyai seorang ayah dan seorang ibu. Tetapi Yesus hanya mempunyai seorang ibu, dan ayahnya bukan seorang manusia. Apakah hal ini benar?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berkata, "Ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berkata, "Daarom is Jesus nie soos moses nie, maar Muhummed is soos moses!" artinya: "Karena itu Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad seperti Musa!" (Sejak saat ini pembaca akan menyadari bahwa saya menggunakan bahasa Afika hanya bertujuan untuk latihan. Saya harus menghentikan penggunaannya dalam penjelasan ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kelahiran Ajaib&lt;br /&gt;Musa dan Muhammad lahir secara normal dan alamiah, yaitu melalui percampuran fisik antara seorang pria dan wanita, tetapi Yesus diciptakan dengan sebuah keajaiban istimewa. Dalam Kitab Matius 1: 18&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"... sebelum mereka (Yusuf dan Maria) hidup sebagai suami istri, ternyata Maria mengandung dari Roh Kudus ..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, Lukas mengatakan bahwa ketika berita gembira atas kelahiran anak suci tersebut diberitahukan kepada Maria, dia memberi alasan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"... bagai-mana hal itu mungkin terjadi, sedangkan aku belum bersuami? Jawab malaikat itu kepadanya, "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Maha Tinnggi akan me-naungi engkau ..." (Lukas l: 34-35).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab Suci Al-Qur'an menegaskan kelahiran Yesus yang ajaib tersebut dalam istilah yang mulia dan luhur dalam menjawab pertanyaan yang logis dari Maria:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya Rabbku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun?"Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah" lalu jadilah dia."(QS. Ali Imran: 47).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukanlah menjadi keharusan bagi Allah untuk menanam benih pada seseorang atau binatang. Jika Dia menghendakinya itu pasti akan terjadi. Ini adalah konsep umat Islam pada kelahiran Yesus. (Ketika saya rnembandingkan versi Al-Qur'an dan Injil tentang kelahiran Yesus kepada pendeta Dunkers, pemimpin masyarakat penginjil, di kota terbesar kami ini, dan ketika saya bertanya, "Versi mana yang lebih Anda sukai untuk diberikan kepada anak perempuan Anda, Al-Qur'an atau Injil?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria tersebut menundukkan kepalanya dan menj awab, "Versi Al-Qur'an."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cepat saya berkata kepada Doominee, "Apakah benar kelahiran Yesus yang ajaib berlawanan dengan kelahiran Musa dan Muhammad yang alami?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menjawab dengan bangga, "Ya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berkata, "Karena itu Yesus tidak seperti Musa tetapi Muhammad seperti Musa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, Tuhan berkata kepada Musa pada Ulangan 18: 18 "Like unto thee" (Seperti kamu, seperti Musa) dan Muhammad seperti Musa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ikatan Perkawinan&lt;br /&gt;Musa dan Muhammad menikah dan mempunyai anak, tetapi Yesus tetap menjadi seorang bujangan selama hidupnya. "Apakah hal ini benar?" saya bertanya kepada Dominee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominee menjawab: "Ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berkata, "Karena itu Yesus tidak seperti Musa , tetapi Muhammad seperti Musa"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Yesus Ditolak Oleh Kaumnya&lt;br /&gt;Musa dan Muhammad diterima sebagai nabi oleh kaumnya dalam kehidupan mereka. Tidak ada keraguan bahwa orang-orang Yahudi terus menerus memberi kesulitan kepada Musa, tetapi sebagai bangsa secara keseluruhan, mereka mengetahui bahwa Musa adalah utusan Allah yang dikirim untuk mereka. Orang-orang Arab juga membuat kehidupan Muhammad menjadi menderita. Beliau sangat menderita akibat ulah mereka. Setelah 13 tahun berda'wah di Makkah, beliau harus pindah dari kota kelahirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sebelum kematiannya, bangsa Arab secara keseluruhan telah menerimanya sebagai utusan Allah. Tetapi berdasarkan Injil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia (Yesus) datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerimanya." (Yohanes 1: 11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bahkan sampai hari ini, setelah 2000 tahun, kaumnya --orang-orang Yahudi, secara keseluruhan telah menolaknya. "Apakah hal ini benar?" saya bertanya kepada Dominee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominee berkata, "Ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berkata; "Karena itu Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad seperti Musa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kerajaan "Dunia Lain"&lt;br /&gt;Musa dan Muhammad adalah nabi dan juga raja. Nabi berarti seorang manusia yang menerima wahyu untuk menunjuki manusia dan menyampaikan petunjuk ini kepada ciptaan Allah seperti yang diterimanya tanpa ada penambahan atau pengurangan. Raja adalah seorang manusia yang mempunyai kekuasaan atas hidup dan mati rakyatnya. Tidaklah penting apakah orang tersebut mengenakan mahkota atau tidak, atau apakah dia mengenakan pakaian raja; Jika seseorang mempunyai hak untuk memberikan hukuman mati -Dia adalah raja-. Musa memiliki kekuasaan tersebut. Ingatkah Anda orang Israel yang pada hari Sabbath ditemukan sedang mengumpulkan kayu bakar, dan Musa menghukum mati orang tersebut dengan dilontari batu? (Bilangan 15: 36). Terdapat tindakan kejahatan lainnya yang disebutkan dalam Injil yang karenanya Musa memberikan hukuman mati pada orang-orang Yahudi tersebut. Begitu juga Muhammad, beliau memiliki kekuasaan atas hidup dan mati kaumnya. Pada Injil terdapat beberapa contoh orang-orang yang hanya diberi kenabian, tetapi tidak dalam posisi untuk menerapkan petunjuk mereka. Beberapa orang suci Tuhan yang tidak berdaya menghadapi penolakan yang keras atas pesan yang disampaikan mereka ini adalah nabi Lot, Jonah, Daniel, Ezra dan Yohanes Pembaptis. Mereka hanya dapat menyampaikan pesan, tetapi tidak dapat memaksakan hukuman. Sayangnya nabi suci Yesus juga termasuk kategori ini. Para penginjil Kristen dengan jelas membenarkan hal ini: Ketika Yesus diseret sebelum Gubernur Roma (Pontius Pilate) menuduhnya sebagai pendusta, Yesus membuat sebuah pernyataan meyakinkan dalam pembelaannya untuk menyangkal tuduhan yang salah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jawab Yesus, 'Kerajaanku bukan dari dunia ini; Jika kerajaanku dari dunia ini, pasti hamba-hambaku telah melawan, supaya aku jangan diserahkan kepada orang orang Yahudi, akan tetapi kerajaanku bukan dari sini. " (Yohanes 18: 36).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini meyakinkan Pilatus (seorang penyembah berhala) dengan pemikiran bahwa Yesus tidak sepenuhnya berkuasa atas kemampuan ruhaninya, dia tidak menganggapnya orang yang membahayakan pemerintahannya. Yesus hanya menuntut sebuah kerajaan spiritual, dengan kata lain dia hanya menyatakan sebagai seorang nabi. "Apakah hal ini benar?" saya bertanya kepada Dominee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominee menjawab, "Ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berkata, "Karena itu Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad seperti Musa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Tak Ada Hukum Baru&lt;br /&gt;"Musa dan Muhammad membawa hukum dan aturan baru untuk kaumnya. Musa tidak hanya memberi 10 perintah Allah kepada orang-orang Israel, tetapi hukum-hukum peribadatan yang sangat luas sebagai petunjuk kaumnya. Muhammad datang kepada sebuah kaum yang sangat bodoh dan biadab. Mereka menikahi ibu tirinya, menguburkan anak perempuannya hidup-hidup, mabuk-mabukan, berzina, menyembah berhala dan berjudi dari hari ke hari. Gibbon melukiskan orang-orang Arab sebelum Islam dalam Decline and Fall of the Roman Empire (Kemunduran dan Keruntuhan Kekaisaran Romawi.), "Kebrutalan manusia, hampir tanpa perasaan, sulit dibedakan keburukannya dari sisa-sisa penciptaan hewan." Sukar mendapatkan sesuatu yang membedakan antara manusia dan hewan pada saat itu. Mereka adalah hewan dalam wujud manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kebiadaban yang hina ini, Muhammad mengangkat mereka, dalam kata-kata Thomas Carlysle,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menjadi pembawa obor penerangan dan pelajaran. Bagi bangsa Arab ini adalah kelahiran dari kegelapan menjadi cahaya. Untuk pertama kalinya Arab menjadi hidup karenanya. Masyarakat penggembala yang miskin, mengembara tidak dikenal di padang pasir sejak penciptaan dunia. Perhatikan, tidak dikenal menjadi terkemuka di dunia, yang kecil telah tumbuh menjadi dunia besar. Dalam satu abad kemudian Granada telah berada di tangan bangsa Arab dan Delhi di tangannya yang lain. Pandangan sekilas dalam keberanian, kemegahan, dan cahaya kecerdasan, Arab menyinari bagian yang besar dari dunia... "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya adalah Muhammad memberi-kan kaumnya sebuah hukum dan peraturan yang belum pernah dimiliki mereka sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai Yesus, ketika orang-orang Yahudi merasa curiga terhadapnya bahwa ia mungkin seorang penipu dengan tujuan menyesatkan ajaran mereka, Yesus mengambil penderitaan untuk meyakinkan mereka bahwa dia tidak datang dengan agama baru. Tidak ada hukum baru dan tidak ada peraturan baru. Saya kutip kata-katanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau meniadakan kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu, 'Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi'. "(Matius 5: 17-18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, dia tidak datang dengan hukum atau aturan baru. Dia datang hanya untuk menggenapi hukum lama. Hal inilah yang diberikannya kepada orang-orang Yahudi untuk dimengerti. Kecuali jika ia sedang mencoba menggertak orang-orang Yahudi, agar menerimanya sebagai utusan Allah dan dengan dalih mencoba memasukkan aga-ma baru kepada mereka. Tidak! Utusan Tuhan ini tidak akan pernah berusaha dengan curang untuk menumbangkan agama Tuhan. Dia dengan sendirinya mematuhi hukum. Dia mematuhi perintah-perintah Musa, dan menghormati hari Sabbath. Tidak ada kesempatan seorang Yahudi menunjukkan jari padanya dan berkata, "Mengapa kamu tidak puasa" atau "Mengapa kamu tidak mencuci tanganmu sebelum membelah roti". Yesus menuduh mereka selalu mengatakan bertentangan dengan muridnya, tetapi tidak pernah berten-tangan dengannya. Hal ini karena sebagai seorang Yahudi yang baik, ia menghormati hukum-hukum nabi yang mendahuluinya. Singkatnya, ia tidak menciptakan agama baru dan tidak membawa hukum baru seperti Musa dan Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah hal ini benar?" Saya bertanya kepada Dominee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, ia menjawab, "Ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berkata, "Karena itu Yesus tidak seperti Musa , tetapi Muhammad seperti Musa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Bagaimana Mereka Pergi&lt;br /&gt;Musa dan Muhammad meninggal dalam kematian yang wajar, tetapi menurut agama Kristen, Yesus dengan kejam dibunuh di tiang salib. "Apakah hal ini benar?" saya bertanya kepada Dominee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominee menjawab, "Ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menegaskan, "Karena itu Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad seperti Musa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Surga Sebagai Tempat Kediaman&lt;br /&gt;Musa dan Muhammad terbaring dikubur dalam bumi, tetapi menurut Anda, Yesus beristirahat di surga. "Apakah hal ini benar?" saya bertanya kepada Dominee. Dominee setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berkata, "Karena itu Yesus tidak seperti Musa , tetapi Muhammad seperti Musa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersambung....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2286779167317491760-3785602795147027753?l=ibnumuflih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/feeds/3785602795147027753/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/11/dialog-islam-kristen.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/3785602795147027753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/3785602795147027753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/11/dialog-islam-kristen.html' title='Dialog Islam Kristian'/><author><name>Ibnumuflih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10057495785514708022</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2286779167317491760.post-2943649366155692495</id><published>2008-11-19T01:37:00.000-08:00</published><updated>2008-11-20T02:08:26.157-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sketsa Sebuah Hati'/><title type='text'>Sketsa Untuk Seorang Isteri</title><content type='html'>Sketsa ini khas aku tujukan untuk isteriku, isteri yang telah banyak berkorban untukku, yang mencintai diriku dengan sepenuh hatinya, duhai zaujahku, apabila dirimu membaca sketsaku ini fahamilah .. aku mencuba untuk menjadi suami yang terbaik bagi dirimu dan juga Abi yang terbaik dari anak kita... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillah....&lt;br /&gt;Ya  Ghafur.. Irhamni.. ighfirli&lt;br /&gt;Ampunilah dosa ku yang telah aku lakukan&lt;br /&gt;Kau limpahkanlah aku dengan kesabaran yang tiada terbatas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau berikanlah aku kekuatan mental dan fizikal&lt;br /&gt;Kau kurniakanlah aku dengan sifat keredhaan&lt;br /&gt;Kau peliharalah lidahku dari kata-kata nista&lt;br /&gt;Kau kuatkanlah semangatku menempuhi segala cabaranMu&lt;br /&gt;Kau berikanlah aku sifat kasih sesama insan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah...Ya Rahman Ya Rahim.. &lt;br /&gt;Sekiranya isteri ku ini adalah pilihan Mu di atas Arsy&lt;br /&gt;Berilah aku kekuatan dan keyakinan untuk terus bersamanya&lt;br /&gt;Kurniakanlah aku sifat kasih dan redha atas segala perbuatannya&lt;br /&gt;Sekiranya isteri ku ini adalah bidadari untuk ku di Jannah Mu&lt;br /&gt;Limpahkanlah aku dengan sifat kesabaran dan kelembutan untuk menghadapi dirinya&lt;br /&gt;Peliharalah tingkah laku serta kata-kataku dari&lt;br /&gt;menyakiti perasaannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekiranya...&lt;br /&gt;isteri ku ini jodoh yang dirahmati oleh Mu maka&lt;br /&gt;Berilah aku kesabaran untuk menghadapi segala kerenah dan ragamnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah... Tuhan Yang Maha Mengetahui segala sesuatu..&lt;br /&gt;Kau yang Maha Megetahui apa yang terbaik untukku&lt;br /&gt;Kau juga yang Maha Mengampuni segala kesilapan dan ketelanjuranku&lt;br /&gt;Sekiranya aku tersilap membuat keputusan..&lt;br /&gt;Bimbinglah aku ke jalan yang Engkau redhai&lt;br /&gt;Sekiranya aku lalai dalam tanggungjawabku sebagai suami..&lt;br /&gt;Kau hukumlah aku didunia tetapi bukan diakhirat Mu&lt;br /&gt;Sekiranya aku engkar dan derhaka Berikanlah aku&lt;br /&gt;petunjuk kearah rahmat Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah sesungguhnya aku lemah tanpa petunjukMu..&lt;br /&gt;Aku buta tanpa bimbinganMu. .&lt;br /&gt;Aku cacat tanpa hidayahMu..&lt;br /&gt;Aku hina tanpa RahmatMu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah.. Ya Muqallibal Qulub &lt;br /&gt;Kuatkan hati dan semangatku&lt;br /&gt;Tabahkan aku menghadapi segala cubaanMu&lt;br /&gt;Jadikanlah aku suami yang di sayangi isteri&lt;br /&gt;Bukakanlah hatiku untuk menghayati agamaMu&lt;br /&gt;Bimbinglah aku menjadi suami yang terbaik bagi dirinya&lt;br /&gt;Hanya padaMu Ya Allah ku pohon segala harapan&lt;br /&gt;Kerana aku pasrah dengan dugaanMu&lt;br /&gt;Kerana aku sedar hinanya aku&lt;br /&gt;Kerana aku insan lemah yang kerap keliru&lt;br /&gt;Kerana aku leka dengan keindahan duniamu&lt;br /&gt;Kerana kurang kesabaran ku menghadapi cabaranMu&lt;br /&gt;Kerana pendek akal ku mengharungi ujianMu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah .. &lt;br /&gt;Sesungguhnya diriku ini Hanyalah HambaMu yang Lemah dan Faqir&lt;br /&gt;Limpahkan lah rumah tanggaku dengan penuh mawaddah&lt;br /&gt;Jadikanlah rumah tanggaku sebagai rumah tangga yang sakinah&lt;br /&gt;Aku memohon ampun kepadaMu Ya allah , atas segala Dosa-dosa yang telah aku lakukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin, amin Ya Rabbal Allamin..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2286779167317491760-2943649366155692495?l=ibnumuflih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/feeds/2943649366155692495/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/11/sketsa-untuk-seorang-isteri.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/2943649366155692495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2286779167317491760/posts/default/2943649366155692495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnumuflih.blogspot.com/2008/11/sketsa-untuk-seorang-isteri.html' title='Sketsa Untuk Seorang Isteri'/><author><name>Ibnumuflih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10057495785514708022</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2286779167317491760.post-3649959509828258132</id><published>2008-11-18T23:58:00.000-08:00</published><updated>2008-11-19T01:05:01.632-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernikahan'/><title type='text'>Menepis Kekeliruan Pandangan Terhadap Poligami II</title><content type='html'>Perselisihan yang muncul di antara para isteri merupakan sesuatu yang wajar, tumbuh dari rasa cemburu yang merupakan tabiat wanita. Untuk mengatasi hal tersebut, tergantung kepada kemampuan suami dalam mengatur urusan rumah tangganya, keadilannya terhadap isteri-isterinya, rasa tanggung jawab terhadap keluarganya, demikian juga tawakalnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila ini semua sudah terpenuhi, maka akan tegaklah kehidupan keluarganya, diliputi dengan rasa kasih dan sayang di antara anggota keluarganya. Atau kalau tidak terpenuhi, akan hancurlah keluarga tersebut, baik keluarga yang berpoligami ataupun tidak. Kenyataannya dalam kehidupan rumah tangga tampak seperti itu, walaupun menikah hanya dengan satu isteri (monogami). Bahkan banyak terjadi pertengkaran, hingga mengantarkan pada perceraian, dan menyebabkan anak-anak menjadi terlantar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada benarnya, terkadang pertengkaran menimpa keluarga, orang yang melakukan poligami, tetapi hal ini terjadi karena kurang bertanggung jawabnya sang suami, dan karena ketidak-adilannya terhadap para isterinya. Ini membutuhkan jalan penyelesaian, bukan dengan cara menolak praktek poligami, yang di dalamnya terdapat banyak kebaikan. Perbuatan dan perilaku individu, tidak bisa dijadikan sebagai dalil untuk menolak diperbolehkannya poligami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Syubhat Kedua. &lt;br /&gt;Para penentang poligami menyatakan, tidak mungkin bagi para suami mampu berbuat adil di antara para isteri, dengan dalih firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja.” [An-Nisaa`: 3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah telah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian” [An-Nisaa`: 129]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil" dalam ayat ini adalah rasa cinta, kecenderungan hati dan hubungan badan. Adapun perkara-perkara yang zhahir, seperti tempat tinggal, wang belanja dan waktu bermalam, maka wajib bagi seorang laki-laki yang mempunyai isteri lebih dari satu untuk berbuat adil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan oleh Imam Ibnu Taimiyyah: "Tidak boleh mengutamakan salah satu di antara para isteri dalam pembagian. Akan tetapi, bila dia mencintai salah satunya lebih dari yang lainnya, atau berhubungan badan lebih banyak dari yang lainnya, maka ini tidak mengapa. Dalam masalah ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan ayat-Nya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : (Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian)” [An-Nisaa` : 129]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yaitu dalam rasa cinta dan berhubungan badan". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Nawawi dalam kitab Syarah Muslim menjelaskan : "Adapun rasa cinta, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih mencintai 'Aisyah dibandingkan dengan yang lainnya. Dan kaum Muslimin sepakat, bahwa menyamakan rasa cinta kepada semuanya bukan suatu kewajiban, kerana ini diluar kemampuan seseorang kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendakinya. Adapun adil dalam bersikap, maka demikianlah yang diperintahkan".[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Hajar juga berpendapat senada. Beliau berkata,"Apabila sang suami memenuhi keperluan isteri baik dari segi makanan,pakaian,dan tempat tinggal bagi seluruh isterinya, maka tidak mengapa baginya jika dia melebihkan sebagian lainnya dalam hal kecondongan hati atau pemberian hadiah.[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masalah keadilan ini, Syaikh Musthafa al Adawi memberikan dua peringatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]. Menyamakan dalam berhubungan badan meskipun ini tidak wajib akan tetapi disunnahkan untuk berbuat adil dalam hal ini, ini lebih baik, lebih sempurna dan jauh dari sikap berlebih-lebihan dan berat sebelah dalam masalah hati, sebagaimana yang dikemukakan oleh sejumlah Ulama’. Imam Ibnu Qudaamah dalam kitab beliau “Mughni” mengatakan : Bila memungkinkan menyamakan dalam berhubungan badan maka ini lebih baik, lebih utama dan lebih sesuai dengan makna adil[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab al Majmu’ Syarah al Muhadzab disebutkan, dianjurkan bagi suami untuk menyamakan dalam berhubungan badan, kerana ini lebih sempurna dalam berbuat adil. Kalau dia tidak melakukannya, maka tidak mengapa. Kerana keinginan untuk melakukan hubungan badan adalah nafsu syahwat dan rasa cinta. Dan tidak mungkin menyamakan di antara para isteri. Oleh sebab itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian” [An-Nisaa`:129]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut 'Abdullah bin 'Abbas, yaitu dalam hal rasa cinta dan hubungan badan. 'Aisyah sendiri menjelaskan, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi di antara isteri-isteri beliau dan berbuat adil, kemudian (beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam) berkata: "Ya, Allah. Inilah pembagianku pada isteri-isteriku yang aku miliki, dan janganlah Engkau cela diriku pada apa yang Engkau miliki dan tidak aku miliki," yaitu hati.[13] Dan di bagian lain dikatakan: "Akan tetapi dianjurkan untuk menyamakan di antara para isteri dalam berhungan badan, karena ini yang menjadi tujuan". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]. Seorang suami wajib untuk memenuhi keperluan bathin isterinya, tentunya sesuai dengan kemampuannya. Kalau ia tidak melakukannya, maka dia tidak akan merasa aman dari kerusakan, yang mungkin terjadi pada isterinya, bahkan terkadang dapat menyebabkan permusuhan, kebencian dan perselisihan di antara keduanya.[15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syubhat Ketiga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penentang poligami berpendapat, bahwa poligami justru akan melahirkan banyak persoalan yang mengancam keutuhan bangunan mahligai rumah tangga. Sering timbul pergaduhan. Belum lagi efek buruk dari perkembangan psikologi anak yang lahir dari pernikahan poligami. Sering mereka merasa kurang diperhatikan, haus kasih sayang dan, celakanya, secara tidak langsung dididik dalam suasana yang kerap perselisihan dan pergaduhan tersebut.[16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;br /&gt;Pendapat ini dapat kita bantah ini sebagai berikut: &lt;br /&gt;Perselisihan yang muncul di antara para isteri merupakan sesuatu yang wajar, tumbuh dari rasa cemburu yang merupakan tabiat wanita. Untuk mengatasi hal tersebut, tergantung kepada kemampuan suami dalam mengatur urusan rumah tangganya, keadilannya terhadap isteri-isterinya, rasa tanggung jawab terhadap keluarganya, demikian juga tawakalnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila ini semua sudah terpenuhi, maka akan tegaklah kehidupan keluarganya, diliputi dengan rasa kasih dan sayang di antara anggota keluarganya. Atau kalau tidak terpenuhi, akan hancurlah keluarga tersebut, baik keluarga yang berpoligami ataupun tidak. Kenyataannya dalam kehidupan rumah tangga tampak seperti itu, walaupun menikah hanya dengan satu isteri (monogami). Bahkan banyak terjadi pertengkaran, hingga mengantarkan pada perceraian, dan menyebabkan anak-anak menjadi terlantar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada benarnya, terkadang pertengkaran menimpa
